{"id":374601,"date":"2026-07-02T18:56:51","date_gmt":"2026-07-02T11:56:51","guid":{"rendered":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/?p=374601"},"modified":"2026-07-02T18:58:07","modified_gmt":"2026-07-02T11:58:07","slug":"ketika-kawasan-industri-tidak-lagi-hanya-tempat-pabrik-berdiri","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/07\/02\/ketika-kawasan-industri-tidak-lagi-hanya-tempat-pabrik-berdiri\/","title":{"rendered":"Ketika Kawasan Industri Tidak Lagi Hanya Tempat Pabrik Berdiri"},"content":{"rendered":"<p data-start=\"66\" data-end=\"103\">(Beritadaerah-Kolom) Bayangkan suatu pagi pada tahun 2050.Dari kejauhan, sebuah kawasan industri tampak sama seperti yang kita kenal hari ini. Cerobong-cerobong masih menjulang tinggi, kapal pengangkut bahan baku masih hilir mudik di pelabuhan, jalur kereta dan truk logistik tetap sibuk mengantarkan berbagai komoditas menuju pabrik-pabrik yang beroperasi tanpa henti. Aktivitas produksi berlangsung selama dua puluh empat jam, menghasilkan baja, semen, nikel, aluminium, hingga berbagai produk manufaktur yang menopang pertumbuhan ekonomi.<\/p>\n<p data-start=\"590\" data-end=\"667\">Namun ketika diamati lebih dekat, hampir seluruh cara kerjanya telah berubah.Listrik yang menggerakkan mesin produksi tidak lagi sepenuhnya berasal dari pembangkit berbahan bakar fosil. Sebagian dipasok oleh pembangkit energi terbarukan yang dibangun bersama oleh seluruh penghuni kawasan. Panas yang sebelumnya terbuang dari satu pabrik kini menjadi sumber energi bagi pabrik lain. Instalasi pengolahan air digunakan secara kolektif. Limbah industri tidak lagi dipandang sebagai beban, tetapi sebagai bahan baku baru dalam rantai produksi. Bahkan emisi karbon dari seluruh perusahaan dipantau melalui satu sistem kawasan sehingga setiap ton emisi dapat dihitung, dikendalikan, dan secara bertahap dikurangi.<\/p>\n<p data-start=\"1302\" data-end=\"1440\">Di kawasan seperti itu, perusahaan tidak lagi berdiri sendiri. Mereka menjadi bagian dari sebuah ekosistem industri yang saling terhubung.Gambaran tersebut bukan sekadar imajinasi. Itulah arah transformasi yang mulai dipersiapkan Indonesia melalui pengembangan Net Zero Industrial Precinct (NZIP) atau kawasan industri menuju emisi nol bersih.<\/p>\n<p data-start=\"1653\" data-end=\"2271\">Perubahan paradigma ini muncul karena persoalan emisi industri ternyata tidak tersebar secara merata. Sekitar 41 persen emisi sektor industri Indonesia berasal dari kelompok industri yang dikenal sebagai <em data-start=\"1857\" data-end=\"1880\">hard-to-abate sectors<\/em>, yaitu sektor-sektor yang secara teknologi masih sulit mengurangi emisi karbon, seperti industri baja, semen, nikel, aluminium, dan berbagai industri berat lainnya. Menariknya, sebagian besar industri tersebut justru terkonsentrasi pada sejumlah kawasan industri utama. Artinya, apabila transformasi dilakukan di tingkat kawasan, manfaatnya dapat dirasakan oleh banyak perusahaan sekaligus.Cara berpikir inilah yang menjadi dasar lahirnya pendekatan berbasis lokasi (<em data-start=\"2350\" data-end=\"2372\">place-based approach<\/em>) dalam program NZIP.<\/p>\n<p data-start=\"2395\" data-end=\"2892\">Selama puluhan tahun, kawasan industri dipahami sebagai lokasi berkumpulnya pabrik. Perannya adalah menyediakan lahan, membangun jalan, menghadirkan pelabuhan, jaringan listrik, air baku, hingga berbagai kemudahan investasi. Model tersebut berhasil mendorong industrialisasi Indonesia sejak kawasan industri milik negara mulai berkembang pada dekade 1970-an, berlanjut dengan tumbuhnya kawasan industri swasta pada era 1990-an, hingga berkembang menjadi kawasan industri modern setelah tahun 2009.