(Beritadaerah-Kolom) Sistem tenaga listrik di Provinsi Kalimantan Tengah sebagian besar dipasok dari sistem interkoneksi 150 kV Kalseltengtim dan beberapa sistem isolated. Sistem interkoneksi 150 kV Kalseltengtim adalah gabungan dari interkoneksi sistem 150 kV Barito dan sistem 150 kV Mahakam. Sistem tersebut memiliki pembangkit PLTU, PLTG/MG dan beberapa pembangkit lainnya. Pasokan listrik untuk sistem isolated sebagian besar masih bersumber dari pembangkit berbahan bakar minyak, dengan daya mampu pembangkitan rata-rata dalam kondisi cukup namun tanpa cadangan yang memadai.

Peta Sistem Tenaga Listrik Provinsi Kalimantan Tengah

Sumber : PLN

Penjualan energi listrik sejak tahun 2011-2020 di Kalimantan Tengah tumbuh rata-rata sebesar 10,2%. Sebagian beban Kalimantan Tengah dipasok dari Sistem Interkoneksi 150 kV Kalseltengtim (sistem 150 kV Barito dan sistem 150 kV Mahakam) dan selebihnya tersebar di berbagai tempat terisolasi yang dipasok dari pembangkit setempat.

Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik

 

Pertumbuhan ekonomi Provinsi Kalimantan Tengah dalam lima tahun (2015- 2019) terakhir tumbuh rata-rata sebesar 6.21% per tahun. Sektor pertanian, perkebunan sawit, pertambangan batubara dan perdagangan menjadikan ekonomi Kalimantan Tengah tumbuh dinamis dan prospektif. Kondisi tersebut berpengaruh pada kebutuhan listrik di Kalimantan Tengah yang terus meningkat. Mengingat rasio jumlah rumah tangga berlistrik PLN di Kalimantan Tengah masih cukup rendah, maka pertumbuhan kebutuhan listrik hingga lima tahun mendatang diperkirakan masih tinggi. PLN melakukan proyeksi kebutuhan listrik menggunakan dua skenario, yaitu optimis dan moderat.

Perbandingan Hasil Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik (TWh)

Sumber: PLN

Porsi terbesar penjualan di Provinsi Kalimantan Tengah adalah pada sektor pelanggan rumah tangga. Porsi penjualan di sektor pelanggan bisnis dan industri masih relatif kecil. Berdasarkan realisasi penjualan lima tahun terakhir, mempertimbangkan kecenderungan pertumbuhan ekonomi regional dan peningkatan rasio elektrifikasi termasuk proyeksi pertumbuhan pelanggan. Proyeksi kebutuhan energi listrik diatas telah memperhitungkan beberapa potensi pelanggan besar di Kalimantan Tengah. Untuk melayani kebutuhan pelanggan industri tersebut PLN menyiapkan infrastruktur sistem tenaga listrik (pembangkit, transmisi dan gardu induk).

Pengembangan Sarana Sistem Tenaga Listrik

Rencana pembangunan sarana sistem tenaga listrik meliputi pembangkit, transmisi dan distribusi di Provinsi Kalimantan Tengah dilakukan dengan memperhatikan potensi energi primer setempat.
 Provinsi Kalimantan Tengah merupakan salah satu daerah di Indonesia yang menyimpan potensi energi primer sangat besar utamanya batubara. Energi yang lain juga tersedia antara lain adalah gas alam dan tenaga air.

Provinsi Kalimantan Tengah mempunyai potensi batubara yang besar terutama di Kabupaten Barito Utara. Survei yang telah dilakukan sejak tahun 1975 oleh beberapa institusi, baik pemerintah maupun perusahaan asing seperti PT BHP – Biliton memperkirakan terdapat sekitar 400 juta ton batubara dengan nilai kalori di atas 7.000 kkal per kg dan juga ditemukan batubara dengan kandungan kalori di atas 8.000 kkal per kg di Kabupaten Barito Utara dan Murung Raya bagian utara. Batubara banyak ditemukan di daerah Muara Bakah, Bakanon, Sungai Montalat, Sungai Lahei, Sungai Maruwai dan sekitarnya.

Potensi gas alam di Kalimantan Tengah terdapat di Bangkanai Kabupaten Barito Utara, yang dapat menghasilkan gas alam 20 MMSCFD selama 20 tahun. Diperkirakan volume gas akan turun secara bertahap menjadi 16 mmscfd mulai tahun ke-16.Kalimantan Tengah memiliki potensi tenaga air di DAS Barito dan Katingan di Puruk Cahu, Muara Teweh dan Kasongan. Status potensi tersebut dalam tahap identifikasi oleh Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Kalimantan Tengah, dan memerlukan studi lebih lanjut untuk dapat dikembangkan. Potensi tenaga air di Kalimantan Tengah mencapai 356 MW. Kalimantan Tengah memiliki beberapa sumber energi alternatif lain yang masih dalam tahap kajian. Diantaranya adalah PLTBio yang diperkirakan mampu menghasilkan energi hingga 14 MW.

