Petani Bawang Merah Brebes Apresiasi Pemprov Jateng Hadir Saat Harga Pangan Naik

(Beritadaerah – Brebes) Petani bawang merah di Brebes mengapresiasi upaya Pemprov Jateng menyubsidi bea transportasi, guna mengendalikan harga serta menstabilkan inflasi. Upaya memutus rantai distribusi tersebut diharapkan juga diterapkan saat harga pangan merosot.

Hal itu diungkapkan Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Unggul Makmur Wiyono. Ia menyadari, skema tersebut merupakan upaya pemerintah yang hadir saat harga pangan naik. Dengan demikian, beban harga tinggi tidak harus ditanggung oleh konsumen.

“Yang jelas untuk distribusi kan ada biayanya, (misalnya) dari Brebes ke Semarang. Di situlah pemerintah hadir, sehingga harga dari kami petani dan konsumen tidak njomplang, karena ongkos distribusi di tengah itu, kami sudah dibantu,” ujar petani di Desa Krasak, Kecamatan Brebes itu, saat ditemui Kamis (21/7).

Ia menyebut, harga bawang merah di tingkat petani sempat menyentuh Rp45 ribu-Rp50 ribu per kilogram. Sedangkan, di tingkat konsumen, harga bisa menyentuh Rp60 ribu per kilogram.

Wiyono mengatakan, pemerintah melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Perusahaan Daerah Citra Mandiri Jawa Tengah (CMJT) sepakat membantu biaya distribusi. Besarannya Rp1.500 tiap kilogram bawang.

“Misalnya di sini harga bawang merah di petani Rp 45.000, kalau ongkos tidak dibantu ya ada tambahan Rp 1.500 perkilogram, jadi jualnya bisa Rp 46.500. Tapi karena dibantu ya harganya sama dengan di sini,” jelasnya.

Ia mengatakan, saat ini harga bawang merah di tingkat petani sedang mengalami penurunan. Sementara, harga pembelian di tingkat petani berkisar di angka Rp30 ribu per kilogram. Selain karena musim panen, kondisi banjir yang sempat melanda menyebabkan kualitas bawang merah menurun.

“Kami maunya berkelanjutan (program pemerintah). Baik pas sedang harga komoditas murah maupun sedang mahal seperti ini,” imbuhnya.

Direktur Pemasaran PD CMJT Totok mengatakan, pihaknya memang diutus oleh Gubernur Jateng Ganjar Pranowo untuk menjadi off taker pangan. Ketika harga bergejolak, pihaknya bersama Dinas Ketahanan Pangan dan Bank Jateng diperintahkan untuk segera menstabilkan harga dan tingkat inflasi di Jateng.

“Saat ini harga kebutuhan seperti bawang merah naik, sehingga kita diberi memutus mata rantai distribusi. Harapannya perilaku perdagangan akan turun, karena kita tahu ada 3-4 rantai distribusi, nah ini kita putus. Tapi kalau harga normal kembali kita lepas,” ujarnya.

Dikatakan, intervensi harga pangan pokok tidak hanya dilakukan pada komoditas cabai atau bawang merah. Beberapa komoditas lain seperti jagung, beras dan telur juga dilakukan hal serupa.

“Kami harapkan sampai harga stabil, dengan itu inflasi itu juga akan normal. Kemarin kita pembelian untuk Operasi Pasar di Kota Semarang ada cabai dua ton, bawang merah satu setengah ton. Efeknya luar biasa, saat itu harganya masih Rp70 ribu besoknya harga turun Rp53 ribu sampai Rp55 ribu. Biarpun kecil, tapi efek itu memengaruhi harga pasar pada umumnya,” pungkas Totok.