Ilustrasi persawahan di Kabupaten Mamasa di Sulawesi Barat (Foto: Kontributor Beritadaerah)

Peluang Bisnis Pertanian untuk Generasi Milenial

(Beritadaerah-Kolom) Sejak dulu, Indonesia dikenal sebagai negara agraris dengan julukan “Zamrud Khatulistiwa”, karena menyimpan potensi besar di sektor pertanian. Dari Sabang sampai Merauke, setiap daerah mempunyai potensi pertanian yang beragam. Melihat hal tersebut, sangat terbuka peluang bisnis pertanian bagi generasi milenial.

Indonesia dikatakan sebagai negara agraris bila diartikan secara eksplisit sangat pas yakni Indonesia penduduknya mayoritas bermata pencaharian pada sektor pertanian. Jadi masih sangat relevan, bila Indonesia dikatakan sebagai negara agraris. Terlihat data Sakernas Februari 2024 yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik, dari jumlah penduduk Indonesia yang bekerja, sebanyak 28,64% mayoritas penduduk bekerja di kategori Pertanian, Kehutanan dan Perikanan.

Sedangkan menurut data Organisasi Pangan dan Pertanian/Food and Agriculture Organization (FAO), secara rata-rata selama dekade terakhir, Cina adalah negara dengan luas lahan pertanian terbesar (sekitar 500 juta hektar atau Mha), diikuti oleh Amerika Serikat, Australia (masing-masing sekitar 400 Mha) dan Brasil (278 Mha). India memiliki lahan pertanian hampir 179 Mha, dan luas lahan pertanian Indonesia pada 2019 mencapai 63,4 juta hektare (Mha). 

Petani Milenial

Petani Milenial mengacu pada petani dengan usia muda yang terlibat dalam kegiatan pertanian dengan menggunakan teknologi modern dan pendekatan inovatif. Saat ini petani di Indonesia didominasi oleh usia yang diatas 40 tahun. Sedangkan petani yang masuk kategori generasi muda dengan usia antara 19-39 tahun hanya sekitar 9 persen atau 2,7 juta orang dari jumlah petani pengguna lahan pertanian di Indonesia sebanyak 27.799.280 petani.

Bila melihat luas lahan pertanian Indonesia terlihat ada peluang, bagi angkatan muda khususnya Petani Milenial untuk dapat meningkatkan produksi pertanian di Indonesia. Petani milenial memiliki peran penting, terlebih dalam menghadapi tantangan seperti perubahan iklim, ketahanan pangan, dan permintaan global. Melalui inovasi dan kepemimpinan generasi muda ini, harapannya adalah pertanian dapat menjadi lebih efisien, produktif, dan ramah lingkungan di masa depan.

Petani milenial memiliki kontribusi sangat besar dalam memenuhi kebutuhan pangan yang terus meningkat, ada lima alasan mendasari hal tersebut, yakni:

  1. Peningkatan Produktivitas: Petani milenial cenderung menggunakan teknologi modern dan inovatif dalam praktik pertanian mereka. Hal ini dapat meningkatkan produktivitas tanaman dan hasil pertanian secara keseluruhan, memastikan pasokan pangan yang memadai untuk populasi yang terus bertambah.
  2. Penggunaan Teknologi: Generasi milenial terbiasa dengan teknologi informasi dan komunikasi. Mereka dapat memanfaatkan aplikasi mobile, sensor pintar, dan platform digital untuk memantau tanaman, memprediksi cuaca, memanage inventaris, dan memperbaiki efisiensi operasional pertanian.
  3. Ketahanan Pangan: Dengan pertumbuhan penduduk yang cepat dan tantangan perubahan iklim, Indonesia perlu memastikan ketahanan pangan yang berkelanjutan. Petani milenial bisa menjadi motor penggerak untuk menghadapi tantangan ini dengan cara yang lebih adaptif dan inovatif.
  4. Regenerasi Petani: Banyak petani di Indonesia saat ini merupakan generasi yang lebih tua. Melibatkan petani milenial tidak hanya akan menghadirkan energi baru dan ide-ide segar dalam pertanian, tetapi juga membantu dalam regenerasi tenaga kerja di sektor pertanian.
  5. Peningkatan Kualitas Produk: Dengan pendekatan yang lebih modern dan pengetahuan yang diperbarui, petani milenial dapat membantu meningkatkan kualitas produk pertanian Indonesia. Hal ini penting untuk dapat bersaing di pasar global yang semakin kompetitif.

Oleh karena itu, memfasilitasi pendidikan, pelatihan, akses terhadap teknologi, serta mendukung keberlanjutan praktik pertanian modern adalah langkah-langkah penting yang dapat didorong untuk menarik dan mendukung pertumbuhan petani milenial di Indonesia.

Peluang Bisnis yang terbuka

Bagaimana dengan peluang bisnis pertanian bagi petani milenial? Saat ini sangat terbuka, ada beberapa sub sektor pertanian yang memiliki potensi besar dalam pengembangan pertanian nasional, seperti:

  • Budidaya Tanaman Pangan: Memproduksi beras, jagung, kedelai, dan tanaman pangan lainnya dengan metode modern seperti hidroponik, aeroponik, atau sistem vertikultur. Saat ini Indonesia masih impor untuk produk pertanian ini, seperti beras untuk cadangan pangan nasional, sedangkan kedelai untuk memenuhi industri UMKM dalam negeri.
  • Hortikultura: Membudidayakan buah-buahan, sayuran, dan tanaman hias dengan teknik budidaya organik atau ramah lingkungan.
  • Peternakan: Beternak sapi, ayam, ikan, atau hewan ternak lainnya dengan sistem intensif atau semi-intensif yang efisien dan berkelanjutan.
  • Pengolahan Hasil Pertanian: Mengolah hasil pertanian menjadi produk bernilai tambah, seperti makanan olahan, minuman, kosmetik, atau obat-obatan herbal.
  • Agribisnis Digital: Membangun platform e-commerce untuk menjual produk pertanian, menyediakan layanan konsultasi pertanian online, atau mengembangkan aplikasi pertanian cerdas.

Peluang bisnis pertanian untuk generasi milenial di Indonesia sangatlah besar. Dengan semangat inovatif, pemanfaatan teknologi, dan strategi yang tepat, kedepan bisa saja terjadi lonjakan generasi milenial yang menjadi motor penggerak kemajuan sektor pertanian Indonesia. Sehingga Indonesia kembali menjadi negara agraris yang besar dan memiliki ketahanan pangan nasional yang kuat.