Sungai Batang Matobat
Ilustrasi

Aliran Terang dari Sungai Batang Matobat

(Beritadaerah-Kolom) Air selalu mengingat. Begitu pula Sungai Batang Matobat. Ia mengingat tiap tetes hujan yang jatuh ke pegunungan Mentawai, tiap arus yang menembus bebatuan, dan tiap penghidupan di Desa Sinaka yang tumbuh bersama derasnya. Selama puluhan tahun, sungai itu hanya mengalir memberi ikan, namun belum pernah memberi terang. Sampai suatu hari, manusia datang membawa rencana untuk menjadikan alirannya sebagai cahaya.

Sinaka, sebuah desa di Pagai Selatan, Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, berada jauh dari riuh kota. Perjalanan mencapainya adalah kisah tersendiri: menyeberangi ombak, melewati hutan basah, menyusuri jalan yang kadang lebih berupa harapan daripada aspal. Namun, desa kecil ini menyimpan kekuatan yang mengalir tanpa pernah diolah: Batang Matobat, sungai yang lahir dari rahim bukit-bukit hijau Mentawai.

Pada suatu sore yang hangat dan lembap, perahu kecil merapat di dermaga kayu desa itu. Di dalamnya, beberapa insinyur muda menjejakkan kaki untuk pertama kali, membawa peta geodetik dan data hidrologi. Salah satunya, Ardan, menggenggam map lusuh berisi angka-angka tentang potensi sungai: luas tangkapan 28,10 km², curah hujan rata-rata tahunan 2710 mm, debit rencana 2 meter kubik per detik, tinggi jatuh efektif 17,5 meter, kapasitas terpasang 200 kilowatt. Angka yang bagi para insinyur berarti peluang, bagi warga berarti harapan yang belum pernah benar-benar mereka genggam.

Warga menyambut mereka dengan rasa penasaran yang tak tertahankan. Listrik bagi mereka masih seperti tamu yang hanya datang sebentar—hanya beberapa jam dari genset yang makan biaya dan kerap rewel. Setelah itu, gelap kembali menguasai malam. Maka saat Rina, gadis kecil dengan rambut tebal dan mata yang penuh tanya, mendekati Ardan dan bertanya lirih, “Benarkah nanti malam tak akan gelap lagi?”, Ardan hanya bisa tersenyum. Ia mengangguk pelan sambil menatap sungai. Namun ia tahu, perjalanan menuju terang tidak akan semudah menekan sebuah sakelar.

Sungai itu mengalir pelan, seolah menatap orang-orang yang datang untuk menjinakkannya. Jika ia dapat berbicara, mungkin ia akan bertanya: “Siapa kalian yang ingin mengubah nasibku? Aku telah mengalir jauh sebelum manusia menetap di tepianku.” Namun dalam kedalaman arusnya, sungai itu tampak menyimpan restu yang diam: “Jika cahaya yang kalian cari, mari kita bekerja bersama.”

Perhitungan teknis sudah dilakukan. Debit banjir seratus tahunan yang pernah diukur mencapai dua ratus tiga puluh satu koma delapan tujuh meter kubik per detik—sebuah pengingat betapa ganas sungai ini bila hujan menggila. Tetapi dalam kesehariannya, Matobat begitu dermawan. Alirannya sanggup memutar turbin, menyulap gerak menjadi listrik, dan listrik menjadi terang.

Bendungan kecil akan dibangun setinggi tiga meter, bukan untuk membendung hidup sungai, hanya untuk mengalirkannya sebentar melalui saluran sepanjang 288 meter. Dari sana, air akan berlari dalam pipa baja sepanjang 388 meter dengan diameter 1,15 meter menuju rumah pembangkit. Semua perhitungan dilakukan dengan rasa hormat pada sungai dan lingkungan sekitarnya. Tak ada waduk megah yang akan menenggelamkan lahan pertanian atau rumah warga. Tak ada paksa-memaksa antara teknologi dan alam. Hanya kerja sama.

Biaya proyeknya hampir empat belas miliar rupiah. Jumlah yang bisa membuat siapa pun mengangkat alis. Tetapi analisis ekonomi sudah bicara: proyek ini layak, dan keuntungannya akan kembali dalam waktu kurang dari sembilan tahun. Tapi bagi mereka yang tinggal di Sinaka, angka-angka itu hanya sekilas lewat. Yang benar-benar ingin mereka tahu adalah: kapan lampu akan menyala?

Pekerjaan dimulai dengan semangat yang menular. Para pekerja desa bergotong-royong mengangkut pipa besar yang tampak seperti ular besi dari pelabuhan kecil ke bukit tempat turbin akan ditempatkan. Di sela keringat, tawa tetap terdengar. Mereka tidak hanya membangun infrastruktur, tetapi juga menegakkan harapan bersama.

