Arsitektur Bahari Nusantara Hadir di Expo 2025 Osaka: Paviliun Indonesia Tampilkan Warisan Maritim dan Visi Masa Depan

(Beritadaerah–Nasional) Indonesia turut ambil bagian dalam perhelatan **World Expo 2025 Osaka** dengan menghadirkan **Paviliun Indonesia** yang menampilkan bentuk visual terinspirasi dari kekayaan tradisi bahari nusantara. Struktur paviliun ini dibangun dengan pendekatan yang mengedepankan prinsip keberlanjutan dan ramah lingkungan.

Paviliun tersebut menjadi ajang pertemuan antara **warisan budaya dan semangat inovatif**, yang keduanya menjadi bekal penting dalam perjalanan Indonesia menuju status negara maju.

**Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy** menekankan bahwa partisipasi Indonesia dalam Expo ini bukan sekadar bersifat simbolis, tetapi merupakan **kesempatan strategis** untuk memperluas pengaruh diplomasi ekonomi dan kebudayaan bangsa.

> “World Expo 2025 Osaka yang diikuti oleh 161 negara merupakan ruang penting untuk memperkuat kemitraan global, menarik minat investor, dan mempercepat agenda pembangunan berkelanjutan,” tegas Menteri Rachmat Pambudy melalui pernyataan tertulis yang diterima di Jakarta, Rabu (16/4/2025).

Bagaimana cara negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau dan 350 kelompok etnis memperkenalkan diri kepada masyarakat internasional? Dan bagaimana Indonesia bisa memberikan kontribusi dalam inovasi teknologi sambil tetap mengedepankan komitmennya terhadap **Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs)**? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini dapat ditemukan melalui **pengalaman menyeluruh di Paviliun Indonesia**.

Melalui kunjungan ke paviliun ini, pengunjung diajak menjelajahi panorama kekayaan alam dan ragam budaya yang dimiliki Indonesia—sekaligus menyoroti transformasinya menuju **masyarakat modern yang berdaya saing global**. Lebih dari sekadar pameran, paviliun ini juga membuka akses dunia pada **potensi ekonomi dan peluang investasi** bernilai tinggi dari Indonesia.

Perahu dan Simbol Kekuatan Laut Nusantara

Selama berabad-abad, Indonesia dikenal luas sebagai negara kepulauan, baik oleh masyarakatnya sendiri maupun oleh bangsa lain. Namun, pandangan ini kerap tidak tercermin dalam kebijakan yang lebih fokus pada pembangunan darat, sementara potensi kelautan masih belum dimanfaatkan sepenuhnya.

Padahal secara historis, identitas Indonesia telah terikat erat dengan laut. Dengan dua pertiga wilayah yang terdiri dari perairan, laut menjadi nadi kehidupan, jalur perdagangan, dan sumber penghidupan utama masyarakat. Leluhur bangsa ini adalah pelaut andal, yang mewariskan kejayaan maritim yang masih terus membentuk arah bangsa ke depan.

Dalam rangka menegaskan kembali kekuatan maritim itu, **Bappenas** memilih desain perahu sebagai **ikon arsitektur Paviliun Indonesia**. Wujud perahu merepresentasikan kekayaan bahari dan menjadi simbol untuk menumbuhkan kesadaran kolektif akan **kekuatan laut sebagai kekuatan bangsa**.

Struktur paviliun yang menjulang mengekspresikan **optimisme, pertumbuhan berkelanjutan, dan semangat masa depan**—cerminan dari kebanggaan Indonesia sebagai negara yang sedang menuju kemajuan. Di jantung filosofi desain ini terdapat konsep **keseimbangan**, kunci dalam navigasi laut dan dalam strategi pembangunan nasional, untuk memastikan kesinambungan dan daya tahan.

Perahu ini juga mencerminkan jati diri Indonesia sebagai bangsa yang tumbuh bersama, bekerja selaras dalam mencapai cita-cita bersama.

Para pengunjung tidak hanya akan terpukau oleh desain ikonik berbentuk perahu, namun juga melihat langsung **komitmen Indonesia terhadap kelestarian lingkungan dan pembangunan berkelanjutan**.

Desain Inovatif dan Ramah Lingkungan

Dengan mengedepankan prinsip arsitektur hijau, paviliun ini dibangun untuk menggunakan sumber daya alam secara bijaksana dan meminimalkan jejak ekologis. Salah satu terobosan yang digunakan adalah **kayu Plana**, bahan bangunan terbarukan yang inovatif sebagai alternatif kayu konvensional. Terbuat dari 60% sekam padi, 30% plastik daur ulang, dan 10% bahan tambahan, kayu Plana dikenal tahan lama dan ramah lingkungan.

Lebih dari sekadar bahan, **paviliun ini juga dirancang untuk memaksimalkan cahaya alami**, yang secara signifikan mengurangi konsumsi energi listrik dan memperkuat prinsip efisiensi energi.

Melalui pemanfaatan limbah pertanian dan sampah plastik, Paviliun Indonesia secara aktif menerapkan prinsip **10R**: *Rethink, Retrieve Energy, Reorganize, Replace, Reduce, Recycle, Reuse, Replant, Recover,* dan *Repair*—sebuah manifestasi nyata dari komitmen terhadap lingkungan dan pembangunan berkelanjutan.