{"id":376600,"date":"2026-08-25T20:54:00","date_gmt":"2026-08-25T13:54:00","guid":{"rendered":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/?p=376600"},"modified":"2026-08-25T20:54:00","modified_gmt":"2026-08-25T13:54:00","slug":"hutan-maluku-dan-papua-yang-menyimpan-banyak-cerita","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/08\/25\/hutan-maluku-dan-papua-yang-menyimpan-banyak-cerita\/","title":{"rendered":"Hutan Maluku dan Papua yang Menyimpan Banyak Cerita"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Beritadaerah-Kolom) Di Maluku dan Papua &#8211; wilayah paling timur Indonesia, hutan tidak hanya hadir sebagai kayu. Ia muncul sebagai sagu, daun kayu putih, damar, kopal, masoi, hingga berbagai produk yang masuk ke rantai industri. Bayangkan sebuah perjalanan menuju timur Indonesia, ketika peta mulai dipenuhi gugusan pulau dan jarak antarwilayah terasa semakin panjang. Di sana, hutan tidak mudah dibaca hanya melalui angka produksi kayu. Maluku dan Papua menghasilkan 1.662.282,10 m\u00b3 kayu bulat sepanjang 2025, atau sekitar 2,69 persen dari produksi nasional sebesar 61,90 juta m\u00b3. Angka itu menempatkannya di bawah Sumatera, Kalimantan dan Jawa, tetapi di atas Sulawesi serta Bali dan Nusa Tenggara. Yang menarik bukan hanya volumenya, melainkan komposisinya: meranti dan rimba campuran bersama-sama menyumbang 97,34 persen produksi kayu bulat wilayah ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Meranti menjadi suara paling kuat dari hutan timur.<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kayu meranti menjadi suara paling keras dari hutan Maluku dan Papua. Produksinya mencapai 887.093,38 m\u00b3 sepanjang 2025, sementara kelompok rimba campuran menghasilkan 730.998,18 m\u00b3. Di belakang keduanya terdapat akasia sebesar 27.920,21 m\u00b3, kelompok indah 11.964,30 m\u00b3, kelompok eboni 853,79 m\u00b3 dan kelompok lainnya 3.452,24 m\u00b3. Jika seluruh angka itu dijumlahkan, terbentuk total 1.662.282,10 m\u00b3 kayu bulat. Komposisi tersebut memperlihatkan sesuatu yang berbeda dari Sulawesi: di Maluku dan Papua, meranti berada di posisi pertama dengan porsi 53,37 persen, sedangkan rimba campuran menyumbang 43,97 persen.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Tahun itu bergerak semakin deras menjelang akhir.<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun tahun 2025 tidak berjalan dengan ritme yang sama sepanjang waktu. Produksi kayu bulat Maluku dan Papua hanya 245.245,76 m\u00b3 pada triwulan pertama, naik menjadi 341.988,15 m\u00b3 pada triwulan kedua, kemudian meningkat lagi menjadi 398.681,42 m\u00b3 pada triwulan ketiga. Puncaknya datang pada triwulan keempat dengan 676.366,77 m\u00b3. Dengan demikian, lebih dari 40 persen produksi tahunan terkonsentrasi pada tiga bulan terakhir tahun tersebut. Meranti sendiri bergerak dari 130.750,04 m\u00b3 pada triwulan pertama menjadi 186.652,82 m\u00b3, 205.906,08 m\u00b3 dan kemudian 363.784,44 m\u00b3 pada triwulan keempat. Rimba campuran juga meningkat dari 113.334,02 m\u00b3 menjadi 148.261,97 m\u00b3, 182.400,64 m\u00b3 dan akhirnya 287.001,55 m\u00b3.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Di antara dominasi meranti, masih ada keragaman kayu.<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Akasia memiliki cerita yang jauh lebih kecil, tetapi menarik karena produksi tahunannya 27.920,21 m\u00b3 hampir seluruhnya muncul pada paruh kedua tahun: tidak tercatat pada triwulan pertama, lalu 2.889,28 m\u00b3 pada triwulan kedua, 6.536,53 m\u00b3 pada triwulan ketiga dan 18.494,40 m\u00b3 pada triwulan keempat. Kelompok indah menghasilkan 11.964,30 m\u00b3, eboni 853,79 m\u00b3 dan kayu lainnya 3.452,24 m\u00b3. Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa meskipun struktur produksi sangat terkonsentrasi pada meranti dan rimba campuran, hutan Maluku dan Papua tetap memiliki keragaman jenis kayu yang tercatat dalam statistik BPS.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Setelah meninggalkan hutan, kayu memulai kehidupan keduanya.<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun kemudian kayu meninggalkan hutan dan memasuki dunia lain. Di industri pengolahan, 176.405,25 m\u00b3 kayu gergajian diproduksi sepanjang 2025, menjadikannya produk kayu olahan terbesar di Maluku dan Papua. Kayu lapis menyusul dengan 110.426,38 m\u00b3, veneer 91.279,83 m\u00b3, dan wood pellet 60.335,72 m\u00b3. Ada pula chip dan partikel\/serpih kayu sebanyak 94,51 m\u00b3 serta 9.444,41 ton, sementara biomassa kayu mencapai 3.280,27 ton. Jika produk dalam satuan m\u00b3 dijumlahkan, total produksi kayu olahan Maluku dan Papua mencapai 438.541,69 m\u00b3, ditambah 12.724,68 ton produk dalam kategori berbasis ton.