{"id":377315,"date":"2026-09-15T08:34:37","date_gmt":"2026-09-15T01:34:37","guid":{"rendered":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/?p=377315"},"modified":"2026-09-15T08:34:37","modified_gmt":"2026-09-15T01:34:37","slug":"papua-tengah-dan-dilema-investasi-berbasis-pertambangan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/09\/15\/papua-tengah-dan-dilema-investasi-berbasis-pertambangan\/","title":{"rendered":"Papua Tengah dan Dilema Investasi Berbasis Pertambangan"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><em>(Beritadaerah-Kolom) Papua Tengah memiliki salah satu konsentrasi investasi terbesar di kawasan timur Indonesia, tetapi dominasi pertambangan membuat ukuran daya saing investasinya menjadi sangat berbeda. Tantangannya bukan menarik modal dalam jumlah besar, melainkan mengubah modal tersebut menjadi kapasitas ekonomi yang lebih beragam dan produktif.<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Papua Tengah merupakan salah satu kasus paling menarik ketika kerangka <em>Investment Competitiveness Scoreboard<\/em> dari McKinsey Global Institute diterapkan pada tingkat provinsi. Daerah ini memiliki kekuatan investasi yang sangat besar dibandingkan sebagian besar provinsi di Tanah Papua, terutama karena keberadaan industri pertambangan berskala besar di Mimika. Namun, kekuatan tersebut sekaligus menciptakan persoalan struktural, ketika produksi pertambangan meningkat, ekonomi Papua Tengah dapat tumbuh sangat cepat, tetapi ketika produksi atau penjualan komoditas tambang terganggu, pertumbuhan ekonomi provinsi dapat langsung mengalami kontraksi yang sangat dalam.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Data terbaru memperlihatkan besarnya persoalan tersebut. Pada triwulan II 2026, ekonomi Papua Tengah mengalami kontraksi 15,44 persen secara tahunan. Penyebab utamanya adalah penurunan produksi dan penjualan tembaga serta emas PT Freeport Indonesia. Sektor pertambangan dan penggalian menyumbang 76,51 persen terhadap PDRB Papua Tengah, sehingga perubahan kecil maupun besar dalam aktivitas pertambangan secara otomatis sangat memengaruhi angka pertumbuhan ekonomi provinsi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun angka tersebut tidak boleh langsung diterjemahkan sebagai runtuhnya seluruh ekonomi Papua Tengah. Ketika pertambangan dikeluarkan dari perhitungan, ekonomi Papua Tengah justru tumbuh 5,45 persen pada triwulan II 2026. Beberapa sektor bahkan tumbuh cukup kuat, antara lain perdagangan besar dan eceran 9,47 persen, industri pengolahan 7,44 persen, jasa pendidikan 6,98 persen, real estat 5,90 persen, informasi dan komunikasi 5,22 persen, serta jasa kesehatan 4,66 persen. Ini memberikan petunjuk penting, di balik dominasi pertambangan, mulai terdapat lapisan ekonomi non-tambang yang memiliki kemampuan tumbuh sendiri.<\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify;\">Papua Tengah dalam Investment Competitiveness Scoreboard<\/h4>\n<table>\n<thead>\n<tr>\n<th>Dimensi<\/th>\n<th>Indikator<\/th>\n<th>Kondisi Papua Tengah<\/th>\n<th>Pembacaan<\/th>\n<\/tr>\n<\/thead>\n<tbody>\n<tr>\n<td>Investment intensity<\/td>\n<td>Gross productive investment<\/td>\n<td>PMTB menyumbang 21,39% PDRB pada Q1 2025; pertumbuhan yoy -2,62%<\/td>\n<td>Tinggi secara struktur, tetapi mengalami tekanan<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td><\/td>\n<td>Net productive investment<\/td>\n<td>Belum tersedia langsung<\/td>\n<td>Perlu memperhitungkan depresiasi aset<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td><\/td>\n<td>Productive capital stock<\/td>\n<td>Belum tersedia sebagai indikator langsung<\/td>\n<td>Data gap<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td><\/td>\n<td>Productive capital stock per worker<\/td>\n<td>Belum tersedia secara langsung<\/td>\n<td>Perlu estimasi stok modal per pekerja<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td><\/td>\n<td>Economic return on productive capital stock<\/td>\n<td>Belum tersedia langsung<\/td>\n<td>Potensi tinggi pada pertambangan, tetapi perlu pengukuran return<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>Investment allocation<\/td>\n<td>Investment in intellectual property products<\/td>\n<td>Belum tersedia secara konsisten<\/td>\n<td>Masih perlu diperkuat<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td><\/td>\n<td>Investment in machinery and