{"id":374803,"date":"2026-07-09T16:28:50","date_gmt":"2026-07-09T09:28:50","guid":{"rendered":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/?p=374803"},"modified":"2026-07-09T16:28:50","modified_gmt":"2026-07-09T09:28:50","slug":"menjaga-daya-saing-perdagangan-di-tengah-gelombang-ketidakpastian","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/07\/09\/menjaga-daya-saing-perdagangan-di-tengah-gelombang-ketidakpastian\/","title":{"rendered":"Menjaga Daya Saing Perdagangan di Tengah Gelombang Ketidakpastian"},"content":{"rendered":"<p data-start=\"323\" data-end=\"1031\">(Beritadaerah-Kolom) Perdagangan internasional Indonesia pada 2026 memperlihatkan gambaran yang lebih kompleks dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Di satu sisi, aktivitas ekspor masih mampu mempertahankan pertumbuhan secara kumulatif meskipun menghadapi tekanan permintaan global. Di sisi lain, impor meningkat jauh lebih cepat karena kebutuhan industri dalam negeri terhadap bahan baku, barang modal, dan berbagai komponen produksi terus bertambah. Kombinasi kedua kondisi tersebut menghasilkan dinamika baru dalam struktur perdagangan Indonesia, yaitu pertumbuhan ekonomi yang semakin ditopang oleh aktivitas manufaktur dan hilirisasi, tetapi pada saat yang sama menghadapi tantangan berupa penyempitan surplus perdagangan.<\/p>\n<p data-start=\"1033\" data-end=\"1689\">Selama Januari hingga Mei 2026, nilai ekspor Indonesia mencapai US$115,36 miliar atau meningkat 3,02 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan tersebut sepenuhnya didorong oleh ekspor nonmigas yang tumbuh 3,89 persen hingga mencapai US$110,19 miliar. Sebaliknya, ekspor migas mengalami penurunan sebesar 12,71 persen menjadi US$5,17 miliar. Perubahan komposisi ini semakin menegaskan bahwa sumber pertumbuhan perdagangan Indonesia kini semakin bertumpu pada sektor nonmigas, khususnya industri pengolahan yang menghasilkan produk bernilai tambah lebih tinggi dibandingkan ekspor bahan mentah.<\/p>\n<p>Namun demikian, apabila dilihat secara bulanan, kondisi perdagangan menunjukkan tekanan yang cukup besar. Pada Mei 2026, nilai ekspor Indonesia tercatat sebesar US$23,20 miliar, turun 5,73 persen dibandingkan Mei 2025 dan turun 8,30 persen dibandingkan April 2026. Penurunan tersebut tidak hanya terjadi pada sektor migas yang merosot hingga 31,76 persen, tetapi juga pada ekspor nonmigas yang turun 4,50 persen. Situasi ini menunjukkan bahwa pelemahan permintaan dari sejumlah negara mitra dagang masih memengaruhi kinerja perdagangan Indonesia, meskipun secara kumulatif lima bulan pertama tahun ini ekspor tetap berada pada jalur pertumbuhan positif.<\/p>\n<p class=\"PDq2pG_selectionAnchorContainer\" data-start=\"2384\" data-end=\"2419\"><em data-start=\"2384\" data-end=\"2419\">Dominasi Nonmigas Semakin Menguat<\/em><\/p>\n<p data-start=\"2421\" data-end=\"2928\">Salah satu perubahan paling mencolok dalam struktur perdagangan Indonesia adalah semakin kecilnya ketergantungan terhadap komoditas migas. Selama Januari\u2013Mei 2026, ekspor nonmigas menyumbang sekitar 95,52 persen dari total ekspor nasional, sedangkan kontribusi migas hanya mencapai 4,48 persen. Penurunan sektor migas terutama dipengaruhi oleh merosotnya ekspor minyak mentah sebesar 50,40 persen dan gas alam sebesar 16,73 persen. Hanya ekspor hasil minyak yang masih mencatat kenaikan sebesar 4,51 persen.<\/p>\n<p data-start=\"2930\" data-end=\"3543\">Perubahan tersebut memperlihatkan bahwa transformasi ekonomi Indonesia mulai bergerak menuju struktur yang lebih modern. Jika beberapa dekade lalu minyak bumi menjadi penopang utama penerimaan ekspor, kini peran tersebut secara bertahap digantikan oleh industri manufaktur, pengolahan mineral, produk kimia, kendaraan bermotor, mesin, serta berbagai komoditas yang telah melalui proses hilirisasi. Pergeseran ini menjadi salah satu fondasi penting bagi daya tahan perdagangan nasional karena nilai tambah yang dihasilkan jauh lebih besar dibandingkan ekspor komoditas primer.<\/p>\n<p class=\"PDq2pG_selectionAnchorContainer\" data-start=\"3545\" data-end=\"3588\"><em data-start=\"3545\" data-end=\"3588\">Hilirisasi Menjadi Mesin Pertumbuhan Baru<\/em><\/p>\n<p data-start=\"3590\" data-end=\"4072\">Data perdagangan memperlihatkan keberhasilan hilirisasi yang semakin nyata. Dari sepuluh kelompok komoditas utama ekspor nonmigas, nikel dan barang daripadanya mencatat pertumbuhan paling tinggi dengan kenaikan sebesar US$2,05 miliar atau 60,88 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut jauh melampaui komoditas lainnya dan menunjukkan bahwa investasi pada industri pengolahan mineral mulai menghasilkan dampak nyata terhadap perdagangan nasional.