{"id":374435,"date":"2026-06-29T10:47:11","date_gmt":"2026-06-29T03:47:11","guid":{"rendered":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/?p=374435"},"modified":"2026-06-29T11:05:09","modified_gmt":"2026-06-29T04:05:09","slug":"memahami-akar-krisis-pasokan-listrik-jawa-bali","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/06\/29\/memahami-akar-krisis-pasokan-listrik-jawa-bali\/","title":{"rendered":"Memahami Akar Krisis Pasokan Listrik Jawa\u2013Bali"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"770\" data-end=\"1229\">(Beritadaerah-Kolom) Pemadaman listrik bergilir yang terjadi di sistem Jawa\u2013Madura\u2013Bali pada pertengahan 2026 tidak dapat dipahami semata-mata sebagai gangguan teknis pada pembangkit listrik. Di balik padamnya pasokan listrik terdapat persoalan yang jauh lebih kompleks, yaitu bagaimana rantai pasok batu bara, mekanisme kebijakan pemerintah, serta struktur bisnis sektor kelistrikan saling memengaruhi hingga menciptakan kerentanan yang selama bertahun-tahun tidak terselesaikan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1231\" data-end=\"1790\">Gangguan yang muncul memang diawali oleh berhentinya operasi sejumlah pembangkit listrik. Namun, jika hanya melihat kerusakan mesin sebagai penyebab utama, maka persoalan sesungguhnya menjadi tertutup. Mesin pembangkit memang bisa mengalami gangguan, tetapi pembangkit listrik dirancang dengan cadangan kapasitas agar sistem tetap mampu memenuhi kebutuhan masyarakat ketika salah satu unit berhenti beroperasi. Ketika gangguan kecil justru berkembang menjadi pemadaman bergilir di berbagai wilayah, berarti terdapat kelemahan yang lebih mendasar dalam sistem.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1792\" data-end=\"2346\">Salah satu persoalan utama berada pada hubungan antara kebutuhan pembangkit dengan karakteristik batu bara yang digunakan. Tidak semua batu bara memiliki kualitas yang sama. Pembangkit listrik tertentu membutuhkan batu bara dengan nilai kalor tertentu agar proses pembakaran berlangsung optimal. Walaupun secara statistik produksi batu bara nasional sangat besar dan kewajiban pasokan domestik telah ditetapkan pemerintah, kondisi tersebut belum tentu menjamin bahwa pembangkit memperoleh jenis batu bara yang benar-benar sesuai dengan spesifikasi mesin.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2348\" data-end=\"3017\">Di atas kertas, pasokan batu bara untuk kebutuhan dalam negeri terlihat mencukupi. Pemerintah menetapkan kewajiban pasar domestik sehingga sebagian produksi nasional harus dialokasikan bagi kebutuhan dalam negeri sebelum diekspor. Akan tetapi, persoalan tidak berhenti pada besarnya volume. Yang jauh lebih menentukan adalah kesesuaian kualitas batu bara terhadap kebutuhan masing-masing pembangkit. Ketika jenis batu bara yang tersedia di pasar semakin bergeser ke kualitas yang lebih rendah, sementara pembangkit membutuhkan kualitas menengah, maka angka produksi nasional yang tinggi tidak otomatis berubah menjadi pasokan energi yang benar-benar dapat dimanfaatkan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3019\" data-end=\"3396\">Ketidaksesuaian antara kebutuhan pembangkit dan pasokan batu bara menciptakan kesenjangan yang pada akhirnya mengurangi kemampuan sistem kelistrikan menyediakan cadangan daya. Dalam kondisi normal, cadangan tersebut menjadi penyangga ketika terjadi gangguan teknis. Namun ketika pasokan energi primer sendiri mulai terganggu, ruang gerak operator sistem menjadi semakin sempit.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3398\" data-end=\"3871\">Persoalan berikutnya berkaitan dengan tata kelola distribusi batu bara. Kebutuhan pembangkit berlangsung setiap hari dan setiap bulan, sedangkan mekanisme pasokan dari produsen tidak selalu mengikuti pola tersebut. Sistem yang menggunakan perencanaan tahunan membuat kepastian pasokan bulanan menjadi kurang terjamin. Akibatnya, pembangkit dapat menghadapi situasi ketika stok batu bara turun drastis meskipun secara administratif kewajiban pasokan domestik telah dipenuhi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3873\" data-end=\"4256\">Ketidakpastian tersebut semakin besar karena pelaksanaan kewajiban pasokan domestik tidak selalu berjalan sesuai target. Realisasi pasokan yang lebih rendah daripada kebutuhan menyebabkan stok di sejumlah pembangkit terus menipis. Ketika cadangan bahan bakar hanya mampu menopang operasi dalam waktu singkat, gangguan kecil saja dapat berkembang menjadi masalah yang jauh lebih luas.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"4258\" data-end=\"4772\">Aspek lain yang turut memperumit keadaan adalah struktur insentif ekonomi yang berlaku bagi perusahaan tambang. Selama bertahun-tahun, produsen batu bara memperoleh keuntungan yang lebih besar dari ekspor dibandingkan penjualan ke pasar domestik. Perbedaan harga yang cukup besar membuat pasar ekspor menjadi tujuan utama bagi banyak perusahaan. Dalam situasi tersebut, pemenuhan kebutuhan dalam negeri cenderung dipandang sebagai kewajiban administratif, bukan sebagai pasar yang memberikan nilai ekonomi terbaik.