equipment<\/td>\n<td>Sangat relevan, terutama untuk pertambangan dan industri pengolahan<\/td>\n<td>Kualitas upgrading perlu diperluas ke sektor non-tambang<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>Investment attractiveness<\/td>\n<td>Economic profit spread<\/td>\n<td>Belum tersedia di tingkat provinsi<\/td>\n<td>Perlu proxy ROIC-WACC<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td><\/td>\n<td>Greenfield FDI announcements per worker<\/td>\n<td>Belum tersedia sebagai seri provinsi<\/td>\n<td>PMA dapat digunakan sebagai proxy terbatas<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tabel tersebut memperlihatkan bahwa Papua Tengah memiliki karakter yang berbeda dari Papua, Papua Barat maupun Papua Selatan. Investment intensity Papua Tengah relatif kuat jika dilihat dari besarnya PMTB terhadap PDRB dan investasi langsung yang tercatat. Tetapi kekuatan itu belum otomatis menghasilkan struktur ekonomi yang beragam. Dalam kerangka McKinsey, investasi produktif bukan sekadar jumlah modal yang ditanamkan, melainkan kemampuan modal tersebut meningkatkan kapasitas produksi dan produktivitas pada masa depan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada triwulan I 2025, PMTB Papua Tengah mempunyai kontribusi 21,39 persen terhadap PDRB, sementara pertumbuhannya secara tahunan masih terkontraksi 2,62 persen. Ekspor barang dan jasa menyumbang 35,64 persen PDRB dan mengalami kontraksi sangat dalam sebesar 54,55 persen secara tahunan. Struktur tersebut memperlihatkan betapa erat hubungan antara investasi, pertambangan dan ekspor Papua Tengah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Situasi itu membuat Papua Tengah memiliki dua wajah. Wajah pertama adalah wilayah dengan proyek investasi besar dan kemampuan menghasilkan output ekonomi yang sangat tinggi. Wajah kedua adalah ekonomi yang sensitif terhadap perubahan produksi komoditas tambang. Daya saing investasi Papua Tengah karena itu tidak boleh hanya dinilai dari besarnya proyek yang sudah ada. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah investasi tersebut mampu menciptakan ekosistem ekonomi yang tetap tumbuh ketika produksi tambang mengalami penurunan.<\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify;\">Investasi Rp28,46 triliun menunjukkan kekuatan sekaligus konsentrasi<\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dari sisi realisasi penanaman modal, Papua Tengah berada jauh di atas sebagian besar provinsi di Tanah Papua. Data BKPM menunjukkan realisasi investasi Papua Tengah pada 2025 mencapai Rp28,46 triliun, meningkat dari Rp22,80 triliun pada 2024 dan Rp14,79 triliun pada 2023. Nilai 2025 tersebut menempatkan Papua Tengah di sekitar posisi 18 secara nasional dan menjadi salah satu pusat investasi terbesar di kawasan timur Indonesia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Perkembangan tersebut sangat penting karena menunjukkan bahwa Papua Tengah bukan sekadar daerah dengan potensi investasi di atas kertas. Modal dalam jumlah besar memang telah masuk dan digunakan dalam aktivitas ekonomi. Pada triwulan III 2025 saja, investasi sektor pertambangan di Papua Tengah mencapai sekitar Rp6,6 triliun. Bappenas juga mencatat komitmen PT Freeport Indonesia untuk terus melakukan investasi sekitar US$1\u20131,5 miliar per tahun untuk pengembangan tambang bawah tanah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dari perspektif investment attractiveness, angka tersebut merupakan kekuatan luar biasa. Investor bersedia menempatkan modal dalam jumlah besar pada wilayah yang secara geografis tidak mudah, karena terdapat aset ekonomi yang memiliki nilai sangat tinggi. Dalam kasus Papua Tengah, sumber daya mineral menjadi faktor utama yang mampu mengimbangi tingginya biaya logistik, infrastruktur, tenaga kerja, dan risiko operasional.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tetapi justru di sini muncul dilema. Jika sebagian besar investasi berputar di sekitar pertambangan, maka kenaikan investasi belum tentu menghasilkan diversifikasi ekonomi. Papua Tengah dapat memiliki nilai investasi yang tinggi sekaligus tetap memiliki struktur ekonomi yang sangat terkonsentrasi.