{"id":366929,"date":"2026-02-17T10:52:23","date_gmt":"2026-02-17T03:52:23","guid":{"rendered":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/?p=366929"},"modified":"2026-02-17T11:02:21","modified_gmt":"2026-02-17T04:02:21","slug":"menjaga-daya-tahan-di-tengah-ketidakpastian-ekonomi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/02\/17\/menjaga-daya-tahan-di-tengah-ketidakpastian-ekonomi\/","title":{"rendered":"Menjaga Daya Tahan di Tengah Ketidakpastian Ekonomi"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"57\" data-end=\"712\">(Beritadaerah-Kolom) Dalam beberapa bulan terakhir, percakapan tentang ekonomi terasa semakin sering muncul di ruang-ruang obrolan sehari-hari. Bukan lagi soal teori pertumbuhan atau angka-angka makro yang rumit, melainkan hal-hal sederhana seperti harga kebutuhan pokok, cicilan rumah, biaya sekolah, sampai keputusan apakah sebaiknya menyimpan uang dalam rupiah, dolar, atau emas. Di tengah situasi seperti ini, banyak orang merasakan keganjilan. Di satu sisi, angka pertumbuhan ekonomi nasional masih terlihat stabil di kisaran lima persen. Di sisi lain, keluhan tentang sulitnya mencari kerja, meningkatnya pemutusan hubungan kerja, dan tekanan biaya hidup makin terdengar nyata.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"714\" data-end=\"1062\">Fenomena ini menunjukkan adanya jarak antara statistik dan pengalaman hidup sehari-hari. Secara makro, ekonomi mungkin masih tumbuh. Namun secara mikro, banyak rumah tangga merasa ruang geraknya menyempit. Inilah yang sering disebut sebagai fase pra-resesi belum masuk krisis terbuka, tetapi tanda-tanda perlambatan dan tekanan sudah mulai terasa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1064\" data-end=\"1655\">Salah satu indikator yang sering luput dari perhatian publik adalah kualitas pertumbuhan itu sendiri. Pertumbuhan lima persen terdengar baik, tetapi pertanyaan pentingnya adalah siapa yang menikmati pertumbuhan tersebut? Data perbankan menunjukkan bahwa simpanan dalam jumlah besar\u2014di atas miliaran rupiah\u2014justru meningkat signifikan. Artinya, kelompok dengan kapasitas keuangan kuat cenderung menyimpan lebih banyak dana, bahkan mungkin memilih instrumen yang relatif aman seperti deposito atau emas. Sementara itu, kelompok menengah yang selama ini menjadi motor konsumsi justru tertekan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1657\" data-end=\"2034\">Kelas menengah memegang peran penting dalam ekonomi modern. Mereka adalah konsumen utama, pembayar pajak signifikan, dan sumber tenaga kerja terdidik. Ketika kelompok ini mengalami tekanan\u2014baik karena ancaman PHK, stagnasi pendapatan, atau kenaikan cicilan\u2014dampaknya merembet ke berbagai sektor. Konsumsi melambat, sektor ritel melemah, dan pelaku usaha kecil kehilangan pasar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2036\" data-end=\"2562\">Dalam dua tahun terakhir, laporan tentang meningkatnya pemutusan hubungan kerja semakin sering terdengar. Angka resmi mungkin hanya mencatat puluhan ribu kasus, tetapi realitas di lapangan lebih kompleks. Banyak pekerja yang tidak lagi tercatat sebagai korban PHK karena mereka beralih ke sektor informal menjadi pengemudi transportasi daring, pekerja lepas, atau membuka usaha kecil-kecilan tanpa jaminan pendapatan tetap. Secara statistik, mereka \u201cbekerja\u201d. Namun dari sisi kualitas pekerjaan, terjadi penurunan signifikan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2564\" data-end=\"2968\">Di sisi lain, dunia usaha juga menghadapi dilema. Ketika permintaan melemah, perusahaan melakukan efisiensi. Namun jika efisiensi terjadi secara luas, daya beli makin turun. Ini menciptakan lingkaran yang sulit diputus. Dalam teori ekonomi, pada saat sektor swasta melambat, belanja pemerintah biasanya menjadi penopang. Namun efektivitasnya sangat tergantung pada desain kebijakan dan ketepatan sasaran.