manufaktur
Ilustrasi Manufaktur (Foto : Kemenperin)

Belajar Manufaktur Berbasis AI dari Pengalaman Jepang

(Beritadaerah-Kolom) Transformasi digital tengah mengubah wajah industri manufaktur di seluruh dunia. Kemajuan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) membuka peluang baru bagi perusahaan untuk meningkatkan produktivitas, mempercepat pengambilan keputusan, dan memperkuat daya saing di tengah persaingan global yang semakin ketat. Bagi negara-negara berkembang di Asia, perkembangan tersebut menghadirkan peluang sekaligus tantangan. AI bukan lagi sekadar teknologi pendukung, melainkan telah menjadi bagian penting dalam strategi pembangunan industri. Namun, keberhasilan memanfaatkan AI tidak hanya ditentukan oleh kemampuan membeli teknologi terbaru, tetapi juga oleh kesiapan ekosistem yang memungkinkan teknologi tersebut menghasilkan nilai tambah bagi sektor manufaktur.

Isu tersebut menjadi fokus dalam sesi AI-Powered Manufacturing in Developing Asia – Japan’s Experience, yang diselenggarakan oleh Asian Development Bank Institute (ADBI) bersama Mitsubishi Research Institute (MRI) di Jakarta. Kegiatan ini membahas bagaimana pengalaman Jepang dalam mengembangkan manufaktur berbasis AI dapat menjadi referensi bagi negara-negara berkembang di Asia yang tengah mempercepat transformasi industrinya. Sesi tersebut juga menjadi kolaborasi pertama antara ADBI dan MRI setelah kedua institusi menandatangani nota kesepahaman untuk memperkuat kerja sama dalam bidang penelitian, transformasi digital, dan pengembangan kebijakan.

Pembukaan sesi disampaikan oleh Professor Bambang Brodjonegoro, Dean and CEO of the Asian Development Bank Institute (ADBI), Tokyo, Jepang. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa kesiapan menghadapi era AI tidak cukup hanya diukur dari ketersediaan teknologi. Sebuah negara harus mampu membangun lima fondasi utama secara bersamaan, yaitu infrastruktur digital, sumber daya manusia yang berkualitas, kapasitas inovasi, kelembagaan yang kuat, serta struktur ekonomi yang mampu menyerap dan memanfaatkan teknologi baru. Menurutnya, kelima elemen tersebut saling berkaitan dan menjadi prasyarat agar AI dapat memberikan manfaat nyata bagi pertumbuhan ekonomi maupun transformasi sektor industri.

Professor Bambang juga mengingatkan bahwa sebagian besar negara berkembang di Asia dan Pasifik masih menghadapi kesenjangan yang cukup lebar dibandingkan negara-negara maju pada hampir seluruh aspek tersebut. Di antara berbagai tantangan yang ada, infrastruktur digital masih menjadi kendala paling mendasar. Keterbatasan tersebut tidak hanya memengaruhi kemampuan perusahaan dalam mengadopsi teknologi baru, tetapi juga membatasi peluang untuk mengembangkan model bisnis yang lebih efisien. Padahal, sektor industri dan jasa diperkirakan akan menjadi sektor yang memperoleh manfaat terbesar dari pemanfaatan AI. Karena itu, kemampuan negara seperti Indonesia dalam memanfaatkan peluang tersebut lebih banyak ditentukan oleh kesiapan sektor manufaktur dan kualitas sumber daya manusianya daripada sekadar ketersediaan teknologi.

Ia juga menyoroti bahwa selama ini pembahasan mengenai digitalisasi manufaktur lebih banyak diarahkan pada otomatisasi aktivitas-aktivitas individual. Penggunaan robot pada lini produksi, pemasangan sensor untuk memantau kondisi mesin, maupun pemanfaatan perangkat digital lainnya memang mampu meningkatkan efisiensi pekerjaan tertentu. Akan tetapi, pendekatan tersebut belum menjadi sumber keunggulan kompetitif yang sesungguhnya. Nilai terbesar AI justru terletak pada kemampuannya menghubungkan berbagai proses bisnis, memperkuat koordinasi antarfungsi, serta menangkap pengetahuan praktis yang selama ini hanya dimiliki oleh para pekerja berpengalaman. Pengetahuan tacit tersebut merupakan aset yang sangat berharga, tetapi juga menjadi salah satu aspek yang paling sulit didokumentasikan dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Pandangan tersebut sejalan dengan pengalaman Jepang dalam membangun transformasi manufaktur berbasis AI. Selama beberapa dekade, industri manufaktur Jepang dikenal karena kekuatannya dalam menjaga kualitas, mengelola proses produksi yang kompleks, membangun koordinasi rantai pasok, serta mempertahankan fleksibilitas dalam menghadapi perubahan permintaan pasar. Kekuatan tersebut tidak lahir dari teknologi semata, melainkan dari budaya kerja, kemampuan organisasi, dan pengalaman yang terbangun dalam jangka panjang. AI kemudian dimanfaatkan untuk memperkuat seluruh kapabilitas tersebut sehingga perusahaan mampu meningkatkan produktivitas tanpa menghilangkan nilai-nilai operasional yang telah menjadi fondasi daya saing industri Jepang.