Namun, Mentawai punya cara sendiri untuk menguji tekad manusia. Suatu malam, badai datang begitu cepat seakan jatuh dari langit. Hujan mengguyur tanah, membuat sungai mengaum dan naik ganas. Material yang sudah tersusun rapi hanyut oleh amarah alam. Para pekerja dipaksa mundur. Di wajah warga, kecemasan mulai tumbuh liar. Jika proyek ini gagal, siapa yang akan percaya lagi?

Tetapi esoknya, begitu langit sedikit membuka celah biru, para pekerja kembali. Tanah yang longsor dibersihkan. Fondasi diperkuat. Tidak ada yang menyerah. Mereka tahu, jika mereka mundur sekali saja, gelap akan memenangi pertempuran ini.

Hari yang ditunggu akhirnya tiba. Setelah berbulan-bulan, setiap mur terpasang, setiap kabel tersambung, dan setiap pipa menempel rapat seperti aliran darah dalam tubuh pembangkit. Warga berkumpul di sekitar rumah turbin yang kini berdiri seperti harapan yang berwujud. Anak-anak duduk berderet paling depan. Rina menggenggam tangan ibunya, berdiri di sisi Ardan.

“Bolehkah aku yang menyalakannya?” tanyanya dengan suara hampir tak terdengar.
Ardan mengangguk, menyerahkan momen itu padanya.

Jari kecil itu menyentuh sakelar. Turbin mulai berputar, pelan lalu cepat. Generator bergetar. Air yang mengalir di dalam pipa baja berubah menjadi aliran energi listrik. Lampu pertama menyala. Lalu satu lagi. Dan satu lagi. Seolah bintang-bintang turun dari langit dan memutuskan tinggal di Sinaka.

Sorak sorai pecah. Tawa bercampur tangis haru. Warga menatap cahaya seperti menatap mukjizat. Rina terpaku, seolah ia baru saja menyalakan dunia.

Tak perlu menunggu lama untuk melihat perubahan. Puskesmas kini bisa menyimpan vaksin tanpa takut rusak. Anak-anak belajar hingga malam tanpa mata yang memaksa menyesuaikan gelap. Ibu-ibu membuka usaha jajanan dengan lemari pendingin kecil. Penjahit dan pengrajin mendapatkan pesanan yang lebih banyak. Televisi menyala hampir setiap malam, menayangkan pertandingan bola yang dulu hanya tinggal cerita karena genset menyerah terlalu cepat. Dunia kini terasa lebih dekat dari pulau yang jauh ini.

Yang paling indah, alam tidak merasa terancam. Sungai tetap bebas mengalir. Ia hanya meminjamkan sebagian kecil tenaganya untuk membantu manusia bertahan dan bermimpi lebih besar. Energi bersih itu menjaga kehidupan sekaligus menjaga keharmonisan. Sungai seakan tersenyum, berkata: “Kalian dapat terang, aku pun tetap menjadi diriku sendiri.”

Waktu berjalan dan cahaya bertahan. Dua tahun setelah sakelar pertama ditekan, Sinaka tak lagi sama. Di wajah anak-anak, masa depan terlihat lebih jelas. Di jalanan, lampu-lampu malam berdiri sebagai pengingat bahwa mimpi bisa diwujudkan di tempat terpencil sekalipun. Ekonomi desa tumbuh perlahan namun pasti.

Rina kini mulai mengajar adiknya membaca kala malam. Gambar peta Indonesia yang dulu terbengkalai kini telah selesai hingga pulau terkecil. “Aku ingin jadi guru suatu hari nanti,” katanya dengan keyakinan yang hanya dimiliki oleh mereka yang pernah melihat kegelapan dipaksa mundur oleh cahaya.

Pada perayaan sederhana memperingati pembangkit itu beroperasi, kepala desa berdiri di depan warga yang tersenyum bangga. Ia berkata pelan namun penuh makna, “Kita dulu bergantung pada gelap. Sekarang kita memilih terang.”

Ardan yang duduk di bagian belakang hanya menatap sungai dalam senyap. Pekerjaannya belum selesai; perawatan dan peningkatan selalu harus dilakukan. Namun, hidup telah berubah. Itu cukup untuk membuatnya merasa seluruh perjuangan terbayar lunas.

Batang Matobat masih mengalir seperti biasa, tetapi kini ia mengalir bersama cerita baru: cerita tentang teknologi yang hadir tanpa merusak, tentang masyarakat yang berjuang mengambil alih masa depan, tentang cahaya yang lahir dari aliran air. Ia mengalir sambil membisikkan pesan kepada siapa saja yang mau mendengar: lihatlah cahaya itu, masa depan kalian terpancar darinya.

Sinaka tidak lagi hanya titik kecil di sudut peta. Ia kini menjadi bukti bahwa perubahan besar bisa lahir dari sesuatu yang sederhana—asal hati manusia cukup teguh mewujudkannya.

Dan sepanjang malam, Sungai Batang Matobat tetap mengalir, membawa cerita tentang sebuah desa yang akhirnya menemukan terang dari aliran tubuhnya sendiri.