{"id":376517,"date":"2026-08-23T17:03:58","date_gmt":"2026-08-23T10:03:58","guid":{"rendered":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/?p=376517"},"modified":"2026-08-23T17:05:35","modified_gmt":"2026-08-23T10:05:35","slug":"rimba-sulawesi-yang-berubah-bentuk","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/08\/23\/rimba-sulawesi-yang-berubah-bentuk\/","title":{"rendered":"Rimba Sulawesi yang Berubah Bentuk"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Beritadaerah-Kolom) Di balik 741 ribu meter kubik kayu bulat, Sulawesi menyimpan cerita yang lebih besar: wood pellet, rotan, getah pinus, kopal, damar, hingga gula aren membentuk wajah kehutanan yang berbeda dari pulau-pulau lain di Indonesia. Bayangkan sebuah perjalanan menyusuri Sulawesi ketika pagi baru saja membuka kabut di antara pepohonan. Dari satu kawasan hutan terdengar suara gergaji, dari tempat lain kayu bergerak menuju fasilitas pengolahan, sementara di jalur yang berbeda getah pinus dikumpulkan dan rotan dipisahkan untuk dikirim ke pasar. Tidak semuanya berakhir sebagai batang kayu. Sebagian berubah menjadi pellet, sebagian menjadi veneer atau kayu gergajian, sebagian lagi tetap berada dalam bentuk hasil hutan bukan kayu. Gambaran seperti itulah yang muncul ketika angka-angka <em>Statistik Produksi Kehutanan 2025<\/em> Badan Pusat Statistik dibaca bukan sekadar sebagai tabel, melainkan sebagai potret sebuah ekosistem. Publikasi BPS yang dirilis 31 Juli 2026 memang dirancang untuk memberikan gambaran produksi kayu bulat, kayu olahan, dan hasil hutan bukan kayu menurut wilayah selama 2025.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sulawesi memang bukan raksasa produksi kayu bulat Indonesia. Dari total produksi nasional 61,90 juta m\u00b3 pada 2025, Sumatera menyumbang 69,08 persen, Kalimantan 18,07 persen, Jawa 8,93 persen, Maluku dan Papua 2,69 persen, sementara Sulawesi berada pada 1,20 persen dan Bali serta Nusa Tenggara hanya 0,03 persen. Tetapi angka 1,20 persen itu tetap berarti 741.208,44 m\u00b3 kayu bulat yang diproduksi Sulawesi sepanjang 2025. Dan angka itu mempunyai ritme yang menarik: 94.077,67 m\u00b3 pada triwulan pertama, naik menjadi 146.003,95 m\u00b3 pada triwulan kedua, melonjak menjadi 249.240,49 m\u00b3 pada triwulan ketiga, lalu mencapai 251.886,33 m\u00b3 pada triwulan keempat. Jadi, jika tahun tersebut digambarkan sebagai sebuah perjalanan, Sulawesi justru semakin deras memasuki paruh kedua tahun.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di dalam angka 741.208,44 m\u00b3 itu terdapat karakter kayu Sulawesi yang sangat jelas. Kelompok rimba campuran mencapai 667.936,82 m\u00b3, atau sekitar 90,11 persen dari total produksi kayu bulat Sulawesi. Kelompok meranti menghasilkan 63.819,88 m\u00b3, kelompok indah 8.875,00 m\u00b3, kelompok eboni 555,90 m\u00b3, dan jenis lainnya 20,84 m\u00b3. Tidak ada produksi akasia yang tercatat dalam tabel Sulawesi tersebut. Bahkan jika dilihat dari pergerakan per triwulan, rimba campuran meningkat dari 83.042,20 m\u00b3 pada triwulan I menjadi 130.550,16 m\u00b3 pada triwulan II, kemudian 225.484,13 m\u00b3 pada triwulan III dan 228.860,33 m\u00b3 pada triwulan IV. Meranti bergerak dari 9.770,41 m\u00b3 menjadi 13.577,25 m\u00b3, kemudian 20.240,77 m\u00b3 dan 20.231,45 m\u00b3; kelompok indah dari 1.119,33 m\u00b3 menjadi 1.743,29 m\u00b3, 3.374,80 m\u00b3 dan 2.637,58 m\u00b3; sementara eboni masing-masing tercatat 145,73 m\u00b3, 112,41 m\u00b3, 140,79 m\u00b3 dan 156,97 m\u00b3.