(Beritadaerah-Jakarta) Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak mengajak masyarakat meluangkan waktu satu jam bersama keluarga tanpa penggunaan gawai sebagai upaya memperkuat hubungan emosional antara orang tua dan anak di tengah meningkatnya ketergantungan terhadap perangkat digital.
Melalui gerakan Satu Jam Berkualitas Bersama Keluarga atau SatuJamKu, pemerintah mendorong terciptanya kembali interaksi langsung dalam keluarga yang dinilai mulai berkurang akibat tingginya penggunaan teknologi dalam kehidupan sehari-hari.
Asisten Deputi Koordinasi Pelaksanaan Kebijakan Pemenuhan Hak Anak Wilayah II Kementerian PPPA, Eko Novi Ariyanti Rahayu Damayanti, menyampaikan bahwa tantangan pengasuhan saat ini bukan hanya terkait pemenuhan kebutuhan dasar anak, tetapi juga menjaga kualitas komunikasi dan kedekatan di dalam keluarga.
Dalam sosialisasi Gerakan Nasional Satu Jam Berkualitas Bersama Keluarga di Jakarta, ia menjelaskan penggunaan gawai yang semakin intens sering membuat anggota keluarga berada dalam satu tempat, namun tidak benar-benar berinteraksi karena masing-masing fokus pada layar perangkatnya.
Menurutnya, waktu berkualitas bersama keluarga tidak harus berlangsung lama atau dilakukan dengan kegiatan mahal. Hal terpenting adalah kehadiran penuh orang tua yang benar-benar dirasakan anak, seperti mendengarkan cerita, bermain bersama, atau melakukan aktivitas sederhana tanpa gangguan gadget.
Gerakan SatuJamKu mengajak keluarga membangun kembali kebersamaan melalui berbagai aktivitas ringan, mulai dari membaca buku, berbincang santai, memainkan permainan tradisional, hingga berjalan bersama di luar rumah.
Kementerian PPPA menilai pendekatan pengasuhan berbasis hak anak menjadi fondasi penting dalam membangun hubungan keluarga yang sehat. Dalam pendekatan tersebut, anak dipandang sebagai individu yang memiliki kebutuhan, karakter, dan hak untuk didengarkan.
Meski demikian, Eko Novi menekankan bahwa peran orang tua tetap menjadi faktor utama dalam menciptakan pola pengasuhan yang baik, termasuk memberi contoh penggunaan gawai secara bijak dalam kehidupan sehari-hari.
Selain lingkungan keluarga, dukungan komunitas dan layanan pendampingan seperti Pusat Pembelajaran Keluarga juga dinilai penting untuk membantu orang tua saling berbagi pengalaman dan memperkuat praktik pengasuhan anak.
Gerakan SatuJamKu sendiri mulai diperkenalkan melalui program Ramadan Ramah Anak pada 2024 dan terus dikembangkan sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan keluarga menghadapi perubahan sosial dan perkembangan teknologi digital.
Pemerintah berharap langkah sederhana berupa satu jam tanpa gawai dapat membantu membangun kembali komunikasi, rasa percaya, dan kedekatan emosional dalam keluarga, karena anak dinilai lebih membutuhkan perhatian dan waktu bersama orang tua dibandingkan sekadar fasilitas atau materi.


