“Ini bukan hanya soal hemat energi, tapi juga membentuk budaya kerja. Kita ingin memberi contoh bahwa hidup hemat bisa dimulai dari hal kecil,” katanya.
Bagi Haerudin, bersepeda ke kantor bukan sekadar alternatif transportasi, melainkan bagian dari upaya membangun budaya hemat energi di lingkungan kerja. Ia mengaku harus berangkat lebih pagi dari biasanya, namun hal tersebut justru menjadi kebiasaan baru yang positif.

Dari Gowes ASN Jateng, Pesan Hemat Energi Tak Sekadar Imbauan

(Beritadaerah – Semarang) Pagi masih menyisakan embun ketika roda-roda sepeda mulai berputar di ruas jalan Semarang. Di tengah lalu lintas kendaraan bermotor, sejumlah aparatur sipil negara (ASN) tampak mengayuh sepeda menuju kantor pemerintahan Provinsi Jawa Tengah.

Bukan sekadar aktivitas olahraga, pemandangan ini menjadi simbol perubahan gaya hidup yang mulai dibangun di lingkungan birokrasi.

Salah satunya dilakukan oleh Haerudin. Dari kediamannya di kawasan Pudak Payung, ia menempuh perjalanan sekitar 17 kilometer menuju kantor Gubernur Jawa Tengah dengan sepeda.

“Sekitar satu jam perjalanan. Lumayan, tapi ini jadi tantangan sekaligus pengalaman,” ujarnya, Kamis (9/4/2026).

Bagi Haerudin, bersepeda ke kantor bukan sekadar alternatif transportasi, melainkan bagian dari upaya membangun budaya hemat energi di lingkungan kerja. Ia mengaku harus berangkat lebih pagi dari biasanya, namun hal tersebut justru menjadi kebiasaan baru yang positif.

“Ini bukan hanya soal hemat energi, tapi juga membentuk budaya kerja. Kita ingin memberi contoh bahwa hidup hemat bisa dimulai dari hal kecil,” katanya.

Gerakan ini pun tidak berhenti di tingkat individu. Di lingkungan Biro Hukum Setda Jateng, semangat serupa mulai tumbuh sebagai upaya kolektif untuk mendorong perubahan perilaku, bahkan di tengah rutinitas birokrasi yang padat.

Dari Imbauan Menuju Kebiasaan

Langkah serupa juga ditunjukkan oleh Gubernur Ahmad Luthfi yang turut mengayuh sepeda bersama Sekda Sumarno dan jajaran pejabat lainnya.

Bagi Luthfi, gerakan hemat energi tidak boleh berhenti sebagai slogan atau sekadar kebijakan di atas kertas. Program seperti “bike to work”, pengaturan work from home (WFH), hingga penghematan listrik harus menjadi bagian dari keseharian.

“Ini bukan hanya perintah, tapi harus dibudayakan,” tegasnya.

Pernyataan tersebut mencerminkan pendekatan yang lebih substansial: mengubah kebijakan menjadi perilaku nyata.

Langkah Nyata Menuju Kemandirian Energi

Upaya tersebut sejalan dengan program besar Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam mendorong kemandirian energi. Hingga kini, ratusan desa mandiri energi telah dikembangkan, sementara sektor industri didorong beralih ke energi terbarukan melalui berbagai insentif.

Langkah ini menunjukkan bahwa gerakan hemat energi tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari strategi pembangunan berkelanjutan di daerah.

Namun di sisi lain, pengawasan tetap diperketat, terutama pada distribusi energi bersubsidi seperti LPG 3 kilogram. Pemerintah menegaskan bahwa subsidi harus tepat sasaran dan tidak disalahgunakan.

Pesan untuk Masyarakat

Apa yang dilakukan para ASN di Jawa Tengah sejatinya membawa pesan sederhana namun kuat: perubahan bisa dimulai dari hal kecil.

Bersepeda ke kantor, menghemat listrik, hingga bijak menggunakan energi bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga masyarakat luas.

Di tengah berbagai tantangan energi dan lingkungan, langkah-langkah kecil seperti ini justru menjadi fondasi penting. Bukan hanya untuk menghemat biaya, tetapi juga untuk menjaga keberlanjutan di masa depan.