{"id":376450,"date":"2026-08-21T13:27:13","date_gmt":"2026-08-21T06:27:13","guid":{"rendered":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/?p=376450"},"modified":"2026-08-21T13:27:13","modified_gmt":"2026-08-21T06:27:13","slug":"jawa-barat-dan-daya-saing-investasi-baru","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/08\/21\/jawa-barat-dan-daya-saing-investasi-baru\/","title":{"rendered":"Jawa Barat dan Daya Saing Investasi Baru"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Beritadaerah-Kolom) Jawa Barat berada pada posisi yang sangat kuat dalam kompetisi investasi nasional. Sepanjang 2025, realisasi investasi di provinsi ini mencapai sekitar Rp296,8 triliun dan menjadi yang tertinggi di Indonesia. Angka tersebut menunjukkan bahwa Jawa Barat memiliki kemampuan besar dalam menarik modal, tetapi besarnya investasi belum otomatis berarti seluruh aspek daya saing investasinya sudah optimal. Jika kerangka <em>Investment Competitiveness Scoreboard<\/em> yang dikembangkan McKinsey Global Institute diterapkan pada tingkat daerah, pertanyaan yang perlu dijawab bukan hanya berapa besar investasi yang masuk ke Jawa Barat, melainkan mengapa investor memilih provinsi ini, ke sektor mana modal tersebut mengalir, seberapa besar investasi dibandingkan dengan ukuran ekonomi daerah, dan apakah modal yang masuk berhasil meningkatkan produktivitas.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Investasi menunjukkan kekuatan ekonomi Jawa Barat<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam kerangka McKinsey, salah satu cara melihat daya saing investasi adalah melalui <em>investment intensity<\/em>, yaitu hubungan antara investasi dan ukuran perekonomian. Untuk tingkat provinsi, indikator tersebut dapat disesuaikan dengan menggunakan realisasi PMA dan PMDN dibandingkan dengan PDRB sebagai salah satu <em>proxy<\/em>. Dengan PDRB Jawa Barat yang berada di kisaran Rp3.000 triliun pada 2025 dan realisasi investasi sekitar Rp296,8 triliun, investasi yang tercatat melalui PMA dan PMDN setara dengan sekitar 10 persen dari ukuran ekonomi provinsi. Angka tersebut menunjukkan intensitas investasi yang tinggi, meskipun perlu ditegaskan bahwa PMA dan PMDN tidak identik dengan PMTB karena keduanya menggunakan konsep statistik yang berbeda. Karena itu, dalam penyusunan scoreboard yang lebih ketat, PMTB\/PDRB sebaiknya digunakan sebagai ukuran investasi makro, sedangkan PMA+PMDN\/PDRB digunakan untuk mengukur kemampuan daerah menarik penanaman modal.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kekuatan investasi Jawa Barat juga terlihat dari hubungan antara pembentukan modal dan pertumbuhan ekonomi. Pada triwulan III 2025, ekonomi Jawa Barat tumbuh 5,20 persen secara tahunan, sementara secara kumulatif sampai triwulan III tumbuh 5,14 persen. Pada periode yang sama, PMTB tumbuh 5,27 persen secara tahunan. Kondisi tersebut memberikan indikasi bahwa pembentukan modal tetap masih menjadi bagian penting dari ekspansi ekonomi daerah. Investasi dengan demikian tidak berdiri sendiri sebagai arus modal, tetapi berhubungan dengan proses pembentukan kapasitas produksi yang menopang pertumbuhan ekonomi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Manufaktur menjadi fondasi utama daya saing<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Keunggulan Jawa Barat semakin terlihat ketika investasi dilihat berdasarkan alokasinya. Struktur ekonomi provinsi ini sangat kuat pada industri pengolahan. Pada triwulan III 2025, industri pengolahan memberikan kontribusi sekitar 40,94 persen terhadap perekonomian Jawa Barat dan menjadi salah satu sumber pertumbuhan terbesar dari sisi produksi. Kondisi tersebut membuat Jawa Barat berbeda dari daerah yang investasi dan pertumbuhan ekonominya lebih bergantung pada komoditas primer atau sektor jasa. Modal yang masuk ke Jawa Barat memiliki basis untuk terhubung dengan jaringan manufaktur yang sudah berkembang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ekosistem tersebut merupakan salah satu keunggulan penting dalam perspektif <em>investment competitiveness<\/em>. Investor tidak selalu memilih lokasi dengan biaya terendah, tetapi mencari kombinasi terbaik antara biaya, produktivitas, pemasok, tenaga kerja, infrastruktur, pasar, dan kepastian operasional. Jawa Barat memiliki keuntungan karena perusahaan baru dapat masuk ke dalam ekosistem industri yang sudah tersedia. Kawasan industri, perusahaan pemasok, jaringan transportasi, pasar domestik, dan kedekatan dengan pusat ekonomi nasional menciptakan <em>cluster effect<\/em> yang sulit dibangun dalam waktu singkat oleh daerah lain.