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2970\" data-end=\"3496\">Tekanan lain datang dari nilai tukar dan potensi kenaikan suku bunga global. Ketika dolar Amerika Serikat menguat dan ketidakpastian global meningkat, mata uang negara berkembang cenderung tertekan. Kenaikan suku bunga, baik di dalam maupun luar negeri, berdampak langsung pada cicilan kredit\u2014mulai dari kredit rumah hingga modal usaha. Karena itu, nasihat sederhana seperti \u201cjika punya utang, sebaiknya mulai dipertimbangkan untuk dilunasi\u201d terasa semakin relevan. Bukan karena panik, tetapi sebagai langkah manajemen risiko.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3498\" data-end=\"3980\">Perubahan perilaku masyarakat juga tercermin dari lonjakan harga emas. Harga emas global dalam beberapa tahun terakhir naik tajam, dipengaruhi oleh ketidakpastian geopolitik, kebijakan bank sentral, serta meningkatnya permintaan untuk industri teknologi. Di dalam negeri, kenaikannya bahkan terasa lebih cepat. Ketika stok emas fisik di pasar sering habis, itu bukan sekadar tren investasi, melainkan sinyal psikologis masyarakat mencari tempat berlindung yang dianggap lebih aman.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3982\" data-end=\"4292\">Secara historis, emas memang berkorelasi dengan indeks ketidakpastian. Ketika orang merasa masa depan sulit diprediksi, mereka cenderung mengurangi konsumsi dan meningkatkan tabungan dalam bentuk aset lindung nilai. Ini bukan berarti ekonomi akan runtuh, tetapi menunjukkan meningkatnya kehati-hatian kolektif.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"4294\" data-end=\"4826\">Di luar isu stabilitas makro, tantangan jangka panjang Indonesia terletak pada struktur ekonomi. Ketimpangan kepemilikan aset masih tinggi. Jika diukur bukan dari pengeluaran, melainkan dari distribusi kekayaan, jurangnya terlihat lebih lebar. Sejumlah kecil individu menguasai aset dalam jumlah sangat besar, sementara jutaan rumah tangga petani dan pekerja informal memiliki lahan atau modal yang sangat terbatas. Ketimpangan semacam ini berpotensi melemahkan daya tahan ekonomi karena konsumsi dan investasi menjadi tidak merata.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"4828\" data-end=\"5478\">Selain itu, kualitas sumber daya manusia menjadi faktor kunci dalam menarik investasi jangka panjang. Dalam persaingan global yang semakin berbasis teknologi\u2014mulai dari kecerdasan buatan, pusat data, hingga semikonduktor\u2014yang dicari investor bukan sekadar insentif pajak, tetapi kepastian kebijakan dan kualitas tenaga kerja. Perusahaan seperti <span class=\"hover:entity-accent entity-underline inline cursor-pointer align-baseline\"><span class=\"whitespace-normal\">Intel<\/span><\/span> atau <span class=\"hover:entity-accent entity-underline inline cursor-pointer align-baseline\"><span class=\"whitespace-normal\">Nvidia<\/span><\/span> akan mempertimbangkan stabilitas regulasi dan ketersediaan talenta sebelum memutuskan lokasi investasi. Tanpa fondasi pendidikan dan pelatihan yang kuat, sulit bagi negara mana pun untuk naik kelas dalam rantai nilai global.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"5480\" data-end=\"5894\">Kebijakan industri juga memerlukan konsistensi jangka panjang. Investor umumnya membuat proyeksi 10 hingga 20 tahun. Jika aturan berubah secara mendadak atau sinyal kebijakan tidak konsisten, persepsi risiko meningkat. Dalam ekonomi modern, persepsi sering kali sama pentingnya dengan realitas. Ketidakpastian regulasi dapat menunda investasi, dan penundaan investasi berarti tertundanya penciptaan lapangan kerja.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"5896\" data-end=\"6383\">Dalam konteks global, dinamika geopolitik semakin kompleks. Dunia tidak lagi unipolar. Blok ekonomi baru bermunculan, kerja sama regional berkembang, dan ketegangan perdagangan masih terjadi. Keputusan-keputusan ekonomi di tingkat global\u2014baik kebijakan suku bunga bank sentral besar maupun konflik dagang\u2014dapat menjadi pemicu eksternal yang memperburuk tekanan domestik. Sejarah menunjukkan bahwa krisis besar sering kali dipicu oleh kombinasi kelemahan internal dan guncangan eksternal.