<\/p>\n<p data-start=\"4074\" data-end=\"4571\">Kenaikan ekspor nikel bukan sekadar mencerminkan meningkatnya permintaan dunia terhadap logam yang menjadi bahan baku baterai kendaraan listrik. Lebih dari itu, peningkatan tersebut menunjukkan bahwa Indonesia tidak lagi hanya mengekspor bijih mentah, tetapi mulai mengekspor produk dengan tingkat pengolahan yang lebih tinggi. Strategi hilirisasi yang diterapkan dalam beberapa tahun terakhir perlahan mengubah posisi Indonesia dari pemasok bahan mentah menjadi produsen komponen industri global.<\/p>\n<p data-start=\"4573\" data-end=\"5119\">Selain nikel, sejumlah komoditas juga mencatat pertumbuhan yang cukup kuat. Ekspor lemak dan minyak hewani maupun nabati meningkat sebesar US$1,50 miliar atau 11,92 persen. Berbagai produk kimia naik 15,82 persen, kendaraan dan bagiannya tumbuh 10,74 persen, mesin dan peralatan mekanis meningkat 11,85 persen, alas kaki bertambah 5,59 persen, sedangkan mesin dan perlengkapan elektrik naik tipis sebesar 0,87 persen. Bahkan bahan bakar mineral masih mampu mencatat kenaikan sebesar 0,23 persen meskipun pasar energi global mengalami volatilitas.<\/p>\n<p data-start=\"5121\" data-end=\"5613\">Sebaliknya, tidak seluruh komoditas menunjukkan tren positif. Logam mulia dan perhiasan mengalami penurunan terbesar dengan nilai mencapai US$1,01 miliar atau turun 23,73 persen. Besi dan baja juga mengalami kontraksi sebesar 1,61 persen. Penurunan tersebut memperlihatkan bahwa sebagian industri manufaktur masih menghadapi pelemahan permintaan global, terutama pada sektor-sektor yang sangat dipengaruhi oleh konsumsi internasional dan investasi dunia.<\/p>\n<p class=\"PDq2pG_selectionAnchorContainer\" data-start=\"5615\" data-end=\"5966\">Secara keseluruhan, sepuluh komoditas utama tersebut memberikan kontribusi sekitar 64,60 persen terhadap seluruh ekspor nonmigas Indonesia. Angka tersebut menunjukkan bahwa struktur ekspor nasional masih cukup terkonsentrasi pada beberapa kelompok barang tertentu sehingga diversifikasi produk ekspor tetap menjadi agenda penting dalam jangka panjang.<\/p>\n<p data-start=\"5968\" data-end=\"6016\"><em data-start=\"5968\" data-end=\"6016\">Asia Tetap Menjadi Pusat Perdagangan Indonesia<\/em><\/p>\n<p data-start=\"6018\" data-end=\"6506\">Dilihat dari negara tujuan, orientasi perdagangan Indonesia masih sangat kuat menuju kawasan Asia. Tiongkok tetap menjadi pasar terbesar dengan nilai ekspor nonmigas mencapai US$28,54 miliar atau sekitar seperempat dari total ekspor nonmigas nasional. Amerika Serikat berada di posisi kedua dengan nilai US$12,73 miliar, sedangkan India berada di posisi ketiga sebesar US$7,43 miliar. Ketiga negara tersebut menyerap sekitar 44,20 persen ekspor nonmigas Indonesia selama Januari\u2013Mei 2026.<\/p>\n<p data-start=\"6508\" data-end=\"6947\">Kuatnya hubungan perdagangan dengan Tiongkok terlihat dari peningkatan nilai ekspor yang mencapai US$4,29 miliar atau tumbuh 17,68 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan juga terjadi pada ekspor ke Thailand sebesar 19,32 persen dan Amerika Serikat sebesar 5,13 persen. Sebaliknya, ekspor menuju Singapura, Malaysia, serta Jerman mengalami penurunan sehingga menggambarkan adanya perubahan pola permintaan di berbagai kawasan dunia.<\/p>\n<p data-start=\"6949\" data-end=\"7432\">Di tingkat regional, kawasan ASEAN masih menjadi salah satu pasar utama dengan nilai ekspor mencapai US$22,13 miliar atau sekitar 20,08 persen dari ekspor nonmigas. Sementara itu Uni Eropa menyerap ekspor senilai US$7,99 miliar atau sekitar 7,25 persen. Komposisi tersebut memperlihatkan bahwa perdagangan Indonesia masih didominasi kawasan Asia, sedangkan penetrasi ke pasar Eropa masih memiliki ruang yang cukup besar untuk terus ditingkatkan.<\/p>\n<p class=\"PDq2pG_selectionAnchorContainer\" data-start=\"7434\" data-end=\"7491\"><em data-start=\"7434\" data-end=\"7491\">Industri Pengolahan Menggeser Dominasi Komoditas Primer<\/em><\/p>\n<p data-start=\"7493\" data-end=\"7870\">Transformasi perdagangan Indonesia juga terlihat dari perubahan struktur sektoral. Selama Januari\u2013Mei 2026, industri pengolahan menyumbang ekspor sebesar US$94,62 miliar atau mencapai 82,03 persen dari total ekspor nasional. Nilai tersebut meningkat 6,80 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, terutama karena meningkatnya ekspor produk nikel hasil pengolahan.