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Konsentrasi manufaktur tersebut sekaligus menjadi tantangan. Ketika industri pengolahan menyumbang porsi yang sangat besar terhadap ekonomi, daya saing Jawa Barat menjadi sangat bergantung pada kemampuan sektor tersebut melakukan transformasi. Investasi yang masuk perlu semakin diarahkan kepada kegiatan bernilai tambah tinggi, termasuk elektronik, kendaraan listrik, komponen otomotif, farmasi, industri berbasis teknologi, otomatisasi, dan kegiatan manufaktur yang memiliki hubungan lebih kuat dengan riset serta inovasi. Dengan demikian, ukuran keberhasilan investasi tidak berhenti pada pembangunan pabrik baru, tetapi pada kemampuan pabrik tersebut meningkatkan produktivitas dan memperdalam rantai nilai di dalam negeri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Jawa Barat memenangkan kompetisi menarik modal<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dari sisi <em>investment attractiveness<\/em>, posisi Jawa Barat sangat kuat. Realisasi investasi sebesar Rp296,8 triliun pada 2025 menempatkannya sebagai provinsi dengan investasi tertinggi di Indonesia. Nilai tersebut bahkan berada di atas DKI Jakarta dan Jawa Timur. Jika dibandingkan dengan total investasi nasional yang mencapai sekitar Rp1.931,2 triliun pada tahun yang sama, Jawa Barat menyumbang sekitar 15 persen dari keseluruhan investasi Indonesia. Artinya, sekitar satu dari setiap enam rupiah investasi yang direalisasikan secara nasional mengalir ke Jawa Barat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Posisi tersebut menunjukkan bahwa Jawa Barat telah memenangkan salah satu bentuk kompetisi investasi yang paling penting, yaitu membuat investor memilih wilayahnya dibandingkan alternatif lain. Daya tarik tersebut tidak muncul dari satu faktor tunggal. Ukuran pasar, basis manufaktur, ketersediaan tenaga kerja, kawasan industri, jaringan pemasok, infrastruktur, serta kedekatan dengan Jabodetabek bekerja secara bersamaan. Keunggulan geografis menjadi semakin bernilai karena investor dapat memanfaatkan pasar konsumen besar sekaligus jaringan produksi yang telah terbentuk.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Tenaga kerja menjadi tantangan berikutnya<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun, ketika scoreboard diperluas dari sekadar kemampuan menarik investasi menuju kualitas investasi, muncul tantangan yang lebih kompleks. Jawa Barat memiliki jumlah tenaga kerja yang sangat besar. Pada Agustus 2025, sekitar 24,51 juta penduduk bekerja di provinsi ini. Dari sisi ketersediaan tenaga kerja, kondisi tersebut merupakan keunggulan karena industri yang berkembang membutuhkan basis pekerja yang besar. Akan tetapi, jumlah tenaga kerja saja tidak cukup untuk menentukan daya saing.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada periode yang sama, proporsi pekerja formal Jawa Barat sekitar 45,05 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa lebih dari separuh pekerja masih berada dalam kegiatan informal. Dari perspektif investasi, struktur ini penting karena industri modern membutuhkan tenaga kerja dengan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan produksi. Ketika investasi bergerak menuju otomasi, digitalisasi, kendaraan listrik, robotika, kecerdasan buatan, dan manufaktur presisi, kebutuhan terhadap tenaga kerja terampil akan meningkat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Karena itu, tantangan Jawa Barat bukan lagi sekadar menyediakan tenaga kerja dalam jumlah besar, melainkan mengubah labor abundance menjadi productivity advantage. Investor pada akhirnya tidak menghitung murah atau mahalnya upah secara terpisah. Yang dihitung adalah biaya tenaga kerja untuk menghasilkan satu unit output. Tenaga kerja dengan upah lebih tinggi masih dapat kompetitif apabila produktivitasnya jauh lebih tinggi. Sebaliknya, upah rendah tidak otomatis menjadi keunggulan apabila produktivitas pekerjanya rendah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Human capital menentukan kualitas investasi<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Perkembangan pembangunan manusia memberikan modal awal yang cukup baik. Indeks Pembangunan Manusia Jawa Barat pada 2025 mencapai 75,90 dan meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Rata-rata lama sekolah mencapai sekitar 9,14 tahun, sementara harapan lama sekolah mencapai 13,02 tahun. Angka tersebut menunjukkan adanya peningkatan kualitas modal manusia, tetapi belum secara otomatis menjawab kebutuhan industri masa depan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Masalah