(Beritadaerah – Info Daerah) Provinsi Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, memperkuat perlindungan kawasan permukiman dan lahan pertanian dari ancaman banjir serta sedimentasi. Pembangunan infrastruktur pengendali sedimen di kawasan hulu Kecamatan Tukka dipercepat untuk mengantisipasi aliran air dan material dari perbukitan saat hujan berintensitas tinggi.
Langkah ini dilakukan melalui pembangunan Sabo Dam Aek Tukka dan Sabo Dam Sigala-gala. Dua infrastruktur ini menjadi bagian awal dari sistem pengendalian aliran air dan sedimen yang ditargetkan selesai pada Desember 2026.
Ketua Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera Muhammad Tito Karnavian mengatakan, Tapanuli Tengah menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian dalam penanganan pascabencana di Sumatera Utara.
“Penanganan di wilayah hulu ini harus kita percepat. Jangan sampai ketika hujan deras turun, aliran air dan material kembali turun dan berdampak ke masyarakat,” ujar Tito saat meninjau progres rehabilitasi dan rekonstruksi di Tapanuli Tengah, Kamis (10/9/2026).
Kondisi kawasan hulu menjadi perhatian karena pengendapan lumpur sebelumnya telah berdampak pada berbagai fasilitas dan aktivitas warga, mulai dari permukiman, perkantoran, sekolah, rumah ibadah hingga lahan persawahan.
Untuk memperkuat perlindungan, pembangunan akan dilanjutkan pada 2027 dengan dua Sabo Dam tambahan. Dengan demikian, Kecamatan Tukka nantinya memiliki total empat Sabo Dam sebagai bagian dari sistem pengendalian sedimen.
“Setelah itu, tahun depan dibangun lagi dua, jadi totalnya empat, khusus di Kecamatan Tukka ini,” kata Tito.
Pembangunan Sabo Dam juga dilakukan bersamaan dengan normalisasi saluran air dan sungai serta pembangunan retaining wall sepanjang 1,6 kilometer. Infrastruktur tersebut diharapkan mampu mengurangi risiko aliran air dan material kembali memasuki kawasan yang dihuni masyarakat.
Sementara itu, pemulihan rumah warga dan fasilitas pelayanan dasar yang terdampak bencana tetap berjalan secara paralel. Pemerintah menilai pemulihan tidak cukup hanya dengan membangun kembali fasilitas yang rusak, tetapi juga perlu memperkuat sistem perlindungan kawasan.
Dengan penanganan hulu, normalisasi sungai, dan pemulihan fasilitas warga yang dilakukan bersamaan, Tapanuli Tengah diharapkan memiliki perlindungan yang lebih kuat terhadap banjir dan sedimentasi sekaligus mempercepat pemulihan aktivitas masyarakat.