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"6385\" data-end=\"6767\">Namun, di tengah semua tantangan ini, penting untuk menghindari sikap fatalistik. Ekonomi bukan hanya tentang angka-angka, melainkan tentang respons. Indonesia pernah melewati berbagai ujian: krisis Asia, krisis global 2008, hingga pandemi COVID-19. Setiap periode membawa pelajaran tentang pentingnya diversifikasi ekonomi, penguatan jaring pengaman sosial, dan solidaritas sosial.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"6769\" data-end=\"7074\">Untuk tahun 2026, proyeksi pertumbuhan mungkin masih berada di kisaran lima persen, meski target lebih tinggi terdengar ambisius. Tantangannya adalah memastikan pertumbuhan tersebut inklusif dan terasa di lapisan masyarakat yang lebih luas. Jika tidak, jurang antara angka dan realitas akan semakin lebar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"7076\" data-end=\"7597\">Bagi individu dan keluarga, langkah-langkah sederhana bisa menjadi strategi bertahan. Pertama, kelola utang dengan hati-hati. Jika memungkinkan, kurangi beban cicilan sebelum suku bunga naik lebih tinggi. Kedua, bangun dana darurat minimal untuk enam bulan pengeluaran. Ketiga, diversifikasi aset secara wajar\u2014tidak harus semuanya emas, tetapi kombinasi yang sesuai profil risiko. Keempat, tingkatkan keterampilan. Dalam ekonomi yang berubah cepat, keahlian baru sering menjadi pelindung terbaik dari risiko pengangguran.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"7599\" data-end=\"7903\">Di tingkat komunitas, pengalaman pandemi menunjukkan bahwa solidaritas warga membantu warga adalah benteng terakhir ketika sistem formal kewalahan. Ekonomi lokal\u2014koperasi, UMKM, jaringan distribusi berbasis komunitas\u2014dapat menjadi penguat ketahanan sosial jika dikelola secara transparan dan profesional.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"7905\" data-end=\"8391\">Ekonomi adalah cerminan pilihan kolektif. Apakah sumber daya difokuskan pada investasi jangka panjang seperti pendidikan dan produktivitas, atau lebih banyak terserap pada belanja yang kurang berdampak? Apakah kebijakan dirancang dengan konsistensi jangka panjang, atau berubah mengikuti tekanan sesaat? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini akan menentukan apakah awan gelap yang terlihat hari ini akan benar-benar menjadi badai, atau sekadar mendung yang bisa dilalui.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"8393\" data-end=\"8713\">Ketidakpastian memang meningkat. Harga emas melonjak, nilai tukar berfluktuasi, dan pasar tenaga kerja terasa lebih sempit. Namun dalam setiap fase perlambatan, selalu ada ruang untuk pembenahan. Kuncinya terletak pada keberanian mengevaluasi, memperbaiki desain kebijakan, dan menguatkan fondasi produktivitas nasional.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"8715\" data-end=\"9011\">Bagi masyarakat, kehati-hatian adalah sikap rasional, bukan pesimisme. Mengelola utang, menabung dengan bijak, dan terus belajar adalah bentuk adaptasi. Bagi pelaku usaha, efisiensi perlu dibarengi inovasi. Bagi pembuat kebijakan, konsistensi dan kejelasan arah menjadi mata uang paling berharga.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"9013\" data-end=\"9294\">Jika semua pihak mampu membaca tanda-tanda zaman dan merespons dengan tepat, maka periode ini bisa menjadi fase konsolidasi sebelum melompat lebih tinggi. Tetapi jika sinyal-sinyal peringatan diabaikan, sejarah menunjukkan bahwa koreksi sering datang dengan cara yang tidak nyaman.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"9296\" data-end=\"9682\" data-is-last-node=\"\" data-is-only-node=\"\">Ekonomi tidak pernah sepenuhnya pasti. Namun daya tahan dibangun bukan saat keadaan baik, melainkan saat tekanan mulai terasa. Tahun-tahun ke depan mungkin tidak mudah. Namun dengan manajemen risiko yang cermat, investasi pada manusia, dan penguatan kepercayaan, Indonesia tetap memiliki peluang untuk menjaga stabilitas dan membuka jalan menuju pertumbuhan yang lebih sehat dan merata.