{"id":376155,"date":"2026-08-14T09:52:54","date_gmt":"2026-08-14T02:52:54","guid":{"rendered":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/?p=376155"},"modified":"2026-08-14T09:52:54","modified_gmt":"2026-08-14T02:52:54","slug":"indonesia-menghadapi-babak-baru-pariwisata-digital","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/08\/14\/indonesia-menghadapi-babak-baru-pariwisata-digital\/","title":{"rendered":"Indonesia Menghadapi Babak Baru Pariwisata Digital"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Beritaderah-Kolom) Infografik ASEAN Tourism Destinations by Number Visitors menunjukkan bahwa Indonesia berada di posisi kelima sebagai tujuan wisata di ASEAN. Jumlah wisatawan meningkat dari 14,3 juta pada 2024 menjadi 15,4 juta pada 2025. Indonesia masih berada di bawah Malaysia yang mencatat 42,2 juta wisatawan, Thailand 33 juta, Vietnam 21,2 juta, dan Singapura 16,9 juta. Di antara negara-negara tersebut, Vietnam menunjukkan peningkatan paling besar, dari 17,6 juta menjadi 21,2 juta wisatawan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Angka tersebut menunjukkan bahwa persaingan pariwisata di kawasan tidak hanya ditentukan oleh daya tarik destinasi. Ketika jumlah wisatawan meningkat, kemampuan industri untuk memberikan pengalaman yang mudah, cepat, nyaman, dan personal menjadi semakin penting. Industri pariwisata juga menghadapi persoalan kekurangan tenaga kerja yang dapat menghambat pertumbuhan jika tidak ditangani. Setelah kehilangan 62 juta pekerjaan pada 2020, keseimbangan antara permintaan dan pasokan tenaga kerja pariwisata masih menghadapi tekanan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Karena itu, pertumbuhan jumlah wisatawan Indonesia perlu diikuti perubahan cara industri memberikan pelayanan. Tidak semua kebutuhan wisatawan harus ditangani secara langsung oleh manusia. Teknologi dapat mengambil alih pekerjaan yang berulang, sementara tenaga manusia diarahkan pada aktivitas yang membutuhkan kemampuan interpersonal, pengalaman, dan sentuhan personal.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Menghilangkan hambatan dalam perjalanan<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Wisatawan semakin terbiasa dengan layanan digital yang dapat digunakan kapan saja tanpa antrean. Kondisi tersebut menciptakan tuntutan baru bagi industri perjalanan dan pariwisata. Proses yang masih membutuhkan waktu lama, seperti check-in, check-out, pembayaran, pemesanan, dan pencarian informasi, dapat menjadi sumber ketidaknyamanan bagi wisatawan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pemanfaatan teknologi dapat digunakan untuk mengurangi berbagai hambatan tersebut. Proses check-in hotel, misalnya, dapat dilakukan melalui kios mandiri. Aplikasi dapat digunakan untuk menampilkan menu, menerima pesanan, dan melakukan pembayaran. Teknologi juga dapat membantu pengiriman bagasi dan layanan kamar sehingga staf tidak harus menangani setiap permintaan sederhana secara manual.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bagi Indonesia, pendekatan tersebut dapat menjadi bagian penting dari pengembangan pengalaman wisatawan. Ketika jumlah kunjungan meningkat, pelayanan tidak harus selalu bertumpu pada penambahan jumlah tenaga kerja. Sebagian proses dapat dibuat lebih sederhana melalui digitalisasi sehingga kapasitas pelayanan dapat meningkat tanpa menambah beban pekerjaan secara proporsional.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Teknologi bukan pengganti keramahan<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Digitalisasi pariwisata tidak berarti menghilangkan manusia dari perjalanan. Justru teknologi dapat digunakan untuk membuat interaksi manusia menjadi lebih bernilai.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Otomatisasi dan digitalisasi dapat membebaskan staf dari pekerjaan repetitif yang sebenarnya dapat dilakukan dengan lebih efisien melalui aplikasi. Dengan demikian, staf dapat lebih banyak memberikan perhatian kepada wisatawan. Teknologi juga memungkinkan staf yang berhadapan langsung dengan pelanggan memperoleh informasi mengenai detail dan preferensi tamu sehingga pelayanan dapat dibuat lebih personal.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Konsepnya sederhana: teknologi menangani proses yang berulang, sedangkan manusia memberikan pengalaman.