{"id":372346,"date":"2026-05-12T16:40:16","date_gmt":"2026-05-12T09:40:16","guid":{"rendered":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/?p=372346"},"modified":"2026-05-12T16:45:36","modified_gmt":"2026-05-12T09:45:36","slug":"jejak-hijau-dari-secangkir-kopi-sumatera","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/05\/12\/jejak-hijau-dari-secangkir-kopi-sumatera\/","title":{"rendered":"Jejak Hijau dari Secangkir Kopi Sumatera"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"44\" data-end=\"760\">(Beritadaerah-Kolom) Sumatera selama ini dikenal sebagai salah satu rumah besar kopi terbaik dunia. Nama \u201cKopi Sumatera\u201d bukan hanya identitas geografis, melainkan juga simbol cita rasa yang kuat, earthy, pekat, dan memiliki karakter khas yang sulit ditiru daerah lain. Di berbagai kedai kopi dunia, kopi asal Sumatera selalu memiliki tempat tersendiri. Ia hadir sebagai single origin yang dihargai para penikmat kopi sekaligus menjadi campuran penting dalam berbagai racikan kopi global. Namun pada tahun 2026, cerita tentang kopi Sumatera tidak lagi sekadar soal rasa. Di balik aroma dan kekayaan cita rasanya, ada pertarungan besar yang sedang berlangsung: bagaimana kopi dapat bertahan di tengah perubahan iklim yang semakin ekstrem.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"762\" data-end=\"1339\">Perjalanan menuju jantung pertanaman kopi Sumatera dimulai dari Jakarta. Dari Bandara Soekarno-Hatta Terminal 3, perjalanan udara sekitar dua jam membawa rombongan menuju Bandara Kualanamu di Medan. Dari sana perjalanan berlanjut melalui jalur darat menuju pusat Kota Medan sebelum esok harinya bergerak ke daerah dataran tinggi yang menjadi salah satu pusat kopi Sumatera. Perjalanan itu terasa seperti pintu masuk menuju dunia yang berbeda. Kota perlahan ditinggalkan, digantikan oleh udara yang semakin sejuk, perbukitan hijau, dan lanskap pertanian yang membentang panjang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1341\" data-end=\"1734\">Pagi hari dimulai dengan secangkir kopi sebelum perjalanan menuju Berastagi dan Farmer Support Center, sebuah pusat riset dan pembelajaran bagi para petani kopi. Tempat itu menjadi titik penting dalam upaya menjaga masa depan kopi Sumatera. Di sinilah para agronom, peneliti, dan petani bertemu untuk mencari cara agar tanaman kopi mampu bertahan menghadapi perubahan iklim yang semakin nyata.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1736\" data-end=\"2356\">Perjalanan menuju lokasi tidak mudah. Hujan deras mengguyur sepanjang jalan. Padahal sehari sebelumnya cuaca di Medan terasa panas terik. Pergantian cuaca ekstrem dalam waktu singkat menjadi gambaran nyata perubahan iklim yang kini semakin terasa. Fenomena itu bukan lagi isu abstrak yang hanya dibicarakan dalam forum internasional. Perubahan cuaca sudah dirasakan langsung oleh petani di lapangan. Bagi banyak orang kota, ancaman perubahan iklim mungkin terasa jauh. Namun ketika yang terancam adalah sesuatu yang dikonsumsi setiap hari seperti kopi, persoalannya menjadi jauh lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2358\" data-end=\"2894\">Di Farmer Support Center, para agronom menjelaskan bahwa kopi merupakan tanaman yang sangat sensitif terhadap perubahan suhu. Kenaikan temperatur bumi membuat pertumbuhan kopi terganggu. Tanaman menjadi lebih pendek, produktivitas buah menurun, dan kualitas panen ikut terdampak. Cuaca panas juga mempercepat perkembangan hama dan penyakit tanaman. Serangga berkembang biak lebih cepat dan menyerang daun kopi dalam skala lebih besar. Jika kondisi ini terus berlangsung tanpa solusi, keberadaan kopi dapat terancam dalam jangka panjang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2896\" data-end=\"3387\">Sumatera memiliki posisi penting dalam rantai kopi dunia. Karakter kopi dari wilayah ini dianggap unik dan tidak tergantikan. Para pelaku industri kopi internasional melihat Sumatera sebagai salah satu sumber kopi paling berharga di dunia. Kopi Sumatera telah lama hadir dalam berbagai campuran kopi premium dan menjadi identitas penting dalam industri kopi global. Kekayaan rasa yang dalam, body yang kuat, dan kompleksitas aroma menjadikan kopi Sumatera sangat dihargai para penikmat kopi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3389\" data-end=\"3736\">Namun menjaga kopi Sumatera bukan hanya soal mempertahankan rasa. Tantangan terbesar saat ini adalah memastikan tanaman kopi tetap hidup di tengah tekanan lingkungan yang terus berubah. Karena itu, Farmer Support Center berupaya merancang varietas bibit kopi yang lebih tahan terhadap cuaca ekstrem tanpa menghilangkan karakter rasa khas Sumatera.