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"4774\" data-end=\"5161\">Ketika harga internasional meningkat, daya tarik ekspor semakin besar. Sebaliknya, harga batu bara untuk kebutuhan dalam negeri tetap berada pada tingkat yang jauh lebih rendah. Selisih tersebut menciptakan dilema bagi perusahaan tambang. Mereka tetap harus memenuhi kewajiban domestik, tetapi keuntungan yang diperoleh tidak sebanding dengan potensi pendapatan dari pasar internasional.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"5163\" data-end=\"5517\">Kondisi tersebut kemudian diperburuk oleh perubahan produksi akibat pembatasan kuota. Ketika produksi menurun sementara biaya operasi tetap harus ditanggung, perusahaan semakin terdorong mengoptimalkan penjualan ke pasar yang memberikan keuntungan lebih tinggi. Situasi ini pada akhirnya mengurangi fleksibilitas pasokan bagi sektor kelistrikan nasional.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"5519\" data-end=\"6003\">Masalah juga muncul pada kelompok perusahaan tambang berskala menengah. Sebagian perusahaan menghadapi biaya produksi yang tinggi akibat karakteristik tambang yang mereka kelola. Ketika kewajiban memasok kebutuhan domestik dipadukan dengan harga yang relatif rendah, kemampuan perusahaan mempertahankan operasi menjadi semakin berat. Di sisi lain, perusahaan yang tidak memiliki akses pembiayaan memadai bergantung pada pedagang perantara sehingga posisi tawarnya menjadi lebih lemah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"6005\" data-end=\"6419\">Dalam kondisi demikian, PLN menghadapi pilihan yang tidak mudah. Sebagai operator sistem kelistrikan, perusahaan membutuhkan pasokan batu bara secara berkelanjutan. Namun sebagai pembeli, PLN terikat pada kebijakan harga yang ditetapkan pemerintah. Harga tersebut memang dirancang untuk menjaga biaya produksi listrik tetap rendah, tetapi dalam praktiknya justru menciptakan ketidakseimbangan baru di sisi pemasok.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"6421\" data-end=\"6799\">Di tengah meningkatnya biaya produksi batu bara, harga jual kepada PLN tidak berubah mengikuti perkembangan pasar. Akibatnya, semakin banyak produsen yang menganggap pasar domestik kurang menarik dibandingkan pasar ekspor. Hubungan antara penjual dan pembeli pun tidak berkembang sebagai hubungan bisnis yang saling menguntungkan, melainkan sebagai pemenuhan kewajiban regulasi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"6801\" data-end=\"7139\">Persoalan lain muncul ketika pembangkit swasta turut menghadapi keterbatasan pasokan. Dalam beberapa kasus, kontrak jual beli listrik tetap mengharuskan pembayaran meskipun pembangkit tidak menghasilkan listrik akibat kekurangan bahan bakar. Situasi tersebut menambah beban keuangan tanpa memberikan tambahan pasokan energi kepada sistem.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"7141\" data-end=\"7499\">Rangkaian persoalan tersebut menunjukkan bahwa krisis pasokan listrik sebenarnya merupakan akumulasi dari berbagai kebijakan yang saling berkaitan. Gangguan teknis hanya menjadi pemicu terakhir dari persoalan yang telah berkembang dalam waktu lama. Tanpa pembenahan pada sisi pasokan energi primer, cadangan sistem akan terus berada pada tingkat yang rentan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"7501\" data-end=\"7913\">Artikel ini juga menyoroti perlunya perubahan pendekatan dalam pengelolaan sektor kelistrikan. Harga batu bara domestik perlu disusun sedemikian rupa sehingga tetap memberikan insentif bagi produsen tanpa menghilangkan kemampuan PLN menyediakan listrik dengan biaya yang terjangkau. Di saat yang sama, kepastian kontrak pasokan perlu diperkuat agar pembangkit memperoleh jaminan bahan bakar secara berkelanjutan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"7915\" data-end=\"8267\">Proses perencanaan produksi tambang dan kebutuhan pembangkit perlu dibuat lebih selaras. Pasokan tidak cukup dihitung berdasarkan volume tahunan, tetapi harus memperhatikan kontinuitas distribusi sepanjang tahun. Dengan demikian, stok pembangkit dapat dijaga pada tingkat yang aman sehingga sistem memiliki ruang menghadapi gangguan teknis.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"8269\" data-end=\"8614\">Perbaikan juga diperlukan pada sisi regulasi agar pelaku usaha memiliki kepastian dalam menjalankan investasi jangka panjang. Dunia usaha membutuhkan aturan yang stabil sehingga keputusan investasi tidak berubah mengikuti kebijakan yang berganti dalam waktu singkat. Kepastian tersebut pada akhirnya akan memperkuat rantai pasok energi nasional.