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Wisatawan dapat melakukan reservasi, pembayaran, check-in, dan memperoleh informasi secara digital. Namun ketika wisatawan membutuhkan rekomendasi, bantuan, penjelasan, atau pengalaman yang bersifat personal, interaksi dengan manusia tetap menjadi bagian penting.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dengan pendekatan seperti ini, semakin sedikit interaksi manusia tidak selalu berarti semakin buruk pelayanan. Sebaliknya, interaksi yang tersisa dapat menjadi lebih bermakna karena tenaga kerja tidak lagi terlalu banyak tersita untuk pekerjaan administratif dan berulang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Peluang digitalisasi hotel masih besar<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ruang untuk meningkatkan penggunaan teknologi dalam sektor perhotelan masih sangat besar. Data yang digunakan menunjukkan hanya 11 persen hotel dan 25 persen kamar hotel di dunia yang telah didukung aplikasi hotel atau teknologi dalam kamar. Sementara itu, hanya 3 persen hotel yang menawarkan <em>keyless entry<\/em>.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Teknologi yang dapat digunakan mencakup aplikasi tamu dan teknologi dalam kamar, <em>virtual concierge<\/em>, layanan pesan dan chatbot, <em>digital check-in<\/em> serta kios mandiri, dan <em>keyless entry<\/em>. Tingkat penggunaan berbagai teknologi tersebut masih relatif rendah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Perhitungan yang dikutip juga menunjukkan potensi yang belum dimanfaatkan. Pendapatan dari aplikasi tamu dan teknologi dalam kamar pada 2019 mencapai sekitar US$293 juta, sementara potensi pendapatan yang belum dimanfaatkan diperkirakan sekitar US$2,4 miliar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hal ini memperlihatkan bahwa digitalisasi bukan hanya persoalan efisiensi operasional. Teknologi juga dapat menciptakan sumber nilai baru sekaligus meningkatkan kenyamanan wisatawan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Menghadapi pertumbuhan dengan tenaga kerja yang lebih fleksibel<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kenaikan jumlah wisatawan berarti industri harus mampu mengelola volume pelayanan yang lebih besar. Namun kekurangan tenaga kerja membuat penambahan pekerja bukan satu-satunya jawaban.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pendekatan yang dapat digunakan adalah menggabungkan otomatisasi, digitalisasi, outsourcing, pekerjaan jarak jauh, dan perubahan pola kerja. Dengan kombinasi tersebut, industri perjalanan dan pariwisata diperkirakan dapat menghadapi kekurangan tenaga kerja struktural sekitar 10 hingga 15 persen dalam jangka panjang, bergantung pada kebutuhan interaksi langsung dengan pelanggan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pekerjaan seperti kebersihan, laundry, pemeliharaan, dan pengelolaan fasilitas, misalnya, dapat dialihkan kepada penyedia jasa profesional ketika menghadapi keterbatasan tenaga kerja. Pekerja yang tersedia kemudian dapat dilatih untuk mengambil fungsi baru yang lebih dibutuhkan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pendekatan ini membuat perusahaan pariwisata tidak hanya berpikir mengenai berapa banyak pekerja yang tersedia, tetapi juga bagaimana setiap pekerja dapat digunakan secara lebih efektif.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Reskilling menjadi bagian dari transformasi<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Perubahan teknologi juga menuntut perubahan keterampilan. Pekerja tidak cukup hanya memiliki kemampuan menjalankan tugas tertentu. Mereka perlu memiliki kombinasi keterampilan digital dan interpersonal.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Model kerja yang lebih lincah dapat dilakukan dengan menggabungkan beberapa fungsi atau melatih pekerja agar mampu menjalankan beberapa peran. Seorang pekerja dapat berpindah fungsi mengikuti perubahan kebutuhan, termasuk ketika permintaan wisatawan mengalami peningkatan pada jam atau periode tertentu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pendekatan tersebut juga dapat membuka jalur karier baru. Pekerja housekeeping dapat dilatih untuk menguasai fungsi pemeliharaan tertentu, sementara staf front desk dapat mengembangkan keterampilan manajerial. Dengan keterampilan lintas fungsi, tenaga kerja menjadi lebih fleksibel sekaligus memiliki peluang pengembangan karier yang lebih luas.