Puncak Kemarau Tiba, Pemprov Jabar Tingkatkan Kesiapsiagaan Cegah Karhutla

(Beritadaerah-Bandung) Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat memperketat pencegahan dan meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan guna mengantisipasi meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan saat musim kemarau.

Dodit Ardian Pancapana, selaku ​Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat, menyatakan bahwa instansinya menerapkan langkah pencegahan untuk menekan potensi karhutla sedini mungkin.

​Dodit menyampaikan “Kami bersama berbagai pihak terus mengintensifkan patroli berkala di wilayah rawan, memantau kondisi tutupan hutan, menggalakkan sosialisasi edukatif, serta memperkuat koordinasi lintas sektor demi meminimalkan risiko karhutla,” ujar Dodit,sebagaimana dikutip dari Gapura Jabar, 12/8/2026.

Karena mayoritas karhutla dipicu oleh kelalaian manusia, tingkat kewaspadaan perlu terus ditingkatkan. Kondisi cuaca kering dan kelembapan tanaman yang menurun membuat area hutan amat rawan terbakar. Masyarakat diharapkan mengambil langkah cepat dengan segera melaporkan indikasi atau titik api yang ditemukan ke pihak terdekat.

Kondisi cuaca kering dan kelembapan tanaman yang menurun membuat area hutan amat rawan terbakar. Karena mayoritas karhutla dipicu oleh kelalaian manusia, tingkat kewaspadaan perlu terus ditingkatkan

Kerugian akibat karhutla tidak hanya merusakan vegetasi, melainkan turut mengancam kelangsungan habitat satwa, menurunkan kesuburan tanah, memicu lonjakan emisi gas rumah kaca, serta menghasilkan kabut asap yang membahayakan kesehatan masyarakat—terutama kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia. ​”Menjaga kelestarian hutan sebagai penyangga kehidupan, penyedia air bersih, dan penyerap karbon merupakan tanggung jawab bersama,” lanjut Dodit

Guna mengantisipasi ancaman karhutla menjelang musim kemarau, BPBD Jawa Barat gencar memperkuat langkah pencegahan melalui pemantauan ketat di titik rawan, penyebaran peringatan dini, serta penguatan koordinasi lintas instansi bersama TNI, Polri, pemerintah daerah, relawan, dan warga.

BPBD juga melakukan edukasi kepada masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan, tidak membuang puntung rokok di area kering, serta lebih peduli terhadap lingkungan sekitar.

Teten mengatakan “Kesiapsiagaan personel dan peralatan penanganan kebakaran juga terus diperkuat agar dapat melakukan respons cepat apabila terjadi kejadian,” Untuk memperkuat hal tersebut BPBD Jawa Barat melakukan kolaborasi lintas sektor, dengan komitmen menekan risiko kebakaran lahan serta menjamin penanggulangan yang cepat, presisi, dan terintegrasi guna meminimalisir dampaknya bagi warga dan lingkungan.

Sampai dengan 10 Agustus 2026 kemarin, BPBD Jawa Barat mencatat 90 insiden karhutla yang tersebar di 72 kecamatan. Wilayah dengan kejadian tertinggi meliputi Kabupaten Sumedang (16 kasus), diikuti Kabupaten Majalengka (11 kasus), dan Kabupaten Bandung (8 kasus)