{"id":373706,"date":"2026-06-15T18:11:34","date_gmt":"2026-06-15T11:11:34","guid":{"rendered":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/?p=373706"},"modified":"2026-06-15T18:11:34","modified_gmt":"2026-06-15T11:11:34","slug":"indonesia-yang-masih-bertahan-di-tengah-arus-perubahan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/06\/15\/indonesia-yang-masih-bertahan-di-tengah-arus-perubahan\/","title":{"rendered":"Indonesia yang Masih Bertahan di Tengah Arus Perubahan"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">(Beritadaerah-Kolom) Di tengah banjir informasi digital, media sosial, dan kecerdasan buatan yang mengubah cara manusia hidup, Indonesia ternyata masih menyimpan satu kekuatan lama yang belum hilang: kehidupan sosial dan budaya yang hidup di tengah masyarakat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Data terbaru Badan Pusat Statistik dalam <em>Statistik Sosial Budaya 2025<\/em> menunjukkan gambaran yang menarik. Sebanyak 89,75 persen penduduk Indonesia berusia lima tahun ke atas masih melakukan aktivitas membaca. Angka ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia tetap memiliki kebutuhan untuk mencari informasi dan pengetahuan. Namun di balik angka yang terlihat menggembirakan itu, terdapat kenyataan lain yang lebih kompleks. Hanya 11,61 persen penduduk yang mengunjungi perpustakaan dalam tiga bulan terakhir, sementara yang memanfaatkan Taman Bacaan Masyarakat hanya 1,17 persen.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Perubahan ini memperlihatkan bagaimana teknologi telah mengubah perilaku masyarakat. Pengetahuan tidak lagi dicari melalui rak-rak perpustakaan, melainkan melalui telepon genggam yang berada di genggaman hampir setiap orang. Ruang baca bergeser ke ruang digital. Transformasi ini mungkin meningkatkan akses informasi, tetapi sekaligus mengubah cara masyarakat membangun kebiasaan literasi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Perubahan serupa juga terlihat dalam pola konsumsi media. Sebanyak 70,07 persen penduduk Indonesia masih menonton televisi, dan 62,70 persen di antaranya melakukannya hampir setiap hari. Sementara itu, hanya 9,48 persen yang masih mendengarkan radio, meskipun 37,01 persen dari pendengar radio tersebut melakukannya hampir setiap hari. Angka-angka ini menunjukkan bahwa televisi masih menjadi media massa yang dominan, meskipun persaingan dengan platform digital semakin kuat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun yang paling menarik bukanlah soal media, melainkan bagaimana masyarakat Indonesia tetap menjaga hubungan sosialnya. Ketika banyak negara menghadapi gejala meningkatnya individualisme, data BPS menunjukkan bahwa 88,87 persen penduduk berusia 10 tahun ke atas masih terlibat dalam kegiatan sosial kemasyarakatan di lingkungan tempat tinggalnya. Angka ini menunjukkan bahwa kehidupan komunal masih menjadi bagian penting dari identitas masyarakat Indonesia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kegiatan keagamaan menjadi aktivitas sosial yang paling banyak diikuti, dengan tingkat partisipasi mencapai 71,26 persen. Setelah itu disusul kegiatan yang berkaitan dengan kematian sebesar 67,93 persen dan kegiatan gotong royong sebesar 47,40 persen. Data ini menggambarkan bahwa solidaritas sosial masyarakat Indonesia masih banyak dibangun melalui aktivitas keagamaan, kebersamaan saat menghadapi duka, serta kerja kolektif untuk kepentingan lingkungan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun terdapat paradoks yang menarik. Meskipun hampir sembilan dari sepuluh warga terlibat dalam kegiatan sosial kemasyarakatan, hanya 11,06 persen yang tercatat menjadi anggota organisasi di luar sekolah atau tempat kerja. Ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia lebih nyaman berpartisipasi dalam aktivitas sosial yang bersifat informal dibandingkan organisasi yang memiliki struktur formal.