(Beritadaerah-Kolom) Pagi itu, kabut tipis masih menggantung di atas pesisir Sulawesi Tengah ketika sebuah perahu kayu bermesin kecil mendekati bibir pantai. Suara burung camar terdengar bersahutan dari kejauhan, seolah menyambut para nelayan yang baru kembali dari laut dalam. Di salah satu dari seratus delapan puluh Tempat Pendaratan Ikan Tradisional yang ada di provinsi tersebut—jumlah tertinggi di seluruh Indonesia tahun 2024—seorang pemuda bernama Samaul mendorong perahunya melewati ombak kecil.
Tempat pendaratan di desa itu tampak sangat sederhana. Tidak ada dermaga permanen, tidak ada kantor, tidak ada plang berlogo dinas. Hanya hamparan pasir yang telah bertahun-tahun menjadi landasan utama perahu nelayan, sebuah meja kayu beratap seng untuk menimbang ikan, dan beberapa kotak styrofoam yang tampak kelelahan oleh matahari. Namun, bagi masyarakat desa itu, tempat sederhana tersebut adalah urat nadi kehidupan, pusat ekonomi, dan simbol keteguhan.
Hari itu, tangkapan Samaul cukup lumayan. Embernya penuh dengan ikan layang, salah satu jenis ikan dengan produksi terbesar di seluruh Tempat Pendaratan Ikan Tradisional pada tahun 2024, mencapai lebih dari dua puluh enam ribu ton. Ikan-ikan kecil itu berkilau keperakan, seolah membawa cahaya dari dasar laut.
Samaul menyandarkan tubuhnya sejenak, melepaskan topi anyaman yang mulai basah oleh keringat. Setiap tetes air asin di kulitnya seperti mengingatkan bahwa dirinya bukan hanya bagian dari sebuah komunitas kecil, tetapi juga bagian dari jaringan besar perikanan tradisional Indonesia yang tersebar di dua puluh sembilan provinsi. Ada tujuh ratus empat puluh tujuh Tempat Pendaratan Ikan Tradisional di seluruh negeri, dan desa kecilnya hanyalah satu titik di antara ratusan simpul pendaratan yang menopang ekonomi pesisir.
Belum sempat ia mengambil napas panjang, seorang pria bertubuh tambun dengan langkah penuh percaya diri menghampirinya. Pria itu bernama Daeng Musa, seorang pengumpul yang sejak lama menjadi bagian dari kehidupan nelayan setempat.
“Berapa ember hari ini, Mul?” tanya Daeng Musa sambil menatap ember-ember ikan layang.
“Dua ember, Daeng,” jawab Samaul.
Hubungan antara nelayan dan pengumpul berjalan dengan pola yang sudah berlangsung turun-temurun. Berdasarkan data tahun 2024, enam puluh enam koma enam tujuh persen Tempat Pendaratan Ikan Tradisional di Indonesia menjual hasil tangkapan kepada pengumpul atau tengkulak. Bagi nelayan kecil seperti Samaul, menjual kepada tengkulak adalah pilihan paling realistis. Tengkulak datang setiap hari, memberikan modal, dan membeli ikan tanpa persyaratan rumit. Tempat pelelangan ikan terdekat berada cukup jauh, dan jadwal pelelangannya sering tidak sesuai dengan waktu pendaratan nelayan kecil yang bergantung pada angin dan arus.
Daeng Musa memeriksa ikan dengan mata terlatih, menyebut sebuah angka, dan Samaul menerimanya tanpa panjang perdebatan. Ia tahu posisinya dalam rantai nilai tidak kuat, tetapi ia juga tahu bahwa laut tidak selalu memberi kesempatan untuk memilih.
Tempat pendaratan tempat Samaul bekerja tidak dikelola oleh lembaga resmi mana pun. Berdasarkan statistik nasional, enam puluh satu koma lima delapan persen Tempat Pendaratan Ikan Tradisional di Indonesia tidak memiliki pengelola formal. Desa itu termasuk dalam kelompok besar tersebut. Tidak ada struktur kepengurusan, tidak ada pencatatan resmi, dan tidak ada pihak yang bertanggung jawab atas kondisi fasilitas. Jika meja timbang lapuk, masyarakat memperbaikinya bersama-sama. Jika hujan deras menyebabkan atap seng bocor, nelayan bergotong royong menambalnya dengan apa pun yang tersedia.
