(Beritadaerah-Kolom)
Sejumlah kota menunjukkan keunggulan dalam kesehatan, pendidikan dan standar hidup, dengan capaian yang jauh melampaui rata-rata nasional.
Kualitas sebuah kota tidak hanya ditentukan oleh pertumbuhan ekonomi, gedung-gedung tinggi atau besarnya aktivitas perdagangan. Kehidupan masyarakat yang semakin baik juga terlihat dari seberapa panjang usia harapan hidup, seberapa besar kesempatan penduduk memperoleh pendidikan, serta kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan hidup secara layak. Dengan menggunakan data pembangunan manusia BPS 2025 sebagai dasar untuk membaca tiga dimensi tersebut, terlihat adanya sejumlah kota yang menonjol dibandingkan daerah lainnya di Indonesia. Pada 2025, capaian nasional berada di angka 75,90, sementara beberapa kota telah berada pada level lebih dari 85 bahkan mendekati 90.
Menariknya, kota-kota dengan kualitas hidup tertinggi tidak hanya terkonsentrasi di Pulau Jawa. Banda Aceh menunjukkan bahwa kota di luar Jawa juga mampu berada di kelompok teratas. Demikian pula Denpasar yang memperoleh dukungan dari kualitas pendidikan, kesehatan dan aktivitas ekonomi perkotaan. Sementara itu, sejumlah kota di Jawa seperti Salatiga, Semarang, Surakarta, Malang dan Surabaya memperlihatkan bagaimana kombinasi fasilitas pendidikan, layanan kesehatan dan aktivitas ekonomi dapat menghasilkan kualitas hidup yang relatif tinggi.
1. Kota Banda Aceh
Kota Banda Aceh menjadi salah satu kejutan terbesar dalam daftar kota dengan kualitas hidup terbaik. Pada 2025, nilai pembangunan manusianya mencapai 89,55, menjadikannya yang tertinggi di Provinsi Aceh dan bahkan berada di jajaran paling atas secara nasional. BPS Aceh mencatat seluruh kabupaten/kota di provinsi tersebut telah mencapai kategori tinggi, sementara Banda Aceh menjadi satu dari empat kota di Aceh yang masuk kategori sangat tinggi.
Capaian tersebut memperlihatkan kekuatan Banda Aceh terutama pada kualitas pendidikan, kesehatan dan standar hidup. Kota ini tidak memiliki skala ekonomi sebesar Jakarta atau Surabaya, tetapi memiliki modal manusia yang kuat. Posisi tersebut penting karena menunjukkan bahwa kualitas hidup tidak selalu identik dengan ukuran ekonomi sebuah kota. Kota yang relatif lebih kecil tetap dapat menghasilkan kualitas kehidupan masyarakat yang tinggi apabila mampu menyediakan layanan dasar dan akses pendidikan secara baik.
2. Kota Yogyakarta
Yogyakarta selama bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu pusat pendidikan terpenting Indonesia. Kota ini juga memiliki karakter ekonomi yang berbeda karena ditopang pendidikan, pariwisata, ekonomi kreatif, perdagangan dan jasa. Pada 2024, Yogyakarta mencatat angka 89,10 dan masih menjadi kota dengan capaian tertinggi secara nasional pada tahun tersebut. Dokumen perencanaan Kota Yogyakarta untuk 2025 menetapkan target capaian sekitar 89,11–89,40.
Kekuatan Yogyakarta terletak pada kombinasi antara ekosistem pendidikan dan kualitas kehidupan perkotaan. Keberadaan perguruan tinggi dalam jumlah besar menciptakan lingkungan yang relatif kuat bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia. Kota ini juga mempunyai ekonomi berbasis jasa yang berkembang, sehingga pendidikan tidak berdiri sendiri tetapi berhubungan dengan aktivitas ekonomi, kebudayaan dan pariwisata.
3. Kota Jakarta Selatan
Jakarta Selatan menempati posisi yang sangat kuat di antara kota-kota besar Indonesia. Pada 2025, capaian pembangunan manusianya mencapai 88,51, naik dari 87,57 pada 2024. BPS mencatat bahwa Jakarta Selatan telah berada dalam kategori sangat tinggi sejak 2020, dengan rata-rata pertumbuhan selama 2020–2025 sebesar 0,72 persen per tahun.
Keunggulan Jakarta Selatan terutama berkaitan dengan akses terhadap fasilitas pendidikan, kesehatan, pekerjaan dan daya beli. Kawasan ini juga menjadi salah satu pusat aktivitas ekonomi jasa, perkantoran dan bisnis Jakarta. Namun, tingginya angka tersebut tidak berarti seluruh penduduk menikmati kondisi yang sama. Di balik rata-rata yang tinggi tetap terdapat persoalan ketimpangan, biaya hidup dan tekanan perkotaan yang menjadi tantangan tersendiri bagi Jakarta Selatan.