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3738\" data-end=\"4104\">Para peneliti memanfaatkan pengalaman dari berbagai negara penghasil kopi untuk mencari formula yang paling cocok bagi kondisi Indonesia. Bibit unggul menjadi salah satu kunci. Namun mereka menegaskan bahwa solusi tidak berhenti pada bibit semata. Cara menanam juga menjadi faktor yang sangat menentukan. Di sinilah konsep agroforestri mulai memainkan peran penting.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"4106\" data-end=\"4437\">Tanaman kopi ternyata tidak cocok berada di bawah paparan panas berlebihan. Karena itu, petani dianjurkan menanam pohon pelindung seperti lamtoro di sekitar kebun kopi. Pohon-pohon tersebut berfungsi menciptakan suhu yang lebih sejuk dan menjaga kelembapan tanah. Sistem ini membuat tanaman kopi lebih tahan menghadapi cuaca panas.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"4439\" data-end=\"4793\">Manfaat pohon lamtoro tidak berhenti pada fungsi peneduh. Daunnya dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak kambing. Kemudian kotoran kambing diolah menjadi pupuk kompos alami untuk tanaman kopi. Siklus itu menciptakan sistem pertanian yang lebih berkelanjutan karena mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia dan menjaga kesuburan tanah secara alami.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"4795\" data-end=\"5185\">Selain pohon lamtoro, petani juga dianjurkan menanam tanaman lain di sekitar kopi seperti cabai, selada, dan pisang. Sistem tumpang sari tersebut tidak hanya menjaga kondisi lingkungan kebun, tetapi juga memberi tambahan pemasukan bagi petani di luar musim panen kopi. Ketika harga kopi turun atau hasil panen berkurang, petani masih memiliki sumber pendapatan lain dari tanaman pendamping.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"5187\" data-end=\"5500\">Konsep inilah yang kemudian dikenal sebagai praktik coffee and farmer equity. Intinya bukan hanya meningkatkan hasil kopi, tetapi juga menciptakan sistem pertanian yang lebih tangguh secara ekonomi dan ekologis. Kebun kopi tidak lagi berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari ekosistem yang saling mendukung.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"5502\" data-end=\"5842\">Untuk melihat bagaimana teori itu diterapkan di lapangan, perjalanan berlanjut ke perkebunan milik petani. Mereka merupakan petani yang menerapkan praktik berkelanjutan dari Farmer Support Center. Di kebun mereka, pohon kopi tumbuh berdampingan dengan lamtoro, pisang, cabai, dan berbagai tanaman lain.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"5844\" data-end=\"6150\">Mereka menjelaskan bahwa kopi sangat tidak tahan terhadap panas berlebihan. Ketika suhu terlalu tinggi, tanaman menjadi layu dan pertumbuhannya terganggu. Sebaliknya, hujan justru membuat tanaman lebih segar. Karena itu, perubahan pola cuaca yang tidak menentu menjadi tantangan besar bagi petani kopi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"6152\" data-end=\"6437\">Ia juga menunjukkan daun-daun kopi yang berlubang akibat serangan hama. Menurutnya, salah satu cara untuk mengurangi dampak panas dan menjaga kesehatan tanaman adalah memperbanyak pohon naungan. Dengan adanya pohon pelindung, tanaman kopi menjadi lebih kuat menghadapi perubahan cuaca.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"6439\" data-end=\"6809\">Para petani mengakui tidak semua petani menerapkan pola tanam seperti itu. Banyak petani masih menanam kopi secara konvensional tanpa pohon naungan. Namun menurut pengalamannya, produktivitas kebun yang menggunakan sistem agroforestri jauh lebih baik dibanding kebun kopi tanpa pelindung. Tanaman lebih tahan, pertumbuhan lebih stabil, dan risiko gagal panen lebih kecil.