Salah satu pendekatan yang dikembangkan adalah AI Orchestration. Konsep ini memandang AI bukan sekadar alat untuk mengotomatisasi pekerjaan, tetapi sebagai mekanisme yang mampu mengoordinasikan seluruh fungsi operasional di dalam pabrik. Dalam banyak organisasi, AI telah digunakan pada berbagai unit, seperti perencanaan produksi, pengelolaan manufaktur, operasi langsung, maupun operasi tidak langsung. Namun, setiap fungsi sering kali masih bekerja secara terpisah sehingga koordinasi keseluruhan tetap mengandalkan manusia. AI Orchestration mengubah pendekatan tersebut dengan menjadikan AI sebagai penghubung berbagai fungsi sehingga seluruh operasi dapat dioptimalkan secara menyeluruh dari hulu hingga hilir.

Implementasi AI Orchestration dimulai dengan mendesain ulang proses bisnis berdasarkan layanan yang ingin diberikan kepada pelanggan. Setiap layanan diuraikan menjadi proses, kemudian dipecah lagi menjadi tugas dan unit-unit kerja yang lebih kecil. Pendekatan ini memberikan pemahaman yang lebih jelas mengenai hubungan antarkegiatan sekaligus membantu perusahaan menentukan bagian mana yang dapat distandardisasi serta bagian mana yang memerlukan dukungan AI. Dengan demikian, AI tidak lagi ditempatkan sebagai teknologi tambahan, tetapi menjadi bagian dari desain proses bisnis sejak tahap awal.

Langkah berikutnya adalah mengubah pengetahuan yang selama ini hanya dimiliki oleh pekerja berpengalaman menjadi aset organisasi. Banyak keputusan di lantai produksi lahir dari pengalaman bertahun-tahun dan sering kali tidak pernah terdokumentasikan secara sistematis. Melalui dekomposisi pekerjaan, setiap aktivitas diuraikan beserta kondisi yang menjadi dasar pengambilan keputusan. AI kemudian menggunakan kondisi-kondisi tersebut untuk mengevaluasi berbagai situasi operasional, mulai dari pemeriksaan data inventori, alokasi material, hingga pengendalian proses produksi. Pendekatan ini memungkinkan organisasi mempertahankan pengetahuan penting sekaligus memastikan proses bisnis berjalan secara lebih konsisten.

Walaupun AI memiliki kemampuan analisis yang semakin baik, pengalaman Jepang menunjukkan bahwa manusia tetap menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari sistem manufaktur modern. Pendekatan Human-in-the-Loop menempatkan AI sebagai alat untuk menganalisis kondisi dan memberikan rekomendasi, sedangkan keputusan yang memerlukan pertimbangan profesional tetap berada di tangan manusia. Pembagian peran tersebut memungkinkan perusahaan memperoleh manfaat otomatisasi tanpa mengabaikan pengalaman, intuisi, dan penilaian yang hanya dapat diberikan oleh tenaga kerja yang memahami proses secara mendalam.

Pelajaran penting bagi negara-negara berkembang di Asia adalah bahwa transformasi manufaktur berbasis AI tidak harus dimulai dari investasi teknologi yang paling mahal. Yang lebih penting adalah membangun fondasi yang kuat berupa infrastruktur digital, sumber daya manusia yang kompeten, kapasitas inovasi, kelembagaan yang mendukung, serta proses bisnis yang terintegrasi. Ketika fondasi tersebut telah tersedia, AI dapat diterapkan secara bertahap untuk meningkatkan koordinasi, mempercepat pengambilan keputusan, dan memperkuat daya saing industri secara berkelanjutan. Pandangan ini sekaligus menegaskan bahwa transformasi digital merupakan proses perubahan organisasi, bukan sekadar adopsi teknologi baru.

Bagi Indonesia, pengalaman Jepang memberikan pesan yang sangat relevan. Ambisi membangun industri manufaktur yang lebih produktif dan berdaya saing tidak cukup diwujudkan melalui investasi pada perangkat digital semata. Yang lebih penting adalah membangun kemampuan organisasi untuk mengintegrasikan teknologi ke dalam seluruh proses bisnis, memperkuat kolaborasi antara manusia dan AI, serta memastikan bahwa pengetahuan yang dimiliki tenaga kerja dapat menjadi aset organisasi. Dengan pendekatan tersebut, AI tidak hanya menjadi instrumen otomatisasi, tetapi berkembang menjadi penggerak transformasi industri yang mampu menciptakan efisiensi, meningkatkan kualitas, dan memperkuat daya saing manufaktur Indonesia di tengah persaingan ekonomi global.