(Beritadaerah-Kolom) Sistem tenaga listrik di Provinsi NTB terdiri atas Sistem Lombok 150 kV, Sistem Sumbawa – Bima 150 kV dan 70 kV, serta beberapa sistem kecil yang terisolasi. Untuk sistem besar dipasok dari PLTU, PLTMG, PLTD dan PLTM/PLTMH. Sedangkan sistem menengah dan sistem kecil dipasok dari PLTD dan sebagian kecil PLTMH. Sistem Lombok 150 kV membentang dari Mataram – Lombok Timur – Tanjung yang melayani Kota Mataram, Kabupaten Lombok Barat, Kabupaten Lombok Tengah, Kabupaten Lombok Timur dan Kabupaten Lombok Utara. 
Sistem Sumbawa – Bima 150 kV membentang dari Labuhan (Sumbawa) sampai ke Dompu (Bima). 
Sistem Sumbawa 70 kV meliputi Kabupaten Sumbawa Barat (Taliwang ke Alas/Tano) dan sistem 20 kV memasok ke kota Sumbawa Besar. 
Sistem Bima 70 kV meliputi Kota Bima, Kabupaten Bima dan Kabupaten Dompu.

Sedangkan untuk sistem kecil terisolasi terdapat di pulau-pulau kecil yang tersebar di seluruh Wilayah NTB. Pulau-pulau kecil ini mempunyai pembangkit sendiri dan terhubung ke beban melalui jaringan 20 kV, sebagian langsung ke jaringan tegangan rendah 220 Volt. Sistem tenaga listrik di tiga pulau yaitu Gili Trawangan, Gili Meno dan Gili Air sudah tersambung dengan kabel laut 20 kV ke Sistem Lombok daratan dan telah beroperasi sejak 2012.Saat ini produksi tenaga listrik di Provinsi NTB sebagian masih diperoleh dari PLTD sehingga mengakibatkan biaya pokok produksi masih cukup tinggi.

Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik

Kondisi perekonomian Provinsi NTB cukup baik di sektor pertanian, sektor pertambangan, sektor perdagangan, hotel dan restoran serta sektor jasa-jasa berkontribusi besar terhadap PDRB Provinsi NTB. Sesuai dengan potensi alamnya yang sangat bagus, Lombok akan di kembangkan menjadi salah satu pusat tujuan wisata internasional selain Bali. Di Lombok Selatan akan dibentuk kawasan ekonomi khusus (KEK) untuk daerah wisata yaitu KEK Mandalika Resort. Dengan demikian, ekonomi NTB kedepan diharapkan akan tumbuh lebih baik lagi dan kebutuhan listrik juga akan tumbuh pesat.

Perbandingan Hasil Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik (TWh)

Sumber : PLN

PLN melakukan proyeksi kebutuhan listrik menggunakan dua skenario, yaitu optimis dan moderat. Proyeksi kebutuhan listrik di atas sudah termasuk kebutuhan potensi KEK Mandalika dan pelanggan besar lainnya di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Untuk melayani kebutuhan potensi KEK dan pelanggan besar lainnya tersebut, PLN sudah menyiapkan infrastruktur sistem tenaga listrik (pembangkit, transmisi, dan gardu induk). Dalam rangka memenuhi kebutuhan tenaga listrik tersebut diatas, direncanakan pembangunan sarana sistem tenaga listrik meliputi pembangkit, transmisi dan distribusi dengan mempertimbangkan potensi energi primer setempat.

Potensi Energi Primer

Provinsi Nusa Tenggara Barat memiliki potensi sumber energi primer relatif kecil. Panas bumi terdapat di 3 lokasi dengan total potensi sumber daya sekitar 6 MW yaitu pada Sembalun Lombok Timur, Marongge Sumbawa Besar dan Daha Dompu, serta sebagian potensi air. Direncanakan juga untuk dikembangkan pembangkit energi surya (PLTS Komunal), PLT Biomassa, dan PLT Hybrid untuk melayani daerah terisolasi dengan harapan dapat menurunkan BPP.

Terdapat potensi energi arus laut di Selat Lombok, Selat Alas dan Pulau Sape, energi surya di Lombok Utara serta potensi energi gelombang laut di Lombok atau Sumbawa yang bisa dikembangkan dengan potensi berkisar 10-50 MW namun memerlukan kajian studi lebih lanjut. Selain itu seiring berkembangnya kemajuan teknologi dalam memproduksi listrik maka akan dilakukan kajian pengembangan pembangkit dengan teknologi plasma dengan perkiraan kapasitas sekitar 10 MW atau teknologi alternatif lainnya seperti Fuel Cell (Hydrogen) dengan energy storage untuk dapat meningkatkan mutu pelayanan kelistrikan, dengan harapan dapat menurunkan Biaya Pokok Produksi ketenagalistrikan terutama di daerah isolated.
Pemanfaatan potensi energi baru terbarukan harapannya dapat meningkatkan bauran energi baru terbarukan, akan diprioritaskan untuk masuk dalam sistem apabila memenuhi syarat-syarat diantaranya Dokumen FS (Feasibility Study) sudah tersedia, harga jual berdasarkan peraturan yang berlaku, kesiapan pendanaan serta studi interkoneksi jaringan (Grid Study).

