20261001_MK SNR_Pembicara pada Memorial Lecture Edisi Khusus 100 Tahun Frans Seda__202610010050005

Warisan Frans Seda: Menjaga Disiplin dan Kredibilitas Fiskal di Tengah Gejolak Ekonomi

(Beritadaerah-Jakarta) Menteri Keuangan Suahasil Nazara menilai kredibilitas serta disiplin fiskal merupakan salah satu warisan penting yang ditinggalkan Frans Seda dalam pengelolaan keuangan negara. Prinsip tersebut dinilai tetap relevan hingga saat ini, terutama ketika pemerintah harus menghadapi tekanan dan gejolak ekonomi.

Pandangan itu disampaikan Suahasil saat menjadi pembicara utama dalam “Memorial Lecture Edisi Khusus 100 Tahun Frans Seda” yang berlangsung di Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Jakarta, Kamis (1/10/2026).

Frans Seda merupakan Menteri Keuangan yang menjabat pada periode 1966–1968. Dalam masa kepemimpinannya, Indonesia berada dalam kondisi ekonomi yang sangat berat sehingga diperlukan langkah-langkah tegas untuk menata kembali pengelolaan keuangan negara.

Suahasil menjelaskan bahwa salah satu keteladanan Frans Seda terlihat dari keberaniannya menyesuaikan pengeluaran negara dengan kemampuan pemerintah dalam menghimpun penerimaan. Langkah tersebut menjadi bagian penting dalam membangun kembali kepercayaan terhadap pengelolaan fiskal.

Menurut Suahasil, kondisi ekonomi Indonesia menjelang periode 1964–1965 menunjukkan bahwa penertiban belanja negara membutuhkan keberanian dan kedisiplinan. Pengeluaran perlu disesuaikan dengan kemampuan pendapatan agar kebijakan fiskal tetap dapat dipercaya dan memiliki ruang untuk mendukung perekonomian.

Disiplin fiskal, lanjutnya, juga memberikan ruang bagi APBN untuk menjalankan fungsi penyangga ketika permintaan masyarakat melemah maupun ketika terjadi penyesuaian harga. Meskipun manfaat dari kebijakan tersebut tidak selalu terlihat secara langsung, konsistensi dalam menjaga disiplin fiskal dapat membangun kredibilitas yang dibutuhkan perekonomian dalam jangka panjang.

Nilai-nilai yang diperlihatkan Frans Seda tersebut tidak hanya relevan pada masa pemerintahannya. Prinsip mengenai keberanian dalam mengambil kebijakan sekaligus menjaga kepercayaan terhadap keuangan negara terus memiliki arti penting dalam berbagai periode perjalanan ekonomi Indonesia.

Suahasil mengaitkan warisan tersebut dengan sejumlah fase ketika Indonesia menghadapi tekanan ekonomi, mulai dari krisis 1998, gejolak ekonomi global pada 2008, hingga pandemi Covid-19. Setiap periode memiliki karakter dan tantangan yang berbeda sehingga pemerintah membutuhkan respons kebijakan yang sesuai dengan kondisi yang dihadapi.

Namun, menurut Suahasil, terdapat prinsip yang tetap perlu dijaga di tengah berbagai perubahan tersebut. Ketika perekonomian mengalami gejolak dan situasi menjadi semakin sulit, pemerintah perlu mampu mengambil langkah luar biasa secara cepat dan tepat. Pada saat yang sama, kepercayaan terhadap pengelolaan keuangan negara serta disiplin fiskal harus tetap dipertahankan dan dipulihkan sesegera mungkin apabila mengalami tekanan.

Warisan Frans Seda juga terus mendapat tempat di lingkungan Kementerian Keuangan. Salah satunya diwujudkan melalui penggunaan nama **Gedung Frans Seda** di Kompleks Kementerian Keuangan, Lapangan Banteng, Jakarta.

Penamaan tersebut menjadi salah satu bentuk penghormatan sekaligus pengingat bagi jajaran Kementerian Keuangan mengenai pentingnya integritas dan kredibilitas dalam mengelola keuangan negara, termasuk dalam aspek pembiayaan dan pengelolaan risiko.

Suahasil menekankan bahwa integritas dan kredibilitas merupakan prinsip yang tidak dapat ditinggalkan dalam pengelolaan ekonomi. Keduanya menjadi bagian penting ketika pemerintah mengelola pembiayaan negara sekaligus menghadapi berbagai risiko yang dapat muncul dalam perjalanan perekonomian.

Ia berharap nilai-nilai yang telah diperlihatkan Frans Seda dapat terus dipelihara dan diwariskan kepada generasi penerus. Tantangan ekonomi, menurutnya, akan terus berubah seiring perkembangan zaman sehingga kebijakan pemerintah juga harus mampu menyesuaikan diri.

Meski demikian, perubahan tantangan dan kebijakan tidak berarti mengubah prinsip dasar dalam pengelolaan keuangan negara. Kredibilitas, disiplin, integritas, serta tanggung jawab fiskal tetap diperlukan sebagai fondasi agar APBN dapat menjalankan perannya secara efektif dalam menjaga stabilitas dan mendukung perekonomian nasional.

Dengan demikian, peringatan 100 tahun Frans Seda tidak hanya menjadi momentum untuk mengenang perjalanan seorang tokoh, tetapi juga menjadi kesempatan untuk kembali melihat nilai-nilai yang pernah diterapkan dalam mengelola ekonomi negara. Prinsip tersebut dapat menjadi pembelajaran bagi generasi saat ini dan mendatang dalam menghadapi berbagai dinamika perekonomian Indonesia.