{"id":372077,"date":"2026-05-07T10:44:45","date_gmt":"2026-05-07T03:44:45","guid":{"rendered":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/?p=372077"},"modified":"2026-05-07T10:46:32","modified_gmt":"2026-05-07T03:46:32","slug":"ketergantungan-industri-dan-arah-impor-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/05\/07\/ketergantungan-industri-dan-arah-impor-indonesia\/","title":{"rendered":"Ketergantungan Industri dan Arah Impor Indonesia"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"52\" data-end=\"740\">(Beritadaerah-Kolom) Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik tentang Statistik Perdagangan Luar Negeri Bulanan Impor Februari 2026, nilai impor Indonesia pada Februari 2026 mencapai US$20,89 miliar. Angka tersebut terdiri dari impor migas sebesar US$1,99 miliar dan impor nonmigas sebesar US$18,89 miliar. Secara bulanan, nilai impor mengalami penurunan dibanding Januari 2026, terutama akibat turunnya impor migas. Namun secara tahunan, impor Indonesia justru meningkat 10,85 persen dibanding Februari 2025. Kenaikan itu terutama ditopang oleh impor nonmigas yang tumbuh signifikan, mencerminkan masih kuatnya aktivitas industri domestik dan tingginya kebutuhan bahan baku untuk sektor manufaktur nasional.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"742\" data-end=\"1344\">Data tersebut memberikan gambaran yang lebih luas tentang struktur ekonomi Indonesia saat ini. Di satu sisi, meningkatnya impor nonmigas dapat diartikan sebagai sinyal positif karena industri nasional masih bergerak aktif, terutama sektor manufaktur, konstruksi, otomotif, elektronik, hingga industri berbasis pengolahan. Namun di sisi lain, tingginya ketergantungan terhadap impor bahan baku dan barang modal juga memperlihatkan bahwa struktur industri Indonesia masih belum sepenuhnya mandiri. Banyak sektor strategis masih sangat bergantung pada pasokan luar negeri untuk menopang produksi domestik.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1346\" data-end=\"1903\">Dalam laporan BPS disebutkan bahwa golongan bahan baku dan barang penolong masih mendominasi struktur impor Indonesia dengan porsi mencapai 69,51 persen dari total impor nasional pada Februari 2026. Nilainya mencapai lebih dari US$14,52 miliar. Sementara barang modal mencapai US$4,61 miliar atau sekitar 22,07 persen dari total impor. Adapun barang konsumsi hanya sekitar 8,42 persen. Struktur ini menunjukkan bahwa mayoritas impor Indonesia bukanlah barang jadi untuk konsumsi masyarakat, melainkan komponen produksi yang dibutuhkan industri dalam negeri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1905\" data-end=\"2456\">Kondisi tersebut sering kali menjadi bahan perdebatan dalam kebijakan ekonomi nasional. Sebagian kalangan melihat tingginya impor sebagai ancaman terhadap neraca perdagangan dan stabilitas nilai tukar rupiah. Namun dalam konteks negara berkembang dengan basis industri yang terus bertumbuh seperti Indonesia, impor bahan baku dan barang modal justru sering menjadi indikator ekspansi ekonomi. Ketika industri memperluas kapasitas produksi, kebutuhan terhadap mesin, peralatan mekanis, bahan kimia, logam, hingga komponen elektronik otomatis meningkat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2458\" data-end=\"3056\">Hal ini terlihat jelas dari komoditas impor terbesar Indonesia pada Februari 2026. Mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya menempati posisi pertama dengan nilai impor mencapai US$3,73 miliar atau sekitar 17,89 persen dari total impor nasional. Nilai tersebut melonjak lebih dari 51 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Mesin dan perlengkapan elektrik berada di posisi kedua dengan nilai US$2,74 miliar. Kenaikan impor kedua kelompok barang ini memperlihatkan bahwa sektor industri dan manufaktur nasional sedang berada dalam fase investasi maupun peningkatan kapasitas produksi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3058\" data-end=\"3521\">Lonjakan impor mesin sebenarnya dapat dibaca sebagai sinyal optimisme dunia usaha. Pelaku industri biasanya tidak akan meningkatkan impor mesin apabila prospek produksi dan permintaan domestik melemah. Mesin-mesin tersebut dibutuhkan untuk memperbesar kapasitas pabrik, meningkatkan efisiensi produksi, atau mendukung investasi baru di sektor manufaktur. Dalam jangka panjang, impor barang modal seperti ini berpotensi meningkatkan produktivitas ekonomi nasional.