{"id":376141,"date":"2026-08-13T16:21:15","date_gmt":"2026-08-13T09:21:15","guid":{"rendered":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/?p=376141"},"modified":"2026-08-13T16:21:15","modified_gmt":"2026-08-13T09:21:15","slug":"ekonomi-indonesia-tetap-tumbuh-tetapi-mesin-pertumbuhan-mulai-berubah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/08\/13\/ekonomi-indonesia-tetap-tumbuh-tetapi-mesin-pertumbuhan-mulai-berubah\/","title":{"rendered":"Ekonomi Indonesia Tetap Tumbuh, tetapi Mesin Pertumbuhan Mulai Berubah"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Beritadaerah-Kolom) Ekonomi Indonesia tetap menunjukkan daya tahan yang cukup kuat memasuki kuartal II 2026. Setelah tumbuh 5,61 persen secara tahunan pada kuartal I, pertumbuhan ekonomi pada kuartal II mencapai 5,29 persen. Secara kuartalan, ekonomi tumbuh 3,73 persen, sementara pertumbuhan kumulatif semester I 2026 mencapai 5,45 persen. Produk Domestik Bruto atas dasar harga berlaku pada kuartal II 2026 tercatat Rp6.552,1 triliun.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Angka tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia masih berada di kisaran 5 persen, meskipun mengalami perlambatan dibandingkan kuartal pertama. Data BPS juga memperlihatkan bahwa perlambatan tersebut tidak terjadi secara merata. Sejumlah sektor justru tumbuh lebih cepat, terutama konstruksi, perdagangan, dan sektor lainnya, sementara pertambangan dan penggalian masih mengalami kontraksi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dengan demikian, perkembangan ekonomi Indonesia pada 2026 tidak sekadar soal apakah pertumbuhan berada di atas atau di bawah 5 persen. Hal yang lebih penting adalah melihat perubahan komposisi pertumbuhan: konsumsi tetap menjadi fondasi, belanja pemerintah masih memberikan dorongan besar, investasi tumbuh kuat, sementara ekspor mulai membaik tetapi belum sekuat impor. Pada saat yang sama, struktur sektoral menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi semakin ditopang oleh konstruksi, perdagangan, dan industri pengolahan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Pertumbuhan tetap di atas 5 persen<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pertumbuhan 5,29 persen pada kuartal II memang lebih rendah dibandingkan 5,61 persen pada kuartal I 2026. Namun, perlambatan tersebut belum menunjukkan pelemahan ekonomi yang tajam. Pertumbuhan semester I sebesar 5,45 persen juga menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia masih berada dalam jalur pertumbuhan yang relatif stabil.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada kuartal I, pertumbuhan 5,61 persen terutama didorong oleh lonjakan belanja pemerintah sebesar 21,8 persen serta konsumsi rumah tangga yang tumbuh 5,52 persen. Konsumsi tersebut mendapatkan dorongan dari aktivitas Ramadan dan Idulfitri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Memasuki kuartal II, struktur pertumbuhan mulai menunjukkan perubahan. Konsumsi rumah tangga tumbuh 5,06 persen secara tahunan, sedikit lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pada kuartal pertama. Namun, pelemahan konsumsi tersebut tidak serta-merta menekan pertumbuhan keseluruhan karena komponen lain, terutama konsumsi pemerintah dan pembentukan modal tetap bruto, masih tumbuh tinggi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Artinya, ekonomi Indonesia pada kuartal II memperoleh dukungan yang lebih beragam dibandingkan kuartal pertama. Ini penting karena ketergantungan terhadap momentum konsumsi Ramadan dan Idulfitri mulai berkurang setelah memasuki periode normalisasi aktivitas ekonomi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Belanja pemerintah menjadi pendorong terbesar<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Salah satu angka paling menonjol dalam data BPS adalah pertumbuhan konsumsi pemerintah sebesar 15,97 persen pada kuartal II 2026. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan konsumsi rumah tangga sebesar 5,06 persen.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kinerja tersebut menunjukkan bahwa sektor pemerintah masih memainkan peran penting dalam menjaga momentum ekonomi. Ketika konsumsi rumah tangga tumbuh lebih moderat, belanja pemerintah dapat memberikan stimulus terhadap permintaan agregat melalui berbagai program dan pengeluaran negara.