{"id":373766,"date":"2026-06-16T16:22:31","date_gmt":"2026-06-16T09:22:31","guid":{"rendered":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/?p=373766"},"modified":"2026-06-16T16:22:31","modified_gmt":"2026-06-16T09:22:31","slug":"ketika-dapur-indonesia-bergeser-ke-luar-rumah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/06\/16\/ketika-dapur-indonesia-bergeser-ke-luar-rumah\/","title":{"rendered":"Ketika Dapur Indonesia Bergeser ke Luar Rumah"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Beritadaerah-Kolom) Selama bertahun-tahun, pembahasan mengenai ketahanan pangan Indonesia hampir selalu dimulai dari rumah tangga. Berapa banyak beras yang dikonsumsi masyarakat, bagaimana pola makan keluarga, hingga berapa besar kebutuhan pangan per kapita menjadi dasar berbagai perhitungan pemerintah dalam menyusun kebijakan produksi dan distribusi pangan. Namun, sebuah laporan yang relatif luput dari perhatian publik justru menunjukkan bahwa peta konsumsi pangan nasional sedang mengalami perubahan besar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Publikasi Badan Pusat Statistik (BPS) berjudul <em>Konsumsi Bahan Pokok Nonrumah Tangga 2025<\/em> memperlihatkan bahwa sektor di luar rumah tangga kini menjadi salah satu motor utama permintaan pangan nasional. Hotel, restoran, katering, industri makanan dan minuman, rumah sakit, sekolah berasrama, lembaga pemasyarakatan, hingga program pemerintah kini menyerap jutaan ton bahan pangan setiap tahun. Perubahan ini mungkin terlihat sederhana, tetapi sesungguhnya mencerminkan transformasi ekonomi Indonesia yang jauh lebih mendalam.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Data BPS menunjukkan bahwa konsumsi beras nonrumah tangga mencapai 9,57 juta ton pada 2025. Angka tersebut meningkat tajam dibandingkan 7,83 juta ton pada 2017 dan sekitar 7,56 juta ton pada 2015. Dalam satu dekade, konsumsi beras di luar rumah tangga bertambah lebih dari dua juta ton. Konsumsi per kapita juga meningkat dari sekitar 29,7 kilogram menjadi hampir 34 kilogram per tahun.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kenaikan tersebut tidak terjadi secara kebetulan. Di balik angka-angka itu terdapat perubahan pola hidup masyarakat Indonesia. Urbanisasi yang terus berlangsung membuat semakin banyak penduduk mengandalkan makanan siap saji, layanan katering, restoran, hingga berbagai bentuk penyedia makanan modern. Pada saat yang sama, pertumbuhan sektor pariwisata dan industri makanan-minuman menciptakan permintaan baru yang terus berkembang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">BPS mencatat bahwa sektor hotel dan penyedia makanan minuman atau Horeka menjadi penyerap beras terbesar di Indonesia. Pada 2025, sektor ini mengonsumsi sekitar 6,5 juta ton beras, jauh lebih besar dibandingkan sektor industri pengolahan yang menyerap sekitar 2,7 juta ton. Fakta ini menunjukkan bahwa restoran, rumah makan, katering, dan berbagai layanan makanan telah berkembang menjadi salah satu pusat konsumsi pangan terbesar di Indonesia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Fenomena tersebut menggambarkan perubahan perilaku masyarakat yang semakin nyata. Di kota-kota besar, makan di luar rumah bukan lagi aktivitas sesekali, melainkan bagian dari rutinitas sehari-hari. Pertumbuhan layanan pesan antar makanan, ekspansi jaringan restoran nasional maupun internasional, serta meningkatnya jumlah pekerja urban telah mendorong perubahan struktur konsumsi pangan. Jika sebelumnya beras dibeli dan dimasak oleh rumah tangga, kini sebagian besar beras tersebut lebih dahulu melewati dapur restoran, katering, hotel, atau industri pengolahan makanan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Perubahan serupa juga terlihat pada komoditas jagung. Selama ini jagung sering diposisikan sebagai pangan alternatif atau bahan baku pakan ternak. Namun data BPS menunjukkan bahwa konsumsi jagung nonrumah tangga mencapai 5,47 juta ton pada 2025. Yang menarik, sekitar 5,29 juta ton di antaranya diserap oleh industri pengolahan. Artinya, lebih dari 96 persen konsumsi jagung nonrumah tangga berasal dari aktivitas industri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Temuan tersebut memperlihatkan bahwa industrialisasi pangan Indonesia terus berkembang. Jagung tidak lagi hanya dikonsumsi secara langsung, melainkan diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah tinggi seperti tepung, sirup, minyak, makanan olahan, serta berbagai bahan baku industri lainnya. Dalam konteks ini, pertumbuhan konsumsi jagung mencerminkan perkembangan sektor manufaktur pangan nasional.