(Beritadaerah – Nasional) Pembangunan Indonesia kerap dibaca dari angka pertumbuhan ekonomi nasional atau proyek infrastruktur berskala besar. Namun gambaran yang lebih utuh justru tersimpan dalam data Badan Pusat Statistik. Melalui pendataan hingga tingkat desa dan wilayah terkecil, BPS merekam bagaimana pembangunan benar-benar bekerja di lapangan, termasuk ketimpangan yang masih terjadi di berbagai daerah.
Data BPS menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk desa-desa, masih menggantungkan aktivitas ekonomi pada sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan. Sektor-sektor ini menjadi penyangga ekonomi nasional, terutama ketika tekanan global meningkat. Namun ketergantungan yang tinggi juga membuat banyak wilayah rentan terhadap perubahan iklim, cuaca ekstrem, dan fluktuasi harga komoditas. Ketika panen terganggu atau hasil laut menurun, dampaknya langsung terasa hingga ke tingkat rumah tangga.
Dalam beberapa tahun terakhir, BPS mencatat peningkatan konektivitas di banyak wilayah. Akses listrik dan jaringan telekomunikasi semakin meluas, termasuk ke desa-desa yang sebelumnya relatif terisolasi. Perubahan ini membuka peluang baru bagi aktivitas ekonomi lokal. Petani, nelayan, dan pelaku usaha kecil mulai memanfaatkan teknologi untuk mengakses informasi harga, pasar, dan layanan keuangan. Meski demikian, data juga menunjukkan bahwa kualitas koneksi belum merata. Masih ada desa dan wilayah terpencil yang menghadapi sinyal lemah atau keterbatasan akses internet.
Dari sisi ekonomi lokal, BPS merekam tumbuhnya usaha mikro dan kecil di berbagai wilayah. Produk-produk berbasis potensi lokal, mulai dari hasil pertanian hingga kerajinan, menjadi sumber pendapatan tambahan. Di desa, usaha-usaha ini sering menjadi penopang ekonomi keluarga. Namun tantangan klasik tetap muncul. Keterbatasan modal, akses logistik, dan kemampuan pengelolaan usaha membuat banyak produk lokal sulit menembus pasar yang lebih luas.
Data BPS juga mencerminkan tekanan lingkungan yang semakin nyata. Pencemaran air dan tanah tidak hanya terjadi di kawasan industri, tetapi juga di wilayah pedesaan. Selain itu, bencana alam seperti banjir dan tanah longsor tercatat terjadi di ribuan desa dan wilayah administratif lainnya. Bagi masyarakat di tingkat lokal, bencana bukan sekadar peristiwa alam, melainkan gangguan serius terhadap ekonomi dan kehidupan sehari-hari.
Dalam hal layanan publik, BPS mencatat bahwa fasilitas pendidikan dan kesehatan semakin tersebar luas. Sekolah dasar dan menengah telah menjangkau sebagian besar desa. Namun kualitas layanan dan akses ke fasilitas kesehatan lanjutan masih berbeda antarwilayah. Ketimpangan ini berdampak langsung pada kualitas sumber daya manusia dan produktivitas ekonomi jangka panjang.
Melalui berbagai indikator tersebut, data BPS memperlihatkan bahwa pembangunan Indonesia berjalan dengan kecepatan yang tidak sama. Desa menjadi bagian penting dalam cerita ini, bukan sebagai objek semata, tetapi sebagai cerminan sejauh mana pembangunan nasional benar-benar inklusif. Tantangan ke depan bukan hanya menjaga pertumbuhan, tetapi memastikan bahwa kemajuan yang tercatat dalam statistik juga dirasakan nyata oleh masyarakat di seluruh wilayah.