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun, tingginya pertumbuhan konsumsi pemerintah juga perlu dibaca secara hati-hati. Pertumbuhan ekonomi yang sehat dalam jangka panjang tetap membutuhkan kontribusi yang kuat dari investasi swasta, produktivitas, industri, dan konsumsi masyarakat. Belanja pemerintah dapat menjadi penyangga ketika ekonomi menghadapi tekanan, tetapi tidak dapat menjadi satu-satunya mesin pertumbuhan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam konteks ini, data kuartal II justru memberikan sinyal positif karena pembentukan modal tetap bruto atau investasi fisik tumbuh 6,87 persen. Pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa aktivitas investasi masih cukup kuat dan menjadi salah satu fondasi penting ekonomi Indonesia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Investasi mulai menjadi mesin pertumbuhan yang lebih penting<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pertumbuhan pembentukan modal tetap bruto sebesar 6,87 persen menunjukkan bahwa investasi tetap bergerak lebih cepat daripada konsumsi rumah tangga. Ini menjadi perkembangan penting karena investasi menentukan kapasitas produksi ekonomi dalam jangka menengah dan panjang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Data laporan sebelumnya menunjukkan bahwa FDI Indonesia meningkat 8,1 persen pada kuartal I 2026 menjadi Rp249,9 triliun atau sekitar US$14,5 miliar. Investasi terutama mengalir ke logam dasar dan manufaktur produk logam, pertambangan, real estat, transportasi, serta telekomunikasi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jika tren investasi tersebut berlanjut, Indonesia memiliki peluang untuk mengubah pertumbuhan investasi menjadi peningkatan kapasitas industri. Hal ini sangat relevan dengan agenda hilirisasi karena investasi pada sektor logam dasar dan manufaktur dapat memperkuat hubungan antara sumber daya alam Indonesia dengan industri pengolahan domestik.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun, kualitas investasi tetap lebih penting daripada sekadar nilainya. Investasi yang menghasilkan kapasitas produksi baru, teknologi, transfer pengetahuan, lapangan kerja produktif, dan keterkaitan dengan pemasok domestik akan memberikan dampak ekonomi yang jauh lebih besar dibandingkan investasi yang hanya menghasilkan aktivitas ekonomi jangka pendek.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Industri pengolahan tetap tumbuh<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dari sisi lapangan usaha, industri pengolahan tumbuh 4,52 persen pada kuartal II 2026. Angka tersebut memang belum menjadi yang tertinggi, tetapi tetap menunjukkan bahwa sektor manufaktur masih mengalami ekspansi.Kinerja ini perlu dilihat bersama dengan data kuartal I. Pada kuartal pertama, pertumbuhan manufaktur mencapai 5,04 persen, turun dari 5,40 persen pada kuartal IV 2025. PMI manufaktur Indonesia juga turun ke 49,1 pada April 2026, memasuki wilayah kontraksi untuk pertama kalinya dalam sembilan bulan, di tengah meningkatnya tekanan biaya dan melemahnya kepercayaan bisnis.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dengan pertumbuhan industri pengolahan sebesar 4,52 persen pada kuartal II, sektor ini masih memberikan kontribusi positif terhadap perekonomian, tetapi kecepatannya belum kembali ke level sebelumnya. Tantangan manufaktur Indonesia masih berkaitan dengan biaya input, permintaan eksternal, nilai tukar, dan kondisi rantai pasok global.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di sisi lain, kemampuan manufaktur untuk tetap tumbuh menunjukkan bahwa industrialisasi Indonesia memiliki fondasi yang cukup kuat. Jika investasi baru diarahkan pada pengolahan mineral, industri antara, komponen, mesin, elektronik, dan sektor bernilai tambah lainnya, manufaktur dapat menjadi sumber pertumbuhan yang lebih kuat pada periode berikutnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Pertambangan masih menjadi titik lemah<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Salah satu kontras terbesar dalam data kuartal II adalah antara industri pengolahan dan pertambangan. Ketika industri pengolahan tumbuh 4,52 persen, pertambangan dan penggalian justru mengalami kontraksi sebesar 1,64 persen.