(Beritadaerah-Tongke-Tongke) Aktivitas masyarakat di Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) Tongke-Tongke, Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, mulai menunjukkan perubahan seiring berkembangnya fasilitas pengelolaan hasil perikanan di kawasan tersebut. Laut tidak lagi hanya menjadi sumber tangkapan bagi nelayan, tetapi juga menjadi penggerak kegiatan ekonomi hingga ke daratan.
Setiap kali kapal nelayan kembali dari melaut, hasil tangkapan dapat langsung ditangani di kawasan KNMP. Berbagai fasilitas seperti tempat pendaratan ikan, penyimpanan dingin, pabrik es, dan Unit Pengolahan Ikan (UPI) memungkinkan hasil laut segera mendapatkan penanganan yang lebih baik. Kondisi ini membuat ikan tidak harus langsung dikirim ke daerah lain untuk mencari pembeli.
Salah satu hasil yang mulai terlihat adalah meningkatnya nilai jual tuna. Sebelum KNMP beroperasi, harga tuna yang diterima nelayan berada di kisaran Rp25.000 hingga Rp30.000 per kilogram. Kini, harga tersebut dapat mencapai sekitar Rp45.000 per kilogram. Kenaikan ini turut berdampak terhadap pendapatan nelayan yang rata-rata disebut meningkat dari sekitar Rp4 juta menjadi Rp7 juta per bulan.
Perubahan tidak hanya terjadi pada harga jual. Tuna yang didaratkan di Tongke-Tongke kini dapat diproses menjadi tuna loin sebelum dikirim ke pasar yang lebih luas. Pada 25 September 2026, sebanyak 12 ton tuna loin kembali dikirim menuju Jakarta. Sebelumnya, KNMP Tongke-Tongke telah mengirim sekitar 65 ton tuna loin dengan nilai mencapai Rp2,54 miliar melalui mitra koperasi.
Pengelolaan hasil laut juga dilakukan secara lebih menyeluruh. Bagian tuna seperti tetelan, rahang atau kama, toro, serta daging merah hasil trimming tetap dimanfaatkan dan dikirim ke Jakarta sehingga memiliki nilai ekonomi tersendiri.
Aktivitas tersebut ikut membuka lapangan pekerjaan. KNMP Tongke-Tongke saat ini tercatat memiliki 80 anggota dan menyerap 39 tenaga kerja lokal. Jumlah kapal yang tambat juga meningkat dari 118 unit menjadi 216 unit dalam enam bulan, dengan sebagian besar kapal berukuran 15 hingga 29 GT.
Keberadaan fasilitas seperti cold storage, pabrik es, dermaga, kios perbekalan, sentra kuliner, dan kendaraan berpendingin turut memperpendek rantai pemasaran. Nelayan memiliki akses yang lebih dekat dengan pengelola dan pasar sehingga ketergantungan terhadap mata rantai perdagangan yang panjang dapat berkurang.
Pemerintah kemudian mendorong pola tersebut diterapkan di lebih banyak wilayah pesisir. KKP bekerja sama dengan Kementerian Koperasi, Kementerian Keuangan, dan BP BUMN agar KNMP tidak sekadar menjadi infrastruktur, tetapi berkembang sebagai bagian dari kegiatan usaha Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih.
KKP telah membangun KNMP di 100 lokasi pada 2025 dan menargetkan pengembangannya hingga 5.000 desa nelayan pada 2029. Tongke-Tongke menjadi salah satu gambaran bagaimana pengolahan hasil laut di daerah asal dapat menciptakan nilai tambah, memperluas kesempatan kerja, dan membuat manfaat ekonomi dari aktivitas nelayan dirasakan lebih banyak masyarakat.