<\/p>\n<p data-start=\"7872\" data-end=\"8166\">Sebaliknya, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan mengalami penurunan sebesar 24,95 persen menjadi US$2,10 miliar. Pelemahan tersebut terutama dipengaruhi menurunnya ekspor kopi. Sementara itu sektor pertambangan dan lainnya juga turun 8,14 persen akibat berkurangnya ekspor bijih tembaga.<\/p>\n<p data-start=\"8168\" data-end=\"8564\">Perubahan tersebut memperlihatkan bahwa pertumbuhan ekspor Indonesia kini lebih banyak dihasilkan oleh aktivitas industri dibandingkan eksploitasi sumber daya alam mentah. Industri pengolahan bukan hanya menjadi sektor dengan kontribusi terbesar terhadap ekspor nasional, tetapi juga menjadi motor utama peningkatan nilai tambah dalam perekonomian Indonesia.<\/p>\n<p class=\"PDq2pG_selectionAnchorContainer\" data-start=\"8566\" data-end=\"8612\"><em data-start=\"8566\" data-end=\"8612\">Pusat-Pusat Ekspor Nasional Semakin Bergeser<\/em><\/p>\n<p data-start=\"8614\" data-end=\"9029\">Peta ekspor nasional juga menunjukkan perubahan yang menarik. Jawa Barat menjadi provinsi penyumbang ekspor terbesar dengan nilai mencapai US$15,97 miliar atau sekitar 13,85 persen dari total ekspor Indonesia. Posisi berikutnya ditempati Sulawesi Tengah sebesar US$10,40 miliar dan Kepulauan Riau sebesar US$10,01 miliar. Ketiga provinsi tersebut secara bersama-sama menyumbang lebih dari 31 persen ekspor nasional.<\/p>\n<p data-start=\"9031\" data-end=\"9556\">Dominasi Jawa Barat mencerminkan kuatnya basis manufaktur nasional, terutama industri otomotif, elektronik, tekstil, serta berbagai produk ekspor bernilai tambah lainnya. Sulawesi Tengah menjadi contoh keberhasilan pembangunan kawasan industri berbasis hilirisasi nikel yang mampu mengangkat kontribusi wilayah tersebut terhadap perdagangan nasional. Sementara Kepulauan Riau tetap memainkan peran strategis sebagai pusat industri, logistik, dan perdagangan internasional yang terhubung langsung dengan jalur pelayaran dunia.<\/p>\n<p data-start=\"9558\" data-end=\"9991\">Sebaliknya, sejumlah provinsi penghasil komoditas primer mulai mengalami perlambatan seiring perubahan struktur perdagangan nasional. Pergeseran ini menunjukkan bahwa masa depan ekspor Indonesia semakin ditentukan oleh kemampuan mengembangkan kawasan industri, meningkatkan produktivitas manufaktur, serta memperluas pengolahan sumber daya alam di dalam negeri sebelum dipasarkan ke luar negeri.<\/p>\n<p data-section-id=\"ic79ql\" data-start=\"0\" data-end=\"60\"><strong><span role=\"text\">Impor Meningkat Seiring Bergairahnya Aktivitas Produksi<\/span><\/strong><\/p>\n<p data-start=\"62\" data-end=\"983\">Apabila ekspor menggambarkan kemampuan Indonesia memasarkan produknya ke dunia internasional, maka impor memberikan gambaran mengenai kebutuhan industri domestik terhadap bahan baku, mesin produksi, serta barang konsumsi. Selama Januari hingga Mei 2026, aktivitas impor menunjukkan pertumbuhan yang jauh lebih tinggi dibandingkan ekspor. Nilai impor Indonesia mencapai US$111,33 miliar atau meningkat 15,24 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan tersebut jauh melampaui pertumbuhan ekspor yang hanya mencapai 3,02 persen, sehingga mempersempit surplus perdagangan nasional. Meskipun demikian, peningkatan impor tidak sepenuhnya mencerminkan pelemahan ekonomi. Sebaliknya, sebagian besar kenaikan tersebut justru berasal dari meningkatnya kebutuhan industri terhadap bahan baku dan barang modal yang digunakan untuk menunjang proses produksi di dalam negeri.<\/p>\n<p>Pada Mei 2026, nilai impor Indonesia mencapai US$24,81 miliar atau meningkat 22,16 persen dibandingkan Mei tahun sebelumnya. Dibandingkan April 2026 memang terjadi penurunan tipis sebesar 1,59 persen, tetapi secara tahunan lonjakan tersebut memperlihatkan bahwa permintaan terhadap barang dari luar negeri masih sangat kuat. Kenaikan impor terutama berasal dari sektor migas yang meningkat hingga 70,78 persen, sedangkan impor nonmigas naik 14,89 persen. Kondisi ini memperlihatkan bahwa kebutuhan energi maupun bahan baku industri tetap menjadi faktor utama yang mendorong pertumbuhan impor Indonesia.<\/p>\n<p class=\"PDq2pG_selectionAnchorContainer\" data-section-id=\"5xxl7k\" data-start=\"1627\" data-end=\"1679\"><span role=\"text\"><em data-start=\"1630\" data-end=\"1679\">Industri Masih Bergantung pada Impor Bahan Baku<\/em><\/span><\/p>\n<p data-start=\"1681\" data-end=\"2311\">Struktur impor Indonesia memperlihatkan bahwa mayoritas barang yang didatangkan dari luar negeri bukan merupakan barang konsumsi, melainkan barang yang digunakan sebagai input produksi. Selama Januari\u2013Mei 2026, impor nonmigas mencapai US$93,88 miliar atau meningkat 13,16 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kontribusi impor nonmigas mencapai 84,33 persen terhadap total impor nasional, sedangkan migas menyumbang sekitar 15,67 persen. Komposisi tersebut menunjukkan bahwa aktivitas manufaktur Indonesia masih sangat bergantung pada pasokan bahan baku, komponen, dan mesin dari luar negeri.