Samaul sering membayangkan bagaimana jadinya bila tempat pendaratan kecil itu memiliki pengelolaan resmi. Mungkin akan ada pendataan hasil tangkapan. Mungkin ada standarisasi harga. Mungkin nelayan tidak lagi bergantung sepenuhnya pada tengkulak. Namun semua itu masih menjadi bayangan yang berputar-putar di kepalanya, seperti perahu-perahu kecil yang terus bergoyang mencari keseimbangan di atas gelombang.
Musim itu sebenarnya cukup baik bagi nelayan. Tahun 2024 mencatat kenaikan volume produksi hasil tangkapan yang didaratkan di Tempat Pendaratan Ikan Tradisional di seluruh Indonesia, dari sekitar dua ratus dua puluh empat ribu ton tahun sebelumnya menjadi lebih dari dua ratus empat puluh lima ribu ton. Triwulan terakhir menjadi periode paling produktif, mencapai enam puluh tujuh ribu ton ikan yang didaratkan. Bagi nelayan, angka itu tercermin dalam bentuk jaring yang lebih berat dan tawa yang lebih riang ketika pulang.
Namun, mereka juga tahu bahwa sifat laut tidak selalu ramah. Pada bulan-bulan tertentu, angin monsun berubah arah membawa gelombang lebih tinggi dan arus yang tidak stabil. Pada masa itu, perahu-perahu kecil dibiarkan terikat di pasir, nelayan memperbaiki jaring, dan desa pesisir menjadi lebih sunyi. Pendapatan menurun drastis, dan anak-anak yang biasanya membeli jajanan dari kios tepi pantai lebih sering pulang dengan tangan kosong.
Sore itu, anak Samaul yang bernama Lira duduk di tepi pantai sambil menggambar perahu. Ia baru berusia delapan tahun, tetapi sudah memahami bahwa hidup ayahnya ditentukan oleh laut. Dengan polos ia bertanya, “Ayah, kalau saya besar nanti, lautnya masih ada ikan?”
Pertanyaan itu membuat Samaul terdiam lama. Ia ingat cerita para tetua bahwa dulu seekor cakalang bisa sebesar paha orang dewasa. Sekarang, meski produksi cakalang nasional masih tinggi—sekitar lima belas ribu ton—nelayan sering berkata bahwa ukurannya tidak sebesar dulu.
Samaul akhirnya menjawab, “Kalau kita jaga laut baik-baik, ikan akan tetap ada. Kalau kamu belajar sungguh-sungguh, mungkin suatu hari kamu bisa bantu ayah mengatur tempat ini.”
Dalam hati, ia menyimpan harapan bahwa generasi anaknya tidak lagi harus mengulang lingkaran ketergantungan yang sama. Bahwa suatu hari, tempat pendaratan kecil itu bisa berubah menjadi simpul ekonomi yang lebih adil, lebih bersih, dan lebih terorganisir.
Di tengah semua keterbatasan, ada tanda-tanda kecil perubahan. Beberapa nelayan muda mulai mencoba mencatat hasil tangkapan menggunakan ponsel mereka. Mereka menghitung harga, memperkirakan musim, dan menganalisis pola angin dengan cara sederhana. Inisiatif itu kecil, tetapi di tempat pendaratan yang tidak memiliki pengelola resmi, langkah kecil itu terasa seperti lompatan besar.
Matahari mulai tenggelam, meninggalkan garis emas di atas ombak. Perahu-perahu ditarik perlahan ke daratan, anak-anak berlari di pasir, dan aroma asin bercampur bau solar memenuhi udara. Samaul menatap laut yang perlahan menggelap, merasa bahwa di balik kesederhanaan tempat pendaratan itu, ada harapan yang tetap menyala.
Tempat Pendaratan Ikan Tradisional desa itu mungkin tidak memiliki dermaga, tidak memiliki kantor, dan tidak tercatat dengan rapi. Namun di sanalah seluruh kehidupan masyarakat bergantung. Laut memberi mereka makan, dan tempat pendaratan itu memberi mereka arah.
Samaul tahu satu hal: meski disebut tradisional, masa depan tempat itu tidak harus berjalan seperti masa lalu. Perubahan mungkin datang perlahan, seperti pasang naik yang tidak pernah gagal kembali. Dan selama perahu-perahu itu terus kembali ke pantai, cerita tentang tempat pendaratan kecil ini akan terus hidup bersama debur ombak.


