Bencana Banjir, Pemprov Jateng Berikan Bantuan Logistik

(Beritadaerah-Semarang) Banjir yang melanda sejumlah daerah di Jawa Tengah yakni Pekalongan, Kendal, Batang, dan Pemalang, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bergerak cepat merespon kondisi bencana tersebut dengan memberikan bantuan logistik. Bantuan senilai ratusan juta tersebut langsung telah dikirim pada Sabtu (17/1), guna memastikan kebutuhan dasar warga terdampak tetap terpenuhi. Langkah ini sebagai bentuk dukungan Pemprov Jateng kepada pemerintah kabupaten/ kota dalam memperkuat penanganan kebencanaan.

Terkait dengan hal tersebut, Kepala Dinas Sosial Jawa Tengah, Imam Maskur mengatakan, penyaluran bantuan dilakukan sesuai instruksi Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, agar pemerintah provinsi sigap hadir di tengah masyarakat saat terjadi bencana.

“Bantuan kami salurkan tidak hanya untuk Kendal, tetapi juga Batang, Pemalang, dan Kota Pekalongan. Hari ini seluruhnya sudah kami dropping,” kata Imam.

Dia menjelaskan, besaran bantuan disesuaikan dengan tingkat kebutuhan masing-masing daerah terdampak, serta ketersediaan stok logistik di pemerintah kabupaten/kota.

Untuk Kabupaten Kendal, Pemprov Jateng menyalurkan bantuan senilai Rp80.634.760, Batang menerima Rp131.964.010, Pemalang Rp171.390.415, dan Kota Pekalongan Rp65.130.491. Seluruh bantuan diserahkan kepada Dinas Sosial setempat, untuk dikelola lebih lanjut.

“Kendal masih memiliki stok logistik yang cukup, sedangkan Pemalang lebih besar karena persediaan menipis. Jika ke depan masih ada kekurangan, kami siap menambah bantuan,” ujarnya.

Adapun bantuan yang dikirimkan meliputi makanan siap saji, lauk pauk, tenda keluarga dan tenda serbaguna, kasur, selimut, family kit, hingga pakaian anak.

Selain bantuan logistik, Dinas Sosial Jateng juga mendirikan dapur umum di wilayah yang mengalami kesulitan pemenuhan kebutuhan pangan. Salah satunya di Kabupaten Pemalang, dengan kapasitas produksi hingga 4.000 bungkus makanan per hari.

Di luar dapur umum milik Pemprov Jateng, masyarakat setempat bersama relawan Tagana, Pramuka, dan unsur terkait juga mendirikan enam dapur umum mandiri. Hingga saat ini, belum dilaporkan adanya pengungsian di wilayah tersebut.

Terkait puncak musim hujan yang diperkirakan berlangsung hingga Februari 2026, Imam menegaskan, pihaknya telah menyiapkan langkah antisipasi.

“Musim hujan masih panjang. Logistik bantuan kami siapkan, baik dari APBD Jawa Tengah maupun dukungan Kementerian Sosial. Termasuk santunan bagi korban meninggal dunia dan rumah hanyut, sudah kami koordinasikan,” ungkapnya.