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kondisi ini menarik karena Indonesia selama bertahun-tahun sangat bergantung pada komoditas pertambangan sebagai sumber ekspor dan penerimaan. Penurunan sektor pertambangan menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia semakin tidak dapat mengandalkan ekspor bahan mentah sebagai satu-satunya sumber pertumbuhan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada kuartal I 2026, ekspor Indonesia hanya tumbuh 0,90 persen. Ekspor manufaktur sebenarnya meningkat 3,96 persen, tetapi ekspor pertanian, kehutanan, dan perikanan turun 32,18 persen, sementara ekspor pertambangan turun 11,17 persen.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Karena itu, kontraksi pertambangan pada kuartal II dapat dilihat sebagai tantangan sekaligus pengingat bahwa strategi hilirisasi perlu terus diperkuat. Tujuannya bukan sekadar meningkatkan produksi komoditas, melainkan mengubah sumber daya alam menjadi produk dengan nilai tambah lebih tinggi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Perdagangan dan konstruksi semakin penting<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dua sektor yang mencatat pertumbuhan tinggi pada kuartal II adalah konstruksi dan perdagangan serta reparasi. Konstruksi tumbuh 6,68 persen, sedangkan perdagangan dan reparasi tumbuh 6,39 persen.Pertumbuhan konstruksi menunjukkan bahwa aktivitas pembangunan masih memberikan kontribusi kuat terhadap ekonomi. Sektor ini memiliki efek berganda karena berkaitan dengan permintaan terhadap bahan bangunan, transportasi, tenaga kerja, jasa profesional, hingga berbagai aktivitas ekonomi di sekitar proyek.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sementara itu, pertumbuhan perdagangan sebesar 6,39 persen memperlihatkan bahwa aktivitas ekonomi domestik masih cukup kuat. Perdagangan menjadi salah satu sektor yang secara langsung memperoleh manfaat dari mobilitas masyarakat dan aktivitas konsumsi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pertumbuhan kedua sektor tersebut juga memperkuat kesimpulan bahwa ekonomi Indonesia memiliki fondasi domestik yang relatif besar. Ketika ekspor menghadapi tekanan, aktivitas pembangunan dan perdagangan dalam negeri masih mampu menopang pertumbuhan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Ekspor membaik, tetapi impor tumbuh lebih cepat<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dari sisi pengeluaran, ekspor tumbuh 4,13 persen pada kuartal II 2026. Angka tersebut lebih baik dibandingkan pertumbuhan ekspor 0,90 persen pada kuartal pertama yang tercatat dalam laporan sebelumnya.Perbaikan ekspor merupakan sinyal positif karena menunjukkan bahwa tekanan eksternal terhadap Indonesia mulai sedikit mereda atau setidaknya mampu diimbangi oleh peningkatan pada beberapa kelompok produk.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun, impor tumbuh lebih cepat, yaitu 8,82 persen. Perbedaan antara pertumbuhan ekspor dan impor tersebut perlu diperhatikan karena menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap barang dan input dari luar negeri masih meningkat cukup kuat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dari satu sisi, kenaikan impor dapat mencerminkan meningkatnya aktivitas ekonomi dan investasi, terutama jika impor tersebut berupa barang modal dan bahan baku. Namun, dari sisi lain, impor yang tumbuh jauh lebih cepat daripada ekspor juga menunjukkan bahwa kapasitas produksi domestik belum sepenuhnya mampu memenuhi peningkatan permintaan.Karena itu, tantangan Indonesia bukan hanya meningkatkan ekspor, tetapi juga memperkuat kemampuan industri domestik menghasilkan barang yang selama ini masih bergantung pada impor.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Pulau Jawa tetap menjadi pusat ekonomi<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Data regional menunjukkan konsentrasi ekonomi Indonesia masih sangat kuat di Pulau Jawa. Jawa memberikan kontribusi 56,47 persen terhadap perekonomian nasional dan mencatat pertumbuhan 5,65 persen pada kuartal II 2026.Angka tersebut menunjukkan bahwa Jawa bukan hanya memiliki kontribusi terbesar, tetapi juga tetap tumbuh sedikit lebih cepat daripada pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29 persen.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sumatera memberikan kontribusi 22,50 persen dengan pertumbuhan 5,06 persen. Kalimantan menyumbang 8,15 persen dengan pertumbuhan 4,10 persen, sedangkan Sulawesi memberikan kontribusi 7,28 persen dan tumbuh 5,53 persen.Bali dan Nusa Tenggara memberikan kontribusi 2,84 persen dengan pertumbuhan paling tinggi, yaitu 6,10 persen. Sementara itu, Maluku dan Papua berkontribusi 2,76 persen terhadap ekonomi nasional dan tumbuh 1,36 persen.