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3523\" data-end=\"4008\">Namun di balik optimisme tersebut, terdapat tantangan besar terkait kemampuan industri nasional dalam membangun rantai pasok domestik yang kuat. Sebagian besar mesin industri masih harus diimpor karena kapasitas industri permesinan dalam negeri belum berkembang optimal. Ketergantungan terhadap impor teknologi dan peralatan produksi menyebabkan struktur industri Indonesia rentan terhadap fluktuasi nilai tukar, gangguan rantai pasok global, hingga perubahan geopolitik internasional.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"4010\" data-end=\"4505\">Fenomena serupa terlihat pada impor mesin perlengkapan elektrik dan berbagai produk teknologi lainnya. Dalam laporan BPS, impor mesin dan perlengkapan elektrik mencapai lebih dari US$2,74 miliar. Produk-produk ini sangat penting bagi industri elektronik, telekomunikasi, otomotif modern, hingga pengembangan infrastruktur digital. Ketika Indonesia memasuki era transformasi digital dan industrialisasi berbasis teknologi, kebutuhan terhadap komponen elektronik diperkirakan akan terus meningkat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"4507\" data-end=\"4981\">Ketergantungan pada impor teknologi sebenarnya tidak hanya dialami Indonesia. Banyak negara berkembang menghadapi persoalan serupa karena pembangunan industri teknologi tinggi membutuhkan investasi besar, penguasaan riset jangka panjang, dan sumber daya manusia berkualitas tinggi. Namun tantangan terbesar bagi Indonesia adalah bagaimana menjadikan impor teknologi sebagai batu loncatan untuk memperkuat industri nasional, bukan sekadar memperbesar ketergantungan permanen.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"4983\" data-end=\"5380\">Selain mesin dan elektronik, impor logam mulia dan perhiasan juga mencatat kenaikan signifikan. Nilainya mencapai lebih dari US$1,01 miliar atau naik lebih dari 63 persen dibanding Februari 2025. Kenaikan impor logam mulia dapat dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kebutuhan industri, aktivitas perdagangan emas, hingga peningkatan permintaan investasi di tengah ketidakpastian ekonomi global.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"5382\" data-end=\"5735\">Di sisi lain, impor bahan bakar mineral justru mengalami penurunan cukup besar. Nilainya turun hampir 28 persen dibanding tahun sebelumnya menjadi sekitar US$2,39 miliar. Penurunan tersebut terutama dipicu turunnya impor minyak mentah dan hasil minyak. Kondisi ini memberikan sinyal bahwa tekanan impor energi mulai berkurang dibanding tahun sebelumnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"5737\" data-end=\"6215\">Meski demikian, persoalan ketergantungan energi masih menjadi tantangan besar bagi Indonesia. Dalam jangka panjang, impor migas yang tinggi dapat menjadi sumber tekanan terhadap neraca perdagangan dan nilai tukar rupiah. Ketika harga minyak dunia naik, beban impor energi otomatis meningkat. Oleh sebab itu, upaya meningkatkan produksi energi domestik, memperluas penggunaan energi terbarukan, serta memperkuat efisiensi energi menjadi agenda penting bagi perekonomian nasional.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"6217\" data-end=\"6548\">Laporan BPS juga memperlihatkan dominasi Tiongkok sebagai negara asal impor Indonesia. Pada Februari 2026, impor dari Tiongkok mencapai US$7,82 miliar atau sekitar 37,44 persen dari total impor nasional. Angka ini jauh lebih tinggi dibanding negara mitra dagang lainnya seperti Singapura, Jepang, Australia, maupun Amerika Serikat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"6550\" data-end=\"6933\">Dominasi Tiongkok menunjukkan semakin kuatnya posisi negara tersebut dalam rantai pasok global dan regional. Selama dua dekade terakhir, Tiongkok berhasil membangun kapasitas industri manufaktur terbesar di dunia dengan biaya produksi kompetitif dan jaringan logistik yang efisien. Akibatnya, banyak negara termasuk Indonesia sangat bergantung pada produk dan komponen asal Tiongkok.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"6935\" data-end=\"7396\">Bagi Indonesia, hubungan perdagangan dengan Tiongkok memiliki dua sisi. Di satu sisi, produk impor dari Tiongkok membantu menyediakan bahan baku dan barang modal dengan harga relatif kompetitif sehingga menopang industri domestik. Namun di sisi lain, dominasi tersebut juga menciptakan risiko ketergantungan yang tinggi. Gangguan ekonomi, konflik geopolitik, atau perubahan kebijakan perdagangan Tiongkok dapat langsung berdampak pada sektor industri Indonesia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"7398\" data-end=\"7820\">Ketergantungan ini menjadi semakin penting ketika dunia menghadapi fragmentasi geopolitik dan meningkatnya persaingan ekonomi global. Banyak negara mulai melakukan diversifikasi rantai pasok untuk mengurangi risiko ketergantungan terhadap satu negara tertentu. Indonesia juga perlu memperkuat strategi diversifikasi impor sekaligus memperluas basis industri domestik agar tidak terlalu rentan terhadap guncangan eksternal.