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selain pertumbuhan industri, laporan BPS juga menunjukkan munculnya faktor baru yang berpotensi mengubah peta permintaan pangan nasional, yakni Program Makan Bergizi Gratis. Pada 2025, program tersebut telah menyerap sekitar 225 ribu ton beras. Angka ini masih relatif kecil dibandingkan total konsumsi nasional, tetapi memiliki arti penting karena mencerminkan lahirnya sumber permintaan institusional baru yang didukung langsung oleh kebijakan pemerintah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam perspektif ekonomi, permintaan yang berasal dari program pemerintah memiliki karakteristik berbeda dibandingkan konsumsi rumah tangga biasa. Permintaan tersebut lebih stabil, terencana, dan memiliki kepastian anggaran. Ketika cakupan program terus diperluas, kebutuhan terhadap beras, telur, daging ayam, sayuran, minyak goreng, dan berbagai komoditas lainnya akan meningkat secara konsisten.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Perkembangan ini memiliki implikasi besar terhadap sistem ketahanan pangan nasional. Selama ini, perhitungan kebutuhan pangan sering kali berpusat pada jumlah penduduk dan konsumsi rumah tangga. Namun data BPS menunjukkan bahwa jutaan ton beras dan jagung kini justru diserap oleh sektor nonrumah tangga. Dengan kata lain, pemerintah tidak lagi cukup hanya menghitung kebutuhan rumah tangga untuk memastikan kecukupan pangan nasional.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dimensi geografis dalam laporan tersebut juga menarik untuk dicermati. Jawa Barat menjadi provinsi dengan konsumsi beras nonrumah tangga terbesar di Indonesia, mencapai lebih dari 2,6 juta ton pada 2025. Posisi berikutnya ditempati Banten dengan sekitar 1,37 juta ton dan DKI Jakarta sekitar 875 ribu ton. Ketiga wilayah tersebut memiliki karakteristik yang sama, yakni menjadi pusat pertumbuhan ekonomi, industri manufaktur, perdagangan, serta jasa makanan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Konsentrasi konsumsi di Pulau Jawa menunjukkan bahwa permintaan pangan semakin mengikuti pusat-pusat aktivitas ekonomi. Semakin berkembang suatu wilayah, semakin besar pula kebutuhan pangan institusional yang muncul. Tidak mengherankan apabila provinsi dengan aktivitas industri dan jasa yang tinggi menjadi konsumen pangan terbesar meskipun tidak selalu merupakan daerah penghasil pangan utama.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Fenomena ini memberikan tantangan baru bagi sistem distribusi nasional. Produksi pangan Indonesia masih banyak berpusat di wilayah tertentu, sementara konsumsi terbesar terkonsentrasi di kawasan perkotaan dan industri. Akibatnya, efisiensi logistik menjadi semakin penting. Gangguan kecil pada distribusi dapat memicu lonjakan harga karena volume kebutuhan yang harus dipenuhi jauh lebih besar dibandingkan satu dekade lalu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam konteks 2026, tren tersebut diperkirakan akan semakin menguat. Pertumbuhan sektor makanan dan minuman, ekspansi jaringan restoran, peningkatan mobilitas masyarakat, serta perluasan Program Makan Bergizi Gratis akan menciptakan permintaan pangan yang terus meningkat. Permintaan tersebut tidak hanya berasal dari rumah tangga, tetapi juga dari ribuan institusi yang setiap hari membutuhkan pasokan bahan pangan dalam jumlah besar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dari sudut pandang ekonomi, kondisi ini menghadirkan dua sisi yang berbeda. Di satu sisi, meningkatnya permintaan pangan menciptakan peluang besar bagi petani, peternak, dan industri pengolahan. Kepastian pasar yang lebih besar dapat mendorong investasi, meningkatkan produktivitas, dan mempercepat modernisasi sektor pertanian. Permintaan yang kuat juga berpotensi meningkatkan pendapatan pelaku usaha di sepanjang rantai pasok pangan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun di sisi lain, pertumbuhan permintaan yang terlalu cepat juga dapat menimbulkan tekanan terhadap harga apabila tidak diimbangi oleh peningkatan produksi. Ketika industri makanan, hotel, restoran, katering, rumah sakit, dan program pemerintah bersaing memperoleh pasokan yang sama, maka risiko kenaikan harga menjadi lebih besar. Dalam situasi seperti itu, kemampuan produksi nasional menjadi faktor penentu stabilitas pasar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Karena itu, laporan BPS ini sesungguhnya membawa pesan penting bagi pembuat kebijakan. Ketahanan pangan tidak lagi dapat dipahami semata-mata sebagai kemampuan memenuhi kebutuhan rumah tangga. Ketahanan pangan modern harus memperhitungkan seluruh ekosistem konsumsi, termasuk industri, jasa makanan, dan berbagai institusi publik yang kini menjadi konsumen utama berbagai komoditas strategis.