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Industri kayu Maluku dan Papua memiliki jalannya sendiri.<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menariknya, struktur industri tersebut berbeda dari Sulawesi. Jika Sulawesi mempunyai wood pellet sebagai produk kayu olahan yang paling dominan, Maluku dan Papua memiliki kayu gergajian sebagai produk terbesar, kemudian kayu lapis, veneer, wood pellet, chip dan partikel\/serpih kayu, serta produk lainnya. BPS secara khusus menempatkan keenam kelompok tersebut sebagai produk kayu olahan utama wilayah Maluku dan Papua pada 2025.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kayu gergajian sendiri diproduksi sebanyak 49.215,15 m\u00b3 pada triwulan pertama, turun menjadi 38.057,05 m\u00b3 pada triwulan kedua, naik menjadi 43.502,05 m\u00b3 pada triwulan ketiga dan kembali meningkat menjadi 45.631,00 m\u00b3 pada triwulan keempat. Kayu lapis bergerak lebih konsisten, dari 23.882,22 m\u00b3 menjadi 26.547,22 m\u00b3, kemudian 29.021,40 m\u00b3 dan 30.975,54 m\u00b3. Veneer juga meningkat dari 24.019,22 m\u00b3 pada awal tahun menjadi 25.906,31 m\u00b3 pada akhir tahun. Sementara wood pellet menghasilkan 13.538,31 m\u00b3, 14.685,38 m\u00b3, 16.318,39 m\u00b3 dan 15.793,64 m\u00b3 sepanjang empat triwulan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Tetapi cerita hutan tidak berhenti pada batang pohon.<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ada sesuatu yang terasa berbeda ketika kita melihat angka-angka tersebut bersama-sama. Kayu yang berasal dari wilayah dengan produksi bulat 1,66 juta m\u00b3 justru menghasilkan 438,54 ribu m\u00b3 produk kayu olahan dalam satuan meter kubik. Ini tentu tidak berarti volume kayu bulat dapat dibandingkan langsung dengan volume kayu olahan karena proses pengolahan, satuan dan basis pengukurannya berbeda. Tetapi angka tersebut memperlihatkan bahwa hutan Maluku dan Papua terhubung dengan aktivitas hilir yang cukup beragam, bukan sekadar menghasilkan bahan mentah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Di lantai hutan, kehidupan ekonomi bergerak dengan cara lain.<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dan di sinilah cerita sebenarnya baru dimulai. Karena bagi Maluku dan Papua, hutan tidak berhenti pada pohon. BPS mencatat hasil hutan bukan kayu wilayah ini berupa sagu, daun kayu putih, getah atau kulit kayu gemor, kopal, kulit masoi, damar, kemendangan, serta kategori hasil lainnya. Berbeda dengan Jawa yang mempunyai daftar HHBK sangat panjang, Maluku dan Papua memperlihatkan konsentrasi pada sejumlah komoditas yang sangat khas dengan karakter wilayah timur Indonesia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Sagu membawa salah satu cerita paling kuat.<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sagu menjadi salah satu simbol terkuatnya. Sepanjang 2025, produksi sagu Maluku dan Papua mencapai 1.235,20 ton. Produksi tersebut terkonsentrasi pada dua triwulan pertama: 997,56 ton pada triwulan pertama dan 237,64 ton pada triwulan kedua, sementara tidak tercatat produksi pada triwulan ketiga dan keempat. Dalam statistik nasional, BPS secara eksplisit menyebut Maluku dan Papua sebagai wilayah yang menjadi kontributor produksi sagu, bersama dengan daun kayu putih sebagai salah satu hasil hutan bukan kayu utamanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Daun kayu putih datang dengan cerita yang berbeda.<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Daun kayu putih membawa cerita yang berbeda. Produksinya mencapai 1.500 ton, seluruhnya tercatat pada triwulan keempat. Tidak ada produksi pada tiga triwulan sebelumnya. Jika sagu menggambarkan hasil hutan yang hadir sebagai pangan, daun kayu putih menunjukkan bagaimana vegetasi hutan dapat menjadi bahan baku untuk produk yang memiliki nilai ekonomi lain. BPS mencatat bahwa Maluku dan Papua merupakan kontributor utama produksi daun kayu putih pada 2025, dengan total 1.500 ton.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Gemor, kopal dan masoi menambah lapisan lain.