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"6811\" data-end=\"7124\">Di tengah kebun itu terlihat jelas bahwa menanam kopi tidak harus identik dengan pembukaan lahan besar-besaran. Kebun kopi justru dapat menjadi ruang hijau yang dipenuhi berbagai jenis tanaman. Pohon-pohon peneduh membantu menyerap karbon dioksida, menjaga kelembapan tanah, serta mendukung keanekaragaman hayati.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"7126\" data-end=\"7451\">Praktik seperti itu menunjukkan bahwa pertanian tidak selalu harus menjadi ancaman bagi lingkungan. Dalam sistem agroforestri, pertanian justru dapat menjadi alat restorasi alam. Kebun kopi tidak hanya menghasilkan komoditas ekonomi, tetapi juga memproduksi oksigen, menyimpan air tanah, dan membantu mengurangi emisi karbon.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"7453\" data-end=\"7799\">Prinsip keberlanjutan juga diterapkan dalam kelompok perempuan petani yang mendapat pendampingan melalui program pemberdayaan. Di kebun-kebun kecil mereka, kopi berfungsi sebagai tanaman pagar yang melindungi tanaman sayuran seperti selada, bawang, dan cabai. Mereka juga belajar membuat pupuk cair alami dari hasil kebun melalui proses ekoenzim.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"7801\" data-end=\"8065\">Pendekatan tersebut membantu petani perempuan mengurangi biaya produksi sekaligus meningkatkan kemandirian pertanian. Mereka tidak hanya bergantung pada pupuk kimia yang harganya semakin mahal, tetapi mampu memanfaatkan sumber daya yang tersedia di sekitar mereka.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"8067\" data-end=\"8348\">Apa yang dilakukan kelompok perempuan itu memperlihatkan bahwa keberlanjutan bukan konsep besar yang hanya bisa dilakukan perusahaan besar. Di tingkat desa, praktik sederhana seperti pengolahan kompos alami dan penanaman campuran sudah mampu menciptakan dampak ekologis yang nyata.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"8350\" data-end=\"8599\">Secara perlahan, kebun-kebun itu berubah menjadi bentuk reforestasi modern. Pepohonan tumbuh kembali, tanah lebih terjaga, dan lingkungan menjadi lebih hijau. Di tengah ancaman perubahan iklim, kebun kopi justru menjadi benteng pertahanan bagi alam.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"8601\" data-end=\"8929\">Para pengelola Farmer Support Center menekankan bahwa perubahan iklim adalah ancaman global yang memengaruhi pertanian di seluruh dunia. Karena itu, informasi terbaru mengenai bibit tahan penyakit, teknik tanam, dan pengelolaan lahan harus terus dibagikan kepada komunitas petani. Pengetahuan menjadi kunci utama untuk bertahan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"8931\" data-end=\"9206\">Selain teknik budidaya, cita rasa kopi juga menjadi perhatian penting. Tantangan besar berikutnya adalah bagaimana menghasilkan kopi tahan perubahan iklim tanpa mengorbankan karakter rasa khas Sumatera. Di sinilah metode wet hulling atau giling basah memainkan peran penting.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"9208\" data-end=\"9530\">Metode ini merupakan teknik khas Sumatera yang membedakan kopi daerah tersebut dari kopi negara lain. Prosesnya dimulai dengan pemilihan buah kopi matang melalui perendaman di kolam air. Buah yang tenggelam dianggap memiliki kualitas terbaik. Setelah itu buah dikupas, difermentasi, dan dikeringkan dengan teknik tertentu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"9532\" data-end=\"9781\">Kondisi cuaca, kualitas tanah, dan metode pengolahan menciptakan profil rasa khas Sumatera yang dalam dan kompleks. Kombinasi faktor alam dan teknik tradisional itulah yang menjadikan kopi Sumatera memiliki identitas yang sangat kuat di pasar dunia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"9783\" data-end=\"10091\">Setelah proses panen dan pengolahan awal, biji kopi masih harus melalui tahap penyortiran di dry mill. Di fasilitas tersebut, mesin-mesin modern bekerja memisahkan biji berdasarkan ukuran, berat, hingga warna menggunakan teknologi laser. Biji yang dianggap cacat dipisahkan demi menjaga konsistensi kualitas.