Persepsi Masyarakat
Bazar Rakyat 2026 menjadi bukti bahwa kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat mampu menciptakan ekosistem ekonomi yang inklusif dan berdaya saing. (Foto: Kementerian UMKM)

Pentingnya Persepsi Masyarakat Terhadap Keadaan Ekonomi

(Beritadaerah-Kolom) Kondisi ekonomi tidak hanya tercermin dari angka pertumbuhan produk domestik bruto (PDB), tingkat inflasi, atau nilai tukar rupiah. Dalam praktiknya, persepsi masyarakat terhadap keadaan ekonomi merupakan indikator yang tidak kalah penting karena memengaruhi keputusan rumah tangga untuk berbelanja, pelaku usaha untuk berinvestasi, hingga lembaga keuangan dalam menyalurkan kredit. Ketika masyarakat merasa kondisi ekonomi memburuk, perilaku ekonomi cenderung berubah menjadi lebih berhati-hati. Dampaknya dapat terlihat pada perlambatan konsumsi, penundaan investasi, hingga menurunnya optimisme terhadap prospek usaha.

Hasil Survei Nasional SMRC yang dilakukan pada 5–19 Juli 2026 memperlihatkan perubahan yang cukup tajam dalam cara masyarakat memandang kondisi ekonomi Indonesia. Survei tersebut melibatkan 749 responden yang dipilih melalui kombinasi wawancara telepon dan tatap muka, dengan margin of error sekitar ±3,7 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Sampel juga telah dibobot sehingga mencerminkan karakteristik demografi nasional berdasarkan wilayah, usia, pendidikan, jenis kelamin, serta kategori desa dan kota.

Yang paling menonjol dari hasil survei tersebut bukanlah angka-angka makroekonomi, melainkan perubahan persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi nasional. Ketika masyarakat mulai memandang ekonomi secara lebih pesimistis, hal itu menjadi sinyal bahwa tantangan ekonomi telah dirasakan secara langsung dalam kehidupan sehari-hari, baik melalui daya beli, kesempatan kerja, maupun meningkatnya biaya hidup.

Survei menunjukkan hanya 15,7 persen responden yang menilai kondisi ekonomi nasional saat ini berada dalam kategori baik atau sangat baik. Sebaliknya, hampir separuh responden, yakni 49,4 persen, menilai kondisi ekonomi berada dalam kategori buruk atau sangat buruk, sementara 33,9 persen menilai keadaan ekonomi berada pada tingkat sedang. Angka tersebut menggambarkan bahwa sentimen negatif telah menjadi pandangan dominan masyarakat terhadap kondisi ekonomi nasional.

Perubahan tersebut menjadi lebih jelas ketika dibandingkan dengan survei sebelumnya. Pada November 2025, sebanyak 40 persen masyarakat masih menilai kondisi ekonomi berada dalam kategori baik atau sangat baik. Namun, pada Juli 2026 angka tersebut turun drastis menjadi hanya 15,7 persen. Pada saat yang sama, penilaian negatif meningkat dari 22,7 persen menjadi 49,4 persen. Menurut SMRC, tingkat sentimen negatif terhadap kondisi ekonomi dalam survei Juli 2026 merupakan yang tertinggi selama tujuh tahun terakhir.

Perubahan persepsi ini memiliki makna ekonomi yang sangat penting. Dalam ilmu ekonomi, ekspektasi masyarakat sering kali menjadi faktor yang memengaruhi aktivitas ekonomi secara nyata. Ketika rumah tangga merasa situasi ekonomi sedang memburuk, mereka cenderung mengurangi konsumsi barang-barang yang bukan kebutuhan utama. Pengeluaran lebih difokuskan pada kebutuhan pokok, sementara pembelian kendaraan, peralatan rumah tangga, maupun investasi pribadi biasanya ditunda hingga kondisi dianggap lebih baik.

Perubahan perilaku tersebut dapat berdampak langsung pada sektor riil. Konsumsi rumah tangga selama ini menjadi penyumbang terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. Oleh karena itu, apabila keyakinan konsumen melemah dalam jangka waktu yang cukup panjang, dunia usaha berpotensi menghadapi penurunan permintaan. Pada akhirnya, perusahaan dapat mengurangi ekspansi, memperlambat perekrutan tenaga kerja, bahkan menunda investasi baru sebagai bentuk penyesuaian terhadap kondisi pasar.

