{"id":372755,"date":"2026-05-20T10:14:53","date_gmt":"2026-05-20T03:14:53","guid":{"rendered":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/?p=372755"},"modified":"2026-05-20T10:19:21","modified_gmt":"2026-05-20T03:19:21","slug":"rupiah-melemah-tajam-pengusaha-mulai-waspada","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/05\/20\/rupiah-melemah-tajam-pengusaha-mulai-waspada\/","title":{"rendered":"Rupiah Melemah Tajam, Pengusaha Mulai Waspada"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"49\" data-end=\"612\">(Beritadaerah-Kolom) Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan setelah menyentuh level Rp17.705 per dolar Amerika Serikat. Angka tersebut langsung memicu kekhawatiran di tengah masyarakat dan dunia usaha. Banyak orang mulai membandingkan situasi saat ini dengan krisis moneter 1998, ketika pelemahan rupiah berubah menjadi krisis ekonomi besar yang mengguncang Indonesia. Di media sosial, berbagai narasi bermunculan. Ada yang menyebut Indonesia sedang menuju <em data-start=\"489\" data-end=\"499\">collapse<\/em>, ada pula yang mulai berbicara tentang kemungkinan <em data-start=\"551\" data-end=\"558\">chaos<\/em> ekonomi jika tekanan terhadap rupiah terus berlanjut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"614\" data-end=\"1077\">Kecemasan publik semakin besar karena pelemahan rupiah terjadi bersamaan dengan tekanan di pasar saham. IHSG turun hingga level 6.470 dan memperlihatkan bahwa sentimen pasar sedang berada dalam tekanan tinggi. Kombinasi pelemahan mata uang dan gejolak pasar modal membuat masyarakat semakin sensitif terhadap kondisi ekonomi nasional. Ketika dolar terus bergerak naik, rasa tidak nyaman langsung muncul karena masyarakat khawatir harga barang akan ikut meningkat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1079\" data-end=\"1415\">Bagi dunia usaha, level Rp17.705 bukan hanya sekadar angka psikologis. Pelemahan rupiah langsung mempengaruhi biaya operasional perusahaan, terutama bagi industri yang masih sangat bergantung pada impor bahan baku. Ketika dolar menguat, biaya pembelian bahan baku dari luar negeri otomatis meningkat dan mulai menekan margin perusahaan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1417\" data-end=\"1787\">Sektor manufaktur menjadi salah satu yang paling merasakan tekanan tersebut. Industri elektronik, otomotif, farmasi, tekstil, hingga makanan dan minuman masih menggunakan banyak bahan baku impor dalam proses produksinya. Dengan rupiah yang terus melemah, perusahaan menghadapi dilema besar antara mempertahankan harga produk atau menaikkan harga demi menjaga keuntungan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1789\" data-end=\"2064\">Jika harga dinaikkan terlalu cepat, daya beli masyarakat bisa melemah. Namun jika harga dipertahankan, margin perusahaan akan semakin tertekan. Situasi ini membuat banyak pengusaha mulai mengambil langkah hati-hati sambil memantau perkembangan pasar dan kebijakan pemerintah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2066\" data-end=\"2487\">Di tengah tekanan tersebut, pemerintah tetap menyampaikan optimisme bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih kuat. Pemerintah menilai kondisi saat ini berbeda jauh dibandingkan krisis 1998. Salah satu indikator yang digunakan adalah pertumbuhan ekonomi yang masih berada di kisaran 5,61 persen. Angka tersebut disebut menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi domestik masih berjalan cukup baik meski tekanan global meningkat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2489\" data-end=\"2821\">Namun di tengah masyarakat, muncul kebingungan mengenai kondisi ekonomi sebenarnya. Di satu sisi, pemerintah menyebut ekonomi nasional tetap stabil. Tetapi di sisi lain, masyarakat melihat rupiah terus melemah dan pasar saham mengalami tekanan. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan besar mengenai arah ekonomi Indonesia ke depan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2823\" data-end=\"3156\">Trauma terhadap 1998 juga membuat pelemahan rupiah kali ini terasa lebih sensitif. Banyak masyarakat masih mengingat bagaimana krisis dahulu menyebabkan lonjakan harga barang, PHK massal, dan ketidakstabilan sosial. Karena itu, setiap kali dolar melonjak tajam, rasa takut terhadap kemungkinan terulangnya krisis lama kembali muncul.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3158\" data-end=\"3537\">Meski demikian, sejumlah ekonom menilai kondisi saat ini belum bisa disamakan dengan krisis moneter dua dekade lalu. Pada 1998, Indonesia tidak hanya menghadapi pelemahan rupiah, tetapi juga instabilitas sosial-politik yang besar. Saat itu, sistem perbankan nasional masih sangat rapuh dan banyak perusahaan memiliki utang luar negeri tanpa perlindungan nilai tukar yang memadai.