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"8616\" data-end=\"8976\">Di sisi teknis, spesifikasi pembangkit juga perlu menjadi perhatian. Ketergantungan pada jenis batu bara tertentu membuat fleksibilitas sistem menjadi terbatas. Apabila memungkinkan, pengembangan teknologi yang memungkinkan pembangkit menggunakan variasi kualitas batu bara yang lebih luas dapat menjadi salah satu langkah untuk meningkatkan ketahanan pasokan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"8978\" data-end=\"9739\" data-is-last-node=\"\" data-is-only-node=\"\">Pemadaman bergilir yang terjadi di Jawa\u2013Madura\u2013Bali memperlihatkan bahwa keandalan sistem kelistrikan tidak hanya ditentukan oleh kapasitas pembangkit. Keandalan juga bergantung pada bagaimana kebijakan pertambangan, mekanisme harga, distribusi logistik, dan tata kelola industri disusun secara selaras. Selama hubungan antarunsur tersebut belum diperbaiki, potensi terulangnya gangguan serupa akan tetap ada. Krisis ini menjadi pengingat bahwa ketahanan energi tidak cukup dibangun melalui penambahan kapasitas pembangkit, tetapi juga melalui kebijakan yang mampu menjaga kesinambungan pasokan bahan bakar, memberikan insentif yang seimbang bagi seluruh pelaku usaha, serta menciptakan sistem yang lebih adaptif terhadap perubahan kondisi pasar.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Beritadaerah-Kolom) Pemadaman listrik bergilir yang terjadi di sistem Jawa\u2013Madura\u2013Bali pada pertengahan 2026 tidak dapat dipahami semata-mata sebagai gangguan teknis pada pembangkit listrik. Di balik padamnya pasokan listrik terdapat persoalan yang jauh lebih kompleks, yaitu bagaimana rantai pasok batu bara, mekanisme kebijakan pemerintah, serta struktur bisnis sektor kelistrikan saling memengaruhi hingga menciptakan kerentanan yang selama bertahun-tahun tidak terselesaikan. Gangguan yang muncul memang diawali oleh berhentinya operasi sejumlah pembangkit listrik. Namun, jika hanya melihat kerusakan mesin sebagai penyebab utama, maka persoalan sesungguhnya [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":13,"featured_media":280173,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"kia_subtitle":""},"categories":[3,93,7,5,6,176],"tags":[326],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v19.4 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Memahami Akar Krisis Pasokan Listrik Jawa\u2013Bali - Berita Daerah<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/06\/29\/memahami-akar-krisis-pasokan-listrik-jawa-bali\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Memahami Akar Krisis Pasokan Listrik Jawa\u2013Bali - Berita Daerah\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"(Beritadaerah-Kolom) Pemadaman listrik bergilir yang terjadi di sistem Jawa\u2013Madura\u2013Bali pada pertengahan 2026 tidak dapat dipahami semata-mata sebagai gangguan teknis pada pembangkit listrik. Di balik padamnya pasokan listrik terdapat persoalan yang jauh lebih kompleks, yaitu bagaimana rantai pasok batu bara, mekanisme kebijakan pemerintah, serta struktur bisnis sektor kelistrikan saling memengaruhi hingga menciptakan kerentanan yang selama bertahun-tahun tidak terselesaikan. Gangguan yang muncul memang diawali oleh berhentinya operasi sejumlah pembangkit listrik. Namun, jika hanya melihat kerusakan mesin sebagai penyebab utama, maka persoalan sesungguhnya [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/06\/29\/memahami-akar-krisis-pasokan-listrik-jawa-bali\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Berita Daerah\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-06-29T03:47:11+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-06-29T04:05:09+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/wp-content\/uploads\/2020\/03\/Pertimbangkan-Daya-Beli-Masyarakat-Tidak-Ada-Kenaikan-Tarif-Listrik-Hingga-Juni-2020.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"659\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"425\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Fadjar Ari Dewanto\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Fadjar Ari Dewanto\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"5 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/\",\"name\":\"Berita Daerah\",\"description\":\"Berita Ekonomi, Investasi dan kegiatan daerah\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/06\/29\/memahami-akar-krisis-pasokan-listrik-jawa-bali\/\",\"url\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/06\/29\/memahami-akar-krisis-pasokan-listrik-jawa-bali\/\",\"name\":\"Memahami Akar Krisis Pasokan Listrik Jawa\u2013Bali - Berita Daerah\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#website\"},\"datePublished\":\"2026-06-29T03:47:11+00:00\",\"dateModified\":\"2026-06-29T04:05:09+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/85ed2f5492b68a7b853f8eb53fbab73b\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/06\/29\/memahami-akar-krisis-pasokan-listrik-jawa-bali\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/06\/29\/memahami-akar-krisis-pasokan-listrik-jawa-bali\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/06\/29\/memahami-akar-krisis-pasokan-listrik-jawa-bali\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Memahami Akar Krisis Pasokan Listrik Jawa\u2013Bali\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/85ed2f5492b68a7b853f8eb53fbab73b\",\"name\":\"Fadjar Ari Dewanto\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/551e2d24aaf1f2eac4a2857f7d83b8bd?