rupiah
Ilustrasi Uang Rupiah (Photo: Kemkominfo)

Rupiah Melemah, Haruskah Kita Khawatir?

(Beritadaerah-Kolom) Hampir setiap krisis ekonomi besar dalam sejarah Indonesia selalu bermuara pada satu titik yang sama, nilai tukar rupiah. Ketika rupiah melemah tajam terhadap dolar Amerika Serikat, dampaknya tidak hanya terasa di pasar uang atau dunia perbankan, tetapi langsung menyentuh kehidupan sehari-hari masyarakat. Harga barang naik, biaya impor membengkak, cicilan utang pemerintah bertambah berat, dan pada akhirnya daya beli rakyat tergerus.

Belakangan ini, rupiah kembali mendekati angka psikologis Rp17.000 per dolar AS. Bagi generasi yang mengalami krisis 1998, angka itu terasa “keramat”. Saat itu rupiah sempat menyentuh level tersebut dan krisis ekonomi pun meledak. Kini, setiap kali rupiah mendekati 17.000, publik mulai bertanya-tanya apakah ini tanda bahaya.

Dalam beberapa pekan terakhir, pergerakan rupiah terasa semakin cepat. Jika sebelumnya butuh waktu berbulan-bulan untuk bergerak dari 16.500 ke 16.900, kini dalam hitungan minggu bahkan hari sudah kembali mendekati 17.000. Setiap kali mendekat, biasanya ada intervensi dari Bank Indonesia yang membuat rupiah sedikit menguat. Namun penguatan itu sering tidak bertahan lama.

Bagi orang awam, mungkin muncul pertanyaan sederhana, mengapa rupiah bisa melemah? Apakah ini karena kondisi global, atau ada masalah di dalam negeri?

Salah satu pemicu utama tekanan terhadap rupiah adalah penurunan outlook atau prospek utang Indonesia oleh Moody’s. Outlook negatif berarti lembaga pemeringkat melihat ada risiko kondisi keuangan Indonesia bisa memburuk di masa depan. Memang peringkatnya belum diturunkan, tetapi pasar membaca sinyal ini sebagai peringatan dini.

Dalam dunia keuangan, kepercayaan adalah segalanya. Ketika lembaga seperti Moody’s memberi sinyal negatif, investor global mulai berhitung ulang. Mereka khawatir, jika kondisi fiskal memburuk, peringkat utang Indonesia benar-benar bisa diturunkan. Jika itu terjadi, Indonesia bisa kehilangan status layak investasi. Konsekuensinya besar karena investor asing dapat menarik dananya, dan rupiah akan semakin tertekan. Lembaga lain seperti S&P Global Ratings juga terus memantau kondisi Indonesia. Jika mereka mengambil langkah serupa, tekanan pasar bisa semakin kuat.

Untuk memahami masalah ini, bayangkan negara seperti rumah tangga. Negara memiliki pendapatan, terutama dari pajak, dan memiliki pengeluaran untuk gaji pegawai, pembangunan, subsidi, dan berbagai program lainnya. Jika pengeluaran lebih besar dari pendapatan, terjadilah defisit. Defisit biasanya ditutup dengan utang. Masalah muncul ketika defisit melebar sementara pendapatan tidak meningkat signifikan. Jika utang terus bertambah, beban pembayaran bunga dan cicilan juga ikut naik. Semakin besar porsi anggaran yang dipakai untuk membayar utang, semakin sempit ruang untuk membiayai kebutuhan lain.

Investor melihat kondisi ini sebagai risiko. Mereka bertanya apakah Indonesia akan tetap mampu membayar utangnya dengan nyaman jika ekonomi melambat dan penerimaan pajak tidak optimal. Keraguan semacam ini dapat mendorong investor memindahkan dana ke negara yang dianggap lebih aman. Ketika dana keluar, rupiah tertekan.

Sebagian orang berpikir bank sentral bisa sepenuhnya menahan pelemahan rupiah. Memang, Bank Indonesia dapat melakukan intervensi dengan menjual cadangan devisa untuk membeli rupiah sehingga nilainya menguat. Namun langkah ini tidak bisa dilakukan tanpa batas. Jika akar masalahnya adalah kepercayaan terhadap kondisi fiskal dan kebijakan ekonomi, intervensi hanya memberi efek sementara. Pasar bisa kembali menekan rupiah setelah intervensi mereda.