<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Lalu ada gemor. Produksi getah atau kulit kayu gemor mencapai 1.240 ton sepanjang tahun, dengan pola 320 ton pada triwulan pertama, turun menjadi 80 ton pada triwulan kedua, meningkat menjadi 240 ton pada triwulan ketiga dan melonjak menjadi 600 ton pada triwulan keempat. Angka ini menempatkan gemor sebagai salah satu hasil hutan bukan kayu terbesar Maluku dan Papua dalam data BPS, bersama sagu dan daun kayu putih.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kopal atau resin juga memiliki tempat tersendiri. Produksinya mencapai 844 ton, berasal dari 243 ton pada triwulan pertama, 303 ton pada triwulan kedua, 167 ton pada triwulan ketiga dan 131 ton pada triwulan keempat. Kulit masoi menghasilkan 273,04 ton, dengan produksi 42,20 ton pada triwulan pertama, 97,01 ton pada triwulan kedua, 90,88 ton pada triwulan ketiga dan 42,95 ton pada triwulan keempat. Damar menghasilkan 20 ton dan seluruhnya tercatat pada triwulan ketiga, sementara kemendangan menghasilkan 4 ton pada triwulan pertama.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Masih ada cerita yang belum memiliki nama sendiri.<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bahkan kelompok \u201clainnya\u201d tidak kecil. BPS mencatat produksi hasil hutan bukan kayu lainnya di Maluku dan Papua sebesar 2.381,04 ton dan 0 liter. Angka tersebut menunjukkan bahwa di luar komoditas yang disebut satu per satu, masih terdapat kelompok hasil hutan yang cukup besar tetapi tidak diuraikan lebih jauh dalam tabel utama. Jika seluruh komoditas HHBK yang secara spesifik tercatat dijumlahkan\u2014sagu, daun kayu putih, gemor, kopal, masoi, damar, kemendangan dan lainnya\u2014terlihat bahwa ekonomi hutan Maluku dan Papua memiliki lapisan yang jauh lebih luas daripada sekadar kayu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Yang tidak tercatat juga menjadi bagian dari cerita statistik.<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Yang juga menarik adalah apa yang tidak muncul dalam tabel. Tidak tercatat produksi bambu, rotan, gula aren, nira nipah, getah pinus, getah karet hutan, buah-buahan, umbi-umbian, madu, tumbuhan obat, jamur, asam, kapuk randu, kemiri, rebung maupun berbagai produk HHBK lain di wilayah Maluku dan Papua pada 2025. Ini bukan berarti komoditas tersebut secara biologis tidak ada di wilayah tersebut; yang dapat dikatakan berdasarkan dokumen BPS adalah tidak ada produksi yang tercatat untuk kategori-kategori tersebut dalam tabel statistik 2025.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Dua dunia bertemu di dalam satu hutan.<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Karena itu, ketika melihat Maluku dan Papua dari data kehutanan, kita seperti melihat dua lanskap sekaligus. Di satu sisi terdapat hutan kayu dengan 887.093,38 m\u00b3 meranti dan 730.998,18 m\u00b3 rimba campuran. Di sisi lain terdapat dunia hasil hutan bukan kayu yang menghasilkan 1.235,20 ton sagu, 1.500 ton daun kayu putih, 1.240 ton gemor, 844 ton kopal, 273,04 ton masoi, 20 ton damar dan 4 ton kemendangan, ditambah 2.381,04 ton kategori hasil lainnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Dari hutan, bahan baku berubah menjadi nilai tambah.<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dan jika perjalanan itu diteruskan ke hilir, kayu tadi berubah lagi. Sebagian menjadi 176.405,25 m\u00b3 kayu gergajian, sebagian menjadi 110.426,38 m\u00b3 kayu lapis, 91.279,83 m\u00b3 veneer dan 60.335,72 m\u00b3 wood pellet. Sebagian kecil masuk ke chip dan partikel, sementara biomassa kayu mencapai 3.280,27 ton. Dalam satu tahun yang sama, sebuah pohon dapat memiliki beberapa kehidupan: sebagai kayu bulat, bahan gergajian, lembaran plywood, veneer, pellet atau biomassa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Angka kayu hanyalah pintu masuk.<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mungkin itulah alasan Maluku dan Papua tidak tepat dibaca hanya sebagai \u201cwilayah dengan 1,66 juta m\u00b3 kayu\u201d. Angka tersebut memang penting, tetapi ia hanyalah pintu masuk. Di baliknya ada dominasi meranti dan rimba campuran, industri pengolahan yang menghasilkan lebih dari 438 ribu m\u00b3 produk kayu dalam satuan m\u00b3, serta hasil hutan bukan kayu yang memiliki identitas kuat seperti sagu, daun kayu putih, gemor, kopal dan masoi. BPS bahkan menempatkan Maluku dan Papua sebagai wilayah yang menonjol dalam produksi sagu dan daun kayu putih secara nasional.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Hutan timur memiliki banyak suara.