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Transformasi yang sedang terjadi menunjukkan bahwa ekonomi pangan Indonesia memasuki fase baru. Permintaan pangan semakin terhubung dengan pertumbuhan industri, urbanisasi, pariwisata, dan program pembangunan manusia. Dapur Indonesia tidak lagi hanya berada di rumah-rumah penduduk, melainkan juga di restoran, hotel, pabrik makanan, sekolah, rumah sakit, dan berbagai institusi yang setiap hari melayani jutaan orang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di masa depan, keberhasilan menjaga stabilitas pangan tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak sawah yang ditanami atau berapa ton produksi yang dihasilkan petani. Keberhasilan tersebut juga akan ditentukan oleh kemampuan memahami perubahan pola konsumsi yang sedang berlangsung. Laporan BPS menunjukkan bahwa perubahan itu telah terjadi. Tantangannya sekarang adalah memastikan bahwa produksi, distribusi, dan kebijakan pangan mampu mengikuti arah perubahan tersebut agar ketahanan pangan Indonesia tetap terjaga di tengah pertumbuhan ekonomi yang terus berkembang.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Beritadaerah-Kolom) Selama bertahun-tahun, pembahasan mengenai ketahanan pangan Indonesia hampir selalu dimulai dari rumah tangga. Berapa banyak beras yang dikonsumsi masyarakat, bagaimana pola makan keluarga, hingga berapa besar kebutuhan pangan per kapita menjadi dasar berbagai perhitungan pemerintah dalam menyusun kebijakan produksi dan distribusi pangan. Namun, sebuah laporan yang relatif luput dari perhatian publik justru menunjukkan bahwa peta konsumsi pangan nasional sedang mengalami perubahan besar. Publikasi Badan Pusat Statistik (BPS) berjudul Konsumsi Bahan Pokok Nonrumah Tangga 2025 memperlihatkan bahwa sektor di luar [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":13,"featured_media":370434,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"kia_subtitle":""},"categories":[93,6,176],"tags":[3682],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v19.4 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Ketika Dapur Indonesia Bergeser ke Luar Rumah - Berita Daerah<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/06\/16\/ketika-dapur-indonesia-bergeser-ke-luar-rumah\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Ketika Dapur Indonesia Bergeser ke Luar Rumah - Berita Daerah\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"(Beritadaerah-Kolom) Selama bertahun-tahun, pembahasan mengenai ketahanan pangan Indonesia hampir selalu dimulai dari rumah tangga. Berapa banyak beras yang dikonsumsi masyarakat, bagaimana pola makan keluarga, hingga berapa besar kebutuhan pangan per kapita menjadi dasar berbagai perhitungan pemerintah dalam menyusun kebijakan produksi dan distribusi pangan. Namun, sebuah laporan yang relatif luput dari perhatian publik justru menunjukkan bahwa peta konsumsi pangan nasional sedang mengalami perubahan besar. Publikasi Badan Pusat Statistik (BPS) berjudul Konsumsi Bahan Pokok Nonrumah Tangga 2025 memperlihatkan bahwa sektor di luar [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/06\/16\/ketika-dapur-indonesia-bergeser-ke-luar-rumah\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Berita Daerah\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-06-16T09:22:31+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/MBG-PERCOBAAN.jpeg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"683\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"384\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Fadjar Ari Dewanto\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Fadjar Ari Dewanto\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"6 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/\",\"name\":\"Berita Daerah\",\"description\":\"Berita Ekonomi, Investasi dan kegiatan daerah\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/06\/16\/ketika-dapur-indonesia-bergeser-ke-luar-rumah\/\",\"url\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/06\/16\/ketika-dapur-indonesia-bergeser-ke-luar-rumah\/\",\"name\":\"Ketika Dapur Indonesia Bergeser ke Luar Rumah - Berita Daerah\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#website\"},\"datePublished\":\"2026-06-16T09:22:31+00:00\",\"dateModified\":\"2026-06-16T09:22:31+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/85ed2f5492b68a7b853f8eb53fbab73b\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/06\/16\/ketika-dapur-indonesia-bergeser-ke-luar-rumah\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/06\/16\/ketika-dapur-indonesia-bergeser-ke-luar-rumah\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/06\/16\/ketika-dapur-indonesia-bergeser-ke-luar-rumah\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Ketika Dapur Indonesia Bergeser ke Luar Rumah\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/85ed2f5492b68a7b853f8eb53fbab73b\",\"name\":\"Fadjar Ari Dewanto\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/551e2d24aaf1f2eac4a2857f7d83b8bd?