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Pengalaman manusia tetap menjadi pembeda<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kemajuan teknologi menghadirkan kemungkinan perjalanan yang semakin minim interaksi langsung. Wisatawan dapat merencanakan perjalanan dengan bantuan teknologi, melakukan check-in secara online, menggunakan kode QR, memperoleh bantuan concierge digital, memesan makanan melalui aplikasi, dan mendapatkan panduan digital ketika berwisata.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun, pengalaman perjalanan yang sepenuhnya digital bukanlah satu-satunya tujuan. Justru ketika berbagai proses rutin telah ditangani teknologi, interaksi manusia yang tersisa dapat menjadi semakin penting.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Percakapan dengan sommelier, rekomendasi yang didasarkan pada pengalaman, pemandu wisata, atau interaksi dengan masyarakat lokal merupakan bentuk pengalaman yang sulit digantikan oleh proses otomatis. Teknologi dapat membuat perjalanan lebih lancar, tetapi manusia tetap memberikan dimensi emosional dan autentik.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Karena itu, masa depan pariwisata bukan sekadar <em>contactless tourism<\/em>. Yang lebih penting adalah menemukan keseimbangan antara kemudahan digital dan sentuhan manusia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Indonesia perlu bergerak dari volume menuju kualitas<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dengan 15,4 juta wisatawan pada 2025, Indonesia memiliki basis pasar yang besar di kawasan ASEAN. Namun posisi kelima menunjukkan bahwa masih terdapat ruang untuk meningkatkan daya saing. Infografik memperlihatkan bahwa Vietnam telah mencapai 21,2 juta wisatawan, sedangkan Malaysia mencapai 42,2 juta.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pertumbuhan tersebut seharusnya menjadi momentum untuk memperbaiki cara wisatawan dilayani. Fokusnya bukan semata-mata mengejar jumlah kunjungan, tetapi membangun sistem yang mampu menangani lebih banyak wisatawan dengan kualitas pelayanan yang tetap baik.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Digitalisasi dapat membantu mencapai tujuan tersebut. Proses yang berulang dapat diotomatisasi. Sebagian fungsi dapat dilakukan secara mandiri oleh wisatawan. Pekerjaan pendukung dapat dialihkan kepada pihak ketiga. Tenaga kerja dapat dilatih untuk menguasai beberapa fungsi. Sementara itu, staf yang berhubungan langsung dengan wisatawan dapat lebih fokus memberikan pelayanan yang personal.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Babak baru pariwisata Indonesia<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kenaikan jumlah wisatawan Indonesia dari 14,3 juta menjadi 15,4 juta menunjukkan adanya pertumbuhan yang perlu diikuti peningkatan kapasitas industri. Tantangannya adalah bagaimana pertumbuhan tersebut dapat dikelola tanpa membuat tenaga kerja semakin terbebani dan kualitas pengalaman wisatawan menurun.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jawabannya terletak pada kombinasi teknologi dan manusia. Digitalisasi dapat menghilangkan antrean, mempercepat transaksi, menyederhanakan proses, menyediakan informasi, dan mengurangi pekerjaan repetitif. Tenaga manusia kemudian dapat diarahkan pada pekerjaan yang membutuhkan empati, kreativitas, pengetahuan, dan hubungan personal.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dengan pendekatan tersebut, Indonesia tidak harus memilih antara teknologi dan keramahan. Keduanya dapat berjalan bersama. Wisatawan mendapatkan perjalanan yang lebih lancar dan nyaman, sementara tenaga kerja dapat berkonsentrasi pada interaksi yang memberikan nilai lebih tinggi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada akhirnya, kekuatan pariwisata bukan hanya terletak pada berapa banyak orang yang datang, tetapi pada seberapa baik mereka mengalami perjalanan tersebut. Bagi Indonesia, pertumbuhan dari 14,3 juta menjadi 15,4 juta wisatawan dapat menjadi titik awal untuk membangun pariwisata yang mampu melakukan lebih banyak dengan sumber daya yang tersedia, sekaligus mempertahankan hal yang membuat perjalanan tetap bernilai: pengalaman manusia yang autentik dan bermakna.