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Fenomena serupa terlihat dalam bidang olahraga. Hanya 37,27 persen penduduk berusia lima tahun ke atas yang berolahraga dalam seminggu terakhir. Artinya, hampir dua pertiga masyarakat Indonesia tidak melakukan aktivitas olahraga secara rutin. Lebih mengkhawatirkan lagi, hanya 14,36 persen yang memenuhi rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk berolahraga minimal 150 menit per minggu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Padahal olahraga bukan hanya soal kesehatan fisik. Olahraga merupakan salah satu indikator kualitas sumber daya manusia. Menariknya, tingkat partisipasi olahraga meningkat seiring dengan meningkatnya tingkat pengeluaran rumah tangga. Semakin sejahtera suatu kelompok masyarakat, semakin tinggi pula kecenderungan mereka untuk berolahraga. Hal ini menunjukkan bahwa gaya hidup sehat masih berkorelasi dengan kondisi ekonomi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam bidang kebudayaan, gambaran yang muncul juga cukup menarik. Sebanyak 62,48 persen penduduk Indonesia menonton pertunjukan atau pameran seni dalam tiga bulan terakhir. Angka ini menunjukkan bahwa masyarakat masih memiliki minat terhadap kegiatan budaya. Namun ketika berbicara tentang keterlibatan langsung sebagai pelaku budaya, persentasenya turun drastis menjadi hanya 3,66 persen.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Perbedaan besar tersebut menunjukkan bahwa masyarakat lebih banyak menjadi konsumen budaya dibandingkan produsen budaya. Seni masih ditonton, tetapi semakin sedikit yang terlibat dalam proses penciptaannya. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menjadi tantangan bagi regenerasi pelaku seni dan pelestarian berbagai tradisi budaya lokal.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ancaman yang lebih serius terlihat pada olahraga tradisional dan permainan rakyat. Hanya 3,53 persen penduduk yang melakukan olahraga tradisional dalam setahun terakhir. Sementara yang memainkan permainan rakyat hanya 7,88 persen. Angka tersebut sangat kecil untuk negara yang memiliki ribuan tradisi lokal dan ratusan permainan rakyat yang diwariskan lintas generasi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Meski demikian, identitas budaya Indonesia belum sepenuhnya memudar. Sebanyak 72,14 persen penduduk masih menggunakan bahasa daerah di rumah dan 62,27 persen masih menggunakan bahasa daerah dalam pergaulan sehari-hari. Bahasa daerah tetap menjadi sarana penting dalam menjaga identitas lokal di tengah dominasi bahasa nasional dan bahasa global.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ketahanan budaya juga terlihat dari perilaku konsumsi masyarakat. Sebanyak 89,02 persen rumah tangga masih membeli atau menggunakan produk tradisional. Peralatan rumah tangga tradisional digunakan oleh 72,04 persen rumah tangga, obat tradisional oleh 61,38 persen rumah tangga, dan metode penyehatan tradisional oleh 53,20 persen rumah tangga. Data ini menunjukkan bahwa modernisasi tidak sepenuhnya menghapus praktik-praktik tradisional dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bahkan dalam urusan adat, keterikatan masyarakat masih sangat kuat. Sebanyak 71,05 persen rumah tangga tercatat menghadiri upacara adat atau tradisi dalam setahun terakhir. Upacara adat kematian menjadi yang paling banyak dihadiri dengan persentase mencapai 72,30 persen. Ini menunjukkan bahwa adat istiadat masih memainkan peran penting sebagai ruang pertemuan sosial sekaligus sarana memperkuat identitas komunitas.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun ada satu angka yang layak menjadi perhatian serius. Hanya 13,22 persen penduduk Indonesia yang mengunjungi situs sejarah atau cagar budaya dalam setahun terakhir. Dengan kata lain, hampir 87 persen masyarakat tidak memiliki kontak langsung dengan peninggalan sejarah bangsa. Padahal di sanalah tersimpan memori kolektif yang membentuk identitas Indonesia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Data-data tersebut memperlihatkan bahwa Indonesia sedang berada di persimpangan. Di satu sisi, masyarakat bergerak cepat mengikuti arus modernisasi dan digitalisasi. Di sisi lain, berbagai unsur budaya tradisional masih bertahan dengan cukup kuat. Pertanyaan yang muncul bukan lagi apakah Indonesia akan berubah, melainkan apakah perubahan itu dapat berlangsung tanpa kehilangan modal sosial dan budaya yang selama ini menjadi fondasi bangsa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebab ketika Indonesia berbicara tentang Indonesia Emas 2045, yang dipertaruhkan bukan hanya tingkat pendapatan per kapita atau pertumbuhan ekonomi. Yang dipertaruhkan juga adalah kemampuan bangsa ini mempertahankan gotong royong, solidaritas sosial, bahasa daerah, seni tradisional, dan berbagai warisan budaya yang membuat Indonesia berbeda dari bangsa lain di dunia.