<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hutan Maluku dan Papua terasa seperti sebuah perpustakaan yang sangat besar. Kayu adalah salah satu bukunya, tetapi bukan seluruh perpustakaan. Ada bab tentang meranti, bab tentang rimba campuran, bab tentang kayu lapis dan veneer, lalu bab lain tentang sagu, daun kayu putih, gemor, kopal, masoi dan damar. Sebagian cerita bergerak menuju industri, sebagian tetap dekat dengan kehidupan masyarakat dan sumber daya lokal. Data BPS 2025 memperlihatkan bahwa kekayaan kehutanan wilayah timur Indonesia bukan hanya soal seberapa banyak kayu yang keluar dari hutan, melainkan tentang berapa banyak bentuk kehidupan dan nilai ekonomi yang dapat tumbuh dari hutan tersebut.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Beritadaerah-Kolom) Di Maluku dan Papua &#8211; wilayah paling timur Indonesia, hutan tidak hanya hadir sebagai kayu. Ia muncul sebagai sagu, daun kayu putih, damar, kopal, masoi, hingga berbagai produk yang masuk ke rantai industri. Bayangkan sebuah perjalanan menuju timur Indonesia, ketika peta mulai dipenuhi gugusan pulau dan jarak antarwilayah terasa semakin panjang. Di sana, hutan tidak mudah dibaca hanya melalui angka produksi kayu. Maluku dan Papua menghasilkan 1.662.282,10 m\u00b3 kayu bulat sepanjang 2025, atau sekitar 2,69 persen dari produksi nasional [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":13,"featured_media":376601,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"kia_subtitle":""},"categories":[6,37],"tags":[3826],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v19.4 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Hutan Maluku dan Papua yang Menyimpan Banyak Cerita - Berita Daerah<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/08\/25\/hutan-maluku-dan-papua-yang-menyimpan-banyak-cerita\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Hutan Maluku dan Papua yang Menyimpan Banyak Cerita - Berita Daerah\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"(Beritadaerah-Kolom) Di Maluku dan Papua &#8211; wilayah paling timur Indonesia, hutan tidak hanya hadir sebagai kayu. Ia muncul sebagai sagu, daun kayu putih, damar, kopal, masoi, hingga berbagai produk yang masuk ke rantai industri. Bayangkan sebuah perjalanan menuju timur Indonesia, ketika peta mulai dipenuhi gugusan pulau dan jarak antarwilayah terasa semakin panjang. Di sana, hutan tidak mudah dibaca hanya melalui angka produksi kayu. Maluku dan Papua menghasilkan 1.662.282,10 m\u00b3 kayu bulat sepanjang 2025, atau sekitar 2,69 persen dari produksi nasional [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/08\/25\/hutan-maluku-dan-papua-yang-menyimpan-banyak-cerita\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Berita Daerah\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-08-25T13:54:00+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Maluku-dan-Papua-Hutan.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1280\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"853\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Fadjar Ari Dewanto\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Fadjar Ari Dewanto\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"8 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/\",\"name\":\"Berita Daerah\",\"description\":\"Berita Ekonomi, Investasi dan kegiatan daerah\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/08\/25\/hutan-maluku-dan-papua-yang-menyimpan-banyak-cerita\/\",\"url\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/08\/25\/hutan-maluku-dan-papua-yang-menyimpan-banyak-cerita\/\",\"name\":\"Hutan Maluku dan Papua yang Menyimpan Banyak Cerita - Berita Daerah\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#website\"},\"datePublished\":\"2026-08-25T13:54:00+00:00\",\"dateModified\":\"2026-08-25T13:54:00+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/85ed2f5492b68a7b853f8eb53fbab73b\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/08\/25\/hutan-maluku-dan-papua-yang-menyimpan-banyak-cerita\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/08\/25\/hutan-maluku-dan-papua-yang-menyimpan-banyak-cerita\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/08\/25\/hutan-maluku-dan-papua-yang-menyimpan-banyak-cerita\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Hutan Maluku dan Papua yang Menyimpan Banyak Cerita\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/85ed2f5492b68a7b853f8eb53fbab73b\",\"name\":\"Fadjar Ari Dewanto\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/551e2d24aaf1f2eac4a2857f7d83b8bd?