(Beritadaerah-Kolom) Tren kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia setelah pandemi sampai tahun 2025 telah mengalami peningkatan yang cukup besar. Jumlah kunjungan wisman terus menunjukkan tren pemulihan yang kuat pariwisata Indonesia setelah pandemi 2020. Namun, jumlah tersebut belum melampui pencapaian kunjungan wisman pada tahun 2019. Dengan meningkatnya kunjungan, maka pastinya semakin besar pengeluaran wisman selama berada di Indonesia.
Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) dalam publikasi Statistik Pengeluaran Wisatawan Mancanegara 2025 memberikan gambaran menarik mengenai arah perkembangan pariwisata Indonesia. Tahun 2025 menjadi salah satu tonggak penting bagi kebangkitan sektor pariwisata nasional. Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara telah melampaui 15 juta kunjungan, mendekati bahkan hampir menyamai capaian sebelum pandemi. Devisa sektor pariwisata juga mencapai sekitar 18,28 miliar dolar AS, lebih tinggi dibandingkan periode sebelum COVID-19. Angka tersebut menunjukkan bahwa Indonesia berhasil mengembalikan kepercayaan wisatawan internasional dan kembali menjadi destinasi yang kompetitif di tingkat global.
Namun demikian, terdapat fakta yang menarik. Rata-rata pengeluaran wisatawan mancanegara per kunjungan pada tahun 2025 tercatat sebesar 1.267 dolar AS atau turun hampir 9 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sekilas, angka ini dapat dianggap sebagai sinyal negatif. Akan tetapi, jika dicermati lebih dalam, penyebab utamanya bukan karena wisatawan menjadi lebih hemat, melainkan karena mereka tinggal lebih singkat di Indonesia. Lama tinggal rata-rata turun dari 11,42 malam menjadi 10,36 malam. Sementara itu, pengeluaran per malam relatif stabil. Dengan kata lain, wisatawan tetap membelanjakan uangnya dalam jumlah yang hampir sama setiap hari, hanya saja jumlah hari kunjungannya berkurang.
Fenomena ini memberikan pelajaran penting bahwa ukuran keberhasilan pariwisata tidak dapat hanya dilihat dari jumlah wisatawan yang datang. Yang lebih menentukan adalah kualitas kunjungan tersebut. Seribu wisatawan yang tinggal selama dua minggu tentu memberikan dampak ekonomi yang lebih besar dibandingkan dua ribu wisatawan yang hanya tinggal dua atau tiga hari.
Perspektif ini semakin relevan ketika melihat struktur pengeluaran wisatawan asing. BPS mencatat bahwa tiga komponen terbesar pengeluaran masih didominasi oleh akomodasi, makan-minum, serta belanja dan cenderamata. Artinya, manfaat ekonomi pariwisata tidak hanya dirasakan oleh hotel dan maskapai penerbangan, tetapi juga oleh restoran, UMKM, pedagang oleh-oleh, perajin lokal, hingga penyedia jasa wisata di berbagai daerah.
Menariknya, beberapa jenis pengeluaran mengalami penurunan, terutama yang terkait mobilitas seperti paket wisata lokal dan transportasi. Penurunan tersebut sejalan dengan semakin singkatnya masa tinggal wisatawan. Sebaliknya, pengeluaran untuk kesehatan, kecantikan, dan aktivitas tertentu justru mengalami peningkatan. Ini menunjukkan adanya pergeseran preferensi wisatawan global yang mulai mencari pengalaman yang lebih personal dan spesifik dibandingkan sekadar perjalanan konvensional.
Perubahan perilaku ini sebenarnya sejalan dengan tren global. Wisatawan masa kini tidak hanya mencari tempat untuk dikunjungi, tetapi pengalaman yang berkesan. Mereka lebih tertarik pada wellness tourism, retreat kesehatan, wisata budaya autentik, pengalaman kuliner khas, hingga aktivitas berbasis komunitas lokal. Dalam konteks ini, Indonesia memiliki keunggulan yang sangat besar karena kekayaan budaya, alam, dan keragaman pengalaman yang sulit ditiru negara lain.
Data BPS juga menunjukkan bahwa tidak semua wisatawan memiliki kontribusi ekonomi yang sama. Wisatawan dari kawasan Eropa dan Amerika, misalnya, cenderung membelanjakan uang lebih banyak dibandingkan wisatawan dari kawasan regional, meskipun jumlah kunjungan mereka lebih sedikit. Sebaliknya, kawasan ASEAN masih mendominasi jumlah kunjungan, tetapi tidak selalu menjadi kelompok dengan pengeluaran tertinggi.