<\/p>\n<p data-start=\"2894\" data-end=\"2941\">Kini, fungsi tersebut dinilai tidak lagi cukup.Persaingan industri global mulai bergeser. Negara-negara tujuan ekspor semakin memperhatikan jejak karbon suatu produk. Investor tidak lagi hanya menilai biaya produksi, tetapi juga mempertimbangkan sumber energi, efisiensi penggunaan sumber daya, serta komitmen keberlanjutan suatu kawasan industri. Dalam situasi seperti itu, kawasan industri dituntut menjadi motor transformasi menuju industri rendah karbon.<\/p>\n<p data-start=\"3356\" data-end=\"3688\">Karena itu, pemerintah mulai menyusun strategi baru pengembangan kawasan industri nasional. Strategi pertama adalah mempercepat pembangunan kawasan industri prioritas melalui penyelesaian berbagai persyaratan dasar, mulai dari kesesuaian tata ruang, persetujuan lingkungan, pengadaan lahan, hingga pembangunan infrastruktur kawasan.Strategi kedua diarahkan kepada kawasan industri yang telah beroperasi. Fokusnya bukan lagi sekadar meningkatkan jumlah tenant, tetapi meningkatkan produktivitas, efisiensi, nilai tambah sumber daya alam, tingkat okupansi kawasan, promosi investasi internasional, serta penguatan kepatuhan terhadap berbagai standar kawasan industri.<\/p>\n<p data-start=\"4025\" data-end=\"4382\">Transformasi tersebut kemudian melahirkan konsep Kawasan Industri Hijau, sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2024. Dalam regulasi tersebut, kawasan industri hijau dipahami sebagai kawasan industri yang mengintegrasikan aspek ekonomi, lingkungan, sosial, dan tata kelola ke dalam seluruh proses pembangunan maupun pengelolaannya.Konsep ini bukan sekadar mengganti sumber energi dari batu bara menjadi energi terbarukan. Perubahannya jauh lebih mendasar.<\/p>\n<p data-start=\"4510\" data-end=\"4829\">Kawasan industri hijau mengadopsi konsep Eco Industrial Park (EIP), yaitu kawasan industri yang dibangun berdasarkan prinsip efisiensi sumber daya, ekonomi sirkular, industrial symbiosis, penggunaan teknologi rendah karbon, efisiensi energi, hingga keterlibatan usaha kecil dan menengah dalam rantai pasok industri.Salah satu konsep yang paling menarik adalah industrial symbiosis.Dalam model ini, seluruh perusahaan di dalam kawasan tidak lagi bekerja sebagai entitas yang terpisah. Mereka berbagi berbagai fasilitas bersama, mulai dari instalasi pengolahan air limbah, jaringan distribusi energi, fasilitas logistik, pusat pelatihan tenaga kerja, hingga berbagai infrastruktur pendukung lainnya.<\/p>\n<p data-start=\"5221\" data-end=\"5613\">Bahkan hubungan tersebut dapat berkembang lebih jauh. Limbah panas dari satu industri dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi oleh industri lain. Air hasil pengolahan dapat digunakan kembali untuk proses produksi. Produk samping yang sebelumnya dibuang dapat menjadi bahan baku perusahaan lain. Dengan demikian, konsumsi energi, bahan baku, dan biaya produksi dapat ditekan secara bersamaan.Pendekatan seperti ini tidak hanya mengurangi emisi karbon, tetapi juga meningkatkan efisiensi ekonomi kawasan secara keseluruhan.<\/p>\n<p data-start=\"5747\" data-end=\"6131\">Untuk mendukung transformasi tersebut, berbagai teknologi mulai dipertimbangkan sebagai bagian dari infrastruktur kawasan industri masa depan. Mulai dari Carbon Capture and Storage (CCS), instalasi pengolahan air limbah terpadu, pembangkit energi baru terbarukan, <em data-start=\"6015\" data-end=\"6032\">waste to energy<\/em>, hingga berbagai teknologi ekonomi sirkular yang memungkinkan sumber daya digunakan berulang kali.<\/p>\n<p data-start=\"6133\" data-end=\"6460\">Langkah menuju kawasan industri hijau sebenarnya telah dimulai beberapa tahun lalu melalui proyek Eco Industrial Park yang dikembangkan bersama United Nations Industrial Development Organization (UNIDO). Tahap pertama berlangsung pada periode 2020\u20132023 di kawasan industri MM2100 Bekasi, Batamindo Batam, dan KIIC Karawang.