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"7822\" data-end=\"8228\">Selain Tiongkok, Singapura juga memiliki kontribusi besar terhadap impor Indonesia dengan nilai mencapai lebih dari US$2,05 miliar. Sebagian impor dari Singapura sebenarnya merupakan perdagangan ulang atau re-export karena negara tersebut berfungsi sebagai pusat perdagangan dan logistik regional. Jepang, Australia, dan Amerika Serikat juga tetap menjadi pemasok penting bagi kebutuhan industri Indonesia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"8230\" data-end=\"8605\">Dari sisi kawasan, Asia mendominasi sumber impor Indonesia dengan kontribusi mencapai lebih dari 75 persen. Fakta ini memperlihatkan bahwa integrasi ekonomi Indonesia dengan Asia semakin kuat. Dalam beberapa tahun terakhir, pusat pertumbuhan ekonomi global memang semakin bergeser ke Asia, terutama didorong oleh Tiongkok, India, ASEAN, dan negara-negara industri Asia Timur.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"8607\" data-end=\"8941\">Ketika berbicara tentang impor, penting pula melihat distribusi wilayah pelabuhan bongkar di Indonesia. Data BPS menunjukkan bahwa DKI Jakarta masih menjadi pusat utama impor nasional dengan kontribusi hampir 50 persen dari total impor Indonesia. Nilai impor melalui DKI Jakarta mencapai lebih dari US$10,43 miliar pada Februari 2026.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"8943\" data-end=\"9354\">Dominasi Jakarta mencerminkan sentralisasi aktivitas ekonomi nasional yang masih sangat kuat di Pulau Jawa. Infrastruktur pelabuhan, kawasan industri, pusat distribusi, serta jaringan logistik nasional sebagian besar masih terkonsentrasi di wilayah barat Indonesia. Jawa Timur, Kepulauan Riau, dan Banten juga menjadi provinsi dengan aktivitas impor besar karena keberadaan kawasan industri dan pelabuhan utama.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"9356\" data-end=\"9751\">Namun ketimpangan distribusi ekonomi antarwilayah masih menjadi pekerjaan rumah besar. Banyak wilayah di luar Jawa belum memiliki infrastruktur industri dan logistik yang memadai sehingga kontribusinya terhadap perdagangan nasional relatif kecil. Padahal pemerataan pusat industri dapat membantu memperkuat pertumbuhan ekonomi daerah sekaligus mengurangi tekanan kepadatan ekonomi di Pulau Jawa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"9753\" data-end=\"10118\">Data impor juga memperlihatkan dinamika menarik di beberapa provinsi. Maluku Utara mencatat kenaikan impor sangat tinggi lebih dari 140 persen dibanding tahun sebelumnya. Sulawesi Tenggara juga mengalami lonjakan lebih dari 167 persen. Kenaikan ini kemungkinan terkait ekspansi industri pengolahan mineral dan hilirisasi sumber daya alam di kawasan timur Indonesia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"10120\" data-end=\"10542\">Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah memang mendorong kebijakan hilirisasi terutama untuk sektor mineral strategis seperti nikel. Kebijakan tersebut menarik investasi besar di kawasan timur Indonesia, terutama untuk pembangunan smelter dan industri pengolahan bahan baku baterai kendaraan listrik. Aktivitas industri baru tersebut otomatis meningkatkan kebutuhan impor mesin, peralatan industri, serta bahan penolong.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"10544\" data-end=\"10957\">Di tengah perkembangan tersebut, tantangan utama Indonesia sebenarnya bukan sekadar mengurangi impor secara keseluruhan, melainkan meningkatkan kualitas struktur impor. Impor yang produktif, seperti mesin industri dan bahan baku manufaktur, dapat membantu meningkatkan kapasitas ekonomi nasional. Sebaliknya, impor konsumtif yang tidak memberikan nilai tambah domestik justru dapat memperlemah daya tahan ekonomi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"10959\" data-end=\"11396\">Karena itu, kebijakan substitusi impor tidak dapat dilakukan secara sederhana melalui pembatasan perdagangan semata. Pengalaman banyak negara menunjukkan bahwa proteksionisme berlebihan justru dapat menurunkan efisiensi industri dan meningkatkan biaya produksi. Yang lebih penting adalah bagaimana membangun kapasitas industri domestik secara bertahap sehingga Indonesia mampu memproduksi lebih banyak komponen strategis