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/551e2d24aaf1f2eac4a2857f7d83b8bd?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Fadjar Ari Dewanto\"},\"description\":\"Editor in Chief Vibiz Media Network, Coordinating Partner of Business Advisory Vibiz Consulting.\",\"sameAs\":[\"http:\/\/www.beritadaerah.co.id\"],\"url\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/author\/fajar-ari-dewanto\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Ketika Dapur Indonesia Bergeser ke Luar Rumah - Berita Daerah","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/06\/16\/ketika-dapur-indonesia-bergeser-ke-luar-rumah\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Ketika Dapur Indonesia Bergeser ke Luar Rumah - Berita Daerah","og_description":"(Beritadaerah-Kolom) Selama bertahun-tahun, pembahasan mengenai ketahanan pangan Indonesia hampir selalu dimulai dari rumah tangga. Berapa banyak beras yang dikonsumsi masyarakat, bagaimana pola makan keluarga, hingga berapa besar kebutuhan pangan per kapita menjadi dasar berbagai perhitungan pemerintah dalam menyusun kebijakan produksi dan distribusi pangan. Namun, sebuah laporan yang relatif luput dari perhatian publik justru menunjukkan bahwa peta konsumsi pangan nasional sedang mengalami perubahan besar. Publikasi Badan Pusat Statistik (BPS) berjudul Konsumsi Bahan Pokok Nonrumah Tangga 2025 memperlihatkan bahwa sektor di luar [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/06\/16\/ketika-dapur-indonesia-bergeser-ke-luar-rumah\/","og_site_name":"Berita Daerah","article_published_time":"2026-06-16T09:22:31+00:00","og_image":[{"width":683,"height":384,"url":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/MBG-PERCOBAAN.jpeg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Fadjar Ari Dewanto","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Fadjar Ari Dewanto","Est. reading time":"6 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#website","url":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/","name":"Berita Daerah","description":"Berita Ekonomi, Investasi dan kegiatan daerah","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/06\/16\/ketika-dapur-indonesia-bergeser-ke-luar-rumah\/","url":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/06\/16\/ketika-dapur-indonesia-bergeser-ke-luar-rumah\/","name":"Ketika Dapur Indonesia Bergeser ke Luar Rumah - Berita Daerah","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#website"},"datePublished":"2026-06-16T09:22:31+00:00","dateModified":"2026-06-16T09:22:31+00:00","author":{"@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/85ed2f5492b68a7b853f8eb53fbab73b"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/06\/16\/ketika-dapur-indonesia-bergeser-ke-luar-rumah\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/06\/16\/ketika-dapur-indonesia-bergeser-ke-luar-rumah\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/06\/16\/ketika-dapur-indonesia-bergeser-ke-luar-rumah\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Ketika Dapur Indonesia Bergeser ke Luar Rumah"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/85ed2f5492b68a7b853f8eb53fbab73b","name":"Fadjar Ari Dewanto","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/551e2d24aaf1f2eac4a2857f7d83b8bd?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/551e2d24aaf1f2eac4a2857f7d83b8bd?s=96&d=mm&r=g","caption":"Fadjar Ari Dewanto"},"description":"Editor in Chief Vibiz Media Network, Coordinating Partner of Business Advisory Vibiz Consulting.","sameAs":["http:\/\/www.beritadaerah.co.id"],"url":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/author\/fajar-ari-dewanto\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/373766"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/13"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=373766"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/373766\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":373767,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/373766\/revisions\/373767"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/370434"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=373766"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=373766"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=373766"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}