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Beritadaerah-Kolom) Di tengah banjir informasi digital, media sosial, dan kecerdasan buatan yang mengubah cara manusia hidup, Indonesia ternyata masih menyimpan satu kekuatan lama yang belum hilang: kehidupan sosial dan budaya yang hidup di tengah masyarakat. Data terbaru Badan Pusat Statistik dalam Statistik Sosial Budaya 2025 menunjukkan gambaran yang menarik. Sebanyak 89,75 persen penduduk Indonesia berusia lima tahun ke atas masih melakukan aktivitas membaca. Angka ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia tetap memiliki kebutuhan untuk mencari informasi dan pengetahuan. Namun di balik [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":13,"featured_media":373369,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"kia_subtitle":""},"categories":[93,6,176],"tags":[1099],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v19.4 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Indonesia yang Masih Bertahan di Tengah Arus Perubahan - Berita Daerah<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/06\/15\/indonesia-yang-masih-bertahan-di-tengah-arus-perubahan\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Indonesia yang Masih Bertahan di Tengah Arus Perubahan - Berita Daerah\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"(Beritadaerah-Kolom) Di tengah banjir informasi digital, media sosial, dan kecerdasan buatan yang mengubah cara manusia hidup, Indonesia ternyata masih menyimpan satu kekuatan lama yang belum hilang: kehidupan sosial dan budaya yang hidup di tengah masyarakat. Data terbaru Badan Pusat Statistik dalam Statistik Sosial Budaya 2025 menunjukkan gambaran yang menarik. Sebanyak 89,75 persen penduduk Indonesia berusia lima tahun ke atas masih melakukan aktivitas membaca. Angka ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia tetap memiliki kebutuhan untuk mencari informasi dan pengetahuan. Namun di balik [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/06\/15\/indonesia-yang-masih-bertahan-di-tengah-arus-perubahan\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Berita Daerah\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-06-15T11:11:34+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Jambi-HUT.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1000\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"667\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Fadjar Ari Dewanto\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Fadjar Ari Dewanto\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"5 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/\",\"name\":\"Berita Daerah\",\"description\":\"Berita Ekonomi, Investasi dan kegiatan daerah\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/06\/15\/indonesia-yang-masih-bertahan-di-tengah-arus-perubahan\/\",\"url\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/06\/15\/indonesia-yang-masih-bertahan-di-tengah-arus-perubahan\/\",\"name\":\"Indonesia yang Masih Bertahan di Tengah Arus Perubahan - Berita Daerah\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#website\"},\"datePublished\":\"2026-06-15T11:11:34+00:00\",\"dateModified\":\"2026-06-15T11:11:34+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/85ed2f5492b68a7b853f8eb53fbab73b\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/06\/15\/indonesia-yang-masih-bertahan-di-tengah-arus-perubahan\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/06\/15\/indonesia-yang-masih-bertahan-di-tengah-arus-perubahan\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/06\/15\/indonesia-yang-masih-bertahan-di-tengah-arus-perubahan\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Indonesia yang Masih Bertahan di Tengah Arus Perubahan\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/85ed2f5492b68a7b853f8eb53fbab73b\",\"name\":\"Fadjar Ari Dewanto\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/551e2d24aaf1f2eac4a2857f7d83b8bd?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/551e2d24aaf1f2eac4a2857f7d83b8bd?