Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, mengungkapkan bahwa lonjakan ini mulai dirasakan pelaku usaha sejak akhir pekan lalu dan berdampak langsung pada operasional, terutama bagi pelaku UMKM yang bergantung pada kemasan sekali pakai.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, mengungkapkan bahwa lonjakan ini mulai dirasakan pelaku usaha sejak akhir pekan lalu dan berdampak langsung pada operasional, terutama bagi pelaku UMKM yang bergantung pada kemasan sekali pakai.

Ekonomi Kota Bandung dan Ilusi Populisme Pembangunan

(Beritadaerah-Kolom) Di banyak kota besar, pembangunan sering kali tampil dalam bentuk yang mudah dilihat, taman yang indah, trotoar yang rapi, jalan utama yang berkilau, dan ruang publik yang ramai difoto. Di era media sosial, estetika kota menjadi komoditas politik. Pemimpin tampil, kamera menyapa, masyarakat bereaksi. Popularitas pun terbentuk. Namun, di balik semua itu, pertanyaan yang lebih mendasar jarang benar-benar dijawab: apakah pembangunan tersebut menyentuh akar persoalan ekonomi kota?

Fenomena kepemimpinan populis memperlihatkan bagaimana kebijakan sering kali berorientasi pada kepuasan jangka pendek. Masalah diangkat berdasarkan apa yang “terlihat” dan “dirasakan” secara langsung oleh masyarakat. Solusi yang ditawarkan pun bersifat instan—seperti obat pereda sakit kepala yang langsung meredakan gejala, tetapi tidak menyembuhkan sumber penyakit. Dalam konteks ekonomi daerah, pendekatan seperti ini menciptakan ilusi kemajuan, sementara masalah struktural tetap tertinggal di belakang.

Dalam konteks Kota Bandung, sebuah kota besar dengan reputasi sebagai pusat kreativitas dan pendidikan, paradoks ekonomi terlihat cukup jelas. Di satu sisi, kota ini memiliki pendapatan daerah yang relatif tinggi, aktivitas ekonomi yang dinamis, serta daya tarik kuat bagi pendatang. Namun di sisi lain, indikator kesejahteraan menunjukkan realitas yang lebih kompleks: pertumbuhan ekonomi yang masih terbatas, ketimpangan yang cukup tinggi, serta berbagai persoalan sosial yang berdampak langsung pada kualitas hidup masyarakat.

Salah satu indikator yang paling mencolok adalah ketimpangan distribusi kesejahteraan. Rasio ketimpangan yang berada di kisaran 0,44 menunjukkan bahwa hasil pertumbuhan ekonomi di Kota Bandung tidak terdistribusi secara merata. Ini berarti bahwa meskipun kota terlihat berkembang, sebagian besar masyarakat belum menikmati hasil pembangunan secara proporsional. Ketimpangan ini menjadi hambatan utama bagi pertumbuhan ekonomi jangka panjang karena mengurangi daya beli masyarakat secara luas. Masalah lain yang memiliki implikasi ekonomi besar adalah kesehatan masyarakat. Tingginya prevalensi penyakit seperti TBC bukan hanya persoalan kesehatan, tetapi juga produktivitas tenaga kerja. Dalam ekonomi daerah, kesehatan adalah modal utama. Tenaga kerja yang tidak sehat akan menurunkan output ekonomi, meningkatkan beban biaya kesehatan, serta memperlambat pertumbuhan ekonomi Kota Bandung.

Lebih dalam lagi, persoalan sanitasi menjadi fondasi yang sering diabaikan. Ketika sebagian permukiman di Kota Bandung tidak memiliki septic tank, dampaknya bukan hanya pada lingkungan, tetapi juga pada kualitas sumber daya manusia. Sanitasi yang buruk meningkatkan risiko penyakit, menurunkan kualitas hidup, dan pada akhirnya berdampak pada produktivitas ekonomi. Permasalahan ini diperparah oleh kondisi permukiman padat yang tidak terencana. Jalan kecil, akses terbatas, drainase buruk, dan pengelolaan sampah yang belum optimal menciptakan lingkungan yang tidak produktif secara ekonomi. Padahal, kawasan-kawasan ini sering kali menjadi tempat tinggal mayoritas tenaga kerja di Kota Bandung. Ketika lingkungan mereka tidak mendukung, maka efisiensi ekonomi secara keseluruhan ikut terganggu.