yang perlu diperhatikan adalah <em>skill matching<\/em>. Industri tidak hanya membutuhkan orang yang berpendidikan, tetapi membutuhkan orang dengan keterampilan yang sesuai dengan teknologi dan proses produksi yang digunakan. Perusahaan manufaktur modern membutuhkan teknisi, operator mesin berkemampuan digital, engineer, analis data, tenaga pemeliharaan otomatisasi, dan berbagai jenis tenaga profesional lainnya. Jika investasi Jawa Barat semakin bergerak ke industri dengan teknologi tinggi tetapi pasokan keterampilan tidak mengikuti perubahan tersebut, sebagian manfaat investasi dapat terhambat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Karena itu, pendidikan vokasi, pelatihan industri, sertifikasi keterampilan, kemitraan antara perusahaan dan lembaga pendidikan, serta program peningkatan keterampilan pekerja harus menjadi bagian dari strategi investasi. Daya saing investasi tidak hanya dibangun oleh kawasan industri dan insentif, tetapi juga oleh kemampuan daerah menyediakan tenaga kerja yang mampu mengoperasikan modal yang masuk.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Besarnya investasi belum menjawab kualitas modal<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kerangka McKinsey juga mengingatkan bahwa besarnya investasi bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Salah satu indikator penting adalah <em>economic return on productive capital stock<\/em>, yang pada dasarnya melihat seberapa efektif stok modal produktif menghasilkan nilai ekonomi. Untuk tingkat provinsi, indikator tersebut belum dapat dihitung secara identik dengan metode McKinsey karena membutuhkan data stok modal produktif yang konsisten. Namun, konsepnya dapat diterapkan dengan menggunakan beberapa <em>proxy<\/em>, termasuk hubungan PDRB dengan pembentukan modal tetap.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pertanyaan yang harus diajukan kepada Jawa Barat adalah sederhana tetapi penting: apakah tambahan investasi menghasilkan tambahan output yang semakin besar? Jika investasi meningkat tetapi produktivitas modal menurun, berarti sebagian modal baru mungkin hanya memperbesar kapasitas tanpa menghasilkan peningkatan efisiensi yang sepadan. Sebaliknya, jika investasi menghasilkan peningkatan produktivitas, ekspor, upah, pekerjaan formal, dan nilai tambah, kualitas investasi dapat dinilai jauh lebih tinggi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Inilah perubahan perspektif yang penting dalam membaca keberhasilan investasi Jawa Barat. Provinsi ini tidak lagi berada pada tahap ketika jumlah investasi menjadi satu-satunya masalah. Dengan posisi sebagai penerima investasi terbesar di Indonesia, pertanyaan berikutnya adalah bagaimana memastikan bahwa modal tersebut menghasilkan dampak ekonomi yang lebih besar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>2026 menjadi ujian keberlanjutan<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Data 2026 kemudian menjadi penting karena dapat menunjukkan apakah kekuatan investasi Jawa Barat pada 2025 merupakan momentum sementara atau bagian dari tren yang berkelanjutan. Data realisasi investasi 2026 yang sudah tersedia dapat digunakan untuk mengukur <em>investment momentum<\/em>, tetapi perbandingannya harus dilakukan secara konsisten. Data semester pertama 2026 sebaiknya dibandingkan dengan semester pertama 2025, bukan dengan keseluruhan tahun 2025. Dengan cara tersebut, perubahan investasi dapat dibaca secara lebih objektif tanpa menciptakan bias akibat perbedaan periode.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jika investasi Jawa Barat tetap tumbuh atau bertahan pada tingkat tinggi sepanjang 2026, posisi provinsi ini akan semakin kuat dalam dimensi <em>investment attractiveness<\/em>. Namun, apabila pertumbuhan investasi melambat sementara ekonomi tetap tumbuh, perhatian perlu diarahkan pada apakah daya tarik investasi mulai menghadapi tekanan dari provinsi atau negara lain. Dalam persaingan investasi yang semakin ketat, posisi sebagai pemimpin hari ini tidak menjamin posisi yang sama pada masa depan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Dari menarik investasi menuju meningkatkan produktivitas<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Penerapan <em>Investment Competitiveness Scoreboard<\/em> menunjukkan bahwa Jawa Barat memiliki profil yang cukup jelas. Provinsi ini sangat kuat dalam intensitas investasi, daya tarik investasi, basis manufaktur, ketersediaan tenaga kerja, dan ekosistem industri. Pada saat yang sama, terdapat tantangan dalam meningkatkan produktivitas tenaga kerja, memperluas pekerjaan formal, memastikan keterampilan sesuai kebutuhan industri, dan mengukur seberapa efektif modal baru menghasilkan tambahan output.