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Beritadaerah-Kolom) Dalam beberapa bulan terakhir, percakapan tentang ekonomi terasa semakin sering muncul di ruang-ruang obrolan sehari-hari. Bukan lagi soal teori pertumbuhan atau angka-angka makro yang rumit, melainkan hal-hal sederhana seperti harga kebutuhan pokok, cicilan rumah, biaya sekolah, sampai keputusan apakah sebaiknya menyimpan uang dalam rupiah, dolar, atau emas. Di tengah situasi seperti ini, banyak orang merasakan keganjilan. Di satu sisi, angka pertumbuhan ekonomi nasional masih terlihat stabil di kisaran lima persen. Di sisi lain, keluhan tentang sulitnya mencari kerja, meningkatnya [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":13,"featured_media":356721,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"kia_subtitle":""},"categories":[3,93,6,176],"tags":[351],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v19.4 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Menjaga Daya Tahan di Tengah Ketidakpastian Ekonomi - Berita Daerah<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Kelas menengah memegang peran penting dalam ekonomi modern. Mereka adalah konsumen utama, pembayar pajak, dan sumber tenaga kerja terdidik.\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/02\/17\/menjaga-daya-tahan-di-tengah-ketidakpastian-ekonomi\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Menjaga Daya Tahan di Tengah Ketidakpastian Ekonomi - Berita Daerah\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Kelas menengah memegang peran penting dalam ekonomi modern. Mereka adalah konsumen utama, pembayar pajak, dan sumber tenaga kerja terdidik.\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/02\/17\/menjaga-daya-tahan-di-tengah-ketidakpastian-ekonomi\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Berita Daerah\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-02-17T03:52:23+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-02-17T04:02:21+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/Kedai-Soewan-Blitar-Image-Blitar-kota.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1351\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1027\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Fadjar Ari Dewanto\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Fadjar Ari Dewanto\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"6 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/\",\"name\":\"Berita Daerah\",\"description\":\"Berita Ekonomi, Investasi dan kegiatan daerah\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/02\/17\/menjaga-daya-tahan-di-tengah-ketidakpastian-ekonomi\/\",\"url\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/02\/17\/menjaga-daya-tahan-di-tengah-ketidakpastian-ekonomi\/\",\"name\":\"Menjaga Daya Tahan di Tengah Ketidakpastian Ekonomi - Berita Daerah\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#website\"},\"datePublished\":\"2026-02-17T03:52:23+00:00\",\"dateModified\":\"2026-02-17T04:02:21+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/85ed2f5492b68a7b853f8eb53fbab73b\"},\"description\":\"Kelas menengah memegang peran penting dalam ekonomi modern. Mereka adalah konsumen utama, pembayar pajak, dan sumber tenaga kerja terdidik.\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/02\/17\/menjaga-daya-tahan-di-tengah-ketidakpastian-ekonomi\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/02\/17\/menjaga-daya-tahan-di-tengah-ketidakpastian-ekonomi\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/02\/17\/menjaga-daya-tahan-di-tengah-ketidakpastian-ekonomi\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Menjaga Daya Tahan di Tengah Ketidakpastian Ekonomi\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/85ed2f5492b68a7b853f8eb53fbab73b\",\"name\":\"Fadjar Ari Dewanto\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/551e2d24aaf1f2eac4a2857f7d83b8bd?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/551e2d24aaf1f2eac4a2857f7d83b8bd?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Fadjar Ari Dewanto\"},\"description\":\"Editor in Chief Vibiz Media Network, Coordinating Partner of Business Advisory Vibiz Consulting.