OJK: Sektor Keuangan Indonesia Tetap Solid di Tengah Tekanan Ekonomi Global

Jakarta – Stabilitas sektor jasa keuangan nasional masih berada dalam kondisi terjaga hingga September 2026. Ketahanan tersebut tercermin dari fundamental industri keuangan yang tetap kuat, meskipun perekonomian global menghadapi berbagai tekanan, mulai dari meningkatnya ketegangan geopolitik, kenaikan harga energi, hingga kebijakan suku bunga global yang masih bertahan pada level tinggi.

Penilaian tersebut disampaikan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berdasarkan hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) yang berlangsung pada September 2026. OJK menilai industri jasa keuangan dalam negeri masih memiliki fondasi yang solid, ditopang oleh kondisi permodalan yang kuat, likuiditas yang memadai, serta inflasi nasional yang tetap terkendali.

Di tingkat global, pertumbuhan ekonomi pada 2026 diperkirakan melambat dibandingkan tahun sebelumnya. Meski demikian, proyeksi terbaru masih menunjukkan perbaikan dibandingkan perkiraan sebelumnya. Salah satu faktor yang menopang aktivitas ekonomi global adalah meningkatnya investasi dan perdagangan yang berkaitan dengan perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Namun, prospek pertumbuhan tersebut masih menghadapi sejumlah risiko. Eskalasi konflik geopolitik berpotensi kembali mendorong kenaikan harga minyak dan meningkatkan tekanan inflasi global. Selain itu, fenomena El Nino dengan intensitas sangat kuat juga dapat memengaruhi produksi pangan dan komoditas pertanian sehingga berpotensi meningkatkan harga.

Tekanan inflasi global tersebut turut memengaruhi arah kebijakan moneter berbagai negara. Suku bunga global diperkirakan masih akan berada pada level tinggi dalam waktu lebih lama atau dikenal dengan istilah higher for longer. Kondisi ini terlihat dari kebijakan suku bunga di Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang, sementara pasar masih memperkirakan adanya kemungkinan kenaikan suku bunga pada akhir 2026 dan berlanjut hingga 2027.

Kenaikan suku bunga juga beriringan dengan meningkatnya imbal hasil obligasi pemerintah di sejumlah negara. Imbal hasil surat utang pemerintah Amerika Serikat dan Eropa bahkan kembali berada pada level yang terakhir terlihat sebelum krisis keuangan global 2008, sementara Jepang mencapai tingkat yang belum terlihat sejak sebelum 1997.

Kondisi tersebut antara lain dipengaruhi meningkatnya kebutuhan pembiayaan pemerintah serta bertambahnya penerbitan obligasi jangka panjang oleh perusahaan teknologi berskala besar atau hyperscaler untuk mendukung investasi yang berkaitan dengan pengembangan AI.

Di dalam negeri, kondisi perekonomian Indonesia dinilai relatif stabil. Inflasi masih berada dalam sasaran pemerintah meskipun tekanan harga secara global meningkat. Stabilitas inflasi tersebut turut membantu menjaga daya beli masyarakat sehingga permintaan domestik dan konsumsi tetap kuat sebagai salah satu penopang pertumbuhan ekonomi.

Optimisme terhadap ketahanan ekonomi Indonesia juga tercermin dari revisi proyeksi OECD. Lembaga tersebut meningkatkan perkiraan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 sebesar 0,5 persen, yang menunjukkan adanya kepercayaan terhadap kemampuan perekonomian nasional menghadapi ketidakpastian global.

Kinerja tersebut tidak terlepas dari kontribusi sektor keuangan yang terus mendukung aktivitas ekonomi. Dengan kondisi permodalan yang kuat, likuiditas yang memadai, serta fundamental industri jasa keuangan yang tetap solid, sektor keuangan nasional dinilai masih mampu menjadi salah satu penopang pertumbuhan sekaligus menjaga stabilitas perekonomian di tengah tekanan global.