Survei SMRC juga menggambarkan bagaimana masyarakat membandingkan kondisi ekonomi saat ini dengan keadaan satu tahun sebelumnya. Sebanyak 45,8 persen responden menilai kondisi ekonomi nasional kini lebih buruk atau jauh lebih buruk dibandingkan tahun lalu. Sebaliknya, hanya 19,7 persen yang menilai keadaan ekonomi lebih baik, sedangkan 32,5 persen menganggap tidak ada perubahan berarti. Gambaran ini menunjukkan bahwa persepsi terhadap arah perekonomian nasional telah mengalami perubahan yang cukup signifikan dalam waktu relatif singkat.

Jika dibandingkan dengan November 2025, perubahan tersebut terlihat semakin tajam. Saat itu, sebanyak 45,2 persen masyarakat masih merasa kondisi ekonomi lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. Namun pada Juli 2026, angka tersebut turun menjadi hanya 19,7 persen. Dalam periode yang sama, kelompok yang menilai ekonomi lebih buruk meningkat dari 18,5 persen menjadi 45,8 persen. Pergeseran persepsi ini menunjukkan bahwa optimisme masyarakat terhadap arah perekonomian mengalami pelemahan yang cukup besar dalam waktu kurang dari satu tahun.

Dari perspektif ekonomi, persepsi semacam ini memiliki konsekuensi yang luas. Dunia usaha tidak hanya memperhatikan indikator resmi seperti inflasi, pertumbuhan ekonomi, atau nilai tukar, tetapi juga tingkat keyakinan masyarakat. Ketika konsumen menjadi lebih pesimistis, perusahaan biasanya lebih berhati-hati dalam meningkatkan kapasitas produksi karena khawatir permintaan tidak tumbuh sesuai harapan. Kondisi tersebut dapat memengaruhi investasi sektor swasta, penciptaan lapangan kerja, hingga ekspansi berbagai industri.

Sektor keuangan juga tidak luput dari dampaknya. Melemahnya optimisme masyarakat dapat memengaruhi perilaku menabung maupun permintaan kredit. Rumah tangga cenderung meningkatkan dana cadangan sebagai langkah antisipasi menghadapi ketidakpastian ekonomi. Di sisi lain, pelaku usaha kemungkinan menunda pengajuan pinjaman baru apabila prospek penjualan belum menunjukkan perbaikan. Dalam jangka pendek, kecenderungan tersebut dapat memperlambat perputaran aktivitas ekonomi.

Temuan lain yang menarik adalah adanya hubungan yang sangat kuat antara penilaian masyarakat terhadap kondisi ekonomi dengan evaluasi mereka terhadap kondisi nasional secara umum. Korelasi yang sangat tinggi menunjukkan bahwa perubahan persepsi ekonomi berjalan hampir searah dengan perubahan penilaian masyarakat secara keseluruhan. Dengan kata lain, ketika masyarakat merasa kondisi ekonomi memburuk, kepercayaan mereka terhadap situasi nasional juga ikut mengalami penurunan.

Walaupun survei ini mengukur persepsi, bukan indikator ekonomi objektif seperti pertumbuhan PDB atau inflasi, hasilnya tetap memiliki nilai penting bagi para pelaku ekonomi. Persepsi masyarakat sering kali menjadi indikator awal yang mendahului perubahan aktivitas ekonomi riil. Oleh karena itu, survei semacam ini dapat menjadi masukan bagi pemerintah, dunia usaha, lembaga keuangan, maupun investor untuk memahami bagaimana masyarakat memandang kondisi ekonomi saat ini.

Hasil survei SMRC menunjukkan bahwa tantangan terbesar bukan hanya menjaga stabilitas indikator makroekonomi, tetapi juga memulihkan optimisme masyarakat terhadap prospek ekonomi. Ketika masyarakat kembali yakin terhadap arah perekonomian, konsumsi cenderung meningkat, investasi memperoleh momentum baru, dan aktivitas ekonomi memiliki ruang yang lebih besar untuk tumbuh. Sebaliknya, apabila sentimen negatif terus bertahan, proses pemulihan ekonomi berpotensi berlangsung lebih lambat meskipun berbagai indikator makro menunjukkan perbaikan. Oleh karena itu, membangun kembali kepercayaan publik terhadap kondisi ekonomi menjadi salah satu fondasi penting dalam menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi Indonesia.