<\/p>\n<p data-start=\"6462\" data-end=\"6662\">Program tersebut kemudian diperluas pada fase kedua sejak tahun 2024 melalui pengembangan Kawasan Industri Medan, Kota Deltamas, pembangunan EIP Center, serta pengembangan kawasan industri hijau baru.Sementara itu, program NZIP membawa pendekatan tersebut ke tingkat yang lebih luas.Alih-alih hanya memperbaiki pengelolaan kawasan, NZIP mencoba menyusun jalur transisi menuju emisi nol bersih bagi seluruh kawasan industri.<\/p>\n<p data-start=\"6891\" data-end=\"6940\">Empat kawasan dipilih sebagai proyek percontohan.Di Halmahera, fokus diarahkan pada industri nikel dengan Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP). Di Sumatera Utara, pendekatan diterapkan pada kawasan industri oleokimia dan aluminium melalui KEK Sei Mangkei serta PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum). Di Tuban, perhatian diberikan kepada industri semen melalui Kawasan Industri Tuban bersama PT Semen Indonesia dan PT Solusi Bangun Indonesia. Sementara di Cilegon, transformasi diarahkan kepada industri besi dan baja melalui Krakatau Industrial Estate Cilegon, PT Krakatau Steel, dan PT Krakatau Posco.<\/p>\n<p data-start=\"7503\" data-end=\"7727\">Keempat kawasan tersebut dipilih bukan secara kebetulan. Seluruhnya merupakan pusat industri yang menghasilkan emisi besar sekaligus memiliki potensi terbesar untuk menurunkan emisi melalui pembangunan infrastruktur bersama.Dalam program NZIP, penyusunan peta jalan tidak hanya menghitung penurunan emisi karbon. Kajian juga mencakup kebutuhan energi, kesiapan teknologi, pemodelan emisi, analisis investasi, proyeksi permintaan produk hijau, hingga kesiapan tenaga kerja agar proses transisi berlangsung secara adil.<\/p>\n<p data-start=\"8024\" data-end=\"8145\">Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa dekarbonisasi bukan semata-mata persoalan lingkungan, tetapi juga strategi ekonomi.Bayangkan jika sebuah kawasan industri berhasil menghasilkan baja, semen, atau nikel dengan jejak karbon jauh lebih rendah dibandingkan pesaingnya. Produk tersebut akan memiliki peluang lebih besar memasuki pasar internasional yang mulai menerapkan standar karbon ketat.<\/p>\n<p data-start=\"8419\" data-end=\"8714\">Karena itu, NZIP juga menempatkan pengembangan pasar sebagai bagian penting dari transformasi industri. Kajian dilakukan terhadap permintaan produk hijau di pasar domestik maupun global, termasuk berbagai kebijakan yang dapat memperluas akses pasar dan meningkatkan daya saing industri nasional.<\/p>\n<p data-start=\"8716\" data-end=\"8943\">Pada saat yang sama, kebutuhan investasi juga dipetakan secara rinci. Berbagai skenario pembiayaan disiapkan agar proyek-proyek dekarbonisasi tidak berhenti hanya sebagai wacana, tetapi benar-benar dapat menarik minat investor.Seluruh proses tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam tiga skenario transisi.Skenario pertama adalah Business as Usual, yaitu kondisi ketika industri tetap berjalan mengikuti tren dan kebijakan yang berlaku saat ini dengan upaya dekarbonisasi yang relatif terbatas.<\/p>\n<p data-start=\"9220\" data-end=\"9445\">Skenario kedua adalah Planned Targets, yaitu jalur transisi yang mengadopsi teknologi rendah karbon secara bertahap melalui peningkatan efisiensi energi, pemanfaatan energi terbarukan, serta elektrifikasi yang lebih luas.Sedangkan skenario ketiga merupakan Kerangka Net Zero, yaitu jalur transformasi paling ambisius yang mengandalkan elektrifikasi industri secara masif, hidrogen hijau, energi terbarukan, teknologi penangkapan karbon, serta berbagai inovasi industri maju untuk mencapai target emisi nol bersih.