<\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify;\">Pertambangan memberikan return besar, tetapi menciptakan ketergantungan<\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\">McKinsey menggunakan economic return on productive capital stock sebagai salah satu indikator untuk melihat seberapa efektif stok modal menghasilkan output ekonomi. Papua Tengah kemungkinan memiliki return modal yang sangat menarik pada sektor pertambangan karena nilai sumber daya mineral dan skala produksinya. Namun, angka tersebut tidak tersedia sebagai indikator provinsi yang dapat langsung dibandingkan dengan daerah lain.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Yang lebih jelas terlihat adalah sensitivitas ekonomi terhadap perubahan produksi tambang. Pada triwulan II 2026, penjualan tembaga PT Freeport Indonesia turun dari 443 juta pon pada triwulan II 2025 menjadi 153 juta pon, sementara penjualan emas turun dari 518 ribu ons menjadi 118 ribu ons. Akibatnya, sektor pertambangan mengalami tekanan yang sangat besar dan membawa ekonomi Papua Tengah secara keseluruhan ke kontraksi 15,44 persen.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dari perspektif daya saing, kondisi ini merupakan sinyal yang sangat penting. Ekonomi dengan satu sektor dominan dapat menghasilkan produktivitas tinggi, tetapi juga mempunyai risiko konsentrasi yang tinggi. Semakin besar kontribusi satu sektor terhadap PDRB, semakin besar pula dampak perubahan produksi sektor tersebut terhadap seluruh perekonomian.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Karena itu, investasi yang dibutuhkan Papua Tengah bukan sekadar tambahan modal di sektor tambang. Yang dibutuhkan adalah investasi yang memanfaatkan keberadaan pertambangan untuk membangun sektor-sektor lain. Perusahaan tambang membutuhkan makanan, transportasi, konstruksi, jasa profesional, peralatan, pemeliharaan, pergudangan, telekomunikasi, energi, hingga berbagai jasa pendukung. Jika sebagian kebutuhan tersebut dapat dipenuhi perusahaan lokal, maka investasi pertambangan dapat menciptakan multiplier effect yang jauh lebih besar.<\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify;\">Investment allocation harus mulai bergeser<\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dimensi kedua dalam scoreboard McKinsey adalah investment allocation. Pertanyaan utamanya adalah ke mana modal diarahkan dan apakah komposisinya mampu meningkatkan produktivitas masa depan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Papua Tengah memiliki alasan kuat untuk mempertahankan investasi pada mesin, peralatan, teknologi dan infrastruktur pertambangan. Industri pertambangan modern membutuhkan modal yang sangat besar dan teknologi yang kompleks. Pengembangan tambang bawah tanah, misalnya, membutuhkan investasi jangka panjang, teknologi produksi, sistem keselamatan, alat berat, sistem informasi, dan berbagai peralatan khusus.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun investasi tersebut perlu menghasilkan spillover yang lebih luas. Investasi pada mesin dan teknologi akan memberikan manfaat lebih besar apabila perusahaan lokal dapat menjadi pemasok barang dan jasa, tenaga kerja lokal memperoleh keahlian yang relevan, dan infrastruktur yang dibangun juga digunakan oleh kegiatan ekonomi lain.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada titik ini, industri pengolahan menjadi sangat penting. Data 2026 menunjukkan industri pengolahan Papua Tengah masih mampu tumbuh 7,44 persen meskipun pertambangan mengalami tekanan. Angka tersebut menunjukkan adanya ruang untuk mengembangkan aktivitas hilir dan non-tambang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Perdagangan juga tumbuh 9,47 persen. Informasi dan komunikasi tumbuh 5,22 persen. Real estat tumbuh 5,90 persen. Sektor-sektor tersebut memang masih jauh lebih kecil dibandingkan pertambangan, tetapi pertumbuhan positifnya menunjukkan bahwa ekonomi Papua Tengah tidak sepenuhnya bergantung pada tambang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Strategi investasi berikutnya seharusnya memanfaatkan momentum tersebut. Industri makanan, logistik, konstruksi, jasa digital, perhotelan, perdagangan, pengolahan hasil pertanian, perikanan dan jasa pendukung industri dapat menjadi lapisan kedua perekonomian Papua Tengah.