Swasembada, Ketahanan, Kedaulatan Pangan
(Photo: Ferry/BD)

Pertumbuhan Ekonomi Daerah, Jalan Menuju Pertumbuhan Lebih Tinggi

(Beritadaerah-Kolom) Pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,29% pada kuartal II menunjukkan bahwa perekonomian nasional masih memiliki daya tahan yang kuat. Angka tersebut memang lebih rendah dibandingkan pertumbuhan kuartal I sebesar 5,61%, tetapi tetap berada di atas konsensus pasar sebesar 5,1%. Jika melihat semester pertama, pertumbuhan ekonomi mencapai 5,45%. Bersama inflasi yang berada di 2,8% dan Purchasing Managers’ Index (PMI) yang kembali masuk zona ekspansi pada level 50,2 dari sebelumnya 46,9, fondasi ekonomi Indonesia masih menunjukkan perkembangan yang positif.

Namun, angka pertumbuhan nasional seharusnya tidak berhenti menjadi ukuran keberhasilan ekonomi. Pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana pertumbuhan tersebut dapat diperluas dan diperdalam di berbagai daerah. Indonesia memiliki wilayah yang sangat beragam dengan karakter ekonomi yang berbeda-beda. Ada daerah yang kuat karena pertanian dan perkebunan, ada yang bertumpu pada pertambangan, ada yang berkembang melalui manufaktur, sementara daerah lainnya memiliki potensi besar pada pariwisata dan jasa. Keragaman tersebut justru dapat menjadi kekuatan untuk membangun sumber pertumbuhan baru.

Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II 2026
Sumber : BPS

Selama ini, pembicaraan mengenai pertumbuhan ekonomi sering terlalu terpusat pada angka nasional. Padahal, pertumbuhan 5,29% pada akhirnya merupakan akumulasi dari aktivitas ekonomi di berbagai daerah. Ketika sebuah kawasan membangun industri baru, ketika perkebunan meningkatkan produktivitas, ketika kawasan wisata berkembang, atau ketika investasi masuk dan menciptakan pekerjaan baru, semuanya berkontribusi terhadap pertumbuhan nasional. Karena itu, meningkatkan kualitas pertumbuhan Indonesia pada dasarnya juga berarti meningkatkan kualitas pertumbuhan ekonomi daerah.

Dari Pertumbuhan 5% Menuju Pertumbuhan yang Lebih Tinggi

Salah satu tantangan utama adalah bagaimana Indonesia dapat keluar dari pertumbuhan sekitar 5%. Pertumbuhan 5,29% memang cukup baik, tetapi belum tentu mencerminkan seluruh potensi ekonomi Indonesia. India, dengan populasi yang relatif muda, mampu mencatat pertumbuhan sekitar 7,5%, sementara Indonesia masih berada di sekitar 5%. Ada pula aspirasi untuk membawa pertumbuhan Indonesia menuju 8%.

Di sinilah daerah memiliki peran yang sangat penting. Indonesia tidak harus mencari satu mesin pertumbuhan yang sama untuk seluruh wilayah. Setiap daerah dapat membangun mesin pertumbuhan berdasarkan keunggulan yang dimilikinya. Daerah yang memiliki sumber daya alam dapat mengembangkan industri pengolahan. Daerah dengan basis pertanian dapat meningkatkan produktivitas dan membangun industri pangan. Daerah yang memiliki keunggulan wisata dapat mengembangkan ekosistem pariwisata yang lebih luas. Sementara kawasan perkotaan dapat memperkuat jasa modern, teknologi dan ekonomi kreatif.

Dengan pendekatan seperti itu, pertumbuhan ekonomi daerah tidak lagi sekadar mengejar kenaikan produksi, tetapi menciptakan transformasi ekonomi. Yang dibutuhkan bukan hanya lebih banyak aktivitas ekonomi, melainkan aktivitas ekonomi yang menghasilkan produktivitas lebih tinggi.

Investasi Menjadi Harapan Baru

Ada satu data dalam pertumbuhan terbaru yang memberikan alasan untuk optimistis. Konsumsi rumah tangga masih menjadi komponen terbesar dengan pertumbuhan sekitar 5,06%. Tetapi yang menarik adalah pertumbuhan Gross Fixed Capital Formation atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB), yang mencerminkan investasi, mencapai 6,87% pada kuartal II. Angka itu lebih tinggi dibandingkan 5,96% pada kuartal I dan 6,12% pada kuartal IV tahun sebelumnya.

Kenaikan investasi ini penting bagi daerah. Konsumsi dapat menggerakkan perekonomian dalam jangka pendek, tetapi investasi membangun kapasitas produksi untuk masa depan. Ketika investasi masuk ke daerah, yang dibutuhkan bukan hanya pembangunan gedung atau fasilitas produksi. Investasi yang berkualitas dapat menciptakan pekerjaan, meningkatkan keterampilan tenaga kerja, membangun rantai pasok, memperluas pasar bagi usaha lokal, dan membawa teknologi baru.

