Kawah Ijen
Kawah Ijen (Foto : Pemkab Banyuwangi)

Menambang Belerang di Kawah Ijen dan Harga Mahal di Balik Penghidupan Penambang

(Beritadaerah-Kolom) Di Kawah Ijen, Jawa Timur, ratusan penambang mempertaruhkan kesehatan dan keselamatan mereka demi mendapatkan belerang dari lingkungan vulkanik yang ekstrem. Setiap hari, mereka bekerja di tengah gas beracun, menuruni lereng curam, dan mengangkut bongkahan belerang dengan beban yang dapat mencapai puluhan hingga hampir seratus kilogram. Pekerjaan ini bukan sekadar mengandalkan kekuatan fisik, tetapi juga menuntut keberanian menghadapi risiko yang terus mengintai. Bagi para penambang, bahaya tersebut merupakan bagian dari rutinitas untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Di tengah perkembangan industri kimia modern, aktivitas penambangan belerang secara tradisional di Kawah Ijen memperlihatkan sisi lain perekonomian Indonesia, ketika pekerjaan berbahaya tetap menjadi pilihan karena terbatasnya alternatif penghasilan.

Perjuangan di Kawah Vulkanik

Aktivitas penambangan belerang di Kawah Ijen menuntut ketahanan fisik yang luar biasa. Para penambang harus menempuh perjalanan kaki menuju kawasan punggungan kawah, kemudian menuruni lereng untuk mencapai lokasi pengambilan belerang. Peralatan yang digunakan relatif sederhana, biasanya berupa keranjang untuk mengangkut hasil tambang dan linggis untuk memecah bongkahan mineral. Medan yang terjal, permukaan yang tidak rata, dan paparan gas vulkanik menjadikan setiap perjalanan penuh risiko.

Suhu di area penambangan dapat melampaui 37 derajat Celsius, sementara udara dipenuhi asap yang mengandung senyawa sulfur. Para penambang menghadapi dua sumber paparan utama, yakni asap dari proses pengendapan belerang melalui pipa dan gas vulkanik yang muncul dari kawasan danau kawah yang sangat asam. Gas-gas tersebut dapat mengiritasi mata dan saluran pernapasan, bahkan menimbulkan dampak kesehatan yang serius. Ketika awan asap putih tebal muncul dari danau, para penambang harus segera meninggalkan area berbahaya. Kondisi angin yang berubah sepanjang hari juga dapat membawa gas beracun ke arah tempat mereka bekerja, sehingga keselamatan sangat bergantung pada kemampuan mengenali tanda-tanda bahaya di lingkungan sekitar.

Ironisnya, perlindungan kerja yang memadai tidak selalu tersedia. Para penambang bekerja sebagai pekerja lepas yang memperoleh pendapatan berdasarkan berat belerang yang berhasil mereka angkut. Mereka harus menanggung sendiri biaya peralatan, sementara sebagian tidak mampu membeli masker gas yang sesuai. Sebagai gantinya, beberapa menggunakan saputangan atau handuk basah untuk menutupi hidung dan mulut. Cara tersebut tidak memberikan perlindungan yang memadai terhadap berbagai gas beracun. Situasi ini menunjukkan bagaimana kebutuhan ekonomi dapat mendorong seseorang terus bekerja dalam kondisi yang berpotensi merusak kesehatannya dalam jangka panjang.

Beban Berat yang Harus Dibawa Setiap Hari

Setelah memecahkan bongkahan belerang yang telah mengeras dan berubah menjadi kuning, para penambang memasukkannya ke dalam keranjang. Mereka kemudian mengangkat beban tersebut menggunakan bahu dan punggung untuk mendaki dinding kawah. Dalam sejumlah pengamatan terhadap aktivitas penambangan di Ijen, beban yang dibawa dapat mencapai sekitar 70 kilogram, bahkan beberapa penambang mampu mengangkut hingga sekitar 90 kilogram dalam satu perjalanan. Beban tersebut bisa melampaui berat tubuh sebagian pekerja. Aktivitas ini dilakukan di jalur menanjak yang sempit dan terjal, dengan sebagian penambang hanya mengenakan sandal jepit.

Setelah mencapai bibir kawah, belerang dipindahkan ke troli untuk dibawa menuju tempat penimbangan. Sebagian penambang melakukan perjalanan tersebut lebih dari sekali dalam sehari, sehingga mereka harus mengulang pendakian berat dan perjalanan pulang-pergi di medan yang sama. Beban berulang pada bahu, punggung, lutut, dan kaki meningkatkan risiko cedera, sementara paparan gas terus membayangi setiap tahap pekerjaan. Kondisi ini menggambarkan pekerjaan fisik ekstrem yang tidak hanya menguras tenaga, tetapi juga berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan dalam jangka panjang.

