Sawit
(Photo: Dahlia/BD)

Menyusuri Jejak Sawit di Nusantara

(Beritadaerah-Kolom) Pagi itu, matahari baru saja naik di atas horizon Kalimantan Barat. Dari balik jendela pesawat kecil yang hendak mendarat di Pontianak, hamparan hijau perkebunan sawit tampak seperti permadani raksasa. Barisan pohon yang seragam menebarkan bayangan panjang, memantulkan cahaya pagi dengan pola geometris yang nyaris sempurna. Di balik pemandangan itu, ada 352 perusahaan yang beroperasi, menjadikan provinsi ini sebagai episentrum baru industri sawit nasional. Angka itu bukan hanya sekadar data statistik, melainkan simbol dari transformasi geografis: Kalimantan kini mengambil alih peran yang dulu lama dipegang Sumatera sebagai jantung produksi sawit.

Dari udara, perkebunan sawit tampak tenang. Namun di jalan-jalan tanah di bawah sana, truk-truk pengangkut tandan buah segar menderu tanpa henti. Di sepanjang jalur, pekerja perkebunan—dengan topi lebar dan sarung tangan penuh minyak—sibuk memotong, mengangkut, dan menimbun hasil panen. Setiap perusahaan di sini bagaikan pulau ekonomi yang berdiri sendiri, tetapi sekaligus saling terkait dalam jejaring perdagangan global.

Perjalanan imajiner ini berlanjut ke Sumatera Utara. Provinsi ini, dengan 327 perusahaan perkebunan, seolah sebuah buku tua yang masih terus dibaca. Sejarah panjang sawit Indonesia dimulai di sini sejak era kolonial Belanda, dan hingga kini kebun-kebun tua milik PTPN masih berdiri berdampingan dengan perusahaan swasta modern. Medan menjadi pusat kendali, di mana kantor perusahaan, eksportir, dan lembaga keuangan mengatur arus komoditas yang menghubungkan desa-desa penghasil sawit dengan pasar global.

Di jalan menuju Labuhanbatu atau Asahan, kehidupan desa berdenyut di sekitar perkebunan. Sekolah, pasar, hingga klinik kesehatan tumbuh dari kontribusi langsung maupun tidak langsung industri sawit. Namun, bayangan sejarah juga menyimpan cerita kelam: konflik lahan, ketimpangan penguasaan tanah, hingga tekanan harga yang kerap membuat petani kecil terhimpit. Narasi sawit di Sumatera Utara adalah narasi tentang kontinuitas: sebuah sektor yang tetap menjadi tulang punggung, meski dunia di sekitarnya terus berubah.

Tidak jauh dari sana, Riau menampilkan wajah berbeda. Dengan 228 perusahaan yang aktif, provinsi ini lebih mirip simpul perdagangan daripada sekadar wilayah produksi. Pelabuhan Dumai menjadi gerbang keluar bagi jutaan ton crude palm oil yang dikirim ke India, Tiongkok, dan Eropa. Di dermaga, bau khas minyak sawit bercampur dengan aroma garam laut. Setiap kapal tanker yang berangkat membawa serta cerita ribuan keluarga di pedalaman yang hidup dari perkebunan.

Namun, Riau juga menyimpan paradoks. Di satu sisi, sawit membawa pertumbuhan ekonomi. Di sisi lain, deforestasi dan kabut asap akibat pembukaan lahan masih menghantui. Setiap kali musim kemarau panjang datang, masyarakat mengingat kembali rapuhnya keseimbangan antara ekspansi ekonomi dan kelestarian alam.

Jambi dan Sumatera Selatan melengkapi mozaik Sumatera. Dengan masing-masing 144 dan 188 perusahaan, kedua provinsi ini menjadi contoh bagaimana sawit membentuk wajah baru pedesaan. Jalan-jalan kecil diperbaiki, irigasi ditingkatkan, dan akses ke pasar semakin mudah. Namun, narasi lapangan menunjukkan bahwa di balik pembangunan itu ada tarik menarik antara perusahaan besar dengan masyarakat lokal. Sawit sering dianggap sebagai pedang bermata dua: membuka peluang, tetapi juga menutup ruang hutan yang sebelumnya menjadi sumber kehidupan tradisional.

Kembali ke Kalimantan, ekspansi terlihat jauh lebih masif. Kalimantan Timur, dengan 268 perusahaan, menjadi simbol baru dari “booming sawit” dua dekade terakhir. Di sini, sawit hadir bersamaan dengan tambang batubara dan pembangunan infrastruktur. Jalan raya besar menghubungkan perkebunan dengan pelabuhan ekspor, dan truk pengangkut hasil perkebunan bersaing dengan kendaraan pengangkut batu bara. Lanskap Kalimantan kini berubah drastis: dari hutan hujan tropis menjadi bentang ekonomi yang terfragmentasi.

Kalimantan Tengah menambah cerita dengan 216 perusahaan yang tersebar di berbagai kabupaten. Provinsi ini seolah laboratorium pembangunan sawit modern. Perusahaan-perusahaan baru bermunculan dengan struktur manajemen profesional, sistem digitalisasi panen, hingga penggunaan drone untuk pemantauan kebun. Namun, di balik modernisasi itu, masih terselip kisah masyarakat adat yang merasa kehilangan ruang hidup. Kontradiksi itu menjadi tema utama yang selalu hadir di setiap diskusi tentang sawit di Kalimantan.