Karena itu, daerah perlu melihat investasi bukan semata-mata sebagai angka realisasi penanaman modal. Yang lebih penting adalah apa yang ditinggalkan oleh investasi tersebut bagi perekonomian lokal. Apakah tenaga kerja daerah mendapatkan keterampilan baru? Apakah perusahaan lokal menjadi bagian dari rantai pasok? Apakah muncul usaha baru? Apakah produktivitas meningkat? Jika jawabannya ya, investasi akan menghasilkan dampak yang jauh lebih besar daripada sekadar tambahan angka PDRB.

Mengubah Komoditas Menjadi Industri

Indonesia memiliki kekayaan komoditas yang besar. CPO merupakan salah satu ekspor utama Indonesia. Persoalannya bukan apakah Indonesia harus meninggalkan komoditas, melainkan bagaimana komoditas tersebut dapat memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian.

Pertanyaan mengenai job creation menjadi penting. Sebuah komoditas dapat menghasilkan nilai ekspor yang besar, tetapi dampaknya terhadap penciptaan pekerjaan produktif dan peningkatan pendapatan masyarakat dapat berbeda-beda. Ketergantungan pada komoditas juga membuat ekonomi lebih rentan terhadap perubahan harga global. Ketika harga komoditas turun, pendapatan produsen dapat ikut turun dan pada akhirnya memengaruhi daya beli.

Bagi daerah, tantangannya adalah membawa komoditas tersebut naik kelas. Kelapa sawit tidak berhenti sebagai bahan mentah. Hasil pertanian tidak berhenti di tingkat produksi primer. Mineral tidak berhenti sebagai bahan tambang. Semakin banyak proses pengolahan dilakukan di dalam negeri, semakin besar peluang terciptanya industri, keterampilan dan pekerjaan dengan produktivitas lebih tinggi.

Dengan demikian, daerah penghasil komoditas sebenarnya memiliki peluang besar untuk menjadi pusat pertumbuhan industri baru. Kekayaan sumber daya alam dapat menjadi modal awal bagi transformasi ekonomi, bukan menjadi jebakan ketergantungan.

Daerah Membutuhkan Teknologi dan Produktivitas

Pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi pada akhirnya membutuhkan produktivitas. Pertumbuhan jangka panjang tidak cukup hanya mengandalkan tenaga kerja murah. Tanpa inovasi dan teknologi, produktivitas akan menghadapi diminishing marginal productivity. Pengalaman Vietnam juga menunjukkan bagaimana investasi asing semakin memperhatikan apakah investasi tersebut membawa teknologi.

Bagi daerah, pesan tersebut sangat relevan. Keunggulan daerah pada masa depan tidak cukup ditentukan oleh murahnya tenaga kerja atau melimpahnya sumber daya alam. Daerah harus mampu menyediakan tenaga kerja yang memiliki keterampilan sesuai kebutuhan industri.

Ini membuka peluang besar bagi pemerintah daerah, perguruan tinggi, sekolah kejuruan dan dunia usaha untuk bekerja lebih dekat. Pendidikan tidak boleh berjalan sendiri, sementara industri berjalan dengan kebutuhan yang berbeda. Program pelatihan harus mengikuti perkembangan sektor yang benar-benar tumbuh di daerah.

Daerah yang berhasil menghubungkan pendidikan, investasi, teknologi dan industri akan memiliki keunggulan yang jauh lebih kuat. Investasi yang masuk tidak hanya memanfaatkan tenaga kerja yang tersedia, tetapi ikut meningkatkan kualitas tenaga kerja tersebut.

Pariwisata dan Potensi Ekonomi Lokal

Potensi daerah juga tidak selalu berbentuk komoditas atau manufaktur. Pariwisata merupakan contoh bagaimana keunggulan lokal dapat menjadi mesin pertumbuhan ekonomi. Terdapat contoh pengusaha yang ingin berinvestasi di sektor pariwisata di sekitar Danau Toba, tetapi menghadapi persoalan birokrasi karena proses investasi yang disebut telah berlangsung bertahun-tahun. Contoh tersebut menunjukkan bahwa potensi ekonomi daerah dapat sangat besar, tetapi realisasinya bergantung pada kualitas institusi.

Danau, pantai, pegunungan, budaya, kuliner, sejarah dan ekonomi kreatif dapat menjadi sumber pertumbuhan apabila dikelola sebagai sebuah ekosistem. Pariwisata tidak hanya berarti hotel. Ia menciptakan kebutuhan terhadap transportasi, restoran, perdagangan, kerajinan, pertunjukan budaya, jasa digital dan berbagai usaha kecil.

Karena itu, pembangunan ekonomi daerah seharusnya tidak selalu dimulai dengan pertanyaan mengenai industri apa yang harus dibangun dari nol. Pertanyaan yang lebih produktif adalah: apa keunggulan daerah yang sudah tersedia, dan bagaimana keunggulan tersebut dapat dikembangkan menjadi kegiatan ekonomi dengan nilai tambah lebih tinggi?

