Produktivitas bahkan bisa melonjak lebih tinggi jika melibatkan lebih banyak operator. Dengan empat orang, produksi dapat mencapai 90–100 tetek per jam—kemajuan signifikan bagi petani yang sering menghadapi keterbatasan tenaga kerja pada musim tanam.
Produktivitas bahkan bisa melonjak lebih tinggi jika melibatkan lebih banyak operator. Dengan empat orang, produksi dapat mencapai 90–100 tetek per jam—kemajuan signifikan bagi petani yang sering menghadapi keterbatasan tenaga kerja pada musim tanam.

Inovasi Petani Rembang: Mesin Eler Tembakau Otomatis Tingkatkan Produktivitas dan Dilirik Banyak Daerah

(Beritadaerah – Rembang) Petani tembakau di Desa Pragu, Kecamatan Sulang, Kabupaten Rembang, menghadirkan inovasi yang kini menjadi perhatian banyak daerah di Indonesia. Mereka berhasil mengembangkan mesin eler tembakau otomatis yang mampu meningkatkan efisiensi, mempercepat proses produksi, serta menjaga kualitas hasil panen.

Narko, petani sekaligus pengguna mesin eler otomatis, menyampaikan bahwa teknologi sederhana hasil kreasi warga lokal ini membawa perubahan besar dalam pekerjaan harian para petani. Jika sebelumnya proses perajangan membutuhkan banyak tenaga, kini cukup dikerjakan oleh tiga hingga empat orang.

“Dulu, sekali rajang butuh enam sampai tujuh orang. Sekarang tiga atau empat orang sudah cukup. Kalau manual, tiga orang paling dapat 25 sampai 30 tetek. Pakai mesin ini, tiga orang bisa menghasilkan 40 sampai 60 tetek per jam,” ujarnya, Kamis (4/12).

Produktivitas bahkan bisa melonjak lebih tinggi jika melibatkan lebih banyak operator. Dengan empat orang, produksi dapat mencapai 90–100 tetek per jam—kemajuan signifikan bagi petani yang sering menghadapi keterbatasan tenaga kerja pada musim tanam.

Mesin itu sendiri merupakan karya mandiri yang dikembangkan sejak 2019 oleh ayah dan paman Narko. Proses penyempurnaan berlangsung bertahap hingga akhirnya mencapai performa optimal pada 2022. Saat ini, permintaan mesin eler otomatis mulai berdatangan dari berbagai wilayah, termasuk Tlogowungu. Harga per unit dibanderol sekitar Rp7,5 juta lengkap dengan pemasangan dan garansi.

“Pengerjaan mesin butuh dua sampai tiga minggu karena bahan terbatas. Kalau ada pesanan, bisa sekalian direhab,” tutur Narko.

Selain meningkatkan efisiensi, mesin eler otomatis juga membantu menjaga kualitas tembakau. Proses rajang yang lebih cepat mencegah perubahan warna pada daun tembakau yang terlalu lama dibiarkan, sehingga hasilnya tetap cerah dan bernilai lebih tinggi di pasaran.

Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Rembang, Agus Supriyanto, mengapresiasi inovasi tersebut. Menurutnya, mesin itu merupakan modifikasi dari alat rajang manual yang kini dapat bekerja secara otomatis dan lebih stabil.

“Begitu mesin dihidupkan dan tembakau masuk, tetek atau alas penjemuran langsung berjalan otomatis. Inovasi dari petani Pragu ini membuat pekerjaan jauh lebih efisien. Yang semula membutuhkan empat sampai lima orang, kini cukup dua sampai tiga orang,” jelas Agus.

Ia menambahkan bahwa kapasitas produksi yang meningkat menjadikan alat ini mulai diminati petani dari luar daerah. Pemkab Rembang berencana mendorong sosialisasi lebih luas agar inovasi lokal tersebut dapat dimanfaatkan oleh lebih banyak petani tembakau di Indonesia.

“Ke depan, akan kami dorong pemanfaatannya secara lebih luas,” tegasnya.