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun, kalau berhenti pada kayu bulat, kita justru melewatkan bagian paling menarik dari cerita Sulawesi. Kayu yang keluar dari hutan tidak seluruhnya berhenti sebagai bahan mentah. Ada sesuatu yang terjadi setelahnya: kayu masuk ke dunia pengolahan dan berubah bentuk. BPS mencatat bahwa produk kayu olahan yang paling banyak dihasilkan di Sulawesi adalah <em>wood pellet<\/em>, chip dan partikel\/serpih kayu, kayu gergajian, veneer, dan kayu lapis. Yang paling mencolok adalah wood pellet. Produksinya mencapai 375.496,27 m\u00b3 pada 2025, jauh lebih besar daripada produksi kayu gergajian yang mencapai 44.088,70 m\u00b3 dan veneer sebesar 5.869,82 m\u00b3. Sulawesi juga menghasilkan 250,00 m\u00b3 kayu lapis dan tidak tercatat menghasilkan chip dan partikel dalam satuan m\u00b3, tetapi menghasilkan 277.951,66 ton chip dan partikel\/serpih kayu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di sinilah Sulawesi memperoleh posisi yang sangat khas dalam peta industri kayu Indonesia. BPS secara eksplisit mencatat bahwa <em>wood pellet<\/em> paling banyak dihasilkan di Sulawesi. Dari total produksi nasional wood pellet sebesar 512.396,18 m\u00b3, Sulawesi sendiri menyumbang 375.496,27 m\u00b3. Sebagai perbandingan, produksi wood pellet di Sumatera 38.220,18 m\u00b3, Jawa 58.711,43 m\u00b3, Kalimantan 40.633,58 m\u00b3 dan Maluku-Papua 60.335,72 m\u00b3. Dalam produk ini, Sulawesi bukan sekadar salah satu produsen; ia menjadi wilayah dengan produksi terbesar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bayangkan kayu yang semula berbentuk batang kemudian diproses menjadi butiran kecil yang seragam, dikemas dan bergerak menuju pasar energi. Perubahan bentuk tersebut membuat cerita kehutanan Sulawesi tidak lagi hanya berkaitan dengan industri kayu konvensional. Ada pergeseran dari sekadar menghasilkan kayu menuju menghasilkan produk yang dapat masuk ke rantai energi. Di saat yang sama, industri Sulawesi juga menghasilkan 44.088,70 m\u00b3 kayu gergajian, 5.869,82 m\u00b3 veneer, 250,00 m\u00b3 kayu lapis, dan 277.951,66 ton chip dan partikel. Jika seluruh produk kayu olahan yang tercatat menurut satuan masing-masing dijumlahkan, Sulawesi memiliki produksi 425.704,79 m\u00b3 produk kayu olahan dan 277.951,66 ton produk dalam satuan ton.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tetapi hutan Sulawesi juga memiliki cerita yang berjalan tanpa harus menunggu pohon menjadi kayu. Di lantai hutan dan di antara pepohonan, ada hasil-hasil lain yang bergerak mengikuti musim dan kebutuhan pasar. Pada 2025, Sulawesi menghasilkan 7.496,62 ton getah pinus, 3.996,04 ton rotan, 1.166,70 ton kopal, 47,38 ton damar, dan 2,86 ton gula aren. Angka-angka tersebut mungkin tampak kecil bila dibandingkan dengan jutaan ton produk kayu nasional, tetapi justru di sinilah terlihat keragaman ekonomi yang muncul dari hutan Sulawesi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Getah pinus menjadi salah satu cerita paling kuat. Produksinya tidak datang dalam satu lonjakan sesaat, melainkan meningkat dari 1.188,70 ton pada triwulan pertama menjadi 1.486,06 ton pada triwulan kedua, kemudian 2.062,72 ton pada triwulan ketiga dan 2.759,14 ton pada triwulan keempat, sehingga mencapai 7.496,62 ton sepanjang tahun. Rotan justru bergerak dengan irama berbeda: 968,82 ton pada triwulan pertama, turun menjadi 701,27 ton pada triwulan kedua, kembali naik menjadi 996,91 ton pada triwulan ketiga dan mencapai 1.329,04 ton pada triwulan keempat. Kopal juga menunjukkan kenaikan yang cukup tajam pada akhir tahun, dari 67,50 ton pada triwulan pertama menjadi 221,00 ton, kemudian 148,00 ton dan akhirnya 730,20 ton pada triwulan keempat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Damar memberikan cerita yang lebih tenang. Produksinya 12,70 ton pada triwulan pertama, 14,80 ton pada triwulan kedua, meningkat menjadi 19,88 ton pada triwulan ketiga, kemudian tidak tercatat produksi pada triwulan keempat, sehingga total tahunannya 47,38 ton. Gula aren bahkan hanya tercatat 0,13 ton pada triwulan pertama dan 2,73 ton pada triwulan kedua, tanpa produksi tercatat pada triwulan ketiga dan keempat, sehingga totalnya 2,86 ton. Detail-detail kecil seperti ini penting karena menunjukkan bahwa istilah \u201chasil hutan bukan kayu\u201d sebenarnya mencakup dunia produksi yang sangat beragam, dengan skala dan ritme yang berbeda-beda.