Dari Kawah Ijen ke Industri Kimia

Belerang yang dikumpulkan para penambang memiliki beragam kegunaan dalam industri. Di fasilitas pengolahan, belerang dipanaskan, disaring untuk memisahkan pasir dan kotoran, kemudian didinginkan sebelum dikemas dalam karung. Produk tersebut selanjutnya dapat dipasok kepada industri pengolahan gula dan berbagai sektor lainnya. Salah satu pemanfaatan terpenting belerang adalah sebagai bahan baku pembuatan asam sulfat, bahan kimia yang sangat luas penggunaannya dalam industri modern.

Asam sulfat digunakan dalam produksi pupuk, pengolahan logam, pembuatan baterai, serta berbagai proses industri kimia. Senyawa sulfur juga memiliki peran dalam produksi karet, kertas, deterjen, korek api, dan sejumlah produk lainnya. Dalam industri gula, bahan berbasis sulfur dapat digunakan pada tahapan pemurnian tertentu, meskipun proses pemutihan gula tidak semata-mata bergantung pada belerang. Luasnya penggunaan sulfur memperlihatkan bahwa mineral yang dikumpulkan secara manual di Kawah Ijen merupakan bagian dari rantai pasok industri yang jauh lebih besar.

Namun, industri belerang global telah mengalami perubahan mendasar. Sebagian besar pasokan belerang dunia berasal dari pemrosesan minyak dan gas alam, ketika sulfur dipisahkan sebagai produk sampingan dalam proses pemurnian. Metode ini memungkinkan industri memperoleh belerang dalam jumlah besar dengan kualitas yang sesuai untuk berbagai kebutuhan manufaktur. Dengan berkembangnya teknologi pengolahan hidrokarbon, penambangan belerang langsung dari gunung berapi semakin kehilangan daya saing di banyak negara.

Belerang yang berasal dari proses pemurnian minyak dan gas memiliki keunggulan dari sisi skala produksi dan konsistensi pasokan. Sebaliknya, belerang yang ditambang langsung dari alam dapat mengandung pasir, tanah, atau kontaminan lain yang membutuhkan pemrosesan tambahan. Meski demikian, bagi masyarakat di sekitar Ijen, kegiatan penambangan masih memiliki nilai ekonomi yang nyata, terutama karena terbatasnya pilihan pekerjaan alternatif.

Mengapa Pekerjaan Berbahaya Ini Tetap Bertahan?

Alasan utama penambangan belerang tradisional tetap berlangsung berkaitan dengan kebutuhan ekonomi lokal. Pendapatan penambang bergantung pada jumlah dan berat belerang yang berhasil mereka angkut. Dalam gambaran kondisi kerja di Ijen, penghasilan harian dapat mencapai sekitar US$12 hingga US$17, bergantung pada jumlah muatan yang dibawa. Pembayaran berdasarkan berat membuat pekerja harus mengangkut sebanyak mungkin belerang untuk memperoleh pendapatan yang lebih besar.

Bagi sebagian masyarakat setempat, penghasilan tersebut relatif menarik dibandingkan sejumlah pekerjaan alternatif, termasuk pertanian. Kondisi ini menjelaskan mengapa pekerjaan yang berbahaya tetap dijalani selama bertahun-tahun. Ketika kebutuhan rumah tangga harus dipenuhi setiap hari, risiko kesehatan jangka panjang sering kali menjadi pertimbangan kedua setelah tersedianya pendapatan untuk membeli makanan, membiayai pendidikan, dan memenuhi kebutuhan keluarga.

Dari sisi perusahaan, penambangan di Kawah Ijen juga dapat menjadi sumber bahan baku yang ekonomis dalam konteks operasional tertentu. Namun, para penambang yang bekerja sebagai pekerja lepas harus menanggung sendiri biaya perlengkapan kerja. Ketimpangan antara risiko pekerjaan dan perlindungan yang tersedia menjadi persoalan penting dalam hubungan antara kegiatan industri dan kesejahteraan pekerja.

Kondisi tersebut memperlihatkan persoalan ekonomi yang lebih luas. Upah suatu pekerjaan tidak selalu mencerminkan risiko kesehatan dan keselamatan yang ditanggung pekerjanya. Ketika pilihan pekerjaan terbatas, pendapatan yang diperoleh hari ini sering kali menjadi pertimbangan yang lebih mendesak daripada dampak kesehatan yang mungkin muncul bertahun-tahun kemudian. Dalam situasi seperti ini, keputusan untuk tetap bekerja di lingkungan berbahaya tidak dapat dipahami hanya sebagai persoalan pilihan individu, tetapi juga sebagai konsekuensi dari terbatasnya kesempatan ekonomi di tingkat lokal.