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3539\" data-end=\"3814\">Ketika rupiah jatuh pada masa itu, beban utang perusahaan melonjak drastis dan memicu gelombang kebangkrutan. Krisis kemudian berkembang menjadi masalah sosial dan politik yang jauh lebih besar. Situasi tersebut dinilai sangat berbeda dibandingkan kondisi Indonesia hari ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3816\" data-end=\"4156\">Saat ini, sistem keuangan Indonesia dianggap jauh lebih kuat. Pengawasan sektor perbankan lebih ketat dan koordinasi antara pemerintah serta Bank Indonesia dinilai lebih baik dibandingkan masa lalu. Indonesia juga memiliki pengalaman lebih matang dalam menghadapi tekanan ekonomi global sehingga dinilai lebih siap menghadapi gejolak pasar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"4158\" data-end=\"4504\">Dunia usaha juga melihat adanya perubahan besar pada struktur pasar keuangan Indonesia. Jika dahulu pasar sangat bergantung pada investor asing, kini investor domestik memiliki peran yang jauh lebih besar. Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah investor lokal meningkat pesat dan menjadi salah satu penopang penting ketika pasar mengalami tekanan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"4506\" data-end=\"4774\">Karena itu, sebagian pelaku pasar menilai investor domestik Indonesia saat ini lebih kuat dibandingkan sebelumnya. Pengalaman menghadapi pandemi COVID-19 dan berbagai gejolak pasar global membuat investor lokal dianggap lebih siap menghadapi volatilitas jangka pendek.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"4776\" data-end=\"5123\">Meski begitu, tekanan global tetap menjadi ancaman utama terhadap rupiah. Penguatan dolar Amerika Serikat membuat banyak mata uang negara berkembang mengalami pelemahan. Ketika suku bunga di Amerika Serikat tetap tinggi, investor global cenderung menarik dana dari pasar negara berkembang dan memindahkannya ke aset dolar yang dianggap lebih aman.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"5125\" data-end=\"5436\">Akibatnya, tekanan terhadap mata uang tidak hanya terjadi di Indonesia. Yen Jepang, won Korea Selatan, hingga mata uang di beberapa negara Amerika Latin juga mengalami pelemahan signifikan terhadap dolar AS. Hal ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah merupakan bagian dari situasi global yang lebih luas.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"5438\" data-end=\"5746\">Namun Indonesia tetap memiliki tantangan tersendiri. Ketergantungan terhadap impor energi dan bahan baku membuat pelemahan rupiah memberi dampak lebih besar terhadap ekonomi domestik. Ketika harga minyak dunia naik bersamaan dengan menguatnya dolar, biaya produksi dan distribusi dalam negeri ikut meningkat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"5748\" data-end=\"6077\">Kondisi tersebut membuat dunia usaha mulai lebih berhati-hati dalam melakukan ekspansi. Banyak perusahaan memilih menjaga arus kas dan menunda keputusan investasi besar sampai kondisi pasar menjadi lebih stabil. Pengusaha juga mulai memperhitungkan ulang biaya impor dan risiko fluktuasi nilai tukar dalam strategi bisnis mereka.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"6079\" data-end=\"6360\">Sektor yang bergantung pada konsumsi masyarakat ikut menghadapi tantangan tersendiri. Jika harga barang terus naik akibat pelemahan rupiah, daya beli masyarakat berpotensi melemah. Kondisi tersebut dapat mempengaruhi penjualan dan memperlambat aktivitas ekonomi di berbagai sektor.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"6362\" data-end=\"6714\">Meski tekanan cukup besar, pelaku usaha berharap kepanikan publik tidak berkembang terlalu jauh. Mereka menilai narasi mengenai Indonesia akan <em data-start=\"6505\" data-end=\"6515\">collapse<\/em> dan mengalami <em data-start=\"6530\" data-end=\"6537\">chaos<\/em> ekonomi justru dapat memperburuk situasi pasar. Dalam kondisi ekonomi yang sensitif, faktor psikologis memiliki pengaruh sangat besar terhadap perilaku masyarakat dan investor.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"6716\" data-end=\"7026\">Karena itu, banyak pengusaha berharap pemerintah mampu menjaga stabilitas pasar sekaligus mempertahankan kepercayaan publik. Dunia usaha memahami bahwa tekanan terhadap rupiah harus diwaspadai, tetapi mereka juga melihat bahwa kondisi Indonesia saat ini memiliki fondasi yang lebih kuat dibandingkan masa lalu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"7028\" data-end=\"7368\">Pemerintah sendiri terus berusaha menjaga optimisme dengan menekankan bahwa ekonomi domestik masih cukup stabil. Aktivitas industri masih berjalan, konsumsi masyarakat belum mengalami penurunan drastis, dan investasi dinilai masih relatif terjaga. Pemerintah berharap kondisi tersebut dapat membantu menahan tekanan terhadap pasar keuangan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"7370\" data-end=\"7682\">Namun bagi masyarakat umum, yang paling terasa tetaplah nilai tukar rupiah. Ketika kurs dolar menyentuh Rp17.705, rasa cemas langsung meningkat karena masyarakat khawatir harga kebutuhan sehari-hari akan semakin mahal. Pelemahan rupiah bukan hanya persoalan angka ekonomi, tetapi juga persoalan psikologi publik.