<\/p>\n<p data-start=\"9745\" data-end=\"10037\">Perbedaan ketiga skenario tersebut menunjukkan bahwa dekarbonisasi bukanlah keputusan hitam putih. Selalu ada pilihan mengenai seberapa cepat transformasi dilakukan, berapa besar investasi yang dibutuhkan, serta teknologi apa yang paling sesuai dengan karakter masing-masing kawasan industri.Yang menarik, konsep NZIP juga memandang kawasan industri sebagai penyedia berbagai fasilitas bersama yang selama ini terlalu mahal jika dibangun sendiri oleh setiap perusahaan.<\/p>\n<p data-start=\"10218\" data-end=\"10556\">Misalnya fasilitas regasifikasi LNG atau hidrogen yang melayani seluruh tenant kawasan, pembangkit listrik rendah karbon berskala kawasan, jaringan listrik internal, pelabuhan dan logistik terpadu, sistem pelaporan emisi yang terintegrasi, pengelolaan limbah bersama, hingga program rehabilitasi mangrove sebagai penyerap karbon kolektif.Pendekatan seperti ini membuat biaya investasi dapat dibagi bersama sehingga beban transformasi masing-masing perusahaan menjadi lebih ringan.<\/p>\n<p data-start=\"10702\" data-end=\"10841\">Keberhasilan kawasan industri hijau tidak akan diukur semata-mata dari berapa juta ton emisi karbon yang berhasil dikurangi.Keberhasilannya justru akan terlihat ketika kawasan tersebut mampu tetap menarik investasi, mempertahankan daya saing industri nasional, membuka akses terhadap pasar produk hijau, menciptakan lapangan kerja baru, serta menjaga pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang.Mungkin dua puluh atau tiga puluh tahun lagi, ketika seseorang berdiri di depan sebuah kawasan industri modern di Indonesia, ia masih akan melihat cerobong asap, pelabuhan, rel kereta, dan lalu lintas truk yang sibuk seperti hari ini.<\/p>\n<p data-start=\"11349\" data-end=\"11427\">Namun sesungguhnya kawasan itu telah menjadi sesuatu yang sama sekali berbeda.Ia bukan lagi sekadar tempat pabrik berdiri.Ia telah berubah menjadi sebuah ekosistem yang memproduksi barang, mengelola energi, mendaur ulang sumber daya, mengurangi emisi, menarik investasi hijau, sekaligus menjaga daya saing Indonesia di tengah perubahan ekonomi global. Itulah arah baru industrialisasi Indonesia\u2014bukan hanya membangun lebih banyak kawasan industri, melainkan membangun kawasan industri yang mampu tumbuh bersama masa depan.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Beritadaerah-Kolom) Bayangkan suatu pagi pada tahun 2050.Dari kejauhan, sebuah kawasan industri tampak sama seperti yang kita kenal hari ini. Cerobong-cerobong masih menjulang tinggi, kapal pengangkut bahan baku masih hilir mudik di pelabuhan, jalur kereta dan truk logistik tetap sibuk mengantarkan berbagai komoditas menuju pabrik-pabrik yang beroperasi tanpa henti. Aktivitas produksi berlangsung selama dua puluh empat jam, menghasilkan baja, semen, nikel, aluminium, hingga berbagai produk manufaktur yang menopang pertumbuhan ekonomi. Namun ketika diamati lebih dekat, hampir seluruh cara kerjanya telah berubah.Listrik [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":13,"featured_media":273993,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"kia_subtitle":""},"categories":[6],"tags":[178],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v19.4 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Ketika Kawasan Industri Tidak Lagi Hanya Tempat Pabrik Berdiri - Berita Daerah<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/07\/02\/ketika-kawasan-industri-tidak-lagi-hanya-tempat-pabrik-berdiri\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Ketika Kawasan Industri Tidak Lagi Hanya Tempat Pabrik Berdiri - Berita Daerah\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"(Beritadaerah-Kolom) Bayangkan suatu pagi pada tahun 2050.Dari