Pariwisata Menambah Nilai Ekonomi Kawah Ijen

Selain aktivitas penambangan, Kawah Ijen juga dikenal sebagai tujuan wisata alam. Pada malam hari, wisatawan datang untuk menyaksikan fenomena api biru yang muncul akibat pembakaran gas sulfur dalam kondisi tertentu. Pada siang hari, pengunjung mendaki kawasan kawah untuk menikmati pemandangan lanskap vulkanik dan danau kawah yang memiliki warna khas. Fenomena alam tersebut menjadikan Ijen sebagai destinasi yang menarik perhatian wisatawan domestik maupun mancanegara.

Pariwisata membuka kemungkinan sumber pendapatan tambahan bagi masyarakat setempat. Sebagian penambang dapat beralih menjadi pemandu wisata atau membuat suvenir dari belerang. Kegiatan tersebut berpotensi membantu mereka mengurangi ketergantungan pada pekerjaan penambangan yang berat. Namun, tidak semua penambang memiliki kesempatan yang sama untuk beralih profesi. Banyak yang tetap bekerja seperti sebelumnya karena penambangan telah menjadi sumber pendapatan utama selama bertahun-tahun.

Keberadaan wisatawan juga menghadirkan kontras yang mencolok. Pengunjung dapat menggunakan masker gas untuk melindungi diri ketika berada di kawasan dengan paparan gas vulkanik, sedangkan sebagian penambang yang bekerja di lokasi yang sama tidak memiliki perlengkapan perlindungan setara. Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa nilai ekonomi sebuah destinasi tidak selalu terbagi secara merata di antara semua pihak yang terlibat. Kawah Ijen menghasilkan daya tarik wisata sekaligus komoditas industri, tetapi para pekerja yang menopang kegiatan ekonomi tradisionalnya masih menghadapi keterbatasan perlindungan.

Mencari Masa Depan yang Lebih Aman bagi Penambang

Keberlanjutan kegiatan ekonomi tidak cukup dinilai dari kemampuannya menghasilkan pendapatan. Aspek keselamatan kerja, akses terhadap layanan kesehatan, ketersediaan alat pelindung diri, dan peluang memperoleh pekerjaan alternatif juga harus menjadi bagian dari penilaian. Ketika suatu pekerjaan membawa risiko tinggi, perlindungan terhadap pekerja semestinya tidak hanya bergantung pada kemampuan mereka membeli peralatan sendiri.

Perbaikan kondisi kerja dapat dimulai melalui penyediaan perlengkapan perlindungan yang sesuai, pemantauan kualitas udara, prosedur evakuasi yang jelas, serta pemeriksaan kesehatan secara berkala. Selain itu, pengembangan keterampilan dan kesempatan kerja di sektor pariwisata maupun kegiatan ekonomi lainnya dapat membantu masyarakat membangun sumber penghasilan yang lebih beragam. Upaya tersebut perlu mempertimbangkan kenyataan bahwa penambangan belerang telah menjadi bagian dari penghidupan sebagian keluarga di sekitar Ijen selama bertahun-tahun.

Belerang dari Kawah Ijen bukan hanya komoditas yang digunakan dalam industri kimia, tetapi juga gambaran tentang hubungan antara sumber daya alam, pasar, dan kesejahteraan manusia. Bagi industri, belerang merupakan bahan baku yang bernilai dan dibutuhkan. Bagi para penambang, setiap bongkahan yang diangkut menjadi bagian dari upaya memenuhi kebutuhan keluarga. Setiap hari, mereka kembali ke rumah setelah bekerja di tengah lingkungan yang berbahaya, sementara gunung yang memberikan penghasilan juga menyimpan risiko bagi kesehatan mereka.

Tantangan sesungguhnya adalah memastikan bahwa kekayaan alam tidak terus bergantung pada pengorbanan keselamatan orang-orang yang bekerja untuk mengeluarkannya dari bumi. Pengembangan ekonomi di sekitar Kawah Ijen perlu berjalan beriringan dengan peningkatan perlindungan pekerja dan penciptaan kesempatan kerja yang lebih aman, sehingga masyarakat dapat mempertahankan penghidupan tanpa harus terus mempertaruhkan kesehatan mereka setiap hari.