<\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify;\">Dari Mimika ke Nabire, konektivitas menentukan masa depan<\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\">Papua Tengah juga memiliki karakter geografis yang membuat investasi infrastruktur sangat menentukan. Provinsi ini tidak hanya memiliki Mimika sebagai pusat aktivitas pertambangan, tetapi juga Nabire sebagai pusat pemerintahan dan simpul ekonomi yang dapat berkembang menjadi pusat perdagangan dan jasa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jika investasi hanya terkonsentrasi di wilayah tambang, maka kesenjangan antara pusat produksi dan wilayah lain akan tetap besar. Sebaliknya, pembangunan konektivitas antara Nabire, Mimika dan kabupaten lain dapat menciptakan pasar yang lebih terintegrasi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam perspektif McKinsey, infrastruktur dapat dipahami sebagai bagian dari cost competitiveness. Jalan yang lebih baik menurunkan biaya transportasi. Pelabuhan yang lebih efisien mengurangi waktu distribusi. Bandara yang lebih baik mempercepat mobilitas tenaga kerja dan barang bernilai tinggi. Jaringan internet meningkatkan produktivitas jasa. Energi yang stabil memungkinkan industri beroperasi dengan biaya yang lebih rendah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Karena itu, investasi publik di Papua Tengah seharusnya tidak hanya dinilai dari nilai proyeknya. Ukuran yang lebih penting adalah seberapa jauh proyek tersebut menurunkan biaya ekonomi bagi investasi swasta berikutnya.<\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify;\">Economic profit spread belum bisa diukur, tetapi risikonya terlihat<\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\">Indikator economic profit spread dalam kerangka McKinsey membandingkan tingkat pengembalian modal dengan biaya modal. Data seperti ini tidak tersedia secara langsung pada tingkat provinsi. Karena itu, tidak tepat memberikan angka ROIC-WACC untuk Papua Tengah tanpa basis data perusahaan yang memadai.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun secara ekonomi, persoalannya dapat dibaca dengan jelas. Pertambangan berskala besar dapat menghasilkan return yang cukup untuk mengompensasi risiko geografis dan biaya operasional tinggi karena nilai komoditas yang dihasilkan sangat besar. Sementara itu, sektor dengan margin lebih rendah mungkin menghadapi kesulitan yang jauh lebih besar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hal ini berarti Papua Tengah tidak harus mengejar semua jenis investasi. Strategi yang lebih realistis adalah memilih sektor yang memiliki keunggulan lokasi. Investasi pertambangan dan pengolahan mineral merupakan salah satunya, tetapi harus diikuti sektor yang memiliki keterkaitan kuat dengan industri tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pemerintah daerah juga perlu memperhatikan investasi yang memberikan nilai tambah kepada masyarakat setempat. Jika perusahaan lokal hanya menjadi pemasok kecil sementara sebagian besar barang, jasa dan tenaga kerja ahli berasal dari luar wilayah, maka nilai ekonomi yang tinggal di Papua Tengah akan lebih rendah daripada nilai investasi nominalnya.<\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify;\">Tantangan terbesar adalah mengubah investasi tambang menjadi ekosistem<\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\">Papua Tengah sebenarnya memiliki peluang yang tidak dimiliki banyak provinsi. Kehadiran Freeport menciptakan anchor investor dengan skala global. Anchor investor seperti ini dapat menjadi dasar pembentukan ekosistem industri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Peluang tersebut dapat digunakan untuk mengembangkan perusahaan lokal dalam bidang konstruksi, engineering, transportasi, makanan, akomodasi, pengadaan, pemeliharaan peralatan, teknologi informasi, jasa profesional dan berbagai kebutuhan pertambangan. Semakin banyak kebutuhan tersebut dipenuhi oleh perusahaan lokal, semakin besar multiplier effect investasi terhadap ekonomi Papua Tengah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di sinilah konsep <em>productive capital stock per worker<\/em> menjadi relevan. Papua Tengah perlu memastikan bahwa investasi besar tidak hanya meningkatkan stok modal perusahaan, tetapi juga meningkatkan produktivitas tenaga kerja lokal. Pendidikan vokasi, sertifikasi, pelatihan teknis, digital skills dan pengalaman kerja harus menjadi bagian dari strategi investasi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jika modal meningkat tetapi tenaga kerja lokal tidak memperoleh peningkatan kemampuan, hubungan antara investasi dan pembangunan ekonomi akan lebih lemah. Sebaliknya, jika investasi meningkatkan kemampuan pekerja, maka produktivitas modal dan tenaga kerja dapat tumbuh secara bersamaan.