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Beritaderah-Kolom) Infografik ASEAN Tourism Destinations by Number Visitors menunjukkan bahwa Indonesia berada di posisi kelima sebagai tujuan wisata di ASEAN. Jumlah wisatawan meningkat dari 14,3 juta pada 2024 menjadi 15,4 juta pada 2025. Indonesia masih berada di bawah Malaysia yang mencatat 42,2 juta wisatawan, Thailand 33 juta, Vietnam 21,2 juta, dan Singapura 16,9 juta. Di antara negara-negara tersebut, Vietnam menunjukkan peningkatan paling besar, dari 17,6 juta menjadi 21,2 juta wisatawan. Angka tersebut menunjukkan bahwa persaingan pariwisata di kawasan tidak hanya [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":13,"featured_media":363238,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"kia_subtitle":""},"categories":[93,6],"tags":[444],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v19.4 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Indonesia Menghadapi Babak Baru Pariwisata Digital - Berita Daerah<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/08\/14\/indonesia-menghadapi-babak-baru-pariwisata-digital\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Indonesia Menghadapi Babak Baru Pariwisata Digital - Berita Daerah\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"(Beritaderah-Kolom) Infografik ASEAN Tourism Destinations by Number Visitors menunjukkan bahwa Indonesia berada di posisi kelima sebagai tujuan wisata di ASEAN. Jumlah wisatawan meningkat dari 14,3 juta pada 2024 menjadi 15,4 juta pada 2025. Indonesia masih berada di bawah Malaysia yang mencatat 42,2 juta wisatawan, Thailand 33 juta, Vietnam 21,2 juta, dan Singapura 16,9 juta. Di antara negara-negara tersebut, Vietnam menunjukkan peningkatan paling besar, dari 17,6 juta menjadi 21,2 juta wisatawan. Angka tersebut menunjukkan bahwa persaingan pariwisata di kawasan tidak hanya [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/08\/14\/indonesia-menghadapi-babak-baru-pariwisata-digital\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Berita Daerah\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-08-14T02:52:54+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/Destinasi-wisata-Hiu-Paus-di-Pantai-Botubarani-Kabila-Bone-Kabupaten-Bone-Bolango-Gorontalo.-Foto-Dinas-Pariwisata-Provinsi-Gorontalo.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"890\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"630\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Fadjar Ari Dewanto\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Fadjar Ari Dewanto\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"6 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/\",\"name\":\"Berita Daerah\",\"description\":\"Berita Ekonomi, Investasi dan kegiatan daerah\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/08\/14\/indonesia-menghadapi-babak-baru-pariwisata-digital\/\",\"url\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/08\/14\/indonesia-menghadapi-babak-baru-pariwisata-digital\/\",\"name\":\"Indonesia Menghadapi Babak Baru Pariwisata Digital - Berita Daerah\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#website\"},\"datePublished\":\"2026-08-14T02:52:54+00:00\",\"dateModified\":\"2026-08-14T02:52:54+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/85ed2f5492b68a7b853f8eb53fbab73b\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/08\/14\/indonesia-menghadapi-babak-baru-pariwisata-digital\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/08\/14\/indonesia-menghadapi-babak-baru-pariwisata-digital\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/08\/14\/indonesia-menghadapi-babak-baru-pariwisata-digital\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Indonesia Menghadapi Babak Baru Pariwisata Digital\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/85ed2f5492b68a7b853f8eb53fbab73b\",\"name\":\"Fadjar Ari Dewanto\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/551e2d24aaf1f2eac4a2857f7d83b8bd?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/551e2d24aaf1f2eac4a2857f7d83b8bd?