(Beritadaerah-Semarang) Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM) dalam rangka memperingati Hari Pangan Sedunia ke-46. Warga menyambut antusias kegiatan ini, yang berlangsung di Lapangan Tlogo Resort, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Rabu (21/10). GPM ini menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pokok dengan harga lebih terjangkau.
Dalam sambutannya membuka GPM, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengatakan, Gerakan Pangan Murah merupakan salah satu upaya pemerintah untuk menjaga keterjangkauan harga bahan pokok di tengah masyarakat. Menurutnya, ketersediaan pangan yang melimpah harus diimbangi dengan kemampuan masyarakat untuk membelinya.
“Ketersediaan stok saja tidak cukup, tanpa adanya keterjangkauan dari masyarakat,” ujar Ahmad.
Luthfi menegaskan, pelaksanaan GPM perlu disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat di setiap wilayah. Karena itu, pemerintah daerah perlu melakukan survei terlebih dahulu untuk mengetahui komoditas yang paling dibutuhkan serta menentukan lokasi pelaksanaan yang tepat.
Dengan demikian, intervensi harga dapat dilakukan secara lebih terarah. Daerah yang mengalami kekurangan pasokan komoditas tertentu dapat menjadi prioritas penanganan, sehingga pelaksanaan GPM benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat setempat.
“Upaya tersebut membutuhkan kolaborasi berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, Bank Indonesia, BUMN, BUMD hingga dinas terkait. Kerja sama diperlukan untuk menjaga pasokan sekaligus memastikan bahan pangan dapat dijangkau masyarakat,” tuturnya.
Gubernur menyebut, sepanjang 2026, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah menggelar gerakan pangan murah di 1.724 titik. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok sekaligus mengendalikan inflasi di Jawa Tengah.
Melalui gerakan pangan murah, masyarakat diharapkan dapat memenuhi kebutuhan pokok dengan harga yang lebih bersahabat. Di sisi lain, intervensi pasar tersebut juga diharapkan membantu menjaga keseimbangan pasokan dan harga, sekaligus mendukung keberlangsungan usaha petani dan peternak.
Salah satu warga Desa Delik, Ngatemi yang mengikuti kegiatan ini, mengaku senang bisa membeli berbagai kebutuhan dapur dengan harga di bawah pasaran. Dia memborong sejumlah komoditas, mulai dari cabai, daging ayam, telur hingga beras.
“Harganya jauh lebih murah dibandingkan di pasaran. Selisihnya sekitar Rp2.000 sampai Rp4.000. Gerakan pangan murah seperti ini sangat membantu masyarakat kecil untuk memenuhi kebutuhan pokok. Harapannya bisa dilaksanakan secara rutin,” ujarnya.