\",\"sameAs\":[\"http:\/\/www.beritadaerah.co.id\"],\"url\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/author\/fajar-ari-dewanto\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Menjaga Daya Tahan di Tengah Ketidakpastian Ekonomi - Berita Daerah","description":"Kelas menengah memegang peran penting dalam ekonomi modern. Mereka adalah konsumen utama, pembayar pajak, dan sumber tenaga kerja terdidik.","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/02\/17\/menjaga-daya-tahan-di-tengah-ketidakpastian-ekonomi\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Menjaga Daya Tahan di Tengah Ketidakpastian Ekonomi - Berita Daerah","og_description":"Kelas menengah memegang peran penting dalam ekonomi modern. Mereka adalah konsumen utama, pembayar pajak, dan sumber tenaga kerja terdidik.","og_url":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/02\/17\/menjaga-daya-tahan-di-tengah-ketidakpastian-ekonomi\/","og_site_name":"Berita Daerah","article_published_time":"2026-02-17T03:52:23+00:00","article_modified_time":"2026-02-17T04:02:21+00:00","og_image":[{"width":1351,"height":1027,"url":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/Kedai-Soewan-Blitar-Image-Blitar-kota.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Fadjar Ari Dewanto","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Fadjar Ari Dewanto","Est. reading time":"6 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#website","url":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/","name":"Berita Daerah","description":"Berita Ekonomi, Investasi dan kegiatan daerah","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/02\/17\/menjaga-daya-tahan-di-tengah-ketidakpastian-ekonomi\/","url":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/02\/17\/menjaga-daya-tahan-di-tengah-ketidakpastian-ekonomi\/","name":"Menjaga Daya Tahan di Tengah Ketidakpastian Ekonomi - Berita Daerah","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#website"},"datePublished":"2026-02-17T03:52:23+00:00","dateModified":"2026-02-17T04:02:21+00:00","author":{"@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/85ed2f5492b68a7b853f8eb53fbab73b"},"description":"Kelas menengah memegang peran penting dalam ekonomi modern. Mereka adalah konsumen utama, pembayar pajak, dan sumber tenaga kerja terdidik.","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/02\/17\/menjaga-daya-tahan-di-tengah-ketidakpastian-ekonomi\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/02\/17\/menjaga-daya-tahan-di-tengah-ketidakpastian-ekonomi\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2026\/02\/17\/menjaga-daya-tahan-di-tengah-ketidakpastian-ekonomi\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Menjaga Daya Tahan di Tengah Ketidakpastian Ekonomi"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/85ed2f5492b68a7b853f8eb53fbab73b","name":"Fadjar Ari Dewanto","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/551e2d24aaf1f2eac4a2857f7d83b8bd?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/551e2d24aaf1f2eac4a2857f7d83b8bd?s=96&d=mm&r=g","caption":"Fadjar Ari Dewanto"},"description":"Editor in Chief Vibiz Media Network, Coordinating Partner of Business Advisory Vibiz Consulting.","sameAs":["http:\/\/www.beritadaerah.co.id"],"url":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/author\/fajar-ari-dewanto\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/366929"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/13"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=366929"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/366929\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":366932,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/366929\/revisions\/366932"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/356721"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=366929"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=366929"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=366929"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}