Temuan ini mengandung implikasi strategis yang penting. Selama ini, banyak negara berlomba-lomba meningkatkan jumlah kedatangan wisatawan. Padahal, pendekatan yang lebih efektif adalah mengembangkan pasar yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi. Dengan kata lain, kualitas wisatawan sama pentingnya dengan kuantitas wisatawan.
Hal serupa terlihat dari karakteristik demografis wisatawan. Kelompok Milenial menjadi segmen terbesar wisatawan mancanegara yang datang ke Indonesia dengan proporsi lebih dari 32 persen. Mereka diikuti oleh Generasi X dan Generasi Z. Dari sisi pekerjaan, mayoritas wisatawan berasal dari kelompok profesional dan manajerial yang memiliki daya beli relatif tinggi.
Kelompok-kelompok ini umumnya memiliki ekspektasi yang berbeda dibandingkan wisatawan konvensional. Mereka mencari kenyamanan, konektivitas digital, pengalaman autentik, serta layanan yang berkualitas. Oleh karena itu, strategi pengembangan pariwisata Indonesia ke depan tidak cukup hanya membangun destinasi baru, tetapi juga meningkatkan kualitas pengalaman wisata secara menyeluruh.
Dalam konteks pembangunan ekonomi nasional, sektor pariwisata sesungguhnya memiliki posisi yang sangat strategis. Kontribusi langsung sektor ini terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada tahun 2024 telah mencapai lebih dari Rp1.067 triliun atau sekitar 4,82 persen dari total PDB nasional. Setelah sempat terpuruk akibat pandemi, sektor ini berhasil bangkit dan kembali menjadi salah satu penggerak utama aktivitas ekonomi.
Keunggulan pariwisata dibandingkan sektor lain terletak pada efek bergandanya yang sangat luas. Ketika seorang wisatawan mengeluarkan uang untuk menginap di hotel, manfaatnya tidak berhenti pada pemilik hotel. Uang tersebut mengalir kepada pemasok makanan, petani, nelayan, pengemudi transportasi, pelaku UMKM, hingga pekerja kreatif yang terlibat dalam rantai pasok industri pariwisata. Karena itulah, peningkatan kualitas belanja wisatawan dapat memberikan dampak yang jauh lebih besar dibandingkan sekadar peningkatan jumlah kunjungan.
Tantangan Indonesia saat ini bukan lagi bagaimana mendatangkan wisatawan sebanyak-banyaknya, melainkan bagaimana membuat mereka tinggal lebih lama, membelanjakan lebih banyak uang, dan mendapatkan pengalaman yang lebih bermakna. Strategi ini membutuhkan kolaborasi lintas sektor, mulai dari perbaikan infrastruktur, peningkatan kualitas sumber daya manusia, pengembangan produk wisata berbasis pengalaman, hingga penguatan promosi yang lebih terarah kepada segmen pasar bernilai tinggi.
Bali masih destinasi favorit dan menjadi magnet utama wisman. Namun masa depan pariwisata Indonesia tidak boleh hanya bertumpu pada satu destinasi. Potensi besar juga terdapat di berbagai daerah lain seperti Kepulauan Riau, Jakarta, Labuan Bajo, Danau Toba, Likupang, Mandalika, hingga berbagai destinasi budaya dan ekowisata yang tersebar di seluruh nusantara. Diversifikasi destinasi menjadi kunci agar manfaat ekonomi pariwisata dapat dinikmati secara lebih merata.
Dari data BPS tahun 2025 tercermain hal yang sangat penting, bahwa keberhasilan pariwisata tidak hanya ditentukan oleh banyaknya kunjungan wisatawan yang datang, tetapi oleh nilai ekonomi yang mereka ciptakan selama berada di Indonesia. Jumlah kunjungan memang penting sebagai indikator popularitas destinasi. Namun, kualitas pengalaman, lama tinggal, dan intensitas belanja wisatawan adalah faktor yang menentukan seberapa besar pariwisata mampu menjadi mesin pertumbuhan ekonomi nasional. Bila dibandingkan dengan negara tetangga maka nilai ekonomi yang Indonesia dapatkan kalah dibanding dengan Malaysia, Singapura dan Thailand.
Indonesia telah berhasil memenangkan pertarungan untuk menarik kembali wisatawan pascapandemi. Tantangan berikutnya adalah mengubah setiap kunjungan menjadi nilai tambah yang berdampak dan lebih besar bagi masyarakat, daerah, dan perekonomian nasional.