<\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify;\">Papua Tengah punya investment attractiveness tinggi, tetapi diversification gap besar<\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jika seluruh indikator McKinsey dibaca bersama, Papua Tengah dapat dikategorikan sebagai wilayah dengan investment attractiveness tinggi dan investment intensity relatif kuat, tetapi menghadapi diversification gap yang sangat besar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Investment attractiveness terlihat dari kemampuan provinsi menarik investasi Rp28,46 triliun pada 2025 dan keberlanjutan investasi besar di sektor pertambangan. Investment intensity juga terlihat dari besarnya PMTB yang mencapai 21,39 persen dari PDRB pada triwulan I 2025. Namun investment allocation masih sangat dipengaruhi oleh kebutuhan sektor pertambangan, sementara aset intelektual dan investasi teknologi di sektor non-tambang belum memiliki ukuran yang kuat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kontradiksi pertumbuhan 2026 justru memperjelas persoalan tersebut. Ketika penjualan tembaga dan emas turun, ekonomi keseluruhan terkontraksi 15,44 persen. Tetapi jika pertambangan dikeluarkan, ekonomi masih tumbuh 5,45 persen. Ini berarti mesin ekonomi kedua sebenarnya mulai terbentuk, tetapi ukurannya belum cukup besar untuk mengimbangi sektor pertambangan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Karena itu, strategi investasi Papua Tengah seharusnya bukan mengurangi peran pertambangan. Yang lebih masuk akal adalah memperbesar ekonomi di sekitar pertambangan sekaligus membangun sektor yang dapat tumbuh tanpa bergantung langsung pada produksi tambang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pertanian, perikanan, perdagangan, industri pengolahan, konstruksi, transportasi, akomodasi, informasi dan komunikasi dapat menjadi fondasi diversifikasi. Sementara itu, Nabire dapat diperkuat sebagai pusat perdagangan, jasa, pemerintahan dan konektivitas, sedangkan Mimika tetap menjadi pusat industri dan pertambangan.<\/p>\n<h4 style=\"text-align: justify;\">Dari investasi besar menuju ekonomi yang lebih tahan guncangan<\/h4>\n<p style=\"text-align: justify;\">Papua Tengah memiliki modal investasi yang tidak kecil. Realisasi Rp28,46 triliun pada 2025 menempatkannya jauh di atas Papua, Papua Barat, Papua Selatan dan Papua Barat Daya. Tetapi angka tersebut juga memperlihatkan bahwa daya saing investasi Papua Tengah masih sangat bergantung pada satu keunggulan utama: sumber daya mineral.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam perspektif McKinsey, tahap berikutnya adalah mengubah investment intensity menjadi productive capacity, kemudian mengubah productive capacity menjadi productivity dan diversifikasi. Artinya, investasi tidak berhenti pada pembangunan fasilitas dan produksi komoditas, tetapi harus menciptakan perusahaan lokal, tenaga kerja terampil, teknologi, infrastruktur, serta rantai pasok yang semakin panjang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Papua Tengah tidak harus menjadi seperti Jawa Barat atau Jawa Timur. Struktur ekonominya memang berbeda. Keunggulan wilayah ini justru terletak pada sumber daya mineral, potensi industri berbasis komoditas, serta peluang menjadi pusat ekonomi baru di kawasan tengah Tanah Papua.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun, keberhasilan investasi Papua Tengah dalam jangka panjang akan ditentukan oleh satu pertanyaan sederhana: apakah ekonomi tetap mampu tumbuh ketika produksi tambang sedang turun?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Data triwulan II 2026 memberikan jawaban awal yang cukup menjanjikan. Ekonomi keseluruhan memang terkontraksi 15,44 persen, tetapi ekonomi tanpa pertambangan masih tumbuh 5,45 persen. Jika sektor non-tambang tersebut terus diperbesar melalui investasi baru, maka ketergantungan Papua Tengah terhadap satu sektor perlahan dapat dikurangi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dengan demikian, tantangan Papua Tengah bukan lagi sekadar bagaimana menarik investasi besar. Tantangannya adalah bagaimana menggunakan investasi besar yang sudah ada sebagai fondasi untuk membangun ekonomi yang lebih beragam, lebih produktif dan lebih tahan terhadap siklus komoditas. Jika berhasil, Papua Tengah tidak hanya menjadi pusat pertambangan terbesar di Tanah Papua, tetapi juga dapat berkembang menjadi salah satu pusat industri, perdagangan dan jasa paling penting di kawasan timur Indonesia.