<\/p>\n<p>Kelompok barang dengan nilai impor terbesar masih didominasi oleh mesin dan peralatan mekanis beserta bagiannya yang mencapai US$16,16 miliar atau meningkat 16,92 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Posisi kedua ditempati mesin dan perlengkapan elektrik sebesar US$13,95 miliar dengan pertumbuhan 14,48 persen. Kedua kelompok barang tersebut secara bersama-sama mencerminkan tingginya aktivitas investasi maupun ekspansi kapasitas produksi berbagai sektor industri di Indonesia. Mesin produksi merupakan fondasi bagi peningkatan produktivitas, sehingga kenaikan impornya sering kali menjadi indikator bertambahnya aktivitas manufaktur.<\/p>\n<p>Selain mesin, impor plastik dan barang dari plastik meningkat 15,83 persen menjadi US$4,92 miliar. Besi dan baja juga naik 6,26 persen menjadi US$4,34 miliar, sedangkan berbagai produk kimia meningkat cukup tinggi sebesar 34,94 persen. Bahan bakar mineral bahkan melonjak hingga 40,48 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan berbagai kelompok barang tersebut menunjukkan bahwa industri nasional masih membutuhkan pasokan bahan baku dari luar negeri untuk menjaga kesinambungan produksi.<\/p>\n<p data-start=\"62\" data-end=\"983\">Sebaliknya, beberapa kelompok barang mengalami penurunan. Impor logam mulia dan perhiasan turun 10,99 persen, kendaraan dan bagiannya berkurang 4,19 persen, sedangkan bahan kimia organik turun 2,05 persen. Penurunan tersebut relatif tidak mengubah struktur impor nasional karena kontribusi terbesar tetap berasal dari kelompok mesin, peralatan industri, serta bahan baku manufaktur.<\/p>\n<p>Sepuluh kelompok barang utama memberikan kontribusi sekitar 59,44 persen terhadap seluruh impor nonmigas Indonesia. Hal tersebut memperlihatkan bahwa aktivitas industri nasional masih sangat ditentukan oleh kelancaran pasokan komponen produksi dari pasar internasional.<\/p>\n<p class=\"PDq2pG_selectionAnchorContainer\" data-section-id=\"1emnmn3\" data-start=\"5911\" data-end=\"5956\"><span role=\"text\"><em data-start=\"5914\" data-end=\"5956\">Bahan Baku Menjadi Penggerak Utama Impor<\/em><\/span><\/p>\n<p data-start=\"5958\" data-end=\"6561\">Apabila dilihat berdasarkan penggunaannya, karakter impor Indonesia semakin memperlihatkan orientasi produktif. Selama Januari\u2013Mei 2026, kelompok bahan baku dan barang penolong menyumbang sekitar 71,32 persen dari seluruh impor nasional dengan nilai mencapai US$79,40 miliar. Dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, kelompok ini meningkat sebesar US$10,00 miliar atau sekitar 14,41 persen. Besarnya kontribusi bahan baku menunjukkan bahwa sektor industri nasional masih sangat bergantung pada pasokan luar negeri untuk mempertahankan kapasitas produksinya.<\/p>\n<p class=\"PDq2pG_selectionAnchorContainer\" data-start=\"6563\" data-end=\"7102\">Kelompok barang modal menempati posisi kedua dengan nilai impor sebesar US$22,12 miliar atau sekitar 19,87 persen dari total impor. Pertumbuhan kelompok ini mencapai 17,53 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan impor barang modal biasanya berkaitan dengan investasi baru, pembangunan pabrik, modernisasi mesin, maupun peningkatan kapasitas industri. Dengan demikian, pertumbuhan impor barang modal dapat dipandang sebagai sinyal bahwa dunia usaha masih melakukan ekspansi meskipun perekonomian global menghadapi berbagai tantangan.<\/p>\n<p data-start=\"7104\" data-end=\"7607\">Sementara itu, barang konsumsi hanya memberikan kontribusi sekitar 8,81 persen terhadap total impor dengan nilai US$9,81 miliar. Walaupun meningkat 17,05 persen dibandingkan tahun sebelumnya, proporsi barang konsumsi tetap jauh lebih kecil dibandingkan bahan baku maupun barang modal. Komposisi tersebut memperlihatkan bahwa kenaikan impor Indonesia lebih banyak didorong oleh kebutuhan produksi daripada peningkatan konsumsi masyarakat terhadap produk luar negeri.<\/p>\n<p class=\"PDq2pG_selectionAnchorContainer\" data-section-id=\"1g0wc0g\" data-start=\"7609\" data-end=\"7660\"><span role=\"text\"><em data-start=\"7612\" data-end=\"7660\">Impor yang Tumbuh Bukan Selalu Menjadi Ancaman<\/em><\/span><\/p>\n<p data-start=\"7662\" data-end=\"8186\">Dalam banyak kesempatan, kenaikan impor sering dipersepsikan sebagai tanda melemahnya daya saing ekonomi nasional. Namun, struktur impor Indonesia sepanjang Januari\u2013Mei 2026 justru menunjukkan gambaran yang berbeda. Dominasi bahan baku, mesin, serta barang modal mengindikasikan bahwa kenaikan impor sebagian besar digunakan untuk menggerakkan aktivitas industri dalam negeri. Barang-barang tersebut kemudian diolah menjadi produk bernilai tambah yang dipasarkan di pasar domestik maupun diekspor kembali ke berbagai negara.