4. Kota Salatiga
Salatiga adalah contoh menarik bahwa kota berukuran relatif kecil dapat memiliki kualitas hidup yang sangat tinggi. Pada 2025, nilainya mencapai 86,23, sekaligus menjadikannya kota dengan capaian tertinggi di Jawa Tengah. BPS mencatat peningkatan terjadi pada seluruh komponen, termasuk kesehatan, pendidikan dan standar hidup.
Kota ini memiliki karakter sebagai kota pendidikan dan jasa dengan lingkungan perkotaan yang relatif lebih kecil dibandingkan Semarang atau Jakarta. Pada 2025, umur harapan hidup penduduk Salatiga mencapai 78,75 tahun, sedangkan harapan lama sekolah mencapai 15,47 tahun. Kombinasi tersebut menunjukkan bahwa kekuatan Salatiga bukan sekadar pada pendapatan masyarakat, tetapi juga pada kualitas layanan dan modal manusia.
5. Kota Semarang
Semarang terus memperkuat posisinya sebagai salah satu kota dengan kualitas hidup terbaik di Indonesia. Pada 2025, capaian pembangunan manusianya mencapai 85,80, meningkat dari tahun sebelumnya. BPS Semarang menyebut peningkatan tersebut terjadi pada seluruh komponen, baik kesehatan, pendidikan maupun pengeluaran per kapita yang disesuaikan.
Sebagai ibu kota Jawa Tengah dan salah satu pusat ekonomi terbesar di kawasan tengah Pulau Jawa, Semarang mempunyai keunggulan berupa infrastruktur, fasilitas pendidikan, layanan kesehatan serta kesempatan kerja. Kota ini juga menjadi pusat perdagangan, industri dan jasa. Tantangannya adalah bagaimana pertumbuhan ekonomi dan pembangunan infrastruktur tersebut dapat terus diterjemahkan menjadi peningkatan kualitas hidup yang merata di seluruh kelompok masyarakat.
6. Kota Denpasar
Denpasar menempati posisi penting dalam daftar ini dengan capaian 85,63 pada 2025, meningkat dari 85,11 pada 2024. Angka tersebut juga berada jauh di atas rata-rata Bali yang mencapai 79,37.
Sebagai pusat pemerintahan dan ekonomi Bali, Denpasar mendapatkan keuntungan dari berkembangnya sektor pariwisata, perdagangan, jasa dan ekonomi kreatif. Kota ini juga memiliki akses pendidikan dan layanan kesehatan yang relatif baik. Tantangan ke depan adalah memastikan pertumbuhan ekonomi berbasis pariwisata tidak hanya meningkatkan pendapatan, tetapi juga menjaga keterjangkauan hunian, lingkungan, transportasi dan kualitas ruang hidup bagi penduduk lokal.
7. Kota Surabaya
Surabaya merupakan salah satu kota metropolitan terbesar di Indonesia dengan kualitas hidup yang terus meningkat. Pada 2025, nilainya mencapai 85,65, naik 0,96 poin dari tahun sebelumnya atau tumbuh 1,13 persen. BPS Surabaya mencatat peningkatan terjadi pada seluruh dimensi, termasuk kesehatan, pendidikan dan standar hidup layak.
Kekuatan Surabaya berasal dari skala ekonominya yang besar dan perannya sebagai pusat perdagangan, industri, pendidikan dan jasa di Indonesia bagian timur. Infrastruktur perkotaan yang relatif lengkap memberikan dukungan bagi aktivitas masyarakat. Namun, sebagai kota metropolitan, Surabaya juga menghadapi tantangan kepadatan, biaya hidup, mobilitas dan kesenjangan antarwilayah yang perlu terus dikelola.
8. Kota Malang
Malang memperlihatkan kombinasi menarik antara kota pendidikan, pusat jasa dan kota pariwisata. Pada 2025, capaian pembangunan manusianya mencapai 85,55, meningkat 0,87 poin atau 1,03 persen dibandingkan 2024. Angka tersebut menjadikan Malang sebagai daerah dengan capaian tertinggi kedua di Jawa Timur setelah Surabaya.