kejauhan, sebuah kawasan industri tampak sama seperti yang kita kenal hari ini. Cerobong-cerobong masih menjulang tinggi, kapal pengangkut bahan baku masih hilir mudik di pelabuhan, jalur kereta dan truk logistik tetap sibuk mengantarkan berbagai komoditas menuju pabrik-pabrik yang beroperasi tanpa henti. Aktivitas produksi berlangsung selama dua puluh empat jam, menghasilkan baja, semen, nikel, aluminium, hingga berbagai produk manufaktur yang menopang pertumbuhan ekonomi. Namun ketika diamati lebih dekat, hampir seluruh cara kerjanya telah berubah.Listrik [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/07\/02\/ketika-kawasan-industri-tidak-lagi-hanya-tempat-pabrik-berdiri\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Berita Daerah\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-07-02T11:56:51+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-07-02T11:58:07+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/wp-content\/uploads\/2019\/10\/Perdagangan-ikan-hasil-tangkapan-nelayan-di-Pelabuhan-Tobelo-Halmahera-Utara-Foto-Hendro-BD...jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"938\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"524\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Fadjar Ari Dewanto\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Fadjar Ari Dewanto\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"7 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/\",\"name\":\"Berita Daerah\",\"description\":\"Berita Ekonomi, Investasi dan kegiatan daerah\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/07\/02\/ketika-kawasan-industri-tidak-lagi-hanya-tempat-pabrik-berdiri\/\",\"url\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/07\/02\/ketika-kawasan-industri-tidak-lagi-hanya-tempat-pabrik-berdiri\/\",\"name\":\"Ketika Kawasan Industri Tidak Lagi Hanya Tempat Pabrik Berdiri - Berita Daerah\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#website\"},\"datePublished\":\"2026-07-02T11:56:51+00:00\",\"dateModified\":\"2026-07-02T11:58:07+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/85ed2f5492b68a7b853f8eb53fbab73b\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/07\/02\/ketika-kawasan-industri-tidak-lagi-hanya-tempat-pabrik-berdiri\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/07\/02\/ketika-kawasan-industri-tidak-lagi-hanya-tempat-pabrik-berdiri\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/07\/02\/ketika-kawasan-industri-tidak-lagi-hanya-tempat-pabrik-berdiri\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Ketika Kawasan Industri Tidak Lagi Hanya Tempat Pabrik Berdiri\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/85ed2f5492b68a7b853f8eb53fbab73b\",\"name\":\"Fadjar Ari Dewanto\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/551e2d24aaf1f2eac4a2857f7d83b8bd?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/551e2d24aaf1f2eac4a2857f7d83b8bd?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Fadjar Ari Dewanto\"},\"description\":\"Editor in Chief Vibiz Media Network, Coordinating Partner of Business Advisory Vibiz Consulting.\",\"sameAs\":[\"http:\/\/www.beritadaerah.co.id\"],\"url\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/author\/fajar-ari-dewanto\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Ketika Kawasan Industri Tidak Lagi Hanya Tempat Pabrik Berdiri - Berita Daerah","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/07\/02\/ketika-kawasan-industri-tidak-lagi-hanya-tempat-pabrik-berdiri\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Ketika Kawasan Industri Tidak Lagi Hanya Tempat Pabrik Berdiri - Berita Daerah","og_description":"(Beritadaerah-Kolom) Bayangkan suatu pagi pada tahun 2050.Dari kejauhan, sebuah kawasan industri tampak