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Fadjar Ari Dewanto\"},\"description\":\"Editor in Chief Vibiz Media Network, Coordinating Partner of Business Advisory Vibiz Consulting.\",\"sameAs\":[\"http:\/\/www.beritadaerah.co.id\"],\"url\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/author\/fajar-ari-dewanto\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Indonesia yang Masih Bertahan di Tengah Arus Perubahan - Berita Daerah","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/06\/15\/indonesia-yang-masih-bertahan-di-tengah-arus-perubahan\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Indonesia yang Masih Bertahan di Tengah Arus Perubahan - Berita Daerah","og_description":"(Beritadaerah-Kolom) Di tengah banjir informasi digital, media sosial, dan kecerdasan buatan yang mengubah cara manusia hidup, Indonesia ternyata masih menyimpan satu kekuatan lama yang belum hilang: kehidupan sosial dan budaya yang hidup di tengah masyarakat. Data terbaru Badan Pusat Statistik dalam Statistik Sosial Budaya 2025 menunjukkan gambaran yang menarik. Sebanyak 89,75 persen penduduk Indonesia berusia lima tahun ke atas masih melakukan aktivitas membaca. Angka ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia tetap memiliki kebutuhan untuk mencari informasi dan pengetahuan. Namun di balik [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/06\/15\/indonesia-yang-masih-bertahan-di-tengah-arus-perubahan\/","og_site_name":"Berita Daerah","article_published_time":"2026-06-15T11:11:34+00:00","og_image":[{"width":1000,"height":667,"url":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Jambi-HUT.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Fadjar Ari Dewanto","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Fadjar Ari Dewanto","Est. reading time":"5 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#website","url":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/","name":"Berita Daerah","description":"Berita Ekonomi, Investasi dan kegiatan daerah","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/06\/15\/indonesia-yang-masih-bertahan-di-tengah-arus-perubahan\/","url":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/06\/15\/indonesia-yang-masih-bertahan-di-tengah-arus-perubahan\/","name":"Indonesia yang Masih Bertahan di Tengah Arus Perubahan - Berita Daerah","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#website"},"datePublished":"2026-06-15T11:11:34+00:00","dateModified":"2026-06-15T11:11:34+00:00","author":{"@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/85ed2f5492b68a7b853f8eb53fbab73b"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/06\/15\/indonesia-yang-masih-bertahan-di-tengah-arus-perubahan\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/06\/15\/indonesia-yang-masih-bertahan-di-tengah-arus-perubahan\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/06\/15\/indonesia-yang-masih-bertahan-di-tengah-arus-perubahan\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Indonesia yang Masih Bertahan di Tengah Arus Perubahan"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/85ed2f5492b68a7b853f8eb53fbab73b","name":"Fadjar Ari Dewanto","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/551e2d24aaf1f2eac4a2857f7d83b8bd?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/551e2d24aaf1f2eac4a2857f7d83b8bd?s=96&d=mm&r=g","caption":"Fadjar Ari Dewanto"},"description":"Editor in Chief Vibiz Media Network, Coordinating Partner of Business Advisory Vibiz Consulting.","sameAs":["http:\/\/www.beritadaerah.co.id"],"url":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/author\/fajar-ari-dewanto\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/373706"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/13"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=373706"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/373706\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":373707,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/373706\/revisions\/373707"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/373369"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=373706"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=373706"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=373706"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}