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Beritadaerah-Kolom) Papua Tengah memiliki salah satu konsentrasi investasi terbesar di kawasan timur Indonesia, tetapi dominasi pertambangan membuat ukuran daya saing investasinya menjadi sangat berbeda. Tantangannya bukan menarik modal dalam jumlah besar, melainkan mengubah modal tersebut menjadi kapasitas ekonomi yang lebih beragam dan produktif. Papua Tengah merupakan salah satu kasus paling menarik ketika kerangka Investment Competitiveness Scoreboard dari McKinsey Global Institute diterapkan pada tingkat provinsi. Daerah ini memiliki kekuatan investasi yang sangat besar dibandingkan sebagian besar provinsi di Tanah Papua, terutama [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":13,"featured_media":363598,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"kia_subtitle":""},"categories":[93,6],"tags":[3870],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v19.4 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Papua Tengah dan Dilema Investasi Berbasis Pertambangan - Berita Daerah<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/09\/15\/papua-tengah-dan-dilema-investasi-berbasis-pertambangan\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Papua Tengah dan Dilema Investasi Berbasis Pertambangan - Berita Daerah\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"(Beritadaerah-Kolom) Papua Tengah memiliki salah satu konsentrasi investasi terbesar di kawasan timur Indonesia, tetapi dominasi pertambangan membuat ukuran daya saing investasinya menjadi sangat berbeda. Tantangannya bukan menarik modal dalam jumlah besar, melainkan mengubah modal tersebut menjadi kapasitas ekonomi yang lebih beragam dan produktif. Papua Tengah merupakan salah satu kasus paling menarik ketika kerangka Investment Competitiveness Scoreboard dari McKinsey Global Institute diterapkan pada tingkat provinsi. Daerah ini memiliki kekuatan investasi yang sangat besar dibandingkan sebagian besar provinsi di Tanah Papua, terutama [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/09\/15\/papua-tengah-dan-dilema-investasi-berbasis-pertambangan\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Berita Daerah\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-09-15T01:34:37+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/Suasana-Timika.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1280\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"960\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Fadjar Ari Dewanto\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Fadjar Ari Dewanto\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"11 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/\",\"name\":\"Berita Daerah\",\"description\":\"Berita Ekonomi, Investasi dan kegiatan daerah\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/09\/15\/papua-tengah-dan-dilema-investasi-berbasis-pertambangan\/\",\"url\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/09\/15\/papua-tengah-dan-dilema-investasi-berbasis-pertambangan\/\",\"name\":\"Papua Tengah dan Dilema Investasi Berbasis Pertambangan - Berita Daerah\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#website\"},\"datePublished\":\"2026-09-15T01:34:37+00:00\",\"dateModified\":\"2026-09-15T01:34:37+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/85ed2f5492b68a7b853f8eb53fbab73b\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/09\/15\/papua-tengah-dan-dilema-investasi-berbasis-pertambangan\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/09\/15\/papua-tengah-dan-dilema-investasi-berbasis-pertambangan\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/09\/15\/papua-tengah-dan-dilema-investasi-berbasis-pertambangan\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Papua Tengah dan Dilema Investasi Berbasis Pertambangan\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/85ed2f5492b68a7b853f8eb53fbab73b\",\"name\":\"Fadjar Ari Dewanto\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/551e2d24aaf1f2eac4a2857f7d83b8bd?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/551e2d24aaf1f2eac4a2857f7d83b8bd?