Institusi Menentukan Seberapa Jauh Daerah Tumbuh

Di sinilah kualitas pemerintah daerah menjadi sangat penting. Institusi dapat dipandang sebagai semacam software ekonomi. Birokrasi, rule of law, kualitas regulasi, efektivitas pemerintah, akuntabilitas, stabilitas, pengendalian korupsi dan property rights menjadi bagian penting dari lingkungan ekonomi.

Bagi daerah, institusi yang baik bukan berarti pemerintah harus melakukan semuanya. Justru pemerintah perlu menciptakan kondisi agar masyarakat dan sektor swasta dapat melakukan kegiatan ekonomi dengan lebih mudah.

Pengusaha membutuhkan kepastian. Mereka dapat menerima risiko bisnis, tetapi membutuhkan kepastian bahwa aturan tidak berubah secara tiba-tiba dan investasi yang dilakukan tidak menghadapi ketidakjelasan birokrasi. Investor dapat menanggung risiko karena risiko merupakan bagian dari bisnis, tetapi yang mereka inginkan adalah kepastian.

Karena itu, reformasi birokrasi di daerah sebenarnya merupakan kebijakan pertumbuhan ekonomi. Semakin sederhana proses perizinan, semakin jelas regulasi, semakin kuat kepastian hukum, dan semakin efektif pemerintah bekerja, semakin besar peluang daerah menarik investasi produktif.

Masa Depan Pertumbuhan Ada di Banyak Daerah

Indonesia memiliki kesempatan untuk membangun pola pertumbuhan yang lebih tersebar. Jawa tetap menjadi pusat ekonomi yang sangat penting, tetapi pertumbuhan nasional ke depan dapat semakin kuat apabila berbagai kawasan mampu mengembangkan keunggulannya masing-masing.

Daerah penghasil komoditas dapat menjadi pusat industri pengolahan. Daerah pertanian dapat membangun agroindustri. Kawasan dengan sumber daya mineral dapat mengembangkan industri hilir. Daerah dengan kekayaan alam dan budaya dapat mengembangkan pariwisata. Kota-kota yang memiliki perguruan tinggi dan tenaga kerja terampil dapat menjadi pusat jasa dan ekonomi berbasis pengetahuan.

Dengan demikian, pembangunan daerah bukan sekadar persoalan pemerataan. Pembangunan daerah merupakan bagian dari strategi meningkatkan kapasitas pertumbuhan nasional.

Angka PMTB sebesar 6,87% memberikan salah satu alasan untuk melihat masa depan dengan optimistis. Jika momentum investasi tersebut dapat dipertahankan dan diarahkan ke sektor yang meningkatkan produktivitas, Indonesia memiliki peluang memperkuat fondasi pertumbuhan. Yang juga penting bukan sekadar pertumbuhan investasi dari tahun ke tahun, tetapi proporsi investasi terhadap total GDP. Data yang disebut menunjukkan proporsi investasi Indonesia sekitar 29,3%, sementara China pernah mencapai hampir 50%.

Artinya, masih terdapat ruang yang besar untuk memperkuat investasi sebagai mesin pertumbuhan. Dan sebagian besar ruang tersebut berada di daerah, tempat investasi benar-benar diwujudkan menjadi pabrik, kawasan industri, perkebunan produktif, pusat logistik, destinasi wisata, fasilitas pendidikan dan berbagai kegiatan ekonomi lainnya.

Dari Pertumbuhan Menjadi Transformasi

Pertumbuhan ekonomi 5,29% bukanlah angka yang harus dipandang pesimistis. Sebaliknya, angka tersebut dapat menjadi fondasi untuk melakukan langkah berikutnya. Tantangannya adalah bagaimana pertumbuhan tersebut menghasilkan produktivitas yang lebih tinggi, pekerjaan yang lebih baik, investasi yang lebih besar dan peningkatan kesejahteraan yang lebih luas.

Daerah mempunyai peran penting dalam proses tersebut karena setiap wilayah memiliki sumber daya dan keunggulan yang berbeda. Indonesia tidak harus membuat seluruh daerah menjadi sama. Yang diperlukan adalah membuat setiap daerah mampu mencapai potensi terbaiknya.Di satu daerah, masa depan dapat dibangun melalui industri pengolahan. Di daerah lain melalui pertanian modern. Di tempat lain melalui pariwisata, jasa, teknologi atau ekonomi kreatif. Semuanya dapat menjadi bagian dari satu strategi pertumbuhan nasional.

Karena itu, masa depan ekonomi Indonesia tidak hanya ditentukan oleh seberapa tinggi pertumbuhan nasional hari ini, tetapi oleh seberapa banyak daerah yang mampu tumbuh lebih cepat, lebih produktif dan lebih bernilai tambah.Pertumbuhan 5% dapat menjadi titik awal, bukan titik akhir. Dengan investasi yang semakin kuat, teknologi yang semakin luas, tenaga kerja yang semakin terampil dan institusi daerah yang semakin baik, Indonesia memiliki peluang untuk membangun sumber pertumbuhan yang lebih beragam.Jika itu terjadi, pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak hanya akan menjadi lebih tinggi, tetapi juga lebih tersebar, lebih produktif dan lebih dekat dengan kehidupan masyarakat di daerah.