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"10093\" data-end=\"10405\">Namun secanggih apa pun teknologi, sentuhan manusia tetap menjadi penentu akhir. Para pekerja perempuan melakukan sortir manual dengan ketelitian tinggi. Mereka memastikan tidak ada biji cacat yang lolos ke tahap akhir produksi. Ketelitian itu menjadi bagian penting dalam menjaga standar kualitas kopi Sumatera.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"10407\" data-end=\"10722\">Tahap akhir adalah quality control dan sesi cupping atau pencicipan kopi. Di sinilah seluruh proses panjang tadi diuji. Hasilnya mengejutkan. Kopi yang ditanam dengan pendekatan berkelanjutan ternyata tidak kehilangan cita rasa khasnya. Bahkan rasa yang dihasilkan dianggap lebih kompleks, segar, dan kaya karakter.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"10724\" data-end=\"11007\">Pengalaman mencicipi kopi itu menjadi bukti bahwa keberlanjutan tidak berarti menurunkan kualitas. Alam justru membalas perawatan yang baik dengan hasil yang lebih istimewa. Ketika tanah dijaga, pohon dilindungi, dan ekosistem dipulihkan, kopi tumbuh dengan karakter yang lebih kuat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"11009\" data-end=\"11257\">Tantangan di Sumatera memang masih besar. Infrastruktur di beberapa wilayah belum memadai. Cuaca ekstrem sering memperburuk kondisi jalan dan distribusi hasil panen. Namun dibanding dua dekade lalu, ada satu hal yang berubah besar: akses informasi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"11259\" data-end=\"11545\">Kini para petani semakin mudah memperoleh pengetahuan melalui teknologi digital dan platform daring. Informasi mengenai harga kopi, teknik pertanian, hingga perubahan cuaca dapat diakses lebih cepat. Perubahan itu membuat petani jauh lebih siap menghadapi tantangan dibanding masa lalu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"11547\" data-end=\"11821\">Perjalanan panjang di Sumatera akhirnya memberikan satu kesadaran penting, kopi bukan sekadar minuman. Ia adalah jembatan antara manusia dan alam. Di balik setiap cangkir kopi terdapat rantai panjang kerja keras petani, riset ilmiah, teknologi, dan upaya menjaga lingkungan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"11823\" data-end=\"12122\">Agroforestri yang diterapkan di kebun-kebun kopi Sumatera memperlihatkan bahwa ekonomi dan ekologi tidak harus saling bertentangan. Produksi kopi dapat berjalan beriringan dengan restorasi lingkungan. Tanah tetap subur, air tanah terjaga, karbon diserap, dan masyarakat tetap memperoleh penghidupan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"12124\" data-end=\"12466\">Setiap cangkir kopi Sumatera kini membawa cerita tentang harapan dan ketahanan. Ada kisah petani yang mencoba bertahan di tengah cuaca yang berubah. Ada upaya ilmuwan mencari bibit yang lebih kuat. Ada tangan-tangan pekerja yang menjaga kualitas hingga tahap akhir. Dan ada alam yang perlahan dipulihkan melalui cara bertani yang lebih bijak.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"12468\" data-end=\"12777\">Yang menarik, seluruh pengetahuan mengenai praktik pertanian kopi berkelanjutan itu dibagikan secara gratis melalui Farmer Support Center. Siapa saja dapat belajar dan menerapkannya di kebun masing-masing. Pendekatan terbuka itu menjadi penting karena tantangan perubahan iklim tidak dapat dihadapi sendirian.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"12779\" data-end=\"13056\">Krisis lingkungan yang terjadi saat ini mungkin merupakan akibat dari perilaku manusia selama bertahun-tahun. Namun masa depan tidak akan berubah jika manusia terus terjebak dalam penyesalan. Yang dibutuhkan sekarang adalah solusi baru dan keberanian untuk mengubah cara hidup.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"13058\" data-end=\"13405\">Di Sumatera, solusi itu ternyata bisa dimulai dari secangkir kopi. Dari kebun-kebun yang tetap hijau. Dari pohon lamtoro yang menaungi tanaman kopi. Dari petani yang belajar menjaga alam sambil mempertahankan penghidupan mereka. Dari kesadaran bahwa menjaga bumi bukan hanya tugas aktivis lingkungan, tetapi juga bagian dari kehidupan sehari-hari.