{"id":362627,"date":"2025-10-15T11:27:25","date_gmt":"2025-10-15T04:27:25","guid":{"rendered":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/?p=362627"},"modified":"2025-10-15T11:27:25","modified_gmt":"2025-10-15T04:27:25","slug":"musim-panen-di-negeri-sejuta-sawah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2025\/10\/15\/musim-panen-di-negeri-sejuta-sawah\/","title":{"rendered":"Musim Panen di Negeri Sejuta Sawah"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"294\" data-end=\"715\">(Beritadaerah-Kolom) Kabut tipis masih bergelayut di atas hamparan padi yang menguning di Desa Sukamerta, sebuah desa kecil di ujung Kabupaten Indramayu. Di tengah petak-petak sawah yang mulai siap panen, seorang petani bernama <strong data-start=\"501\" data-end=\"510\">Miran<\/strong> berdiri sambil mengamati batang padi yang menunduk berat karena bulirnya yang penuh. \u201cKalau air irigasi lancar begini, hasilnya bisa bagus,\u201d ujarnya pelan, suaranya tenggelam dalam gemerisik angin pagi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"717\" data-end=\"1094\">Ia bukan sekadar petani, tetapi bagian dari wajah besar Indonesia\u2014wajah dari <strong data-start=\"794\" data-end=\"835\">97.829 rumah tangga petani padi sawah<\/strong> yang pada tahun 2024 menjadi sampel dalam <em data-start=\"878\" data-end=\"893\">Survei Ubinan<\/em> yang dilakukan oleh <strong data-start=\"914\" data-end=\"945\">Badan Pusat Statistik (BPS)<\/strong> di 38 provinsi. Dari tangan-tangan seperti Miran, Indonesia menenun jantung ketahanannya: beras, sumber energi utama bagi hampir seluruh penduduk.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1096\" data-end=\"1141\"><strong data-start=\"1100\" data-end=\"1141\">Cerita dari Sebidang Lahan Irigasi<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1143\" data-end=\"1569\">Lahan yang digarap Miran termasuk dalam <strong data-start=\"1183\" data-end=\"1213\">68,20 persen sawah irigasi<\/strong> di seluruh Indonesia, lahan yang dianggap paling produktif dibandingkan sawah tadah hujan, rawa pasang surut, atau lebak. \u201cKalau air cukup, pupuk juga ada, hasilnya bisa sampai lima ton lebih per hektar,\u201d kata Miran, mengutip angka yang tidak jauh berbeda dari temuan BPS: <strong data-start=\"1487\" data-end=\"1566\">produktivitas padi sawah di lahan irigasi mencapai 53,99 kuintal per hektar<\/strong>.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1571\" data-end=\"2008\">Namun ia juga tahu, tidak semua desa seberuntung Sukamerta. Di banyak daerah, sawah bergantung pada langit\u2014pada hujan yang kian tak menentu akibat perubahan iklim. Dalam laporan BPS, <strong data-start=\"1754\" data-end=\"1802\">hanya sekitar 21,74 persen petani padi sawah<\/strong> yang sudah menerapkan teknik <strong data-start=\"1832\" data-end=\"1848\">jajar legowo<\/strong>, sistem tanam berjarak yang membuat padi mendapat sinar dan udara lebih baik. Sebagian besar lainnya masih menanam seperti biasa, mengikuti pola turun-temurun.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2010\" data-end=\"2220\">\u201cDulu bapak saya menanam rapat, katanya biar banyak batang. Tapi sekarang penyuluh bilang lebih renggang lebih bagus,\u201d kata Miran sambil menunduk memperhatikan jarak antarpadi yang ditatanya dengan hati-hati.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2222\" data-end=\"2267\"><strong data-start=\"2226\" data-end=\"2267\">Benih dan Harapan di Tangan Petani<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2269\" data-end=\"2675\">Benih yang ia tanam adalah <strong data-start=\"2296\" data-end=\"2312\">padi inbrida<\/strong>, seperti <strong data-start=\"2322\" data-end=\"2358\">89,07 persen rumah tangga petani<\/strong> di seluruh Indonesia. Benih ini murah, mudah didapat, dan bisa ditanam ulang. Varietas hibrida memang menjanjikan hasil lebih tinggi\u2014BPS mencatat <strong data-start=\"2505\" data-end=\"2533\">52,25 kuintal per hektar<\/strong> untuk hibrida dibanding <strong data-start=\"2558\" data-end=\"2586\">51,36 kuintal per hektar<\/strong> untuk inbrida\u2014tetapi harga benih hibrida masih terlalu mahal bagi banyak petani kecil.