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/551e2d24aaf1f2eac4a2857f7d83b8bd?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Fadjar Ari Dewanto\"},\"description\":\"Editor in Chief Vibiz Media Network, Coordinating Partner of Business Advisory Vibiz Consulting.\",\"sameAs\":[\"http:\/\/www.beritadaerah.co.id\"],\"url\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/author\/fajar-ari-dewanto\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Memahami Akar Krisis Pasokan Listrik Jawa\u2013Bali - Berita Daerah","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/06\/29\/memahami-akar-krisis-pasokan-listrik-jawa-bali\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Memahami Akar Krisis Pasokan Listrik Jawa\u2013Bali - Berita Daerah","og_description":"(Beritadaerah-Kolom) Pemadaman listrik bergilir yang terjadi di sistem Jawa\u2013Madura\u2013Bali pada pertengahan 2026 tidak dapat dipahami semata-mata sebagai gangguan teknis pada pembangkit listrik. Di balik padamnya pasokan listrik terdapat persoalan yang jauh lebih kompleks, yaitu bagaimana rantai pasok batu bara, mekanisme kebijakan pemerintah, serta struktur bisnis sektor kelistrikan saling memengaruhi hingga menciptakan kerentanan yang selama bertahun-tahun tidak terselesaikan. Gangguan yang muncul memang diawali oleh berhentinya operasi sejumlah pembangkit listrik. Namun, jika hanya melihat kerusakan mesin sebagai penyebab utama, maka persoalan sesungguhnya [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/06\/29\/memahami-akar-krisis-pasokan-listrik-jawa-bali\/","og_site_name":"Berita Daerah","article_published_time":"2026-06-29T03:47:11+00:00","article_modified_time":"2026-06-29T04:05:09+00:00","og_image":[{"width":659,"height":425,"url":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/wp-content\/uploads\/2020\/03\/Pertimbangkan-Daya-Beli-Masyarakat-Tidak-Ada-Kenaikan-Tarif-Listrik-Hingga-Juni-2020.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Fadjar Ari Dewanto","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Fadjar Ari Dewanto","Est. reading time":"5 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#website","url":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/","name":"Berita Daerah","description":"Berita Ekonomi, Investasi dan kegiatan daerah","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/06\/29\/memahami-akar-krisis-pasokan-listrik-jawa-bali\/","url":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/06\/29\/memahami-akar-krisis-pasokan-listrik-jawa-bali\/","name":"Memahami Akar Krisis Pasokan Listrik Jawa\u2013Bali - Berita Daerah","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#website"},"datePublished":"2026-06-29T03:47:11+00:00","dateModified":"2026-06-29T04:05:09+00:00","author":{"@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/85ed2f5492b68a7b853f8eb53fbab73b"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/06\/29\/memahami-akar-krisis-pasokan-listrik-jawa-bali\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/06\/29\/memahami-akar-krisis-pasokan-listrik-jawa-bali\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/06\/29\/memahami-akar-krisis-pasokan-listrik-jawa-bali\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Memahami Akar Krisis Pasokan Listrik Jawa\u2013Bali"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/85ed2f5492b68a7b853f8eb53fbab73b","name":"Fadjar Ari Dewanto","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/551e2d24aaf1f2eac4a2857f7d83b8bd?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/551e2d24aaf1f2eac4a2857f7d83b8bd?s=96&d=mm&r=g","caption":"Fadjar Ari Dewanto"},"description":"Editor in Chief Vibiz Media Network, Coordinating Partner of Business Advisory Vibiz Consulting.","sameAs":["http:\/\/www.beritadaerah.co.id"],"url":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/author\/fajar-ari-dewanto\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/374435"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/13"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=374435"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/374435\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":374436,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/374435\/revisions\/374436"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/280173"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=374435"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=374435"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=374435"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}