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Fadjar Ari Dewanto\"},\"description\":\"Editor in Chief Vibiz Media Network, Coordinating Partner of Business Advisory Vibiz Consulting.\",\"sameAs\":[\"http:\/\/www.beritadaerah.co.id\"],\"url\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/author\/fajar-ari-dewanto\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Indonesia Menghadapi Babak Baru Pariwisata Digital - Berita Daerah","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/08\/14\/indonesia-menghadapi-babak-baru-pariwisata-digital\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Indonesia Menghadapi Babak Baru Pariwisata Digital - Berita Daerah","og_description":"(Beritaderah-Kolom) Infografik ASEAN Tourism Destinations by Number Visitors menunjukkan bahwa Indonesia berada di posisi kelima sebagai tujuan wisata di ASEAN. Jumlah wisatawan meningkat dari 14,3 juta pada 2024 menjadi 15,4 juta pada 2025. Indonesia masih berada di bawah Malaysia yang mencatat 42,2 juta wisatawan, Thailand 33 juta, Vietnam 21,2 juta, dan Singapura 16,9 juta. Di antara negara-negara tersebut, Vietnam menunjukkan peningkatan paling besar, dari 17,6 juta menjadi 21,2 juta wisatawan. Angka tersebut menunjukkan bahwa persaingan pariwisata di kawasan tidak hanya [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/08\/14\/indonesia-menghadapi-babak-baru-pariwisata-digital\/","og_site_name":"Berita Daerah","article_published_time":"2026-08-14T02:52:54+00:00","og_image":[{"width":890,"height":630,"url":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/Destinasi-wisata-Hiu-Paus-di-Pantai-Botubarani-Kabila-Bone-Kabupaten-Bone-Bolango-Gorontalo.-Foto-Dinas-Pariwisata-Provinsi-Gorontalo.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Fadjar Ari Dewanto","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Fadjar Ari Dewanto","Est. reading time":"6 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#website","url":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/","name":"Berita Daerah","description":"Berita Ekonomi, Investasi dan kegiatan daerah","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/08\/14\/indonesia-menghadapi-babak-baru-pariwisata-digital\/","url":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/08\/14\/indonesia-menghadapi-babak-baru-pariwisata-digital\/","name":"Indonesia Menghadapi Babak Baru Pariwisata Digital - Berita Daerah","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#website"},"datePublished":"2026-08-14T02:52:54+00:00","dateModified":"2026-08-14T02:52:54+00:00","author":{"@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/85ed2f5492b68a7b853f8eb53fbab73b"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/08\/14\/indonesia-menghadapi-babak-baru-pariwisata-digital\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/08\/14\/indonesia-menghadapi-babak-baru-pariwisata-digital\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/08\/14\/indonesia-menghadapi-babak-baru-pariwisata-digital\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Indonesia Menghadapi Babak Baru Pariwisata Digital"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/85ed2f5492b68a7b853f8eb53fbab73b","name":"Fadjar Ari Dewanto","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/551e2d24aaf1f2eac4a2857f7d83b8bd?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/551e2d24aaf1f2eac4a2857f7d83b8bd?s=96&d=mm&r=g","caption":"Fadjar Ari Dewanto"},"description":"Editor in Chief Vibiz Media Network, Coordinating Partner of Business Advisory Vibiz Consulting.","sameAs":["http:\/\/www.beritadaerah.co.id"],"url":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/author\/fajar-ari-dewanto\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/376155"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/13"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=376155"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/376155\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":376158,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/376155\/revisions\/376158"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/363238"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=376155"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=376155"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=376155"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}