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"13407\" data-end=\"13851\" data-is-last-node=\"\" data-is-only-node=\"\">Perjalanan ini meninggalkan pesan sederhana namun kuat: masa depan kopi dan masa depan bumi ternyata saling terhubung. Ketika manusia merawat alam dengan lebih baik, alam juga memberikan hasil yang lebih baik. Dan mungkin, di tengah ancaman perubahan iklim yang semakin nyata, secangkir kopi Sumatera dapat menjadi simbol harapan bahwa manusia masih punya kesempatan untuk memperbaiki hubungan dengan bumi yang selama ini menopang kehidupannya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Beritadaerah-Kolom) Sumatera selama ini dikenal sebagai salah satu rumah besar kopi terbaik dunia. Nama \u201cKopi Sumatera\u201d bukan hanya identitas geografis, melainkan juga simbol cita rasa yang kuat, earthy, pekat, dan memiliki karakter khas yang sulit ditiru daerah lain. Di berbagai kedai kopi dunia, kopi asal Sumatera selalu memiliki tempat tersendiri. Ia hadir sebagai single origin yang dihargai para penikmat kopi sekaligus menjadi campuran penting dalam berbagai racikan kopi global. Namun pada tahun 2026, cerita tentang kopi Sumatera tidak lagi sekadar [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":13,"featured_media":350697,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"kia_subtitle":""},"categories":[6],"tags":[3652],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v19.4 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Jejak Hijau dari Secangkir Kopi Sumatera - Berita Daerah<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/05\/12\/jejak-hijau-dari-secangkir-kopi-sumatera\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Jejak Hijau dari Secangkir Kopi Sumatera - Berita Daerah\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"(Beritadaerah-Kolom) Sumatera selama ini dikenal sebagai salah satu rumah besar kopi terbaik dunia. Nama \u201cKopi Sumatera\u201d bukan hanya identitas geografis, melainkan juga simbol cita rasa yang kuat, earthy, pekat, dan memiliki karakter khas yang sulit ditiru daerah lain. Di berbagai kedai kopi dunia, kopi asal Sumatera selalu memiliki tempat tersendiri. Ia hadir sebagai single origin yang dihargai para penikmat kopi sekaligus menjadi campuran penting dalam berbagai racikan kopi global. Namun pada tahun 2026, cerita tentang kopi Sumatera tidak lagi sekadar [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/05\/12\/jejak-hijau-dari-secangkir-kopi-sumatera\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Berita Daerah\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-05-12T09:40:16+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-05-12T09:45:36+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/Biji-kopi-1.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"740\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"493\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Fadjar Ari Dewanto\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Fadjar Ari Dewanto\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"9 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/\",\"name\":\"Berita Daerah\",\"description\":\"Berita Ekonomi, Investasi dan kegiatan daerah\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/05\/12\/jejak-hijau-dari-secangkir-kopi-sumatera\/\",\"url\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/05\/12\/jejak-hijau-dari-secangkir-kopi-sumatera\/\",\"name\":\"Jejak Hijau dari Secangkir Kopi Sumatera - Berita Daerah\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#website\"},\"datePublished\":\"2026-05-12T09:40:16+00:00\",\"dateModified\":\"2026-05-12T09:45:36+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/85ed2f5492b68a7b853f8eb53fbab73b\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/05\/12\/jejak-hijau-dari-secangkir-kopi-sumatera\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/05\/12\/jejak-hijau-dari-secangkir-kopi-sumatera\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/05\/12\/jejak-hijau-dari-secangkir-kopi-sumatera\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Jejak Hijau dari Secangkir Kopi Sumatera\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/85ed2f5492b68a7b853f8eb53fbab73b\",\"name\":\"Fadjar Ari Dewanto\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/551e2d24aaf1f2eac4a2857f7d83b8bd?