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Komposisi tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan Indonesia masih belum sepenuhnya merata. Jawa tetap menjadi pusat aktivitas ekonomi, sedangkan sejumlah wilayah lain tumbuh lebih cepat tetapi memiliki kontribusi yang lebih kecil.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Rupiah dan inflasi tetap menjadi risiko<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di balik pertumbuhan yang masih kuat, Indonesia tetap menghadapi tekanan makroekonomi. Pada kuartal I, inflasi meningkat menjadi 3,48 persen, mendekati batas atas sasaran Bank Indonesia sebesar 1,5\u20133,5 persen. Rupiah juga melemah 1,7 persen pada kuartal pertama dan secara year-to-date telah turun 3,6 persen hingga 23 April.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tekanan tersebut penting karena pelemahan rupiah dapat meningkatkan biaya bahan baku impor dan memberikan tekanan kepada perusahaan. Pada saat yang sama, kenaikan harga energi global akibat ketegangan geopolitik dapat memperbesar biaya transportasi dan produksi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bank Indonesia mempertahankan suku bunga kebijakan pada 4,75 persen sepanjang kuartal pertama dan April, dengan prioritas menjaga stabilitas rupiah dan mengendalikan inflasi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dengan pertumbuhan ekonomi yang masih 5,29 persen pada kuartal II, tantangan kebijakan menjadi semakin kompleks. Indonesia harus menjaga agar inflasi dan nilai tukar tetap terkendali tanpa menekan konsumsi, investasi, dan ekspansi dunia usaha secara berlebihan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>Indonesia memasuki paruh kedua 2026 dengan fondasi yang cukup kuat<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Data kuartal II memberikan gambaran yang lebih lengkap mengenai kondisi ekonomi Indonesia. Pertumbuhan memang turun dari 5,61 persen menjadi 5,29 persen secara tahunan, tetapi masih berada di atas 5 persen. Pertumbuhan semester I sebesar 5,45 persen juga menunjukkan bahwa momentum ekonomi belum kehilangan daya dorong.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Yang berubah adalah komposisi pertumbuhannya. Konsumsi rumah tangga tumbuh 5,06 persen, konsumsi pemerintah melonjak 15,97 persen, pembentukan modal tetap bruto tumbuh 6,87 persen, ekspor meningkat 4,13 persen, dan impor tumbuh 8,82 persen.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dari sisi produksi, konstruksi tumbuh 6,68 persen, perdagangan 6,39 persen, sektor lainnya 6,67 persen, pertanian 3,80 persen, dan industri pengolahan 4,52 persen. Sementara itu, pertambangan dan penggalian mengalami kontraksi 1,64 persen.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Gambaran tersebut menunjukkan bahwa Indonesia sedang mengalami pergeseran dalam mesin pertumbuhannya. Konsumsi tetap penting, tetapi investasi, konstruksi, perdagangan, dan belanja pemerintah semakin memberikan kontribusi. Pada saat yang sama, sektor berbasis komoditas menghadapi tantangan yang lebih besar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Karena itu, agenda ekonomi Indonesia ke depan seharusnya tidak berhenti pada upaya mempertahankan pertumbuhan di atas 5 persen. Tantangan yang lebih penting adalah meningkatkan kualitas pertumbuhan. Investasi harus menghasilkan produktivitas yang lebih tinggi, hilirisasi harus menghasilkan industri bernilai tambah, manufaktur harus semakin kompetitif, dan pertumbuhan regional perlu menjadi lebih merata.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Data kuartal II 2026 menunjukkan bahwa fondasi ekonomi domestik Indonesia masih kuat. Tetapi lingkungan global yang penuh tekanan membuat kualitas fondasi tersebut menjadi semakin penting. Dengan konsumsi yang tetap tumbuh, investasi yang menguat, konstruksi dan perdagangan yang ekspansif, serta manufaktur yang masih berkembang, Indonesia memiliki modal untuk mempertahankan pertumbuhan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pertanyaannya sekarang adalah apakah modal tersebut dapat diterjemahkan menjadi produktivitas dan daya saing yang lebih tinggi. Jika investasi dan belanja pemerintah mampu memperkuat kapasitas produksi, sementara industri pengolahan berhasil mengambil lebih banyak peran dari sektor komoditas mentah, maka pertumbuhan 5 persen lebih dapat menjadi pijakan menuju struktur ekonomi Indonesia yang lebih kuat dan berkelanjutan.