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Karena itu, strategi investasi Jawa Barat perlu memasuki tahap baru. Jika sebelumnya fokus utama adalah menarik investor dan menyediakan kawasan untuk kegiatan industri, agenda berikutnya harus memastikan bahwa investasi menghasilkan nilai tambah yang lebih tinggi. Investasi baru perlu semakin terhubung dengan pemasok lokal, teknologi, riset, ekspor, pendidikan vokasi, dan pengembangan tenaga kerja. Dengan cara tersebut, investasi tidak hanya meningkatkan nilai realisasi penanaman modal, tetapi juga memperkuat fondasi ekonomi daerah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jawa Barat menunjukkan bahwa daya saing investasi tidak dapat dinilai hanya dari siapa yang menerima investasi terbesar. Jawa Barat memang telah memenangkan kompetisi untuk menarik modal dengan realisasi investasi Rp296,8 triliun pada 2025. Namun, kompetisi berikutnya jauh lebih sulit, yaitu bagaimana mengubah modal tersebut menjadi produktivitas, teknologi, pekerjaan berkualitas, ekspor, dan nilai tambah yang semakin besar. Dalam perspektif <em>Investment Competitiveness Scoreboard<\/em> McKinsey, keberhasilan investasi pada akhirnya bukan hanya tentang berapa banyak modal yang masuk, tetapi tentang seberapa kompetitif sebuah daerah dalam mengubah modal menjadi pertumbuhan ekonomi yang produktif dan berkelanjutan.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Beritadaerah-Kolom) Jawa Barat berada pada posisi yang sangat kuat dalam kompetisi investasi nasional. Sepanjang 2025, realisasi investasi di provinsi ini mencapai sekitar Rp296,8 triliun dan menjadi yang tertinggi di Indonesia. Angka tersebut menunjukkan bahwa Jawa Barat memiliki kemampuan besar dalam menarik modal, tetapi besarnya investasi belum otomatis berarti seluruh aspek daya saing investasinya sudah optimal. Jika kerangka Investment Competitiveness Scoreboard yang dikembangkan McKinsey Global Institute diterapkan pada tingkat daerah, pertanyaan yang perlu dijawab bukan hanya berapa besar investasi yang masuk [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":13,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"kia_subtitle":""},"categories":[6],"tags":[805],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v19.4 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Jawa Barat dan Daya Saing Investasi Baru - Berita Daerah<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/08\/21\/jawa-barat-dan-daya-saing-investasi-baru\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Jawa Barat dan Daya Saing Investasi Baru - Berita Daerah\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"(Beritadaerah-Kolom) Jawa Barat berada pada posisi yang sangat kuat dalam kompetisi investasi nasional. Sepanjang 2025, realisasi investasi di provinsi ini mencapai sekitar Rp296,8 triliun dan menjadi yang tertinggi di Indonesia. Angka tersebut menunjukkan bahwa Jawa Barat memiliki kemampuan besar dalam menarik modal, tetapi besarnya investasi belum otomatis berarti seluruh aspek daya saing investasinya sudah optimal. Jika kerangka Investment Competitiveness Scoreboard yang dikembangkan McKinsey Global Institute diterapkan pada tingkat daerah, pertanyaan yang perlu dijawab bukan hanya berapa besar investasi yang masuk [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/08\/21\/jawa-barat-dan-daya-saing-investasi-baru\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Berita Daerah\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-08-21T06:27:13+00:00\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Fadjar Ari Dewanto\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Fadjar Ari Dewanto\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"8 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/\",\"name\":\"Berita Daerah\",\"description\":\"Berita Ekonomi, Investasi dan kegiatan daerah\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/08\/21\/jawa-barat-dan-daya-saing-investasi-baru\/\",\"url\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/08\/21\/jawa-barat-dan-daya-saing-investasi-baru\/\",\"name\":\"Jawa Barat dan Daya Saing Investasi Baru - Berita Daerah\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#website\"},\"datePublished\":\"2026-08-21T06:27:13+00:00\",\"dateModified\":\"2026-08-21T06:27:13+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/85ed2f5492b68a7b853f8eb53fbab73b\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/08\/21\/jawa-barat-dan-daya-saing-investasi-baru\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/08\/21\/jawa-barat-dan-daya-saing-investasi-baru\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/08\/21\/jawa-barat-dan-daya-saing-investasi-baru\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Jawa Barat dan Daya Saing Investasi Baru\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/85ed2f5492b68a7b853f8eb53fbab73b\",\"name\":\"Fadjar Ari Dewanto\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/551e2d24aaf1f2eac4a2857f7d83b8bd?