<\/p>\n<p data-start=\"8188\" data-end=\"8724\">Dengan kata lain, peningkatan impor kali ini lebih mencerminkan meningkatnya aktivitas produksi daripada membanjirnya barang konsumsi. Tantangan sesungguhnya bukanlah bagaimana menekan impor secara keseluruhan, melainkan bagaimana memperbesar kemampuan industri nasional memproduksi bahan baku, komponen, dan mesin di dalam negeri sehingga ketergantungan terhadap impor dapat berkurang secara bertahap. Upaya tersebut akan memperkuat struktur industri nasional sekaligus meningkatkan nilai tambah yang dihasilkan perekonomian Indonesia.<\/p>\n<p><strong>Neraca Perdagangan Menghadapi Tekanan Baru<\/strong><\/p>\n<p>Peningkatan impor yang lebih cepat dibandingkan ekspor memberikan konsekuensi terhadap neraca perdagangan Indonesia. Selama Januari\u2013Mei 2026, Indonesia masih mencatat surplus perdagangan sebesar US$4,03 miliar. Surplus tersebut sepenuhnya ditopang oleh perdagangan nonmigas yang menghasilkan surplus US$16,31 miliar. Namun, capaian tersebut harus mengompensasi defisit perdagangan migas yang mencapai US$12,28 miliar. Dengan kata lain, keunggulan perdagangan Indonesia masih bergantung pada kemampuan sektor nonmigas menghasilkan devisa dalam jumlah yang lebih besar dibandingkan kebutuhan impor nasional.<\/p>\n<p>Kondisi tersebut berbeda apabila dilihat secara bulanan. Pada Mei 2026, Indonesia justru mengalami defisit perdagangan sebesar US$1,61 miliar. Defisit tersebut berasal dari sektor migas yang mencatat kekurangan sebesar US$3,76 miliar, sedangkan sektor nonmigas masih membukukan surplus sebesar US$2,15 miliar. Perubahan dari surplus menjadi defisit bulanan menunjukkan bahwa kenaikan impor, terutama pada sektor energi, mampu menggerus kelebihan devisa yang dihasilkan ekspor nonmigas.<\/p>\n<p>Meskipun demikian, apabila dibandingkan dengan berbagai negara yang mengalami defisit perdagangan kronis, posisi Indonesia masih relatif lebih baik. Surplus kumulatif selama lima bulan pertama tahun 2026 menunjukkan bahwa fondasi perdagangan nasional masih cukup kuat, meskipun ruang surplus tersebut semakin menyempit akibat pertumbuhan impor yang jauh lebih tinggi dibandingkan ekspor.<\/p>\n<p><em>Defisit Migas Menjadi Tantangan Struktural<\/em><\/p>\n<p>Salah satu persoalan yang terus membayangi perdagangan Indonesia adalah besarnya defisit pada sektor migas. Selama Januari\u2013Mei 2026, impor migas mencapai US$17,45 miliar, sedangkan ekspor migas hanya sebesar US$5,17 miliar. Selisih tersebut menghasilkan defisit lebih dari US$12 miliar hanya dalam lima bulan pertama tahun ini.<\/p>\n<p>Besarnya defisit migas menunjukkan bahwa kebutuhan energi nasional masih belum mampu dipenuhi oleh produksi dalam negeri. Peningkatan impor hasil minyak yang mencapai lebih dari 32 persen dibandingkan tahun sebelumnya memperlihatkan tingginya konsumsi energi masyarakat maupun dunia industri. Di sisi lain, produksi minyak domestik belum mampu mengikuti pertumbuhan kebutuhan nasional sehingga Indonesia masih bergantung pada pasokan dari luar negeri.<\/p>\n<p>Kondisi tersebut bukan hanya berdampak terhadap neraca perdagangan, tetapi juga terhadap stabilitas nilai tukar, inflasi, dan kebutuhan devisa. Ketika harga minyak dunia meningkat, beban impor migas akan ikut bertambah sehingga tekanan terhadap neraca perdagangan menjadi semakin besar. Oleh karena itu, penguatan sektor energi melalui peningkatan produksi domestik, pengembangan energi baru terbarukan, serta efisiensi konsumsi energi akan menjadi faktor penting dalam memperbaiki struktur perdagangan Indonesia pada masa mendatang.<\/p>\n<p><em>Industri Pengolahan Menjadi Penyelamat Perdagangan<\/em><\/p>\n<p>Di tengah besarnya defisit migas, sektor industri pengolahan kembali membuktikan perannya sebagai penopang utama perdagangan nasional. Kontribusi industri pengolahan yang mencapai lebih dari 82 persen terhadap total ekspor menunjukkan bahwa nilai tambah menjadi kunci utama dalam menghasilkan devisa.<\/p>\n<p>Keberhasilan ekspor produk nikel, minyak sawit olahan, kendaraan bermotor, mesin, serta berbagai produk manufaktur menunjukkan bahwa transformasi industri mulai menghasilkan dampak nyata. Nilai ekspor yang meningkat pada berbagai komoditas tersebut mampu menutupi pelemahan yang terjadi pada sektor pertanian maupun beberapa komoditas tambang.