Bappenas: Pencegahan Penyakit Jadi Kunci Mewujudkan Indonesia Emas 2045

(Beritadaerah-Nasional) Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Wakil Kepala Bappenas, Febrian Alphyanto Ruddyard, menilai pembangunan kesehatan nasional harus lebih berfokus pada upaya pencegahan penyakit daripada sekadar memperluas layanan pengobatan. Menurutnya, sistem kesehatan yang mampu mencegah munculnya penyakit sejak dini akan menjadi fondasi penting dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.

Pandangan tersebut disampaikan saat peluncuran Program KITA Sehat, kemitraan Indonesia dan Australia yang bertujuan memperkuat sistem kesehatan nasional, di Jakarta, Senin (20/7/2026). Ia menjelaskan bahwa keberhasilan sektor kesehatan tidak hanya diukur dari jumlah rumah sakit atau kemajuan teknologi medis, tetapi juga dari kemampuan membangun sistem yang efektif dalam menjaga masyarakat tetap sehat.

Dalam pemaparannya, Febrian mengangkat kisah dokter asal Inggris, John Snow, yang berhasil mengendalikan wabah kolera di London pada tahun 1854. Melalui pemetaan data korban, John Snow menemukan bahwa sumber penyebaran penyakit berasal dari pompa air di Broad Street. Penutupan akses terhadap pompa tersebut kemudian mampu menghentikan penyebaran wabah. Kisah itu dinilai menunjukkan pentingnya penggunaan data, pemahaman terhadap akar persoalan, serta pengambilan keputusan berbasis bukti dalam membangun sistem kesehatan.

Menurutnya, meskipun dunia kini telah memiliki teknologi kesehatan yang jauh lebih maju, rumah sakit modern, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan untuk mendukung diagnosis, prinsip dasar dalam pengendalian penyakit tetap tidak berubah. Sistem kesehatan yang kuat harus mampu mengurangi risiko munculnya penyakit sebelum masyarakat membutuhkan pengobatan.

Febrian juga menegaskan bahwa kesehatan merupakan salah satu pilar utama pembangunan nasional. Ia menilai bonus demografi hanya akan memberikan manfaat apabila didukung oleh masyarakat yang sehat, memiliki gizi yang baik, dan mampu berkontribusi secara produktif terhadap perekonomian. Tanpa kondisi tersebut, target Indonesia Emas 2045 akan sulit dicapai.

Pemerintah sendiri telah menetapkan berbagai sasaran kesehatan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025–2045. Target tersebut antara lain meningkatkan usia harapan hidup hingga 80 tahun, menurunkan angka kematian ibu menjadi 16 per 100 ribu kelahiran hidup, menekan prevalensi stunting hingga 5 persen, mengurangi kasus tuberkulosis secara signifikan, serta memperluas cakupan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) agar menjangkau hampir seluruh penduduk.

Menurut Bappenas, pencapaian sasaran tersebut tidak hanya berkaitan dengan indikator statistik, tetapi juga berdampak langsung terhadap kualitas hidup masyarakat, perlindungan keluarga dari beban biaya kesehatan, serta peningkatan produktivitas nasional. Oleh karena itu, investasi di sektor kesehatan dipandang sebagai investasi jangka panjang untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia sekaligus daya saing Indonesia.

Febrian juga menekankan bahwa transformasi sistem kesehatan memerlukan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah pusat dan daerah, tenaga kesehatan, perguruan tinggi, dunia usaha, lembaga penelitian, masyarakat, hingga mitra pembangunan internasional.

Melalui kolaborasi tersebut, pemerintah berharap dapat membangun sistem kesehatan yang lebih tangguh, adaptif, dan berorientasi pada pencegahan penyakit sehingga mampu menciptakan generasi Indonesia yang sehat, produktif, dan siap mendukung terwujudnya Indonesia Emas 2045.