(Beritadaerah-Jakarta) Badan Gizi Nasional (BGN) terus mengembangkan pola penyajian dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) agar makanan yang diterima peserta didik memiliki kualitas yang lebih baik. Salah satu pendekatan yang tengah diuji adalah sistem prasmanan di ruang kelas, yang memungkinkan makanan disajikan dalam kondisi lebih hangat dan mendekati waktu konsumsi.
Kepala BGN Sudaryono menjelaskan bahwa hingga 5 Oktober 2026, penerapan model tersebut telah memasuki tahap uji coba di lebih dari 60 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Dalam mekanisme ini, makanan yang telah selesai dimasak dari dapur pusat dibawa ke sekolah dan kemudian disajikan secara langsung kepada siswa.
Menurut Sudaryono, pola tersebut dikembangkan untuk memperpendek jarak waktu antara makanan selesai dimasak dan saat dikonsumsi. Dengan waktu distribusi yang lebih singkat, makanan diharapkan tetap memiliki cita rasa, suhu, dan kualitas yang lebih baik ketika sampai kepada penerima manfaat.
Model prasmanan tersebut juga dirancang dengan mempertimbangkan aspek keamanan pangan. Semakin singkat waktu tunggu makanan sebelum dikonsumsi, semakin kecil pula peluang terjadinya penurunan kualitas makanan akibat terlalu lama berada dalam kondisi distribusi.
BGN mengadaptasi sejumlah pembelajaran dari sistem penyediaan makanan sekolah di negara lain, termasuk Jepang. Namun, penerapannya di Indonesia tetap disesuaikan dengan kondisi sekolah, kapasitas dapur, jumlah penerima manfaat, serta karakteristik masing-masing daerah.
Selain kualitas makanan, sistem prasmanan dinilai memiliki manfaat dalam mengurangi potensi pemborosan. Siswa dapat mengambil makanan sesuai kebutuhan sehingga porsi yang tidak habis dapat ditekan. Makanan yang masih tersedia juga dapat dimanfaatkan oleh siswa lain yang membutuhkan tambahan.
Pola tersebut sekaligus memberikan kesempatan bagi sekolah untuk memasukkan unsur pendidikan dalam pelaksanaan MBG. Siswa dapat dibiasakan mengambil makanan secukupnya, menjaga kebersihan saat makan, serta memahami pentingnya menghargai makanan.
BGN menyadari bahwa penerapan sistem prasmanan membutuhkan kesiapan dari sekolah maupun SPPG. Karena itu, pelatihan bagi pengelola makanan dan pihak sekolah menjadi bagian penting sebelum model tersebut diterapkan secara lebih luas.
Dalam pelaksanaannya, aspek kebersihan dan keamanan pangan tetap menjadi perhatian utama. Jika siswa dilibatkan dalam proses pelayanan secara bergantian, keterlibatan tersebut harus dilakukan dengan prosedur yang sesuai agar tidak mengganggu standar pengelolaan makanan.
BGN masih melakukan evaluasi terhadap berbagai aspek penerapan sistem tersebut. Penilaian dilakukan terhadap kondisi makanan saat diterima siswa, ketepatan waktu distribusi, kesiapan tenaga pelaksana, kapasitas dapur, kondisi sekolah, hingga jumlah makanan yang tersisa.
Hasil uji coba nantinya akan menjadi dasar untuk menentukan pengembangan sistem prasmanan pada lebih banyak sekolah. Penerapan model ini juga diperkirakan tidak akan dilakukan secara seragam karena setiap sekolah memiliki kebutuhan dan kemampuan operasional yang berbeda.
Pengembangan pola penyajian tersebut menunjukkan bahwa pelaksanaan MBG tidak hanya berfokus pada penyediaan makanan bagi siswa. Program tersebut juga diarahkan untuk membangun kebiasaan makan yang sehat, mengurangi pemborosan pangan, serta memperkenalkan budaya hidup bersih dan tertib sejak lingkungan sekolah.
Melalui evaluasi dan penyempurnaan secara bertahap, BGN berupaya memastikan program MBG dapat memberikan manfaat secara optimal. Makanan yang lebih segar, pengelolaan yang efisien, dan proses penyajian yang aman diharapkan dapat mendukung kebutuhan gizi sekaligus aktivitas belajar peserta didik.


