(Beritadaerah-Nasional) Pemerintah memandang perubahan besar dalam industri kecerdasan artifisial dan semikonduktor global menjadi peluang bagi Indonesia untuk mengambil posisi penting dalam rantai pasok teknologi dunia. Dukungan sumber daya mineral, energi, hingga jumlah penduduk usia produktif dinilai menjadi modal kuat untuk memperkuat daya saing nasional di sektor tersebut.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, menyampaikan bahwa persaingan ekonomi global kini tidak lagi bertumpu pada penguasaan minyak bumi, melainkan pada kemampuan mengendalikan industri chip dan teknologi digital masa depan.
Dalam diskusi bertajuk peluang strategis Indonesia dalam rantai pasok AI di Jakarta, Nezar menjelaskan bahwa semikonduktor saat ini telah berkembang menjadi elemen penting yang menopang berbagai sektor strategis, mulai dari kecerdasan artifisial, pusat data, hingga sistem pertahanan modern.
Ia menilai chip semikonduktor kini bukan sekadar komponen elektronik, melainkan bagian dari infrastruktur kedaulatan teknologi yang menjadi fondasi pengembangan AI dan ekosistem digital global.
Menurutnya, Indonesia memiliki modal awal yang cukup kuat untuk masuk dalam rantai pasok industri tersebut. Salah satunya berasal dari kekayaan sumber daya alam, termasuk posisi Indonesia sebagai produsen timah dunia yang menjadi bahan penting dalam pembuatan chip semikonduktor.
Selain timah, Indonesia juga memiliki cadangan pasir silika yang melimpah sebagai bahan dasar silikon, komponen utama dalam industri semikonduktor. Meski demikian, pemerintah menilai strategi industri nasional perlu diarahkan agar tidak hanya menjadi pemasok bahan mentah, tetapi juga mampu menghasilkan produk setengah jadi maupun produk bernilai tambah tinggi.
Nezar juga menyoroti potensi energi nasional, khususnya energi terbarukan, sebagai keunggulan Indonesia dalam mendukung pembangunan pusat data dan infrastruktur AI yang membutuhkan pasokan listrik besar dan stabil.
Di samping itu, bonus demografi disebut menjadi kekuatan lain yang dapat dimanfaatkan Indonesia. Dengan jumlah penduduk sekitar 285 juta jiwa dan dominasi usia produktif, Indonesia dinilai memiliki peluang besar dalam mencetak talenta digital yang mampu bersaing di industri teknologi global.
Untuk mendukung pengembangan sumber daya manusia tersebut, Kementerian Komunikasi dan Digital menjalankan program AI Talent Factory bersama berbagai perguruan tinggi guna menyiapkan tenaga ahli AI dari tingkat dasar hingga lanjutan.
Dalam konteks geopolitik internasional, Nezar menilai posisi Indonesia sebagai negara nonblok memberi keuntungan tersendiri dalam menjalin kerja sama teknologi dengan berbagai pihak di tengah meningkatnya rivalitas global.
Meski Indonesia saat ini belum sepenuhnya masuk dalam rantai pasok global AI dan semikonduktor, pemerintah menilai kondisi tersebut dapat menjadi momentum untuk menyusun strategi industri teknologi nasional secara lebih terarah dan berkelanjutan.
Pemerintah juga menegaskan pengembangan AI di Indonesia diarahkan untuk mendukung sektor prioritas nasional serta membantu pekerjaan dengan tingkat risiko tinggi, sehingga teknologi hadir sebagai pendamping yang meningkatkan produktivitas dan keselamatan manusia, bukan menggantikan peran manusia sepenuhnya.