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Beritadaerah-Kolom) Ekonomi Indonesia tetap menunjukkan daya tahan yang cukup kuat memasuki kuartal II 2026. Setelah tumbuh 5,61 persen secara tahunan pada kuartal I, pertumbuhan ekonomi pada kuartal II mencapai 5,29 persen. Secara kuartalan, ekonomi tumbuh 3,73 persen, sementara pertumbuhan kumulatif semester I 2026 mencapai 5,45 persen. Produk Domestik Bruto atas dasar harga berlaku pada kuartal II 2026 tercatat Rp6.552,1 triliun. Angka tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia masih berada di kisaran 5 persen, meskipun mengalami perlambatan dibandingkan kuartal pertama. Data [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":13,"featured_media":331441,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"kia_subtitle":""},"categories":[3,93,6],"tags":[547],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v19.4 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Ekonomi Indonesia Tetap Tumbuh, tetapi Mesin Pertumbuhan Mulai Berubah - Berita Daerah<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/08\/13\/ekonomi-indonesia-tetap-tumbuh-tetapi-mesin-pertumbuhan-mulai-berubah\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Ekonomi Indonesia Tetap Tumbuh, tetapi Mesin Pertumbuhan Mulai Berubah - Berita Daerah\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"(Beritadaerah-Kolom) Ekonomi Indonesia tetap menunjukkan daya tahan yang cukup kuat memasuki kuartal II 2026. Setelah tumbuh 5,61 persen secara tahunan pada kuartal I, pertumbuhan ekonomi pada kuartal II mencapai 5,29 persen. Secara kuartalan, ekonomi tumbuh 3,73 persen, sementara pertumbuhan kumulatif semester I 2026 mencapai 5,45 persen. Produk Domestik Bruto atas dasar harga berlaku pada kuartal II 2026 tercatat Rp6.552,1 triliun. Angka tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia masih berada di kisaran 5 persen, meskipun mengalami perlambatan dibandingkan kuartal pertama. Data [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/08\/13\/ekonomi-indonesia-tetap-tumbuh-tetapi-mesin-pertumbuhan-mulai-berubah\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Berita Daerah\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-08-13T09:21:15+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/Indahnya-persawahan-di-Tawangmangu-Karanganyar-Jawa-Tengah.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1600\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"721\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Fadjar Ari Dewanto\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Fadjar Ari Dewanto\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"9 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/\",\"name\":\"Berita Daerah\",\"description\":\"Berita Ekonomi, Investasi dan kegiatan daerah\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/08\/13\/ekonomi-indonesia-tetap-tumbuh-tetapi-mesin-pertumbuhan-mulai-berubah\/\",\"url\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/08\/13\/ekonomi-indonesia-tetap-tumbuh-tetapi-mesin-pertumbuhan-mulai-berubah\/\",\"name\":\"Ekonomi Indonesia Tetap Tumbuh, tetapi Mesin Pertumbuhan Mulai Berubah - Berita Daerah\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#website\"},\"datePublished\":\"2026-08-13T09:21:15+00:00\",\"dateModified\":\"2026-08-13T09:21:15+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/85ed2f5492b68a7b853f8eb53fbab73b\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/08\/13\/ekonomi-indonesia-tetap-tumbuh-tetapi-mesin-pertumbuhan-mulai-berubah\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/08\/13\/ekonomi-indonesia-tetap-tumbuh-tetapi-mesin-pertumbuhan-mulai-berubah\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/08\/13\/ekonomi-indonesia-tetap-tumbuh-tetapi-mesin-pertumbuhan-mulai-berubah\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Ekonomi Indonesia Tetap Tumbuh, tetapi Mesin Pertumbuhan Mulai Berubah\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/85ed2f5492b68a7b853f8eb53fbab73b\",\"name\":\"Fadjar Ari Dewanto\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/551e2d24aaf1f2eac4a2857f7d83b8bd?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/551e2d24aaf1f2eac4a2857f7d83b8bd?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Fadjar Ari Dewanto\"},\"description\":\"Editor in Chief Vibiz Media Network, Coordinating Partner of Business Advisory Vibiz Consulting.