Kehadiran berbagai perguruan tinggi memberikan kontribusi besar terhadap karakter kota ini. Ekonomi Malang juga berkembang melalui perdagangan, jasa, pendidikan, industri dan pariwisata. Pada 2025, pertumbuhan ekonomi kota mencapai 5,92 persen, sementara tingkat kemiskinan turun menjadi 3,85 persen. Kombinasi antara pendidikan, aktivitas ekonomi dan layanan publik menjadi salah satu kekuatan utama Malang.
9. Kota Jakarta Timur
Jakarta Timur menjadi salah satu kawasan metropolitan dengan capaian tinggi. Pada 2025, nilainya mencapai 85,51, meningkat 0,75 poin atau 0,88 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Berbeda dengan Jakarta Selatan yang identik dengan kawasan bisnis dan jasa kelas atas, Jakarta Timur memiliki karakter yang lebih beragam. Kawasan permukiman, industri, perdagangan dan berbagai pusat aktivitas ekonomi bercampur di dalamnya. Capaian tersebut menunjukkan bahwa peningkatan kualitas hidup dapat berlangsung di kawasan metropolitan yang sangat besar apabila akses terhadap pendidikan, kesehatan dan kesempatan ekonomi terus diperbaiki.
10. Kota Surakarta
Surakarta melengkapi daftar sepuluh kota dengan kualitas hidup terbaik. Pada 2025, nilainya mencapai 84,92, menempatkannya sebagai salah satu kota dengan capaian tertinggi di Jawa Tengah setelah Salatiga dan Semarang.
Surakarta memiliki karakter ekonomi yang kuat dalam perdagangan, jasa, pendidikan, pariwisata dan ekonomi kreatif. Ukuran kota yang relatif kompak juga menjadi salah satu keunggulan karena memungkinkan aktivitas masyarakat berlangsung dengan jarak yang relatif dekat. Tantangannya adalah mempertahankan kualitas lingkungan perkotaan dan memastikan pertumbuhan ekonomi tetap inklusif ketika tekanan terhadap ruang kota semakin besar.
Jika dilihat secara keseluruhan, daftar ini memperlihatkan pola yang menarik. Kota-kota dengan kualitas hidup terbaik memiliki kombinasi yang relatif kuat antara pendidikan, kesehatan dan kemampuan ekonomi masyarakat. Bukan hanya kota metropolitan seperti Jakarta dan Surabaya yang masuk kelompok atas, tetapi juga kota menengah seperti Salatiga dan Surakarta serta kota regional seperti Banda Aceh dan Denpasar. Artinya, skala ekonomi bukan satu-satunya faktor yang menentukan kualitas kehidupan penduduk.
Yang juga menarik adalah kuatnya peran pendidikan. Yogyakarta dan Salatiga merupakan contoh paling jelas bagaimana kota yang mempunyai ekosistem pendidikan kuat dapat menghasilkan kualitas manusia yang tinggi. Sementara Jakarta Selatan, Surabaya dan Semarang memperlihatkan pola berbeda, yaitu kombinasi antara pendidikan, layanan kesehatan, kesempatan kerja dan kekuatan ekonomi perkotaan.
Data tersebut sekaligus menunjukkan bahwa kota terbaik bukan selalu kota dengan PDRB terbesar. Kota yang berhasil memberikan akses pendidikan, kesehatan dan standar hidup yang baik dapat menghasilkan kualitas kehidupan yang tinggi meskipun ukuran ekonominya tidak sebesar metropolitan nasional. Karena itu, ukuran keberhasilan kota seharusnya tidak hanya dilihat dari investasi dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari seberapa jauh pertumbuhan tersebut meningkatkan kehidupan masyarakat.
BPS sendiri menjelaskan bahwa ukuran pembangunan manusia dibangun dari tiga dimensi utama, yaitu umur panjang dan hidup sehat, pengetahuan, serta standar hidup layak. Pada 2025, ketiganya mengalami peningkatan secara nasional, dengan umur harapan hidup mencapai 74,47 tahun, rata-rata lama sekolah 9,07 tahun dan pengeluaran riil per kapita yang disesuaikan mencapai Rp12,802 juta.
Dengan demikian, sepuluh kota tersebut dapat dibaca sebagai gambaran mengenai kota-kota yang relatif berhasil membangun fondasi kehidupan masyarakat. Tantangan berikutnya bukan sekadar mempertahankan posisi, tetapi memastikan agar kualitas tersebut semakin merata, biaya hidup tetap terjangkau, kesempatan ekonomi semakin luas dan pertumbuhan kota tidak mengorbankan lingkungan. Di masa depan, kota yang benar-benar unggul adalah kota yang mampu membuat warganya hidup lebih sehat, belajar lebih lama, memperoleh pekerjaan yang lebih baik dan menikmati kehidupan yang lebih layak.