sama seperti yang kita kenal hari ini. Cerobong-cerobong masih menjulang tinggi, kapal pengangkut bahan baku masih hilir mudik di pelabuhan, jalur kereta dan truk logistik tetap sibuk mengantarkan berbagai komoditas menuju pabrik-pabrik yang beroperasi tanpa henti. Aktivitas produksi berlangsung selama dua puluh empat jam, menghasilkan baja, semen, nikel, aluminium, hingga berbagai produk manufaktur yang menopang pertumbuhan ekonomi. Namun ketika diamati lebih dekat, hampir seluruh cara kerjanya telah berubah.Listrik [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/07\/02\/ketika-kawasan-industri-tidak-lagi-hanya-tempat-pabrik-berdiri\/","og_site_name":"Berita Daerah","article_published_time":"2026-07-02T11:56:51+00:00","article_modified_time":"2026-07-02T11:58:07+00:00","og_image":[{"width":938,"height":524,"url":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/wp-content\/uploads\/2019\/10\/Perdagangan-ikan-hasil-tangkapan-nelayan-di-Pelabuhan-Tobelo-Halmahera-Utara-Foto-Hendro-BD...jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Fadjar Ari Dewanto","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Fadjar Ari Dewanto","Est. reading time":"7 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#website","url":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/","name":"Berita Daerah","description":"Berita Ekonomi, Investasi dan kegiatan daerah","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/07\/02\/ketika-kawasan-industri-tidak-lagi-hanya-tempat-pabrik-berdiri\/","url":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/07\/02\/ketika-kawasan-industri-tidak-lagi-hanya-tempat-pabrik-berdiri\/","name":"Ketika Kawasan Industri Tidak Lagi Hanya Tempat Pabrik Berdiri - Berita Daerah","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#website"},"datePublished":"2026-07-02T11:56:51+00:00","dateModified":"2026-07-02T11:58:07+00:00","author":{"@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/85ed2f5492b68a7b853f8eb53fbab73b"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/07\/02\/ketika-kawasan-industri-tidak-lagi-hanya-tempat-pabrik-berdiri\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/07\/02\/ketika-kawasan-industri-tidak-lagi-hanya-tempat-pabrik-berdiri\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/07\/02\/ketika-kawasan-industri-tidak-lagi-hanya-tempat-pabrik-berdiri\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Ketika Kawasan Industri Tidak Lagi Hanya Tempat Pabrik Berdiri"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/85ed2f5492b68a7b853f8eb53fbab73b","name":"Fadjar Ari Dewanto","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/551e2d24aaf1f2eac4a2857f7d83b8bd?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/551e2d24aaf1f2eac4a2857f7d83b8bd?s=96&d=mm&r=g","caption":"Fadjar Ari Dewanto"},"description":"Editor in Chief Vibiz Media Network, Coordinating Partner of Business Advisory Vibiz Consulting.","sameAs":["http:\/\/www.beritadaerah.co.id"],"url":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/author\/fajar-ari-dewanto\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/374601"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/13"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=374601"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/374601\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":374603,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/374601\/revisions\/374603"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/273993"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=374601"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=374601"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=374601"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}