Bank sentral juga menghadapi dilema suku bunga. Jika suku bunga dinaikkan, rupiah bisa menjadi lebih menarik bagi investor, tetapi biaya pinjaman di dalam negeri ikut naik dan ekonomi bisa melambat. Jika suku bunga diturunkan, pertumbuhan mungkin terdorong, tetapi rupiah bisa semakin melemah karena dana asing keluar. Dalam situasi seperti ini, mempertahankan suku bunga sering menjadi pilihan paling aman meskipun bukan solusi menyeluruh.

Menariknya, di saat beberapa mata uang Asia relatif stabil atau bahkan menguat terhadap dolar, rupiah justru melemah. Hal ini membuat sebagian analis menyimpulkan bahwa tekanan terhadap rupiah tidak semata-mata berasal dari faktor global. Jika pelemahan terjadi serentak di banyak negara, kita bisa menunjuk penyebab global. Namun jika negara lain lebih stabil sementara rupiah melemah, pasar melihat ada persoalan domestik yang perlu dibenahi.

Kepercayaan investor tidak hanya ditentukan oleh angka defisit atau rasio utang. Konsistensi kebijakan, kepastian hukum, dan tata kelola pemerintahan juga sangat penting. Jika regulasi sering berubah atau kebijakan dianggap tidak konsisten, investor menjadi ragu. Dalam jangka panjang, kepercayaan adalah fondasi yang menentukan stabilitas nilai tukar.

Apakah rupiah bisa menembus Rp20.000? Secara teori, nilai tukar selalu bisa bergerak ke level mana pun tergantung kondisi dan sentimen pasar. Jika terjadi guncangan besar, seperti penurunan peringkat utang atau arus modal keluar secara besar-besaran, pelemahan lebih lanjut memang mungkin terjadi. Namun kemungkinan bukan berarti kepastian. Nilai tukar dipengaruhi banyak faktor sekaligus, mulai dari kondisi fiskal dan moneter hingga dinamika global dan psikologi pasar.

Bagi masyarakat, pelemahan rupiah biasanya terasa dalam bentuk kenaikan harga barang, terutama yang berkaitan dengan impor seperti bahan bakar, obat-obatan, dan bahan baku industri. Inflasi berpotensi meningkat dan biaya hidup bisa bertambah berat. Di sisi lain, eksportir bisa memperoleh keuntungan karena produk mereka menjadi lebih murah di pasar internasional. Namun manfaat ini tidak selalu langsung dirasakan oleh masyarakat luas.

Dalam menghadapi kondisi seperti ini, yang dibutuhkan bukan kepanikan melainkan kewaspadaan. Pemerintah perlu memperkuat kepercayaan pasar melalui kebijakan fiskal yang lebih sehat, belanja yang efisien, dan komunikasi yang jelas. Di sisi lain, masyarakat dan investor perlu bersikap bijak dalam mengelola keuangan. Diversifikasi aset, menghindari spekulasi berlebihan, dan menjaga cadangan dana darurat menjadi langkah yang masuk akal dalam situasi tidak pasti.

Seperti pernah diingatkan oleh Warren Buffett, pasar sering memindahkan uang dari mereka yang tidak sabar kepada mereka yang sabar. Pesan ini relevan dalam kondisi apa pun, termasuk saat rupiah bergejolak. Nilai tukar memang penting, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana negara dan masyarakat meresponsnya.

Rupiah bukan sekadar angka di papan kurs. Ia mencerminkan tingkat kepercayaan terhadap ekonomi Indonesia. Selama kepercayaan itu dijaga dan diperkuat melalui kebijakan yang rasional dan konsisten, peluang untuk stabil tetap terbuka. Kita perlu waspada, tetapi tidak perlu panik. Yang dibutuhkan adalah langkah yang tepat agar stabilitas ekonomi dapat terjaga dan kesejahteraan masyarakat tidak ikut tergerus.