<\/p>\n<p>Ke depan, tantangan terbesar bukan lagi meningkatkan volume ekspor semata, melainkan memperbesar kandungan teknologi dan nilai tambah pada setiap produk yang dipasarkan ke luar negeri. Semakin tinggi tingkat pengolahan suatu produk, semakin besar pula devisa yang dapat dihasilkan tanpa harus meningkatkan eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan.<\/p>\n<p><em>Ketergantungan Terhadap Rantai Pasok Global<\/em><\/p>\n<p>Data perdagangan juga memperlihatkan bahwa Indonesia masih memiliki ketergantungan yang cukup tinggi terhadap rantai pasok internasional. Di sisi ekspor, Tiongkok menjadi pasar utama berbagai komoditas Indonesia. Di sisi impor, negara yang sama juga menjadi pemasok terbesar bahan baku, mesin, serta komponen industri.<\/p>\n<p>Hubungan tersebut memberikan keuntungan karena Indonesia memperoleh pasar yang besar sekaligus akses terhadap berbagai kebutuhan produksi. Namun, kondisi tersebut juga mengandung risiko apabila terjadi perlambatan ekonomi, perubahan kebijakan perdagangan, ataupun gangguan rantai pasok global. Gangguan pada satu negara dapat memengaruhi aktivitas produksi dalam negeri sekaligus mengurangi permintaan terhadap ekspor Indonesia.<\/p>\n<p>Karena itu, diversifikasi menjadi strategi yang semakin penting. Indonesia perlu memperluas pasar ekspor ke berbagai kawasan baru, termasuk Timur Tengah, Afrika, Asia Selatan, dan Amerika Latin. Pada saat yang sama, sumber impor bahan baku dan komponen industri juga perlu diperluas agar risiko ketergantungan terhadap satu negara dapat dikurangi.<\/p>\n<p><em>Impor Produktif Perlu Diimbangi Penguatan Industri Domestik<\/em><\/p>\n<p>Peningkatan impor bahan baku dan barang modal sebenarnya menunjukkan optimisme pelaku usaha terhadap prospek ekonomi nasional. Mesin produksi yang lebih modern akan meningkatkan produktivitas industri, sementara pasokan bahan baku yang memadai memungkinkan pabrik beroperasi pada kapasitas yang lebih tinggi.<\/p>\n<p>Namun, dalam jangka panjang Indonesia perlu mulai mengurangi ketergantungan terhadap impor berbagai komponen strategis. Industri petrokimia, baja, elektronik, semikonduktor, mesin industri, hingga bahan baku farmasi merupakan beberapa sektor yang masih memiliki peluang besar untuk dikembangkan di dalam negeri.<\/p>\n<p>Semakin besar kemampuan Indonesia memproduksi sendiri kebutuhan industrinya, semakin kecil tekanan terhadap neraca perdagangan. Selain mengurangi impor, pengembangan industri tersebut juga berpotensi menciptakan lapangan kerja baru, meningkatkan investasi, serta memperluas basis ekspor nasional.<\/p>\n<p><em>Prospek Perdagangan Indonesia<\/em><\/p>\n<p>Melihat perkembangan selama Januari\u2013Mei 2026, perdagangan Indonesia sebenarnya masih berada pada jalur yang relatif positif. Ekspor tetap tumbuh secara kumulatif, industri pengolahan terus memperkuat kontribusinya, dan aktivitas impor menunjukkan bahwa sektor produksi masih bergerak cukup aktif.<\/p>\n<p>Namun demikian, sejumlah tantangan masih harus diantisipasi. Pelemahan permintaan global dapat mengurangi laju ekspor, sementara tingginya impor migas berpotensi terus menekan neraca perdagangan. Di sisi lain, ketergantungan terhadap bahan baku impor menunjukkan bahwa transformasi industri nasional masih belum sepenuhnya selesai.<\/p>\n<p>Apabila hilirisasi terus diperluas, investasi manufaktur meningkat, dan industri dalam negeri semakin mampu memproduksi komponen strategis, Indonesia memiliki peluang untuk memperbesar surplus perdagangan secara lebih berkelanjutan. Diversifikasi pasar ekspor serta peningkatan kualitas produk juga akan menjadi faktor penting dalam menjaga daya saing di tengah persaingan global yang semakin ketat.<\/p>\n<p><em>Penutup<\/em><\/p>\n<p>Perkembangan perdagangan Indonesia pada Januari\u2013Mei 2026 memperlihatkan dua wajah yang berjalan bersamaan. Pertama, ekspor nonmigas semakin kuat sebagai sumber utama devisa melalui pertumbuhan industri pengolahan dan hilirisasi berbagai komoditas strategis. Kedua, impor meningkat pesat karena kebutuhan bahan baku, barang modal, dan energi yang terus bertambah seiring berkembangnya aktivitas ekonomi domestik.<\/p>\n<p>Surplus perdagangan sebesar US$4,03 miliar menunjukkan bahwa fondasi perdagangan Indonesia masih tetap terjaga. Namun, defisit perdagangan pada Mei 2026 menjadi pengingat bahwa keseimbangan tersebut semakin sensitif terhadap kenaikan impor, terutama pada sektor migas. Oleh sebab itu, keberhasilan perdagangan Indonesia pada masa mendatang tidak hanya ditentukan oleh kemampuan meningkatkan ekspor, tetapi juga oleh keberhasilan memperkuat industri nasional, mengurangi ketergantungan terhadap impor strategis, memperluas pasar internasional, serta meningkatkan nilai tambah setiap produk yang dihasilkan. Dengan fondasi tersebut, perdagangan Indonesia tidak hanya mampu bertahan menghadapi ketidakpastian global, tetapi juga berpeluang menjadi salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi nasional dalam jangka panjang.