Pengembangan Pembangkit

Sebagian besar pembangkit yang akan dibangun adalah PLTU Batubara untuk menurunkan BPP. Guna menurunkan penggunaan BBM terutama pada waktu beban puncak akan dibangun PLTMG/PLTMGU dengan bahan bakar gas alam yang disimpan dalam bentuk CNG (compressed natural gas)/LNG (Liquid Natural Gas).

Saat ini kondisi cadangan daya di Sistem Lombok sudah mencukupi, sedangkan untuk Sistem Sumbawa dan Sistem Bima dalam kondisi siaga dan kondisi N-1 belum terpenuhi. Untuk menanggulangi kondisi tersebut, maka saat ini sedang dibangun pembangkit Mobile Power Plant (MPP) / PLTMG dengan sistem bahan bakar Dual Fuel (HSD dan gas), serta tambahan PLTU batubara.

NTB memiliki rencana untuk mengurangi pembangkit dengan bahan bakar batubara, PLTU yang masih dalam tahap rencana diganti dengan PLTMG. Pada Provinsi NTB, terdapat 2 (dua) PLTU yang diganti dengan PLTMG atau PLTGU (tipe akan disesuai hasil kajian lebih lanjut dengan mempertimbangkan efisiensi dan ketersediaan lahan) yaitu PLTU Lombok-2 2×50 MW dan PLTU Sumbawa-2 2×50 MW. Untuk lokasi PLTMG ini diperlukan kajian lebih lanjut baik secara sistem maupun kajian rencana penyediaan gas dan insfratrukturnya. Khusus untuk PLTMG Lombok-2 2×50 MW, masih akan dievaluasi wacana penggunaan infrastruktur gas bersama dengan PLTMG Lombok peaker atau dengan MPP Lombok.

Dalam pengembangan EBT, direncanakan kuota kapasitas pembangkit yang dapat masuk ke sistem. Kuota ini nantinya dapat dipenuhi dengan pengembangan pembangkit PLN maupun rencana pembangkit IPP yang belum memasuki tahap PPA. Rencana pembangkit ini dinyatakan sebagai kuota kapasitas yang tersebar dalam suatu sistem. Kuota kapasitas tersebar tersebut dapat diisi oleh potensi baik yang sudah tercantum dalam daftar potensi maupun yang belum apabila telah menyelesaikan studi kelayakan dan studi penyambungan yang diverifikasi PLN serta mempunyai kemampuan pendanaan untuk pembangunan, dan harga listrik sesuai ketentuan yang berlaku. Terdapat pula program pemerintah untuk mengembangkan PLTSa 4 MW di Sumbawa yang rencana tersebut dapat dikembangkan menggunakan kuota PLTBm.

Pengembangan Transmisi

Pengembagan kedepan transmisi di Sistem Lombok mengarah ke rencana interkoneksi dengan Sistem Bali. Rencana interkoneksi Lombok – Bali untuk menyalurkan daya dari Sistem Jawa-Bali ke Lombok sekitar 74 kmr dengan lebih kurang 25 kmr kabel laut perlu kajian lebih mendalam. Interkoneksi dapat menjadi opsi untuk mengganti PLT EBT Base Lombok yang direncanakan untuk dikembangkan setelah tahun 2026. Namun kelayakan baik dari segi operasional maupun finansial perlu dipastikan selain memperhatikan isu kedalaman palung laut di perairan Bali dan Lombok.

Pengembangan Listrik Pedesaan

Saat ini Rasio Elektrifikasi Provinsi Nusa Tenggara Barat TW IV tahun 2020 telah mencapai 99,98%. Rasio Desa Berlistrik sampai TW IV Tahun 2020 sudah mencapai 100% dengan jumlah desa 1.137 berlistrik PLN.
Program pengembangan listrik perdesaan sampai tahun 2030 serta dalam rangka mendukung pencapaian rasio elektrifikasi 100% pada tahun 2022.

Program listrik perdesaan ini tidak hanya untuk menambah jumlah pelanggan yang dilistriki PLN, baik dari rumah tangga yang belum berlistrik maupun dari rumah tangga yang sebelumnya sudah berlistrik Non PLN, namun juga meningkatkan layanan PLN dengan meningkatkan jam nyala pelanggan. Program ini juga diindikasikan untuk memanfaatkan sumber energi terbarukan di daerah daerah terpencil yang mempunyai banyak hambatan untuk transportasi BBM. Untuk mempercepat program listrik perdesaan ini, PLN sedang mengembangkan metode-metode lainnya yang dapat digunakan. Salah satu metode program listrik perdesaan yang dilakukan saat ini adalah dengan penggantian Lampu Tenaga Surya Hemat Energi (LTSHE) yang saat ini sudah habis masa pakai. Penggantian LTSHE dilakukan dengan perluasan jaringan atau minigrid.

About The Author

Editor in Chief Vibiz Media Network, Coordinating Partner of Business Advisory Vibiz Consulting.

Related Posts