di dalam negeri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"11398\" data-end=\"11819\">Pembangunan industri hulu menjadi kunci penting dalam mengurangi ketergantungan impor. Selama ini Indonesia masih lemah dalam industri petrokimia, logam dasar, semikonduktor, hingga permesinan. Akibatnya, banyak industri manufaktur nasional tetap harus mengimpor bahan baku utama maupun komponen produksi. Padahal tanpa penguatan industri hulu, cita-cita industrialisasi nasional akan sulit tercapai secara berkelanjutan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"11821\" data-end=\"12205\">Selain itu, peningkatan kualitas sumber daya manusia juga menjadi faktor sangat penting. Industri modern membutuhkan tenaga kerja dengan kemampuan teknologi tinggi, penguasaan otomasi, digitalisasi, hingga kecerdasan buatan. Tanpa peningkatan kualitas pendidikan dan pelatihan industri, Indonesia akan terus berada dalam posisi sebagai pasar teknologi asing, bukan produsen teknologi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"12207\" data-end=\"12581\">Dalam konteks global, tren perdagangan internasional juga sedang berubah. Banyak negara kini berupaya memperpendek rantai pasok dan memperkuat ketahanan industri domestik setelah pengalaman pandemi dan ketegangan geopolitik internasional. Negara-negara maju mulai memberikan subsidi besar untuk industri strategis seperti semikonduktor, energi bersih, dan kendaraan listrik.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"12583\" data-end=\"12973\">Indonesia memiliki peluang besar untuk memanfaatkan perubahan tersebut. Dengan pasar domestik yang besar, sumber daya alam melimpah, dan posisi strategis di Asia Tenggara, Indonesia sebenarnya memiliki modal kuat untuk menjadi pusat manufaktur regional. Namun peluang itu hanya dapat dimanfaatkan apabila kebijakan industri, perdagangan, pendidikan, dan investasi berjalan secara konsisten.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"12975\" data-end=\"13436\">Laporan impor Februari 2026 dari BPS pada akhirnya bukan sekadar kumpulan angka perdagangan. Data tersebut mencerminkan arah transformasi ekonomi Indonesia, dinamika industrialisasi, hingga posisi Indonesia dalam rantai pasok global. Tingginya impor bahan baku dan barang modal memperlihatkan bahwa aktivitas industri masih bergerak. Namun pada saat yang sama, data itu juga menjadi pengingat bahwa kemandirian industri nasional masih menjadi pekerjaan panjang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"13438\" data-end=\"13754\">Indonesia saat ini berada di persimpangan penting. Negara ini dapat terus menjadi pasar besar bagi produk dan teknologi luar negeri, atau secara bertahap membangun kapasitas industri nasional yang lebih kuat dan mandiri. Pilihan tersebut akan sangat menentukan arah ekonomi Indonesia dalam beberapa dekade mendatang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"13756\" data-end=\"14209\">Jika industrialisasi nasional berhasil diperkuat, impor produktif hari ini dapat menjadi fondasi pertumbuhan ekonomi masa depan. Mesin-mesin yang masuk ke pelabuhan Indonesia saat ini bisa menjadi alat untuk meningkatkan produktivitas nasional, menciptakan lapangan kerja berkualitas, dan memperbesar kapasitas ekspor di masa depan. Namun tanpa strategi industri yang jelas, impor hanya akan memperdalam ketergantungan terhadap rantai pasok luar negeri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"14211\" data-end=\"14697\">Karena itu, tantangan utama Indonesia bukanlah menolak impor secara mutlak, melainkan memastikan bahwa setiap aktivitas impor mampu menghasilkan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian nasional. Di situlah inti dari pembangunan ekonomi modern: membangun kemampuan produksi domestik sambil tetap terhubung dengan jaringan perdagangan global. Indonesia tidak bisa menutup diri dari perdagangan internasional, tetapi juga tidak boleh selamanya bergantung pada produksi negara lain.