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Beritadaerah-Kolom) Perdagangan internasional Indonesia pada 2026 memperlihatkan gambaran yang lebih kompleks dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Di satu sisi, aktivitas ekspor masih mampu mempertahankan pertumbuhan secara kumulatif meskipun menghadapi tekanan permintaan global. Di sisi lain, impor meningkat jauh lebih cepat karena kebutuhan industri dalam negeri terhadap bahan baku, barang modal, dan berbagai komponen produksi terus bertambah. Kombinasi kedua kondisi tersebut menghasilkan dinamika baru dalam struktur perdagangan Indonesia, yaitu pertumbuhan ekonomi yang semakin ditopang oleh aktivitas manufaktur dan hilirisasi, tetapi pada saat [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":13,"featured_media":292049,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"kia_subtitle":""},"categories":[3,7,6,176],"tags":[3736],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v19.4 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Menjaga Daya Saing Perdagangan di Tengah Gelombang Ketidakpastian - Berita Daerah<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/07\/09\/menjaga-daya-saing-perdagangan-di-tengah-gelombang-ketidakpastian\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Menjaga Daya Saing Perdagangan di Tengah Gelombang Ketidakpastian - Berita Daerah\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"(Beritadaerah-Kolom) Perdagangan internasional Indonesia pada 2026 memperlihatkan gambaran yang lebih kompleks dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Di satu sisi, aktivitas ekspor masih mampu mempertahankan pertumbuhan secara kumulatif meskipun menghadapi tekanan permintaan global. Di sisi lain, impor meningkat jauh lebih cepat karena kebutuhan industri dalam negeri terhadap bahan baku, barang modal, dan berbagai komponen produksi terus bertambah. Kombinasi kedua kondisi tersebut menghasilkan dinamika baru dalam struktur perdagangan Indonesia, yaitu pertumbuhan ekonomi yang semakin ditopang oleh aktivitas manufaktur dan hilirisasi, tetapi pada saat [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/07\/09\/menjaga-daya-saing-perdagangan-di-tengah-gelombang-ketidakpastian\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Berita Daerah\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-07-09T09:28:50+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/ilustrasi-perdagangan.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"910\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"580\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Fadjar Ari Dewanto\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Fadjar Ari Dewanto\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"14 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/\",\"name\":\"Berita Daerah\",\"description\":\"Berita Ekonomi, Investasi dan kegiatan daerah\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/07\/09\/menjaga-daya-saing-perdagangan-di-tengah-gelombang-ketidakpastian\/\",\"url\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/07\/09\/menjaga-daya-saing-perdagangan-di-tengah-gelombang-ketidakpastian\/\",\"name\":\"Menjaga Daya Saing Perdagangan di Tengah Gelombang Ketidakpastian - Berita Daerah\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#website\"},\"datePublished\":\"2026-07-09T09:28:50+00:00\",\"dateModified\":\"2026-07-09T09:28:50+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/85ed2f5492b68a7b853f8eb53fbab73b\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/07\/09\/menjaga-daya-saing-perdagangan-di-tengah-gelombang-ketidakpastian\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/07\/09\/menjaga-daya-saing-perdagangan-di-tengah-gelombang-ketidakpastian\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/07\/09\/menjaga-daya-saing-perdagangan-di-tengah-gelombang-ketidakpastian\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Menjaga Daya Saing Perdagangan di Tengah Gelombang Ketidakpastian\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/85ed2f5492b68a7b853f8eb53fbab73b\",\"name\":\"Fadjar Ari Dewanto\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/551e2d24aaf1f2eac4a2857f7d83b8bd?