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2677\" data-end=\"2940\">Miran pernah sekali mencoba hibrida, saat kelompok taninya mendapat <strong data-start=\"2745\" data-end=\"2778\">bantuan benih dari pemerintah<\/strong>. \u201cWaktu itu hasilnya bagus, tapi tahun berikutnya benihnya nggak bisa dipakai lagi,\u201d katanya. Ia lalu kembali ke varietas inbrida Ciherang yang lebih familiar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2942\" data-end=\"3267\">Dari data BPS, <strong data-start=\"2957\" data-end=\"2997\">hanya 12,57 persen petani padi sawah<\/strong> yang menerima bantuan benih. Mayoritas\u2014lebih dari <strong data-start=\"3048\" data-end=\"3061\">87 persen<\/strong>\u2014mengandalkan modal sendiri atau benih dari hasil panen sebelumnya. Meski pemerintah pusat menyumbang <strong data-start=\"3163\" data-end=\"3204\">55,08 persen dari total bantuan benih<\/strong>, masih banyak petani yang belum terjangkau program tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3269\" data-end=\"3447\">Namun bagi Miran, setiap benih tetap membawa janji: janji panen yang cukup untuk membayar pupuk, biaya tenaga, dan mungkin, sedikit tabungan untuk anaknya yang sekolah di kota.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3449\" data-end=\"3500\"><strong data-start=\"3453\" data-end=\"3500\">Pupuk dan Persoalan yang Tak Pernah Usai<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3502\" data-end=\"3804\">Dua karung pupuk urea berdiri di sudut gubuk kecil di tepi sawah. \u201cHarga subsidi masih bisa ditanggung, tapi kalau telat datang, kita beli eceran, mahal,\u201d keluh Miran. Ia termasuk bagian dari <strong data-start=\"3694\" data-end=\"3734\">83,12 persen rumah tangga padi sawah<\/strong> yang mendapatkan <strong data-start=\"3752\" data-end=\"3769\">subsidi pupuk<\/strong> tahun 2024, menurut laporan BPS.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3806\" data-end=\"4035\">Rata-rata penggunaan pupuk urea di Indonesia mencapai <strong data-start=\"3860\" data-end=\"3890\">229,97 kilogram per hektar<\/strong> untuk padi sawah\u2014angka yang menunjukkan betapa ketergantungan pada pupuk kimia masih tinggi. \u201cTanpa pupuk, hasil bisa turun separuh,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"4037\" data-end=\"4437\">Namun Miran juga mulai mencoba pupuk kompos. Ia tahu dari penyuluh bahwa <strong data-start=\"4110\" data-end=\"4137\">pertanian berkelanjutan<\/strong> adalah kunci jangka panjang. Dalam survei ubinan, penggunaan pupuk organik memang masih kecil: hanya <strong data-start=\"4239\" data-end=\"4268\">23,46 kilogram per hektar<\/strong> untuk sawah. Tapi di desanya, sudah mulai ada pelatihan membuat pupuk dari jerami sisa panen. \u201cLumayan, hemat, dan tanah juga lebih gembur,\u201d katanya sambil tersenyum.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"4439\" data-end=\"4485\"><strong data-start=\"4443\" data-end=\"4485\">Perang Sunyi Melawan Hama dan Cuaca<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"4487\" data-end=\"4812\">Ketika panen mendekat, Miran tidak hanya menatap bulir padi, tapi juga langit. \u201cKalau hujan terus, gabah bisa rebah. Kalau panas panjang, bisa kering,\u201d katanya. Dalam laporan BPS, <strong data-start=\"4667\" data-end=\"4715\">lebih dari 77 persen rumah tangga padi sawah<\/strong> mengendalikan hama secara kimiawi, sementara hanya sebagian kecil yang menggunakan cara alami.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"4814\" data-end=\"5070\">\u201cPenyakit blas tahun kemarin hampir habisin separuh sawah sebelah,\u201d ujarnya, menunjuk area yang dulu berwarna kuning pucat. Penggunaan pestisida, menurutnya, seperti pedang bermata dua: melindungi tanaman, tapi kadang membuat tanah kehilangan daya hidup.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"5072\" data-end=\"5352\">Dalam data BPS, <strong data-start=\"5088\" data-end=\"5172\">produktivitas padi yang mendapat bantuan pupuk mencapai 52,47 kuintal per hektar<\/strong>, sedikit lebih tinggi dibanding mereka yang tidak menerima bantuan. Angka-angka itu menjadi bukti bahwa kebijakan subsidi masih punya arti nyata bagi petani kecil seperti Miran.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"5354\" data-end=\"5403\"><strong data-start=\"5358\" data-end=\"5403\">Kekuatan Kelompok Tani dan Solidaritas<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"5405\" data-end=\"5657\">Miran bukan petani yang bekerja sendiri. Ia tergabung dalam <strong data-start=\"5465\" data-end=\"5482\">kelompok tani<\/strong>, seperti <strong data-start=\"5492\" data-end=\"5558\">lebih dari separuh rumah tangga petani padi sawah di Indonesia<\/strong>. \u201cKalau sendiri, susah dapat pupuk atau alat. Tapi kalau lewat kelompok, lebih mudah,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"5659\" data-end=\"5998\">Dalam data BPS, rumah tangga anggota kelompok tani memiliki produktivitas <strong data-start=\"5733\" data-end=\"5761\">51,55 kuintal per hektar<\/strong>, sedikit lebih tinggi daripada non-anggota, yaitu <strong data-start=\"5812\" data-end=\"5840\">51,17 kuintal per hektar<\/strong>. Angka itu tampak kecil, tapi di lapangan, selisih setengah kuintal bisa berarti banyak: biaya sewa traktor, tambahan pupuk, atau sekadar simpanan darurat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"6000\" data-end=\"6244\">Kelompok taninya pernah mendapat <strong data-start=\"6033\" data-end=\"6059\">bantuan alat pertanian<\/strong> berupa mesin pompa air dan perontok gabah. Dengan itu, mereka tak perlu lagi menyewa alat dari desa tetangga. \u201cSekarang tinggal mikir pupuk sama cuaca,\u201d katanya sambil tertawa getir.