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/551e2d24aaf1f2eac4a2857f7d83b8bd?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Fadjar Ari Dewanto\"},\"description\":\"Editor in Chief Vibiz Media Network, Coordinating Partner of Business Advisory Vibiz Consulting.\",\"sameAs\":[\"http:\/\/www.beritadaerah.co.id\"],\"url\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/author\/fajar-ari-dewanto\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Jawa Barat dan Daya Saing Investasi Baru - Berita Daerah","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/08\/21\/jawa-barat-dan-daya-saing-investasi-baru\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Jawa Barat dan Daya Saing Investasi Baru - Berita Daerah","og_description":"(Beritadaerah-Kolom) Jawa Barat berada pada posisi yang sangat kuat dalam kompetisi investasi nasional. Sepanjang 2025, realisasi investasi di provinsi ini mencapai sekitar Rp296,8 triliun dan menjadi yang tertinggi di Indonesia. Angka tersebut menunjukkan bahwa Jawa Barat memiliki kemampuan besar dalam menarik modal, tetapi besarnya investasi belum otomatis berarti seluruh aspek daya saing investasinya sudah optimal. Jika kerangka Investment Competitiveness Scoreboard yang dikembangkan McKinsey Global Institute diterapkan pada tingkat daerah, pertanyaan yang perlu dijawab bukan hanya berapa besar investasi yang masuk [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/08\/21\/jawa-barat-dan-daya-saing-investasi-baru\/","og_site_name":"Berita Daerah","article_published_time":"2026-08-21T06:27:13+00:00","author":"Fadjar Ari Dewanto","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Fadjar Ari Dewanto","Est. reading time":"8 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#website","url":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/","name":"Berita Daerah","description":"Berita Ekonomi, Investasi dan kegiatan daerah","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/08\/21\/jawa-barat-dan-daya-saing-investasi-baru\/","url":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/08\/21\/jawa-barat-dan-daya-saing-investasi-baru\/","name":"Jawa Barat dan Daya Saing Investasi Baru - Berita Daerah","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#website"},"datePublished":"2026-08-21T06:27:13+00:00","dateModified":"2026-08-21T06:27:13+00:00","author":{"@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/85ed2f5492b68a7b853f8eb53fbab73b"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/08\/21\/jawa-barat-dan-daya-saing-investasi-baru\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/08\/21\/jawa-barat-dan-daya-saing-investasi-baru\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/08\/21\/jawa-barat-dan-daya-saing-investasi-baru\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Jawa Barat dan Daya Saing Investasi Baru"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/85ed2f5492b68a7b853f8eb53fbab73b","name":"Fadjar Ari Dewanto","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/551e2d24aaf1f2eac4a2857f7d83b8bd?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/551e2d24aaf1f2eac4a2857f7d83b8bd?s=96&d=mm&r=g","caption":"Fadjar Ari Dewanto"},"description":"Editor in Chief Vibiz Media Network, Coordinating Partner of Business Advisory Vibiz Consulting.","sameAs":["http:\/\/www.beritadaerah.co.id"],"url":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/author\/fajar-ari-dewanto\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/376450"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/13"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=376450"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/376450\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":376452,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/376450\/revisions\/376452"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=376450"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=376450"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=376450"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}