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/551e2d24aaf1f2eac4a2857f7d83b8bd?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Fadjar Ari Dewanto\"},\"description\":\"Editor in Chief Vibiz Media Network, Coordinating Partner of Business Advisory Vibiz Consulting.\",\"sameAs\":[\"http:\/\/www.beritadaerah.co.id\"],\"url\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/author\/fajar-ari-dewanto\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Hutan Maluku dan Papua yang Menyimpan Banyak Cerita - Berita Daerah","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/08\/25\/hutan-maluku-dan-papua-yang-menyimpan-banyak-cerita\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Hutan Maluku dan Papua yang Menyimpan Banyak Cerita - Berita Daerah","og_description":"(Beritadaerah-Kolom) Di Maluku dan Papua &#8211; wilayah paling timur Indonesia, hutan tidak hanya hadir sebagai kayu. Ia muncul sebagai sagu, daun kayu putih, damar, kopal, masoi, hingga berbagai produk yang masuk ke rantai industri. Bayangkan sebuah perjalanan menuju timur Indonesia, ketika peta mulai dipenuhi gugusan pulau dan jarak antarwilayah terasa semakin panjang. Di sana, hutan tidak mudah dibaca hanya melalui angka produksi kayu. Maluku dan Papua menghasilkan 1.662.282,10 m\u00b3 kayu bulat sepanjang 2025, atau sekitar 2,69 persen dari produksi nasional [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/08\/25\/hutan-maluku-dan-papua-yang-menyimpan-banyak-cerita\/","og_site_name":"Berita Daerah","article_published_time":"2026-08-25T13:54:00+00:00","og_image":[{"width":1280,"height":853,"url":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Maluku-dan-Papua-Hutan.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Fadjar Ari Dewanto","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Fadjar Ari Dewanto","Est. reading time":"8 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#website","url":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/","name":"Berita Daerah","description":"Berita Ekonomi, Investasi dan kegiatan daerah","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/08\/25\/hutan-maluku-dan-papua-yang-menyimpan-banyak-cerita\/","url":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/08\/25\/hutan-maluku-dan-papua-yang-menyimpan-banyak-cerita\/","name":"Hutan Maluku dan Papua yang Menyimpan Banyak Cerita - Berita Daerah","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#website"},"datePublished":"2026-08-25T13:54:00+00:00","dateModified":"2026-08-25T13:54:00+00:00","author":{"@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/85ed2f5492b68a7b853f8eb53fbab73b"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/08\/25\/hutan-maluku-dan-papua-yang-menyimpan-banyak-cerita\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/08\/25\/hutan-maluku-dan-papua-yang-menyimpan-banyak-cerita\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/08\/25\/hutan-maluku-dan-papua-yang-menyimpan-banyak-cerita\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Hutan Maluku dan Papua yang Menyimpan Banyak Cerita"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/85ed2f5492b68a7b853f8eb53fbab73b","name":"Fadjar Ari Dewanto","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/551e2d24aaf1f2eac4a2857f7d83b8bd?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/551e2d24aaf1f2eac4a2857f7d83b8bd?s=96&d=mm&r=g","caption":"Fadjar Ari Dewanto"},"description":"Editor in Chief Vibiz Media Network, Coordinating Partner of Business Advisory Vibiz Consulting.","sameAs":["http:\/\/www.beritadaerah.co.id"],"url":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/author\/fajar-ari-dewanto\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/376600"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/13"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=376600"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/376600\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":376602,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/376600\/revisions\/376602"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/376601"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=376600"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=376600"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=376600"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}