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"6246\" data-end=\"6289\"><strong data-start=\"6250\" data-end=\"6289\">Di Tengah Bayang Perubahan Iklim<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"6291\" data-end=\"6585\">Dalam survei ubinan, BPS juga mencatat persepsi petani terhadap perubahan iklim dan kecukupan air. Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar petani mulai merasakan dampaknya: hujan tak menentu, banjir datang di musim kering, dan air irigasi yang dulu melimpah kini menipis di beberapa daerah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"6587\" data-end=\"6853\">\u201cSekarang tanam harus lihat prakiraan cuaca. Kadang bulan basah malah kering,\u201d kata Miran sambil menunjuk saluran air kecil yang mengalir pelan. Ia belajar menyesuaikan waktu tanam, kadang lebih cepat, kadang lebih lambat, mengikuti ritme yang makin sulit ditebak.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"6855\" data-end=\"7141\">Perubahan iklim tidak hanya mengubah pola tanam, tetapi juga mempengaruhi hasil. Dalam beberapa wilayah yang dilaporkan BPS, produktivitas menurun karena serangan hama meningkat di musim lembab ekstrem. Petani seperti Miran terjebak dalam keseimbangan rumit antara harapan dan risiko.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"7143\" data-end=\"7179\"><strong data-start=\"7147\" data-end=\"7179\">Data dan Denyut Kehidupan<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"7181\" data-end=\"7460\">Bagi BPS, setiap angka dalam laporan survei ubinan adalah hasil kerja panjang dari lapangan\u2014titik-titik koordinat sawah yang diukur, ditimbang, dan diwawancarai. Namun di balik data <strong data-start=\"7363\" data-end=\"7391\">53,99 kuintal per hektar<\/strong>, ada kisah nyata tentang ketekunan, kesabaran, dan juga kelelahan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"7462\" data-end=\"7785\">Setiap petani yang diwawancarai, dari Aceh hingga Merauke, menjadi bagian dari mozaik besar ketahanan pangan Indonesia. Dari <strong data-start=\"7587\" data-end=\"7621\">2.328 rumah tangga padi ladang<\/strong> hingga hampir <strong data-start=\"7636\" data-end=\"7671\">98 ribu rumah tangga padi sawah<\/strong>, mereka memikul harapan yang sama: agar setiap musim panen, negeri ini cukup makan dari hasil tanamnya sendiri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"7462\" data-end=\"7785\"><strong data-start=\"7791\" data-end=\"7834\">Sawah, Masa Depan, dan Generasi Baru<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"7836\" data-end=\"8181\">Anak Miran, Yani, kini berkuliah di jurusan agribisnis di Bandung. Ia sering mengirimkan pesan kepada ayahnya tentang cara baru bercocok tanam, tentang drone pemantau lahan, atau aplikasi cuaca berbasis satelit. Miran tersenyum setiap kali membaca pesan itu, meski kadang ia tak sepenuhnya paham. \u201cYang penting dia mau balik ke desa,\u201d katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"8183\" data-end=\"8521\">Yani tumbuh di era ketika sawah tak lagi sekadar lahan, tetapi juga ruang inovasi. Pemerintah berbicara tentang <strong data-start=\"8295\" data-end=\"8316\">pertanian presisi<\/strong>, <strong data-start=\"8318\" data-end=\"8348\">benih unggul adaptif iklim<\/strong>, dan <strong data-start=\"8354\" data-end=\"8369\">pupuk hijau<\/strong>. Namun bagi Miran, semua itu akan bermakna jika petani kecil seperti dirinya tetap diberi akses terhadap air, benih, pupuk, dan harga jual yang adil.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"8523\" data-end=\"8562\"><strong data-start=\"8527\" data-end=\"8562\">Akhir Musim dan Awal Harapan<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"8564\" data-end=\"8834\">Saat matahari mulai condong ke barat, Miran menatap hamparan padi yang berkilau keemasan. Panen tinggal menunggu beberapa hari. Ia tahu hasilnya tidak akan sempurna\u2014selalu ada hama, ada bagian sawah yang kurang subur\u2014tetapi cukup untuk hidup, cukup untuk menanam lagi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"8836\" data-end=\"9130\">Di kota, laporan resmi BPS mungkin sedang dicetak, penuh angka dan grafik tentang <em data-start=\"8918\" data-end=\"8973\">produktivitas padi sawah dan ladang di Indonesia 2024<\/em>. Namun di desa seperti Sukamerta, angka-angka itu hidup dalam tangan-tangan yang menggenggam sabit, dalam doa setiap kali hujan turun di waktu yang tepat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"9132\" data-end=\"9350\">Miran menatap jauh ke horizon, di mana langit bertemu dengan petak sawah terakhir. \u201cKalau semua mau tanam, kalau air tetap ada, Indonesia pasti bisa makan dari hasilnya sendiri,\u201d katanya dengan nada pelan tapi yakin.