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"14699\" data-end=\"15814\" data-is-last-node=\"\" data-is-only-node=\"\">Data impor Februari 2026 menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia masih terus bergerak, industri masih melakukan ekspansi, dan investasi tetap berjalan. Namun laporan tersebut juga menegaskan bahwa perjalanan menuju kemandirian industri masih panjang. Masa depan ekonomi Indonesia akan sangat ditentukan oleh kemampuan negara ini mengubah ketergantungan impor menjadi kekuatan industrialisasi nasional yang berkelanjutan. Jika pemerintah mampu memperkuat industri hulu, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, memperluas investasi teknologi, serta membangun rantai pasok domestik yang lebih kuat, maka impor tidak lagi sekadar menjadi simbol ketergantungan terhadap luar negeri. Sebaliknya, impor dapat menjadi instrumen transisi menuju ekonomi yang lebih produktif, modern, dan kompetitif di tingkat global. Di tengah perubahan ekonomi dunia yang semakin cepat, kemampuan Indonesia mengelola hubungan antara impor, industrialisasi, dan pembangunan nasional akan menjadi faktor penentu apakah negara ini hanya menjadi pasar besar bagi produk global atau berhasil tumbuh menjadi kekuatan industri baru di kawasan Asia.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Beritadaerah-Kolom) Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik tentang Statistik Perdagangan Luar Negeri Bulanan Impor Februari 2026, nilai impor Indonesia pada Februari 2026 mencapai US$20,89 miliar. Angka tersebut terdiri dari impor migas sebesar US$1,99 miliar dan impor nonmigas sebesar US$18,89 miliar. Secara bulanan, nilai impor mengalami penurunan dibanding Januari 2026, terutama akibat turunnya impor migas. Namun secara tahunan, impor Indonesia justru meningkat 10,85 persen dibanding Februari 2025. Kenaikan itu terutama ditopang oleh impor nonmigas yang tumbuh signifikan, mencerminkan masih kuatnya aktivitas industri [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":13,"featured_media":293741,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"kia_subtitle":""},"categories":[3,93,7,6],"tags":[3650],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v19.4 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Ketergantungan Industri dan Arah Impor Indonesia - Berita Daerah<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/05\/07\/ketergantungan-industri-dan-arah-impor-indonesia\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Ketergantungan Industri dan Arah Impor Indonesia - Berita Daerah\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"(Beritadaerah-Kolom) Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik tentang Statistik Perdagangan Luar Negeri Bulanan Impor Februari 2026, nilai impor Indonesia pada Februari 2026 mencapai US$20,89 miliar. Angka tersebut terdiri dari impor migas sebesar US$1,99 miliar dan impor nonmigas sebesar US$18,89 miliar. Secara bulanan, nilai impor mengalami penurunan dibanding Januari 2026, terutama akibat turunnya impor migas. Namun secara tahunan, impor Indonesia justru meningkat 10,85 persen dibanding Februari 2025. Kenaikan itu terutama ditopang oleh impor nonmigas yang tumbuh signifikan, mencerminkan masih kuatnya aktivitas industri [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/05\/07\/ketergantungan-industri-dan-arah-impor-indonesia\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Berita Daerah\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-05-07T03:44:45+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-05-07T03:46:32+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/Pelabuhan-Kolonedale-Morowali-Utara-Sulawesi-Tengah.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1024\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"768\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Fadjar Ari Dewanto\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Fadjar Ari Dewanto\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"9 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/\",\"name\":\"Berita Daerah\",\"description\":\"Berita Ekonomi, Investasi dan kegiatan daerah\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/05\/07\/ketergantungan-industri-dan-arah-impor-indonesia\/\",\"url\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/05\/07\/ketergantungan-industri-dan-arah-impor-indonesia\/\",\"name\":\"Ketergantungan Industri dan Arah Impor Indonesia - Berita Daerah\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#website\"},\"datePublished\":\"2026-05-07T03:44:45+00:00\",\"dateModified\":\"2026-05-07T03:46:32+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/85ed2f5492b68a7b853f8eb53fbab73b\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/05\/07\/ketergantungan-industri-dan-arah-impor-indonesia\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/05\/07\/ketergantungan-industri-dan-arah-impor-indonesia\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/05\/07\/ketergantungan-industri-dan-arah-impor-indonesia\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Ketergantungan Industri dan Arah Impor Indonesia\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/85ed2f5492b68a7b853f8eb53fbab73b\",\"name\":\"Fadjar Ari Dewanto\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/551e2d24aaf1f2eac4a2857f7d83b8bd?