\",\"sameAs\":[\"http:\/\/www.beritadaerah.co.id\"],\"url\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/author\/fajar-ari-dewanto\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Ekonomi Indonesia Tetap Tumbuh, tetapi Mesin Pertumbuhan Mulai Berubah - Berita Daerah","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/08\/13\/ekonomi-indonesia-tetap-tumbuh-tetapi-mesin-pertumbuhan-mulai-berubah\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Ekonomi Indonesia Tetap Tumbuh, tetapi Mesin Pertumbuhan Mulai Berubah - Berita Daerah","og_description":"(Beritadaerah-Kolom) Ekonomi Indonesia tetap menunjukkan daya tahan yang cukup kuat memasuki kuartal II 2026. Setelah tumbuh 5,61 persen secara tahunan pada kuartal I, pertumbuhan ekonomi pada kuartal II mencapai 5,29 persen. Secara kuartalan, ekonomi tumbuh 3,73 persen, sementara pertumbuhan kumulatif semester I 2026 mencapai 5,45 persen. Produk Domestik Bruto atas dasar harga berlaku pada kuartal II 2026 tercatat Rp6.552,1 triliun. Angka tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia masih berada di kisaran 5 persen, meskipun mengalami perlambatan dibandingkan kuartal pertama. Data [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/08\/13\/ekonomi-indonesia-tetap-tumbuh-tetapi-mesin-pertumbuhan-mulai-berubah\/","og_site_name":"Berita Daerah","article_published_time":"2026-08-13T09:21:15+00:00","og_image":[{"width":1600,"height":721,"url":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/Indahnya-persawahan-di-Tawangmangu-Karanganyar-Jawa-Tengah.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Fadjar Ari Dewanto","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Fadjar Ari Dewanto","Est. reading time":"9 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#website","url":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/","name":"Berita Daerah","description":"Berita Ekonomi, Investasi dan kegiatan daerah","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/08\/13\/ekonomi-indonesia-tetap-tumbuh-tetapi-mesin-pertumbuhan-mulai-berubah\/","url":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/08\/13\/ekonomi-indonesia-tetap-tumbuh-tetapi-mesin-pertumbuhan-mulai-berubah\/","name":"Ekonomi Indonesia Tetap Tumbuh, tetapi Mesin Pertumbuhan Mulai Berubah - Berita Daerah","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#website"},"datePublished":"2026-08-13T09:21:15+00:00","dateModified":"2026-08-13T09:21:15+00:00","author":{"@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/85ed2f5492b68a7b853f8eb53fbab73b"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/08\/13\/ekonomi-indonesia-tetap-tumbuh-tetapi-mesin-pertumbuhan-mulai-berubah\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/08\/13\/ekonomi-indonesia-tetap-tumbuh-tetapi-mesin-pertumbuhan-mulai-berubah\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/08\/13\/ekonomi-indonesia-tetap-tumbuh-tetapi-mesin-pertumbuhan-mulai-berubah\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Ekonomi Indonesia Tetap Tumbuh, tetapi Mesin Pertumbuhan Mulai Berubah"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/85ed2f5492b68a7b853f8eb53fbab73b","name":"Fadjar Ari Dewanto","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/551e2d24aaf1f2eac4a2857f7d83b8bd?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/551e2d24aaf1f2eac4a2857f7d83b8bd?s=96&d=mm&r=g","caption":"Fadjar Ari Dewanto"},"description":"Editor in Chief Vibiz Media Network, Coordinating Partner of Business Advisory Vibiz Consulting.","sameAs":["http:\/\/www.beritadaerah.co.id"],"url":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/author\/fajar-ari-dewanto\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/376141"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/13"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=376141"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/376141\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":376142,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/376141\/revisions\/376142"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/331441"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=376141"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=376141"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=376141"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}