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"7684\" data-end=\"7964\">Setiap kenaikan dolar selalu membawa kekhawatiran bahwa biaya hidup akan semakin berat. Harga barang impor naik, biaya perjalanan meningkat, dan dunia usaha mulai berbicara mengenai kenaikan biaya produksi. Semua itu membuat masyarakat semakin sensitif terhadap pergerakan rupiah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"7966\" data-end=\"8269\">Meski begitu, sejumlah ekonom menilai situasi saat ini lebih tepat disebut sebagai fase tekanan ekonomi global daripada awal kehancuran ekonomi nasional. Rupiah memang sedang berada dalam tekanan berat, tetapi belum tentu akan berkembang menjadi krisis besar seperti yang ditakutkan sebagian masyarakat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"8271\" data-end=\"8587\">Yang paling penting saat ini adalah menjaga stabilitas dan kepercayaan publik. Dalam ekonomi modern, kepanikan dapat menyebar jauh lebih cepat dibandingkan fakta ekonomi itu sendiri. Ketika masyarakat terus dibombardir narasi negatif, rasa takut bisa berkembang menjadi tekanan baru bagi pasar dan aktivitas ekonomi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"8589\" data-end=\"8988\">Rupiah yang kini menyentuh Rp17.705 memang menjadi simbol kekhawatiran baru di tengah masyarakat dan dunia usaha. Angka tersebut memunculkan kembali trauma lama tentang krisis ekonomi dan masa-masa sulit yang pernah dialami Indonesia. Namun di sisi lain, kondisi ini juga memperlihatkan bagaimana ekonomi global sedang berada dalam tekanan yang besar dan mempengaruhi hampir semua negara berkembang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"8990\" data-end=\"9335\" data-is-last-node=\"\" data-is-only-node=\"\">Dunia usaha dan masyarakat kini sama-sama menunggu langkah pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi. Sebab di tengah tekanan global yang belum mereda, pertanyaan terbesar yang terus muncul tetap sama: apakah pelemahan rupiah kali ini hanya tekanan sementara, atau justru awal dari badai ekonomi yang lebih besar bagi Indonesia?<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Beritadaerah-Kolom) Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan setelah menyentuh level Rp17.705 per dolar Amerika Serikat. Angka tersebut langsung memicu kekhawatiran di tengah masyarakat dan dunia usaha. Banyak orang mulai membandingkan situasi saat ini dengan krisis moneter 1998, ketika pelemahan rupiah berubah menjadi krisis ekonomi besar yang mengguncang Indonesia. Di media sosial, berbagai narasi bermunculan. Ada yang menyebut Indonesia sedang menuju collapse, ada pula yang mulai berbicara tentang kemungkinan chaos ekonomi jika tekanan terhadap rupiah terus berlanjut. Kecemasan publik semakin besar [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":13,"featured_media":368879,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"kia_subtitle":""},"categories":[6,176],"tags":[3541],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v19.4 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Rupiah Melemah Tajam, Pengusaha Mulai Waspada - Berita Daerah<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/05\/20\/rupiah-melemah-tajam-pengusaha-mulai-waspada\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Rupiah Melemah Tajam, Pengusaha Mulai Waspada - Berita Daerah\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"(Beritadaerah-Kolom) Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan setelah menyentuh level Rp17.705 per dolar Amerika Serikat. Angka tersebut langsung memicu kekhawatiran di tengah masyarakat dan dunia usaha. Banyak orang mulai membandingkan situasi saat ini dengan krisis moneter 1998, ketika pelemahan rupiah berubah menjadi krisis ekonomi besar yang mengguncang Indonesia. Di media sosial, berbagai narasi bermunculan. Ada yang menyebut Indonesia sedang menuju collapse, ada pula yang mulai berbicara tentang kemungkinan chaos ekonomi jika tekanan terhadap rupiah terus berlanjut. Kecemasan publik semakin besar [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/05\/20\/rupiah-melemah-tajam-pengusaha-mulai-waspada\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Berita Daerah\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-05-20T03:14:53+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-05-20T03:19:21+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/gejolak-ekonomi-1024x683.png\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1024\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"683\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/png\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Fadjar Ari Dewanto\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Fadjar Ari Dewanto\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"6 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/\",\"name\":\"Berita Daerah\",\"description\":\"Berita Ekonomi, Investasi dan kegiatan daerah\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/05\/20\/rupiah-melemah-tajam-pengusaha-mulai-waspada\/\",\"url\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/05\/20\/rupiah-melemah-tajam-pengusaha-mulai-waspada\/\",\"name\":\"Rupiah Melemah Tajam, Pengusaha Mulai Waspada - Berita Daerah\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#website\"},\"datePublished\":\"2026-05-20T03:14:53+00:00\",\"dateModified\":\"2026-05-20T03:19:21+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/85ed2f5492b68a7b853f8eb53fbab73b\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/05\/20\/rupiah-melemah-tajam-pengusaha-mulai-waspada\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/05\/20\/rupiah-melemah-tajam-pengusaha-mulai-waspada\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/05\/20\/rupiah-melemah-tajam-pengusaha-mulai-waspada\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Rupiah Melemah Tajam, Pengusaha Mulai Waspada\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/85ed2f5492b68a7b853f8eb53fbab73b\",\"name\":\"Fadjar Ari Dewanto\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/551e2d24aaf1f2eac4a2857f7d83b8bd?