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/551e2d24aaf1f2eac4a2857f7d83b8bd?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Fadjar Ari Dewanto\"},\"description\":\"Editor in Chief Vibiz Media Network, Coordinating Partner of Business Advisory Vibiz Consulting.\",\"sameAs\":[\"http:\/\/www.beritadaerah.co.id\"],\"url\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/author\/fajar-ari-dewanto\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Ketergantungan Industri dan Arah Impor Indonesia - Berita Daerah","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/05\/07\/ketergantungan-industri-dan-arah-impor-indonesia\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Ketergantungan Industri dan Arah Impor Indonesia - Berita Daerah","og_description":"(Beritadaerah-Kolom) Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik tentang Statistik Perdagangan Luar Negeri Bulanan Impor Februari 2026, nilai impor Indonesia pada Februari 2026 mencapai US$20,89 miliar. Angka tersebut terdiri dari impor migas sebesar US$1,99 miliar dan impor nonmigas sebesar US$18,89 miliar. Secara bulanan, nilai impor mengalami penurunan dibanding Januari 2026, terutama akibat turunnya impor migas. Namun secara tahunan, impor Indonesia justru meningkat 10,85 persen dibanding Februari 2025. Kenaikan itu terutama ditopang oleh impor nonmigas yang tumbuh signifikan, mencerminkan masih kuatnya aktivitas industri [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/05\/07\/ketergantungan-industri-dan-arah-impor-indonesia\/","og_site_name":"Berita Daerah","article_published_time":"2026-05-07T03:44:45+00:00","article_modified_time":"2026-05-07T03:46:32+00:00","og_image":[{"width":1024,"height":768,"url":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/Pelabuhan-Kolonedale-Morowali-Utara-Sulawesi-Tengah.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Fadjar Ari Dewanto","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Fadjar Ari Dewanto","Est. reading time":"9 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#website","url":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/","name":"Berita Daerah","description":"Berita Ekonomi, Investasi dan kegiatan daerah","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/05\/07\/ketergantungan-industri-dan-arah-impor-indonesia\/","url":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/05\/07\/ketergantungan-industri-dan-arah-impor-indonesia\/","name":"Ketergantungan Industri dan Arah Impor Indonesia - Berita Daerah","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#website"},"datePublished":"2026-05-07T03:44:45+00:00","dateModified":"2026-05-07T03:46:32+00:00","author":{"@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/85ed2f5492b68a7b853f8eb53fbab73b"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/05\/07\/ketergantungan-industri-dan-arah-impor-indonesia\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/05\/07\/ketergantungan-industri-dan-arah-impor-indonesia\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/05\/07\/ketergantungan-industri-dan-arah-impor-indonesia\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Ketergantungan Industri dan Arah Impor Indonesia"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/85ed2f5492b68a7b853f8eb53fbab73b","name":"Fadjar Ari Dewanto","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/551e2d24aaf1f2eac4a2857f7d83b8bd?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/551e2d24aaf1f2eac4a2857f7d83b8bd?s=96&d=mm&r=g","caption":"Fadjar Ari Dewanto"},"description":"Editor in Chief Vibiz Media Network, Coordinating Partner of Business Advisory Vibiz Consulting.","sameAs":["http:\/\/www.beritadaerah.co.id"],"url":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/author\/fajar-ari-dewanto\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/372077"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/13"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=372077"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/372077\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":372079,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/372077\/revisions\/372079"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/293741"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=372077"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=372077"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=372077"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}