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">BPS sendiri menempatkan Sulawesi sebagai salah satu wilayah penting untuk produksi getah pinus dan rotan dalam satuan ton. Dari seluruh wilayah Indonesia, Sulawesi merupakan kontributor utama untuk kedua komoditas tersebut dalam kategori itu. Ini membuat identitas kehutanan Sulawesi menjadi semakin jelas: jika kayu bulatnya didominasi rimba campuran dan meranti, maka pada hasil hutan bukan kayu, getah pinus dan rotan menjadi dua komoditas yang paling menonjol.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ada pula satu detail yang menarik dari data tersebut. BPS mencatat produksi gula aren Sulawesi sebesar 2,86 ton, tetapi dalam tabel wilayah tidak tercatat produksi gula aren dalam satuan liter untuk Sulawesi. Hal yang sama berlaku untuk sejumlah komoditas lain yang memang tidak tercatat produksinya di Sulawesi pada tabel tersebut. Dengan demikian, cerita hasil hutan bukan kayu Sulawesi bukanlah daftar panjang komoditas seperti Jawa atau Sumatera. Justru ia lebih terkonsentrasi pada beberapa produk tertentu: getah pinus, rotan, kopal, damar, gula aren dan kelompok \u201clainnya\u201d.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dan mungkin di situlah wajah Sulawesi menjadi paling menarik. Hutan di pulau ini seperti memiliki dua kehidupan. Kehidupan pertama bergerak dalam skala besar: 741.208,44 m\u00b3 kayu bulat, dengan 667.936,82 m\u00b3 berasal dari kelompok rimba campuran. Kehidupan kedua bergerak lebih halus: getah yang ditampung, rotan yang dikumpulkan, kopal dan damar yang dipanen, serta gula aren yang muncul dalam jumlah lebih kecil. Di antara keduanya terdapat industri yang mengubah bahan baku menjadi produk baru, dengan wood pellet sebagai salah satu ciri paling kuat. Data BPS bahkan menunjukkan bahwa dari total produksi kayu olahan Sulawesi sebesar 425.704,79 m\u00b3, wood pellet sendiri mencapai 375.496,27 m\u00b3.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jika angka-angka tersebut dibaca sebagai sebuah lanskap, Sulawesi tidak tampak seperti pulau yang sekadar menghasilkan kayu dalam jumlah kecil dibandingkan Sumatera atau Kalimantan. Ia justru terlihat seperti sebuah wilayah yang sedang memperlihatkan spesialisasinya sendiri. Produksi kayu bulatnya memang hanya 1,20 persen dari produksi nasional, tetapi hampir seluruhnya berasal dari kelompok rimba campuran dan meranti; industri pengolahannya memiliki keunggulan yang sangat jelas pada wood pellet; sementara hasil hutan bukan kayunya menonjol pada getah pinus dan rotan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Maka, ketika sore turun di atas hutan Sulawesi dan suara mesin pengolahan perlahan berhenti, angka-angka tadi sebenarnya belum selesai bercerita. Ada 741 ribu m\u00b3 kayu bulat yang telah keluar dari rantai produksi, ada 375 ribu m\u00b3 wood pellet yang telah dibentuk menjadi produk industri, ada hampir 278 ribu ton chip dan partikel, ada 7.496,62 ton getah pinus dan 3.996,04 ton rotan, ditambah kopal, damar dan gula aren. Semua itu menunjukkan bahwa nilai hutan tidak tinggal pada pohon yang berdiri atau kayu yang ditebang. Nilainya muncul kembali dalam berbagai bentuk\u2014sebagai bahan baku, energi, produk industri, dan sumber penghidupan. Dan justru keragaman bentuk itulah yang membuat cerita kehutanan Sulawesi berbeda, hutannya tidak hanya menghasilkan kayu; hutannya menghasilkan banyak kehidupan ekonomi yang bergerak ke arah yang berbeda-beda.