Kinerja Fiskal Awal 2026 Dinilai Tangguh, Penerimaan Pajak Melonjak Signifikan

(Beritadaerah-Nasional) Pemerintah menilai kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada triwulan pertama 2026 tetap berada dalam posisi kuat dan berfungsi efektif sebagai penyangga terhadap tekanan global. Hal tersebut disampaikan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI, Senin (6/4), yang memaparkan capaian positif perekonomian nasional di awal tahun.

Sampai akhir Maret 2026, pendapatan negara tercatat mencapai Rp574,9 triliun atau tumbuh 10,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini terutama ditopang oleh sektor perpajakan yang menunjukkan performa impresif, dengan kenaikan penerimaan pajak sebesar 20,7 persen secara tahunan.

Secara rinci, lonjakan tertinggi terjadi pada Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) yang meningkat hingga 57,7 persen, mencerminkan aktivitas ekonomi yang semakin bergeliat. Sementara itu, Pajak Penghasilan (PPh) Orang Pribadi Pasal 21 juga tumbuh 15,8 persen, yang mengindikasikan meningkatnya pendapatan masyarakat serta kepatuhan wajib pajak, terutama setelah penerapan sistem Coretax.

Di sisi lain, realisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) mencapai Rp112,1 triliun atau setara 24,4 persen dari target tahunan. Meskipun mengalami penurunan sekitar 3 persen akibat fluktuasi harga komoditas global, capaian tersebut masih dinilai berada dalam jalur yang aman.

Untuk belanja negara, pemerintah mencatat pertumbuhan sebesar 31,4 persen secara tahunan. Defisit APBN hingga triwulan I tetap terkendali di kisaran 0,93 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), mencerminkan pengelolaan fiskal yang tetap disiplin.

Pemerintah juga telah menyiapkan berbagai langkah mitigasi guna menjaga stabilitas harga energi. Salah satunya adalah memastikan harga BBM bersubsidi tetap stabil hingga akhir 2026, bahkan dalam skenario harga minyak mentah dunia mencapai rata-rata 100 dolar AS per barel.

Ketahanan fiskal turut diperkuat oleh ketersediaan Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebesar Rp420 triliun yang berfungsi sebagai bantalan dalam menghadapi potensi gejolak ekonomi.

Dari sisi makroekonomi, stabilitas tetap terjaga dengan inflasi Maret 2026 sebesar 3,48 persen secara tahunan. Bahkan, jika faktor anomali tarif listrik tahun sebelumnya dikeluarkan, inflasi riil diperkirakan berada di level lebih rendah, yakni sekitar 2,51 persen.

Selain itu, sektor manufaktur menunjukkan ekspansi selama delapan bulan berturut-turut. Indikator konsumsi seperti penjualan kendaraan bermotor dan konsumsi semen juga memperlihatkan tren positif, yang mencerminkan daya beli masyarakat masih kuat.

Dengan berbagai indikator tersebut, pemerintah optimistis pertumbuhan ekonomi pada triwulan pertama 2026 dapat mencapai sekitar 5,5 persen atau bahkan lebih tinggi, seiring dengan terjaganya stabilitas fiskal dan ekonomi nasional.