Pengembangan Pembangkit

Khusus untuk tenaga listrik di daerah dengan beban kecil yang memiliki jalur transportasi BBM, dimana tidak memungkinkan untuk disambungkan ke grid dan pengembangan pembangkit gas tidak ekonomis, maka akan dibangun PLTD dan pembangkit EBT sesuai kebutuhan pengembangan tenaga listrik dengan mempertimbangkan potensi sumber energi di daerah-daerah tersebut.

Di Provinsi Kalimantan Tengah terdapat potensi pembangkit yang dapat dikembangkan sesuai dengan kebutuhan sistem yaitu PLTA 
 Muara Juloi
284 MW, PLTA Riam Jerawi
72 MW, PLTBg Kotawaringin Barat 8 MW, PLTBg Bukit Makmur, Lamandau 1 MW, PLTBg 
 Sukamara 2 MW, PLTBg 
 Tamiyang Layang 3 MW.

Dalam pengembangan EBT, direncanakan kuota kapasitas pembangkit yang dapat masuk ke sistem. Kuota ini nantinya dapat dipenuhi dengan pengembangan pembangkit PLN maupun rencana pembangkit IPP yang belum memasuki tahap PPA. Rencana pembangkit ini dinyatakan sebagai kuota kapasitas yang tersebar dalam suatu sistem. Kuota kapasitas tersebar tersebut dapat diisi oleh potensi baik yang sudah tercantum dalam daftar potensi maupun yang belum apabila telah menyelesaikan studi kelayakan dan studi penyambungan yang diverifikasi PLN serta mempunyai kemampuan pendanaan untuk pembangunan, dan harga listrik sesuai ketentuan yang berlaku.

Beberapa pembangkit PLTGU yang belum dalam tahap konstruksi akan menggunakan mesin PLTGU relokasi dari Sistem Jawa. Hal ini dilakukan untuk mengoptimalkan utilisasi pembangkit PLTGU eksisting di Jawa. Rencana relokasi ini masuk dalam list pembangunan pembangkit di atas namun tidak diperhitungkan sebagai penambahan kapasitas pembangkit karena sifatnya hanya berupa relokasi pembangkit.

Untuk menjamin kehandalan daya pasok pembangkit, PLN merencanakan pemeliharaan yang baik dan terjadwal untuk seluruh pembangkit eksisting, dalam tahap konstruksi serta yang masih dalam tahap rencana.

Pengembangan Transmisi dan Gardu Induk
Pengembangan Transmisi


Kedepannya direncanakan sistem 150 kV Barito dengan sistem 150 kV Khatulistiwa di Kalbar akan terhubung melalui jaringan transmisi 150 kV Sukamara (Kalteng) – Marau (Kalbar). Selain itu, rencana pengembangan transmisi dari GI Kasongan ke GI Puruk Cahu serta ke GI Kuala Kurun, GI Palangkaraya ke GI Buntok dan GI Buntok ke GI Tamiang Layang diharapkan dapat memperkuat kehandalan sistem. Untuk kehandalan interkoneksi dengan Kalimantan Timur juga akan dibangun transmisi dari Bangkanai (Kalteng) ke Melak (Kaltim).

Program Listrik Perdesaan Kalimantan Tengah

Saat ini rasio elektrifikasi untuk Provinsi Kalimantan Tengah TW IV tahun 2020 sebesar 95,05%, sedangkan rasio desa berlistrik TW IV tahun 2020 sudah mencapai 100% dengan total 1.571 desa dengan rincian 1.077 desa berlistrik PLN, 449 desa non PLN dan 45 desa LTSHE. Desa-desa tersebut nantinya akan diambil alih secara bertahap oleh PLN.

Program Listrik Perdesaan Kalimantan Tengah adalah program PLN untuk mempercepat rasio elektrifikasi berlistrik 100% pada tahun 2022 serta meningkatkan elektrifikasi di Provinsi Kalimantan Tengah. Program ini juga diindikasikan untuk memanfaatkan sumber energi. Untuk mempercepat program listrik perdesaan ini, PLN sedang mengembangkan metode-metode lainnya yang dapat digunakan. Selain pengembangan distribusi juga direncanakan pengembangan listrik desa untuk meningkatkan rasio elektrifikasi di Kalimantan Tengah.