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/551e2d24aaf1f2eac4a2857f7d83b8bd?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Fadjar Ari Dewanto\"},\"description\":\"Editor in Chief Vibiz Media Network, Coordinating Partner of Business Advisory Vibiz Consulting.\",\"sameAs\":[\"http:\/\/www.beritadaerah.co.id\"],\"url\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/author\/fajar-ari-dewanto\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Rupiah Melemah Tajam, Pengusaha Mulai Waspada - Berita Daerah","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/05\/20\/rupiah-melemah-tajam-pengusaha-mulai-waspada\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Rupiah Melemah Tajam, Pengusaha Mulai Waspada - Berita Daerah","og_description":"(Beritadaerah-Kolom) Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan setelah menyentuh level Rp17.705 per dolar Amerika Serikat. Angka tersebut langsung memicu kekhawatiran di tengah masyarakat dan dunia usaha. Banyak orang mulai membandingkan situasi saat ini dengan krisis moneter 1998, ketika pelemahan rupiah berubah menjadi krisis ekonomi besar yang mengguncang Indonesia. Di media sosial, berbagai narasi bermunculan. Ada yang menyebut Indonesia sedang menuju collapse, ada pula yang mulai berbicara tentang kemungkinan chaos ekonomi jika tekanan terhadap rupiah terus berlanjut. Kecemasan publik semakin besar [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/05\/20\/rupiah-melemah-tajam-pengusaha-mulai-waspada\/","og_site_name":"Berita Daerah","article_published_time":"2026-05-20T03:14:53+00:00","article_modified_time":"2026-05-20T03:19:21+00:00","og_image":[{"width":1024,"height":683,"url":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/gejolak-ekonomi-1024x683.png","type":"image\/png"}],"author":"Fadjar Ari Dewanto","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Fadjar Ari Dewanto","Est. reading time":"6 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#website","url":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/","name":"Berita Daerah","description":"Berita Ekonomi, Investasi dan kegiatan daerah","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/05\/20\/rupiah-melemah-tajam-pengusaha-mulai-waspada\/","url":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/05\/20\/rupiah-melemah-tajam-pengusaha-mulai-waspada\/","name":"Rupiah Melemah Tajam, Pengusaha Mulai Waspada - Berita Daerah","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#website"},"datePublished":"2026-05-20T03:14:53+00:00","dateModified":"2026-05-20T03:19:21+00:00","author":{"@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/85ed2f5492b68a7b853f8eb53fbab73b"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/05\/20\/rupiah-melemah-tajam-pengusaha-mulai-waspada\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/05\/20\/rupiah-melemah-tajam-pengusaha-mulai-waspada\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/05\/20\/rupiah-melemah-tajam-pengusaha-mulai-waspada\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Rupiah Melemah Tajam, Pengusaha Mulai Waspada"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/85ed2f5492b68a7b853f8eb53fbab73b","name":"Fadjar Ari Dewanto","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/551e2d24aaf1f2eac4a2857f7d83b8bd?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/551e2d24aaf1f2eac4a2857f7d83b8bd?s=96&d=mm&r=g","caption":"Fadjar Ari Dewanto"},"description":"Editor in Chief Vibiz Media Network, Coordinating Partner of Business Advisory Vibiz Consulting.","sameAs":["http:\/\/www.beritadaerah.co.id"],"url":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/author\/fajar-ari-dewanto\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/372755"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/13"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=372755"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/372755\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":372756,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/372755\/revisions\/372756"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/368879"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=372755"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=372755"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=372755"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}