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Fadjar Ari Dewanto\"},\"description\":\"Editor in Chief Vibiz Media Network, Coordinating Partner of Business Advisory Vibiz Consulting.\",\"sameAs\":[\"http:\/\/www.beritadaerah.co.id\"],\"url\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/author\/fajar-ari-dewanto\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Papua Tengah dan Dilema Investasi Berbasis Pertambangan - Berita Daerah","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/09\/15\/papua-tengah-dan-dilema-investasi-berbasis-pertambangan\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Papua Tengah dan Dilema Investasi Berbasis Pertambangan - Berita Daerah","og_description":"(Beritadaerah-Kolom) Papua Tengah memiliki salah satu konsentrasi investasi terbesar di kawasan timur Indonesia, tetapi dominasi pertambangan membuat ukuran daya saing investasinya menjadi sangat berbeda. Tantangannya bukan menarik modal dalam jumlah besar, melainkan mengubah modal tersebut menjadi kapasitas ekonomi yang lebih beragam dan produktif. Papua Tengah merupakan salah satu kasus paling menarik ketika kerangka Investment Competitiveness Scoreboard dari McKinsey Global Institute diterapkan pada tingkat provinsi. Daerah ini memiliki kekuatan investasi yang sangat besar dibandingkan sebagian besar provinsi di Tanah Papua, terutama [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/09\/15\/papua-tengah-dan-dilema-investasi-berbasis-pertambangan\/","og_site_name":"Berita Daerah","article_published_time":"2026-09-15T01:34:37+00:00","og_image":[{"width":1280,"height":960,"url":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/Suasana-Timika.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Fadjar Ari Dewanto","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Fadjar Ari Dewanto","Est. reading time":"11 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#website","url":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/","name":"Berita Daerah","description":"Berita Ekonomi, Investasi dan kegiatan daerah","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/09\/15\/papua-tengah-dan-dilema-investasi-berbasis-pertambangan\/","url":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/09\/15\/papua-tengah-dan-dilema-investasi-berbasis-pertambangan\/","name":"Papua Tengah dan Dilema Investasi Berbasis Pertambangan - Berita Daerah","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#website"},"datePublished":"2026-09-15T01:34:37+00:00","dateModified":"2026-09-15T01:34:37+00:00","author":{"@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/85ed2f5492b68a7b853f8eb53fbab73b"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/09\/15\/papua-tengah-dan-dilema-investasi-berbasis-pertambangan\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/09\/15\/papua-tengah-dan-dilema-investasi-berbasis-pertambangan\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/09\/15\/papua-tengah-dan-dilema-investasi-berbasis-pertambangan\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Papua Tengah dan Dilema Investasi Berbasis Pertambangan"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/85ed2f5492b68a7b853f8eb53fbab73b","name":"Fadjar Ari Dewanto","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/551e2d24aaf1f2eac4a2857f7d83b8bd?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/551e2d24aaf1f2eac4a2857f7d83b8bd?s=96&d=mm&r=g","caption":"Fadjar Ari Dewanto"},"description":"Editor in Chief Vibiz Media Network, Coordinating Partner of Business Advisory Vibiz Consulting.","sameAs":["http:\/\/www.beritadaerah.co.id"],"url":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/author\/fajar-ari-dewanto\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/377315"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/13"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=377315"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/377315\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":377316,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/377315\/revisions\/377316"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/363598"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=377315"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=377315"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=377315"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}