Kalimantan Selatan dan Kalimantan Utara, meski dengan jumlah perusahaan lebih sedikit—100 dan 40—juga memainkan peran penting. Mereka menjadi wilayah transisi, di mana sawit tidak hanya menjadi komoditas ekspor, tetapi juga bahan baku industri hilir yang sedang tumbuh. Pemerintah daerah mulai mendorong pabrik pengolahan untuk menghasilkan produk turunan bernilai tambah, bukan hanya CPO mentah.

Sulawesi, Maluku, dan Papua menghadirkan bab baru dalam narasi sawit. Di Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, hingga Sulawesi Barat, jumlah perusahaan masih puluhan, tetapi kehadirannya membawa dampak sosial yang luar biasa. Desa-desa yang dulunya mengandalkan sagu atau jagung kini melihat sawit sebagai jalan baru menuju kemakmuran. Namun, transisi itu tidak selalu mulus. Di banyak tempat, muncul perdebatan tentang hilangnya keragaman pangan lokal akibat ekspansi monokultur sawit.

Papua dan Maluku menghadirkan cerita yang lebih kompleks. Dengan jumlah perusahaan relatif sedikit, hanya belasan, skala perkebunan di sini jauh lebih kecil dibanding Sumatera atau Kalimantan. Namun, dampaknya besar bagi masyarakat adat. Sawit di Papua seringkali dianggap sebagai simbol modernisasi yang datang terlalu cepat. Jalan-jalan baru memang terbuka, tetapi juga menghadirkan ketegangan antara adat dan regulasi formal negara.

Narasi imajiner ini membawa kita pada refleksi yang lebih luas: apa arti dari 2.285 perusahaan sawit bagi Indonesia? Angka itu tidak sekadar mewakili entitas bisnis, melainkan ribuan komunitas yang kehidupannya terkait langsung dengan industri ini. Dari pekerja kebun yang bangun subuh hingga eksportir yang menandatangani kontrak di Jakarta atau Singapura, sawit adalah benang merah yang menjahit berbagai lapisan masyarakat.

Namun, dominasi 93 persen perusahaan swasta menimbulkan pertanyaan kritis. Siapa yang sesungguhnya mengendalikan arah industri ini? Pemerintah memang hadir lewat BUMN, tetapi porsinya kecil. Dengan demikian, regulasi menjadi kunci: bagaimana memastikan perusahaan swasta mematuhi standar keberlanjutan, tidak merusak lingkungan, dan tetap memberikan manfaat sosial?

Masa depan sawit Indonesia jelas tidak bisa hanya bertumpu pada ekspansi lahan. Dunia internasional semakin menyoroti isu deforestasi dan emisi karbon. Tekanan dari Uni Eropa lewat regulasi Deforestation Regulation adalah sinyal kuat bahwa hanya produk sawit berkelanjutan yang akan diterima pasar. Artinya, Indonesia harus mengubah strategi: dari kuantitas ke kualitas, dari CPO mentah ke produk hilir bernilai tambah, dari eksploitasi lahan ke inovasi teknologi.

Langkah-langkah itu sesungguhnya sudah dimulai. Sertifikasi ISPO (Indonesian Sustainable Palm Oil) diperluas, teknologi pemupukan presisi mulai diterapkan, dan riset bibit unggul terus dikembangkan. Namun, perjalanan masih panjang. Tantangan terbesar bukan pada teknologi, melainkan pada tata kelola. Selama konflik lahan, ketimpangan sosial, dan praktik pembukaan hutan ilegal masih terjadi, reputasi sawit Indonesia akan tetap rapuh di mata dunia.

Pada akhirnya, perjalanan imajiner melintasi 29 provinsi sawit di Indonesia menunjukkan bahwa industri ini adalah cermin dari dilema pembangunan: bagaimana menyeimbangkan kebutuhan ekonomi dengan kelestarian lingkungan, bagaimana membuka lapangan kerja tanpa mengorbankan hak masyarakat adat, dan bagaimana menjaga devisa tanpa kehilangan wajah hijau Indonesia.

Sawit adalah cerita besar, tetapi sekaligus cerita kecil di setiap desa. Di Kalimantan Barat, seorang pekerja kebun berharap anaknya bisa sekolah tinggi dari gaji memanen buah. Di Riau, seorang pedagang pasar menggantungkan harapan pada ramai sepinya truk sawit. Di Papua, seorang tetua adat resah melihat hutan yang dulu menjadi rumah leluhurnya mulai berubah menjadi deretan pohon seragam. Semua cerita itu, meski berbeda, bertemu dalam angka yang sama: 2.285 perusahaan.

Angka itu adalah fakta, tetapi di baliknya ada imajinasi tentang masa depan. Masa depan di mana sawit tidak lagi dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai energi hijau yang menopang transisi dunia dari fosil. Masa depan di mana setiap perusahaan bukan hanya menghitung laba, tetapi juga menanam komitmen pada bumi dan masyarakat. Dan masa depan itu, suka atau tidak, sedang dirancang hari ini di ribuan kebun sawit yang tersebar dari Aceh hingga Papua.