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Beritadaerah-Kolom) Di balik 741 ribu meter kubik kayu bulat, Sulawesi menyimpan cerita yang lebih besar: wood pellet, rotan, getah pinus, kopal, damar, hingga gula aren membentuk wajah kehutanan yang berbeda dari pulau-pulau lain di Indonesia. Bayangkan sebuah perjalanan menyusuri Sulawesi ketika pagi baru saja membuka kabut di antara pepohonan. Dari satu kawasan hutan terdengar suara gergaji, dari tempat lain kayu bergerak menuju fasilitas pengolahan, sementara di jalur yang berbeda getah pinus dikumpulkan dan rotan dipisahkan untuk dikirim ke pasar. Tidak [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":13,"featured_media":335101,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"kia_subtitle":""},"categories":[93,6],"tags":[2722],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v19.4 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Rimba Sulawesi yang Berubah Bentuk - Berita Daerah<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/08\/23\/rimba-sulawesi-yang-berubah-bentuk\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Rimba Sulawesi yang Berubah Bentuk - Berita Daerah\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"(Beritadaerah-Kolom) Di balik 741 ribu meter kubik kayu bulat, Sulawesi menyimpan cerita yang lebih besar: wood pellet, rotan, getah pinus, kopal, damar, hingga gula aren membentuk wajah kehutanan yang berbeda dari pulau-pulau lain di Indonesia. Bayangkan sebuah perjalanan menyusuri Sulawesi ketika pagi baru saja membuka kabut di antara pepohonan. Dari satu kawasan hutan terdengar suara gergaji, dari tempat lain kayu bergerak menuju fasilitas pengolahan, sementara di jalur yang berbeda getah pinus dikumpulkan dan rotan dipisahkan untuk dikirim ke pasar. Tidak [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/08\/23\/rimba-sulawesi-yang-berubah-bentuk\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Berita Daerah\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-08-23T10:03:58+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-08-23T10:05:35+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/Burake-Toraja-Foto-Rifka.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1600\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1200\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Fadjar Ari Dewanto\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Fadjar Ari Dewanto\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"7 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/\",\"name\":\"Berita Daerah\",\"description\":\"Berita Ekonomi, Investasi dan kegiatan daerah\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/08\/23\/rimba-sulawesi-yang-berubah-bentuk\/\",\"url\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/08\/23\/rimba-sulawesi-yang-berubah-bentuk\/\",\"name\":\"Rimba Sulawesi yang Berubah Bentuk - Berita Daerah\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#website\"},\"datePublished\":\"2026-08-23T10:03:58+00:00\",\"dateModified\":\"2026-08-23T10:05:35+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/85ed2f5492b68a7b853f8eb53fbab73b\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/08\/23\/rimba-sulawesi-yang-berubah-bentuk\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/08\/23\/rimba-sulawesi-yang-berubah-bentuk\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/08\/23\/rimba-sulawesi-yang-berubah-bentuk\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Rimba Sulawesi yang Berubah Bentuk\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/85ed2f5492b68a7b853f8eb53fbab73b\",\"name\":\"Fadjar Ari Dewanto\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/551e2d24aaf1f2eac4a2857f7d83b8bd?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/551e2d24aaf1f2eac4a2857f7d83b8bd?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Fadjar Ari Dewanto\"},\"description\":\"Editor in Chief Vibiz Media Network, Coordinating Partner of Business Advisory Vibiz Consulting.