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/551e2d24aaf1f2eac4a2857f7d83b8bd?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Fadjar Ari Dewanto\"},\"description\":\"Editor in Chief Vibiz Media Network, Coordinating Partner of Business Advisory Vibiz Consulting.\",\"sameAs\":[\"http:\/\/www.beritadaerah.co.id\"],\"url\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/author\/fajar-ari-dewanto\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Menjaga Daya Saing Perdagangan di Tengah Gelombang Ketidakpastian - Berita Daerah","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/07\/09\/menjaga-daya-saing-perdagangan-di-tengah-gelombang-ketidakpastian\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Menjaga Daya Saing Perdagangan di Tengah Gelombang Ketidakpastian - Berita Daerah","og_description":"(Beritadaerah-Kolom) Perdagangan internasional Indonesia pada 2026 memperlihatkan gambaran yang lebih kompleks dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Di satu sisi, aktivitas ekspor masih mampu mempertahankan pertumbuhan secara kumulatif meskipun menghadapi tekanan permintaan global. Di sisi lain, impor meningkat jauh lebih cepat karena kebutuhan industri dalam negeri terhadap bahan baku, barang modal, dan berbagai komponen produksi terus bertambah. Kombinasi kedua kondisi tersebut menghasilkan dinamika baru dalam struktur perdagangan Indonesia, yaitu pertumbuhan ekonomi yang semakin ditopang oleh aktivitas manufaktur dan hilirisasi, tetapi pada saat [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/07\/09\/menjaga-daya-saing-perdagangan-di-tengah-gelombang-ketidakpastian\/","og_site_name":"Berita Daerah","article_published_time":"2026-07-09T09:28:50+00:00","og_image":[{"width":910,"height":580,"url":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/wp-content\/uploads\/2020\/10\/ilustrasi-perdagangan.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Fadjar Ari Dewanto","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Fadjar Ari Dewanto","Est. reading time":"14 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#website","url":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/","name":"Berita Daerah","description":"Berita Ekonomi, Investasi dan kegiatan daerah","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/07\/09\/menjaga-daya-saing-perdagangan-di-tengah-gelombang-ketidakpastian\/","url":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/07\/09\/menjaga-daya-saing-perdagangan-di-tengah-gelombang-ketidakpastian\/","name":"Menjaga Daya Saing Perdagangan di Tengah Gelombang Ketidakpastian - Berita Daerah","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#website"},"datePublished":"2026-07-09T09:28:50+00:00","dateModified":"2026-07-09T09:28:50+00:00","author":{"@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/85ed2f5492b68a7b853f8eb53fbab73b"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/07\/09\/menjaga-daya-saing-perdagangan-di-tengah-gelombang-ketidakpastian\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/07\/09\/menjaga-daya-saing-perdagangan-di-tengah-gelombang-ketidakpastian\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/07\/09\/menjaga-daya-saing-perdagangan-di-tengah-gelombang-ketidakpastian\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Menjaga Daya Saing Perdagangan di Tengah Gelombang Ketidakpastian"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/85ed2f5492b68a7b853f8eb53fbab73b","name":"Fadjar Ari Dewanto","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/551e2d24aaf1f2eac4a2857f7d83b8bd?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/551e2d24aaf1f2eac4a2857f7d83b8bd?s=96&d=mm&r=g","caption":"Fadjar Ari Dewanto"},"description":"Editor in Chief Vibiz Media Network, Coordinating Partner of Business Advisory Vibiz Consulting.","sameAs":["http:\/\/www.beritadaerah.co.id"],"url":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/author\/fajar-ari-dewanto\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/374803"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/13"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=374803"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/374803\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":374804,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/374803\/revisions\/374804"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/292049"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=374803"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=374803"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=374803"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}