Salah satu pendekatan yang mulai berkembang adalah pembangunan berbasis data hingga tingkat RT dan RW. Dengan mengumpulkan data langsung dari unit terkecil masyarakat, pemerintah dapat memahami struktur ekonomi kota secara lebih akurat. Pendekatan ini menggeser paradigma dari pembangunan berbasis asumsi menjadi pembangunan berbasis fakta, yang sangat penting bagi kota kompleks seperti Kota Bandung.

Dari data tersebut, muncul konsep “outliers”—individu atau kelompok yang mampu mencapai kondisi lebih baik meskipun berada di lingkungan yang kurang mendukung. Dalam konteks Kota Bandung, outliers ini menjadi aset penting. Mereka dapat menjadi model keberhasilan yang bisa direplikasi, menciptakan efek domino dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Selain itu, struktur ekonomi Kota Bandung juga sangat dipengaruhi oleh mobilitas penduduk. Sebagai kota pendidikan dengan banyak perguruan tinggi ternama, kota ini menarik puluhan hingga ratusan ribu pendatang usia produktif. Mereka berkontribusi pada konsumsi, inovasi, dan dinamika ekonomi. Namun, jika tidak terintegrasi secara administratif, kontribusi mereka sering tidak tercermin dalam statistik resmi.

Kebijakan kependudukan menjadi instrumen penting dalam mengoptimalkan potensi ini. Dengan memberikan kemudahan bagi pendatang untuk menjadi bagian dari sistem kota, Kota Bandung dapat meningkatkan basis ekonominya secara formal. Hal ini berdampak pada akses terhadap kredit, pembukaan usaha, serta pertumbuhan ekonomi lokal.

Pembangunan ekonomi tidak hanya soal angka dan kebijakan, tetapi juga soal perilaku masyarakat. Contohnya adalah pengelolaan sampah. Banyak warga masih melihat sampah sebagai masalah individu, bukan kolektif. Padahal, dalam ekonomi perkotaan Kota Bandung, pengelolaan sampah yang efektif dapat menjadi sumber nilai tambah sekaligus meningkatkan kualitas lingkungan. Ada persoalan klasik dalam tata kelola, administrasi dan legalitas. Banyak infrastruktur yang tidak dapat diperbaiki karena masalah administratif, seperti tidak adanya serah terima dari pengembang kepada pemerintah. Hal ini menunjukkan bahwa ekonomi daerah juga sangat dipengaruhi oleh aspek tata kelola yang sering kali tidak terlihat.

Kepemimpinan yang efektif di Kota Bandung bukanlah yang paling populer, tetapi yang paling konsisten dalam menyelesaikan masalah. Pendekatan yang mungkin terlihat “membosankan”—seperti memperbaiki data, memastikan legalitas, dan mengelola anggaran secara disiplin—justru menjadi kunci keberhasilan.Penting juga untuk memahami bahwa pembangunan ekonomi membutuhkan waktu. Tidak semua hasil bisa terlihat dalam jangka pendek. Ada proses panjang yang melibatkan perbaikan infrastruktur dasar, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta perubahan perilaku masyarakat. Dalam proses ini, kesabaran menjadi faktor penting.

Salah satu strategi yang relevan adalah fokus pada infrastruktur “bawah” sebelum mempercantik “permukaan”. Artinya, sebelum memperindah jalan utama, pemerintah harus memastikan bahwa permukiman warga di Kota Bandung memiliki akses sanitasi, air bersih, dan lingkungan yang sehat. Keberhasilan ekonomi Kota Bandung akan ditentukan oleh kemampuan menyeimbangkan kebutuhan jangka pendek dan jangka panjang. Bantuan sosial penting, tetapi harus diimbangi dengan peningkatan produktivitas. Investasi dalam pendidikan dan kesehatan menjadi kunci untuk menciptakan pertumbuhan yang berkelanjutan.

Ekonomi daerah adalah cerminan dari pilihan kebijakan. Apakah memilih jalan populisme yang cepat terlihat, atau pembangunan struktural yang lebih lambat tetapi berdampak jangka panjang. Kota Bandung saat ini berada di persimpangan tersebut—antara citra dan substansi, antara tampilan dan fondasi. Kota yang berani menghadapi realitas data, memperbaiki akar masalah, dan membangun dari bawah mungkin tidak langsung terlihat gemerlap. Namun, di situlah letak kekuatan ekonomi yang sesungguhnya: pada fondasi yang kokoh, bukan sekadar tampilan permukaan.