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"9352\" data-end=\"9564\">Angka bisa berubah setiap tahun\u2014kadang naik, kadang turun\u2014tapi semangat di baliknya tetap sama: semangat yang membuat negeri ini terus menanam, terus berharap, dan terus memanen kehidupan dari tanahnya sendiri.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Beritadaerah-Kolom) Kabut tipis masih bergelayut di atas hamparan padi yang menguning di Desa Sukamerta, sebuah desa kecil di ujung Kabupaten Indramayu. Di tengah petak-petak sawah yang mulai siap panen, seorang petani bernama Miran berdiri sambil mengamati batang padi yang menunduk berat karena bulirnya yang penuh. \u201cKalau air irigasi lancar begini, hasilnya bisa bagus,\u201d ujarnya pelan, suaranya tenggelam dalam gemerisik angin pagi. Ia bukan sekadar petani, tetapi bagian dari wajah besar Indonesia\u2014wajah dari 97.829 rumah tangga petani padi sawah yang pada [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":13,"featured_media":331441,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_typography_data":[],"_editorskit_blocks_typography":"","_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","om_disable_all_campaigns":false,"_exactmetrics_skip_tracking":false,"_exactmetrics_sitenote_active":false,"_exactmetrics_sitenote_note":"","_exactmetrics_sitenote_category":0,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"kia_subtitle":""},"categories":[3,93,6],"tags":[133],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v19.4 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Musim Panen di Negeri Sejuta Sawah - Berita Daerah<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2025\/10\/15\/musim-panen-di-negeri-sejuta-sawah\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Musim Panen di Negeri Sejuta Sawah - Berita Daerah\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"(Beritadaerah-Kolom) Kabut tipis masih bergelayut di atas hamparan padi yang menguning di Desa Sukamerta, sebuah desa kecil di ujung Kabupaten Indramayu. Di tengah petak-petak sawah yang mulai siap panen, seorang petani bernama Miran berdiri sambil mengamati batang padi yang menunduk berat karena bulirnya yang penuh. \u201cKalau air irigasi lancar begini, hasilnya bisa bagus,\u201d ujarnya pelan, suaranya tenggelam dalam gemerisik angin pagi. Ia bukan sekadar petani, tetapi bagian dari wajah besar Indonesia\u2014wajah dari 97.829 rumah tangga petani padi sawah yang pada [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2025\/10\/15\/musim-panen-di-negeri-sejuta-sawah\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Berita Daerah\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-10-15T04:27:25+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/Indahnya-persawahan-di-Tawangmangu-Karanganyar-Jawa-Tengah.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1600\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"721\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Fadjar Ari Dewanto\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Fadjar Ari Dewanto\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"6 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/\",\"name\":\"Berita Daerah\",\"description\":\"Berita Ekonomi, Investasi dan kegiatan daerah\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2025\/10\/15\/musim-panen-di-negeri-sejuta-sawah\/\",\"url\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2025\/10\/15\/musim-panen-di-negeri-sejuta-sawah\/\",\"name\":\"Musim Panen di Negeri Sejuta Sawah - Berita Daerah\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#website\"},\"datePublished\":\"2025-10-15T04:27:25+00:00\",\"dateModified\":\"2025-10-15T04:27:25+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/85ed2f5492b68a7b853f8eb53fbab73b\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2025\/10\/15\/musim-panen-di-negeri-sejuta-sawah\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2025\/10\/15\/musim-panen-di-negeri-sejuta-sawah\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2025\/10\/15\/musim-panen-di-negeri-sejuta-sawah\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Musim Panen di Negeri Sejuta Sawah\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/85ed2f5492b68a7b853f8eb53fbab73b\",\"name\":\"Fadjar Ari Dewanto\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/551e2d24aaf1f2eac4a2857f7d83b8bd?