\",\"sameAs\":[\"http:\/\/www.beritadaerah.co.id\"],\"url\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/author\/fajar-ari-dewanto\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Rimba Sulawesi yang Berubah Bentuk - Berita Daerah","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/08\/23\/rimba-sulawesi-yang-berubah-bentuk\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Rimba Sulawesi yang Berubah Bentuk - Berita Daerah","og_description":"(Beritadaerah-Kolom) Di balik 741 ribu meter kubik kayu bulat, Sulawesi menyimpan cerita yang lebih besar: wood pellet, rotan, getah pinus, kopal, damar, hingga gula aren membentuk wajah kehutanan yang berbeda dari pulau-pulau lain di Indonesia. Bayangkan sebuah perjalanan menyusuri Sulawesi ketika pagi baru saja membuka kabut di antara pepohonan. Dari satu kawasan hutan terdengar suara gergaji, dari tempat lain kayu bergerak menuju fasilitas pengolahan, sementara di jalur yang berbeda getah pinus dikumpulkan dan rotan dipisahkan untuk dikirim ke pasar. Tidak [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/08\/23\/rimba-sulawesi-yang-berubah-bentuk\/","og_site_name":"Berita Daerah","article_published_time":"2026-08-23T10:03:58+00:00","article_modified_time":"2026-08-23T10:05:35+00:00","og_image":[{"width":1600,"height":1200,"url":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/Burake-Toraja-Foto-Rifka.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Fadjar Ari Dewanto","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Fadjar Ari Dewanto","Est. reading time":"7 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#website","url":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/","name":"Berita Daerah","description":"Berita Ekonomi, Investasi dan kegiatan daerah","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/08\/23\/rimba-sulawesi-yang-berubah-bentuk\/","url":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/08\/23\/rimba-sulawesi-yang-berubah-bentuk\/","name":"Rimba Sulawesi yang Berubah Bentuk - Berita Daerah","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#website"},"datePublished":"2026-08-23T10:03:58+00:00","dateModified":"2026-08-23T10:05:35+00:00","author":{"@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/85ed2f5492b68a7b853f8eb53fbab73b"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/08\/23\/rimba-sulawesi-yang-berubah-bentuk\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/08\/23\/rimba-sulawesi-yang-berubah-bentuk\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/08\/23\/rimba-sulawesi-yang-berubah-bentuk\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Rimba Sulawesi yang Berubah Bentuk"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/85ed2f5492b68a7b853f8eb53fbab73b","name":"Fadjar Ari Dewanto","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/551e2d24aaf1f2eac4a2857f7d83b8bd?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/551e2d24aaf1f2eac4a2857f7d83b8bd?s=96&d=mm&r=g","caption":"Fadjar Ari Dewanto"},"description":"Editor in Chief Vibiz Media Network, Coordinating Partner of Business Advisory Vibiz Consulting.","sameAs":["http:\/\/www.beritadaerah.co.id"],"url":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/author\/fajar-ari-dewanto\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/376517"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/13"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=376517"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/376517\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":376518,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/376517\/revisions\/376518"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/335101"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=376517"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=376517"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=376517"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}