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/551e2d24aaf1f2eac4a2857f7d83b8bd?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Fadjar Ari Dewanto\"},\"description\":\"Editor in Chief Vibiz Media Network, Coordinating Partner of Business Advisory Vibiz Consulting.\",\"sameAs\":[\"http:\/\/www.beritadaerah.co.id\"],\"url\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/author\/fajar-ari-dewanto\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Jejak Hijau dari Secangkir Kopi Sumatera - Berita Daerah","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/05\/12\/jejak-hijau-dari-secangkir-kopi-sumatera\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Jejak Hijau dari Secangkir Kopi Sumatera - Berita Daerah","og_description":"(Beritadaerah-Kolom) Sumatera selama ini dikenal sebagai salah satu rumah besar kopi terbaik dunia. Nama \u201cKopi Sumatera\u201d bukan hanya identitas geografis, melainkan juga simbol cita rasa yang kuat, earthy, pekat, dan memiliki karakter khas yang sulit ditiru daerah lain. Di berbagai kedai kopi dunia, kopi asal Sumatera selalu memiliki tempat tersendiri. Ia hadir sebagai single origin yang dihargai para penikmat kopi sekaligus menjadi campuran penting dalam berbagai racikan kopi global. Namun pada tahun 2026, cerita tentang kopi Sumatera tidak lagi sekadar [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/05\/12\/jejak-hijau-dari-secangkir-kopi-sumatera\/","og_site_name":"Berita Daerah","article_published_time":"2026-05-12T09:40:16+00:00","article_modified_time":"2026-05-12T09:45:36+00:00","og_image":[{"width":740,"height":493,"url":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/Biji-kopi-1.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Fadjar Ari Dewanto","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Fadjar Ari Dewanto","Est. reading time":"9 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#website","url":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/","name":"Berita Daerah","description":"Berita Ekonomi, Investasi dan kegiatan daerah","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/05\/12\/jejak-hijau-dari-secangkir-kopi-sumatera\/","url":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/05\/12\/jejak-hijau-dari-secangkir-kopi-sumatera\/","name":"Jejak Hijau dari Secangkir Kopi Sumatera - Berita Daerah","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#website"},"datePublished":"2026-05-12T09:40:16+00:00","dateModified":"2026-05-12T09:45:36+00:00","author":{"@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/85ed2f5492b68a7b853f8eb53fbab73b"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/05\/12\/jejak-hijau-dari-secangkir-kopi-sumatera\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/05\/12\/jejak-hijau-dari-secangkir-kopi-sumatera\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/05\/12\/jejak-hijau-dari-secangkir-kopi-sumatera\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Jejak Hijau dari Secangkir Kopi Sumatera"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/85ed2f5492b68a7b853f8eb53fbab73b","name":"Fadjar Ari Dewanto","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/551e2d24aaf1f2eac4a2857f7d83b8bd?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/551e2d24aaf1f2eac4a2857f7d83b8bd?s=96&d=mm&r=g","caption":"Fadjar Ari Dewanto"},"description":"Editor in Chief Vibiz Media Network, Coordinating Partner of Business Advisory Vibiz Consulting.","sameAs":["http:\/\/www.beritadaerah.co.id"],"url":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/author\/fajar-ari-dewanto\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/372346"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/13"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=372346"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/372346\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":372362,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/372346\/revisions\/372362"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/350697"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=372346"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=372346"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=372346"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}