(Beritadaerah-Jakarta) Di tengah gejolak ekonomi dunia yang belum menentu, Indonesia berhasil mempertahankan disiplin inflasi dan menjaga momentum pertumbuhan. Capaian ini memperlihatkan kekuatan kebijakan fiskal dan moneter yang terkoordinasi dengan baik antara pemerintah, Bank Indonesia, OJK, dan LPS.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi konsumen utama sebesar 2,86 persen secara tahunan (YoY) dan 2,10 persen secara tahun kalender (YtD). Angka tersebut menunjukkan kemampuan Indonesia dalam menahan laju kenaikan harga di tengah tekanan global. Nilai tukar rupiah yang tetap stabil sepanjang 2025 turut memperkuat kepercayaan publik terhadap arah kebijakan moneter nasional.
Menurut Chief Economist Juwai IQI Global, Shan Saeed, moderasi inflasi yang berada pada kisaran 2–3 persen menandakan kebijakan moneter Bank Indonesia berjalan efektif dan pengelolaan fiskal dilakukan dengan disiplin. Ia menilai kombinasi antara inflasi rendah dan pertumbuhan ekonomi yang solid merupakan kondisi ideal yang menjaga daya beli masyarakat sekaligus mendorong investasi produktif.
Pertumbuhan ekonomi nasional diproyeksikan berada di kisaran 5,0 hingga 5,8 persen pada 2025. Capaian ini menempatkan Indonesia di jajaran negara dengan ekonomi paling tangguh di Asia. Keberhasilan menjaga keseimbangan antara stabilitas harga dan laju pertumbuhan menjadikan Indonesia contoh ketahanan makroekonomi di kawasan.
Kinerja pasar modal juga mencerminkan kepercayaan investor. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik sekitar 7,5 persen secara tahunan dan menembus level 8.272 poin. Kenaikan ini terjadi seiring sentimen positif terhadap prospek ekonomi nasional. Rasio P/E yang masih dalam batas wajar menunjukkan bahwa valuasi pasar tetap sehat dan menarik bagi investor jangka panjang.
Di sisi investasi asing, arus masuk FDI sepanjang 2024 mencapai sekitar USD24,1 miliar. Investasi tersebut banyak mengalir ke sektor logam dan mesin, telekomunikasi, kimia, serta pertambangan. Diversifikasi sektor penerima investasi menunjukkan posisi strategis Indonesia dalam rantai pasok global sekaligus meningkatnya kepercayaan dunia terhadap kebijakan ekonomi nasional.
Analis menilai bahwa kredibilitas kebijakan dan daya saing investasi Indonesia menjadi fondasi penting dalam menjaga ketahanan ekonomi. Pemerintah dinilai mampu menyeimbangkan reformasi struktural dengan stabilitas makro, sementara koordinasi antarotoritas memperkuat kepercayaan investor dan keberlanjutan pertumbuhan.
Indikator ekonomi lain juga memperkuat optimisme tersebut. Pertumbuhan ekonomi triwulan II-2025 tercatat 5,12 persen (YoY), dengan inflasi berada pada sasaran 2,5 ±1 persen. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang berada di level 115 menunjukkan masyarakat masih optimistis, sementara Indeks Penjualan Riil (IPR) tumbuh 5,8 persen (YoY). Investasi langsung sepanjang Januari–September 2025 mencapai Rp1.434 triliun atau naik 13,7 persen (YoY), menyerap hampir dua juta tenaga kerja.
Neraca perdagangan tetap surplus sebesar USD29,14 miliar, sedangkan ketahanan perbankan dan cadangan devisa tinggi menjaga kestabilan sistem keuangan. Dengan inflasi yang cenderung menurun dan pertumbuhan PDB mendekati 5,8 persen, Indonesia kini tampil sebagai ekonomi yang tangguh dan disiplin di tengah ketidakpastian global.
Dalam pandangan para ekonom, kombinasi reformasi institusional, peningkatan investasi, dan tata kelola yang hati-hati menjadikan Indonesia sebagai teladan ketahanan makro di kawasan ASEAN.


