Menkeu Nilai Rupiah Masih Stabil di Tengah Tekanan Geopolitik Global

(Beritadaerah-Nasional) Pemerintah menilai daya tahan nilai tukar rupiah terhadap tekanan ekonomi global masih berada pada kondisi yang relatif baik. Penilaian tersebut disampaikan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang menilai gejolak global, termasuk konflik di kawasan Timur Tengah, belum memberikan dampak signifikan terhadap stabilitas mata uang nasional.

Menurutnya, dinamika ekonomi dunia memang menimbulkan ketidakpastian di pasar keuangan. Namun anggapan bahwa nilai tukar rupiah mengalami pelemahan drastis dinilai tidak mencerminkan kondisi sebenarnya. Ia menjelaskan bahwa dalam beberapa periode gejolak global, rupiah hanya mengalami depresiasi yang terbatas, sekitar 0,3 persen, sehingga menunjukkan ketahanan yang cukup baik.

Purbaya juga mengungkapkan bahwa pelaku pasar yang memiliki investasi besar di Indonesia masih memperlihatkan kepercayaan terhadap fundamental ekonomi nasional. Hal ini tercermin dari sejumlah indikator risiko negara yang tetap stabil.

Salah satu indikator yang disoroti adalah tingkat Credit Default Swap (CDS) Indonesia tenor lima tahun yang masih berada pada level relatif terkendali. Selain itu, selisih imbal hasil antara Surat Berharga Negara dan obligasi pemerintah Amerika Serikat juga menunjukkan perubahan yang sangat kecil.

Data tersebut menunjukkan bahwa spread antara SBN dan US Treasury hanya mengalami kenaikan tipis dari sekitar 240 basis poin pada awal 2025 menjadi sekitar 243 basis poin. Kenaikan yang sangat terbatas ini dianggap mencerminkan bahwa investor asing masih memiliki tingkat kepercayaan yang cukup tinggi terhadap stabilitas ekonomi Indonesia.

Lebih lanjut, Purbaya juga menyinggung perkembangan arus modal di pasar keuangan domestik. Meski sempat terjadi aliran dana keluar dari pasar SBN sekitar Rp0,7 triliun pada Maret, aliran dana masuk justru tercatat pada beberapa instrumen investasi lain.

Masuknya dana investor terlihat pada instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang mencatat aliran dana sekitar Rp2,2 triliun. Selain itu, pasar saham domestik juga menerima aliran modal masuk dengan nilai yang hampir sama.

Pergerakan tersebut dinilai menunjukkan bahwa investor masih melihat prospek ekonomi Indonesia secara positif. Kepercayaan tersebut, menurut Purbaya, terutama datang dari investor yang benar-benar menempatkan dana dalam jumlah besar di pasar keuangan Indonesia.

Dengan berbagai indikator tersebut, pemerintah menilai fondasi ekonomi nasional tetap kuat sehingga mampu meredam dampak gejolak eksternal yang terjadi di tingkat global.