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/551e2d24aaf1f2eac4a2857f7d83b8bd?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Fadjar Ari Dewanto\"},\"description\":\"Editor in Chief Vibiz Media Network, Coordinating Partner of Business Advisory Vibiz Consulting.\",\"sameAs\":[\"http:\/\/www.beritadaerah.co.id\"],\"url\":\"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/author\/fajar-ari-dewanto\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Musim Panen di Negeri Sejuta Sawah - Berita Daerah","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2025\/10\/15\/musim-panen-di-negeri-sejuta-sawah\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Musim Panen di Negeri Sejuta Sawah - Berita Daerah","og_description":"(Beritadaerah-Kolom) Kabut tipis masih bergelayut di atas hamparan padi yang menguning di Desa Sukamerta, sebuah desa kecil di ujung Kabupaten Indramayu. Di tengah petak-petak sawah yang mulai siap panen, seorang petani bernama Miran berdiri sambil mengamati batang padi yang menunduk berat karena bulirnya yang penuh. \u201cKalau air irigasi lancar begini, hasilnya bisa bagus,\u201d ujarnya pelan, suaranya tenggelam dalam gemerisik angin pagi. Ia bukan sekadar petani, tetapi bagian dari wajah besar Indonesia\u2014wajah dari 97.829 rumah tangga petani padi sawah yang pada [&hellip;]","og_url":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2025\/10\/15\/musim-panen-di-negeri-sejuta-sawah\/","og_site_name":"Berita Daerah","article_published_time":"2025-10-15T04:27:25+00:00","og_image":[{"width":1600,"height":721,"url":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/Indahnya-persawahan-di-Tawangmangu-Karanganyar-Jawa-Tengah.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Fadjar Ari Dewanto","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Fadjar Ari Dewanto","Est. reading time":"6 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#website","url":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/","name":"Berita Daerah","description":"Berita Ekonomi, Investasi dan kegiatan daerah","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2025\/10\/15\/musim-panen-di-negeri-sejuta-sawah\/","url":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2025\/10\/15\/musim-panen-di-negeri-sejuta-sawah\/","name":"Musim Panen di Negeri Sejuta Sawah - Berita Daerah","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#website"},"datePublished":"2025-10-15T04:27:25+00:00","dateModified":"2025-10-15T04:27:25+00:00","author":{"@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/85ed2f5492b68a7b853f8eb53fbab73b"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2025\/10\/15\/musim-panen-di-negeri-sejuta-sawah\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2025\/10\/15\/musim-panen-di-negeri-sejuta-sawah\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/2025\/10\/15\/musim-panen-di-negeri-sejuta-sawah\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Musim Panen di Negeri Sejuta Sawah"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/85ed2f5492b68a7b853f8eb53fbab73b","name":"Fadjar Ari Dewanto","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/551e2d24aaf1f2eac4a2857f7d83b8bd?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/551e2d24aaf1f2eac4a2857f7d83b8bd?s=96&d=mm&r=g","caption":"Fadjar Ari Dewanto"},"description":"Editor in Chief Vibiz Media Network, Coordinating Partner of Business Advisory Vibiz Consulting.","sameAs":["http:\/\/www.beritadaerah.co.id"],"url":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/author\/fajar-ari-dewanto\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/362627"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/13"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=362627"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/362627\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":362631,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/362627\/revisions\/362631"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/331441"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=362627"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=362627"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.beritadaerah.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=362627"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}