(Beritadaerah – Banyuwangi) Kabupaten Banyuwangi kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu sentra durian unggulan di Jawa Timur. Salah satu daerah penghasilnya, Kecamatan Songgon, terus menunjukkan potensi besar melalui produksi durian berkualitas sekaligus inovasi promosi berbasis desa.
Data menunjukkan, luas lahan durian di Songgon mencapai 94,8 hektare dengan total produksi sekitar 3.716 ton pada tahun 2025. Angka ini mencerminkan kekuatan sektor hortikultura daerah yang tidak hanya menopang ekonomi lokal, tetapi juga membuka peluang wisata berbasis agrobisnis.
Sebagai upaya mengenalkan potensi tersebut, masyarakat Songgon menggelar Festival Durian pada 4–5 April 2026. Beragam varietas unggulan seperti durian pelangi, durian merah, hingga durian lokal kuning menjadi daya tarik utama dalam kegiatan ini.
Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, mengapresiasi inisiatif warga yang dinilai mampu mengemas potensi desa secara kreatif. Menurutnya, festival ini menjadi contoh konkret bagaimana desa dapat mandiri dalam mempromosikan kekayaan lokalnya.
“Ini bentuk inovasi dan kreativitas yang patut diteladani desa lain dalam mengangkat potensi masing-masing,” ujarnya.
Festival tersebut digagas oleh pemerintah desa bersama Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dan karang taruna setempat. Berbagai kegiatan turut digelar, mulai dari kontes durian, bazar, sarasehan pengembangan komoditas, hingga agenda makan durian sepuasnya yang menarik antusiasme pengunjung.
Pada kesempatan itu, Bupati juga mencicipi durian khas Songgon berwarna merah dan oranye yang merupakan hasil panen petani lokal. Varian ini menjadi bagian dari keunggulan daerah, sejalan dengan pengakuan nasional terhadap durian merah Banyuwangi.
Durian merah Banyuwangi sebelumnya telah ditetapkan sebagai produk bersertifikat Indikasi Geografis (IG) oleh Kementerian Hukum dan HAM melalui Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual. Status ini menjadikan durian merah Banyuwangi sebagai satu-satunya durian merah di Indonesia yang mendapat perlindungan resmi negara.
Kepala Desa Songgon, M. Qodari, menjelaskan bahwa festival digelar bertepatan dengan masa panen raya. Meski produksi tahun ini mengalami penurunan sekitar 30 persen akibat faktor cuaca, ketersediaan durian lokal masih dapat dinikmati hingga akhir April 2026.
“Setelah itu, jumlahnya akan berkurang seiring berakhirnya masa panen,” jelasnya.
Salah satu daya tarik festival adalah kontes durian yang diikuti 42 peserta dalam dua kategori, yakni durian lokal premium dan durian warna. Kreativitas petani terlihat dari penamaan varietas unik, salah satunya “Srengege Wetan” milik Artoni, warga Songgon, yang memiliki warna oranye kemerahan menyerupai matahari terbit.
Selain itu, kegiatan makan durian sepuasnya juga menjadi magnet tersendiri. Dengan biaya terjangkau, pengunjung dapat menikmati ratusan durian lokal yang disediakan panitia. Antusiasme ini menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap wisata kuliner berbasis potensi daerah.
Festival Durian Songgon tidak hanya menjadi ajang promosi hasil pertanian, tetapi juga memperkuat identitas daerah serta mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat. Model kolaborasi antara pemerintah desa, pemuda, dan pelaku usaha ini dinilai efektif dalam mengangkat potensi lokal ke tingkat yang lebih luas.


